AK 47, senjata laras panjang yang kini diarahkannya pada leher suaminya.
"Tambah satu wanita lagi, bangunlah Harem hingga kamu kenyang oleh darah." Sebuah sindiran dari wanita yang tersenyum menyeringai.
Dirinya bereinkarnasi sebagai istri jahat dalam novel pria bertema sistem dan kiamat. Dengan ending kematian tragis.
Sedangkan suaminya hidup bahagia dengan 9 wanita cantik di haremnya.
Berusaha bersikap baik, tidak seperti dalam alur cerita novel. Berharap suaminya tidak akan membangun harem seperti dalam cerita novel.
Tapi tetap saja susu besar membuat pria ini tertarik, paha mulus menggetarkan hatinya.
Daripada menunggu kematian, lebih baik, dirinya menggunakan rudal balistik untuk menghancurkan suaminya.
Dalam dunia kiamat diantara hidup dan mati, dimana makanan adalah lebih berharga daripada emas. Hukum tidak berlaku lagi.
Dunia dimana dirinya dapat membantai pria ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Sistem yang dimiliki oleh Kelvin, tidak hanya memungkinkannya untuk menjadi lebih kuat. Tapi juga memiliki kemampuan penyembuh yang luar biasa.
Bahkan jika keningnya ditembak menggunakan senjata api, Kelvin tidak akan mati, mungkin hanya akan mengalami luka. Karena, sistem memberikan perlindungan tubuh dan kekebalan padanya, dengan syarat tertentu.
Dan saat itu, sudah pasti Sarah orang pertama yang akan dibunuh oleh Kelvin, jika dirinya menembak suaminya. Mengingat, Kelvin juga memelihara 2 monster serigala.
Karena itu, dirinya tidak ingin menunggu kematian di tempat ini.
Tengah malam telah tiba, dirinya dan kedua orang tuanya melangkah pelan, di dalam bunker. Matanya menelisik, kala melewati ruang makan.
Sisa-sisa cairan bercinta berada di sana, bahkan ada cairan putih yang mengotori piring. Dari dalam kamar Kelvin, kini masih terdengar suara erotis beberapa wanita. Sudah pasti, pengembangan kemampuan yang diberikan sistem pada Kelvin membuatnya memiliki energi bercinta berapa kali pun.
Tapi, sudahlah... memang dasarnya pria penuh napsu.
"Sarah, apa kita harus benar-benar meninggalkan bunker ini?" bisik sang ayah bertanya kepada putrinya.
"Tidak sepenuhnya, bunker ini dibuat menggunakan uang keluarga kita. Tentu saja aku tidak akan menyerahkannya begitu saja kepada Kelvin. Setelah pergi kita akan mencari cara untuk menghancurkannya."
Suwandi hanya mengangguk mendengarkan kata-kata putrinya. Mereka tidak membawa perlengkapan apapun, hanya senjata berupa pisau.
Hingga.
Pintu bunker dibuka oleh Suwandi perlahan, tidak ingin menimbulkan suara yang begitu mencolok. Kedua orang tuanya sudah tidak keluar dari bunker ini selama setahun. Sedangkan Sarah hampir setiap hari keluar dari bungker.
Dulu, saat awal kiamat terjadi, dan Kelvin belum menjalankan banyak misi dari sistemnya untuk menambah kemampuannya. Pria itu bersedia memberikan makanan secara layak kepada Suwandi, Sarah dan Marina.
Tapi semakin tinggi kemampuannya, semakin terlihat tabiat aslinya. Mungkin karena itu perlahan kala satu persatuan wanita cantik itu dibawa pulang oleh Kelvin. Pria itu semakin sombong, menganggap Sarah dan kedua orang tuanya bagaikan hewan peliharaan, bukan! Benalu tidak berguna. Dapat diberi makan atau tidak sesuka hati, dan harus menurut menjadi budaknya jika ingin tetap hidup.
Kala pintu bungker terbuka sepenuhnya, maka keadaan dunia saat ini benar-benar terlihat di mata mereka.
Abu vulkanik masih menutupi atmosfer, membuat sinar matahari sama sekali tidak terlihat. Dunia ini gelap, setiap saat bagaikan malam. Tanaman tidak ada satupun yang dapat hidup, beberapa bagian tanah berwarna gelap, mungkin seperti bagian dari dampak radiasi nuklir.
Menelan ludah."Kita kembali saja..." pinta Marina kepada putrinya. Matanya menelisik ke area sekitarnya, hening... benar-benar sebuah keheningan total. Tapi itulah yang membuat suasana semakin menyeramkan.
Ketakutan akan ada hewan buas yang menyerang. Atau sesuatu yang asing akan melukai mereka.
"Ibu...percaya padaku ya?" Pinta Sarah kepada Marina, memegang jemari tangannya berusaha meyakinkan.
Suwandi juga gemetar, pasalnya tepat setelah terjadi perang nuklir, mereka sekeluarga bersembunyi di dalam bunker. Sama sekali tidak keluar, dalam setahun ini yang keluar hanya Kelvin dan Sarah.
Menutup kembali pintu bunker, kemudian berjalan di area yang tandus. Meraih sebuah kayu, mengikatnya dengan kain yang telah disirami bahan bakar. Kemudian menyalakannya sebagai obor.
Suwandi dan Marina menelan ludah, tangan mereka gemetar berpegangan kepada putrinya. Inilah suasana setelah kiamat terjadi, begitu hening. Tidak menyeramkan dengan berbagai teriakan.
Tapi.
Krak!
Sinar obor, mengarah kepada sesuatu yang diinjak oleh Marina. Wanita yang segera meloncat ketakutan, tengkorak tangan manusia, itulah yang diinjak olehnya.
"Tidak apa-apa, anggap saja itu sebagai batu. Akan ada banyak benda seperti itu di perjalanan kita nanti." Itulah yang diucapkan pelan kepada kedua orang tuanya.
Suwandi dan Marina saling melirik, kemudian meyakinkan dirinya sendiri untuk tetap melangkah.
Benar saja, setiap tempat yang mereka lalui, begitu banyak tengkorak manusia. Bahkan bebauan busuk tercium, mungkin itu dari orang-orang yang baru saja meninggal akibat kelaparan. Atau dimakan oleh hewan buas yang telah bermutasi.
"Sarah..." Marina yang hidupnya dimanjakan oleh kemewahan, memegang jemari tangan putrinya erat.
Suwandi memberanikan dirinya, pria yang dulunya adalah CEO dari perusahaan besar. Kini harus hidup di dunia setelah kiamat. Di mana status sudah tidak berarti lagi, uang hanya menjadi tumpukan kertas untuk menghangatkan diri, dan emas adalah batu untuk memukul hewan buas.
"Tolong...sakit..." suara lirih seseorang terdengar.
"Sarah... kamu mendengarnya? Ada yang minta tolong." Kalimat yang diucapkan oleh Marina.
"Abaikan, Jika ada yang meminta pertolongan, mungkin itu adalah perangkap untuk mengambil makanan yang kita bawa." Peringatan yang diucapkan oleh Sarah kepada ibunya.
"Tolong... siapapun... tolong aku. Aku bukan orang jahat. Tolong..." suara permintaan seseorang lagi. Seolah-olah orang itu mendengar apa yang diucapkan oleh ibunya dan dirinya. Padahal mereka mengucapkannya dengan setengah berbisik.
Ini memang begitu aneh, tidak mungkin ada orang yang mendengar suara mereka, dari jarak begitu jauh. Apa karena suasana yang terlalu hening? Itu mungkin saja...
Ibunya yang merupakan aktivis sosial, sebelum dunia ini mengalami kiamat akibat perang nuklir, tangannya gemetar, berucap pada putrinya."Setidaknya kita harus tahu. Siapa orang yang butuh pertolongan. Mungkin keadaannya memang benar-benar gawat, bisa saja suatu saat dia akan menolong kita."
"Benar Sarah! Tidak semua orang seperti Kelvin yang tidak tahu terima kasih!" sang Ayah membenarkan permintaan ibunya.
"Baiklah! Tapi perjalanan kita selanjutnya akan cukup panjang. Hingga sampai ke bunker penelitian yang aku sembunyikan." Itulah yang diucapkan Sarah, membuat kedua orang tuanya menatapnya penuh tanda tanya.
Tapi Sarah tidak menjawabnya, melangkah menuju tempat asal suara. Hanya sinar obor yang terlihat. Bagaimana kegelapan dan keheningan total. Bahkan suara hewan pun hampir tidak ada.
Hingga pada akhirnya, dirinya berhenti di tempat asal suara. Seorang pemuda berada di tempat itu, tubuhnya kotor, bagian celana panjangnya bahkan dikotori oleh darah.
"Tolong... tolong bawa aku. Jika tidak aku akan dimakan hewan buas di tempat ini." Pria kurus yang benar-benar tidak berdaya, ketakutan melihat ke arah sekitarnya.
"Sarah... sebaiknya kita---" kalimat sang ibu disela.
"Ibu dan Ayah sudah 1 tahun tidak keluar dari bunker. Keadaan di luar bunker, sudah mencapai fase hukum rimba. Kalau tidak mau makan ya dimakan... bahkan ada yang terpaksa memakan sesama manusia. Jika kita membawa orang ini, sama sekali tidak akan ada gunanya. Yang ada hanya dapat menghabiskan stok makanan yang aku simpan diam-diam." Kalimat tegas dari wanita dengan bentuk tubuh menggoda, rambutnya panjang kemerahan. Wanita dingin yang terlihat sulit didekati.
Tapi.
"Ibu mohon..."
"Boleh ya? Hanya satu orang. Jika tempatnya tidak cukup, kamu dapat meninggalkannya di tengah jalan nanti."
Itulah bujukan dari kedua orang tuanya.
"Nona, ijinkan aku mengikutimu. Aku janji akan melakukan apapun. Termasuk memberikan tubuhku, a...aku bahkan bersedia menjadi budakmu di ranjang..." Kalimat dari sang pemuda, membuat Marina dan Suwandi menoleh padanya.
Hayu Miau...terus provokasi Ren biar panas
up nya udah ada aja nih,thor.
Kamu kalau menilai suka sesukamu aja sih,Miau
Lempar nih...