Entah sejak kapan Alessia tumbuh menjadi gadis cantik mempesona. Sepuluh tahun menjaganya sebagai adik, ia baru menyadari debaran jantungnya yang tak karuan. Nathaniel sang anak angkat mulai mendambakan adik angkatnya. Adik yang keluarganya telah menyelamatkan Nathaniel dari jurang keterpurukan. Pantaskah Nathaniel bersanding dengan adiknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soju Kimchizz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Restoran Ala Anak Muda
Mobil hitam Nathaniel sudah terparkir di depan gerbang Sinclair. Ia turun dari mobil, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang memberikan kesan lebih dingin dari biasanya.
Wajahnya kembali kaku, topeng profesionalnya terpasang sempurna.
Tak lama kemudian, Alessia muncul. Kali ini dia terlihat lebih siap. Ia mengenakan blazer berwarna gading dengan celana panjang senada. Rambutnya terurai rapi, dan wajahnya sudah dipulas riasan tipis yang membuatnya tampak segar sekaligus berwibawa.
"Pagi, Mentor," sapa Alessia dengan nada yang lebih ceria. "Aku tidak terlambat, kan? Masih ada sisa dua menit."
Nathaniel hanya melirik jam tangannya tanpa senyum. "Masuklah. Hari ini kita tidak ke kantor pusat."
Alessia mengernyit bingung sambil memasang sabuk pengaman. "Lalu kita ke mana?"
"Sinclair Mall, cabang tertua di pinggiran kota," jawab Nathaniel sembari mulai melajukan mobilnya. "Ada keluhan soal manajemen di sana, dan Ayahmu ingin kamu yang turun langsung melakukan inspeksi tanpa identitas. Kita akan menyamar sebagai pembeli biasa."
Alessia tertegun. "Menyamar? Seperti agen rahasia?"
"Bukan agen rahasia, Nona Sinclair," potong Nathaniel tajam, matanya tetap lurus ke depan, menghindari menatap mata Alessia yang berbinar. "Ini tentang melihat realita tanpa embel-embel nama besar keluarga Anda. Dan satu lagi... selama penyamaran ini, jangan panggil saya Mentor. Panggil saya... Nathan."
Udara di dalam Sinclair Mall cabang pinggiran ini terasa berbeda dari pusat kota yang serba berkilau. Di sini, ubinnya sedikit lebih kusam, dan sapaan petugas keamanannya terasa... malas.
Alessia memperhatikan setiap gerak-gerik Nathaniel. Pria itu berubah menjadi sosok yang benar-benar berbeda. Ia melepas jasnya, menyampirkannya di lengan, dan melonggarkan satu kancing kemejanya, tampak seperti pengunjung biasa, namun matanya setajam elang yang sedang mengintai mangsa.
Mereka berhenti di meja informasi. Nathaniel memasang wajah panik yang dibuat-buat, mengklaim bahwa ia kehilangan dompetnya. Respon petugas? Hanya menunjuk sebuah formulir dengan dagunya tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di bawah meja.
"Sudah lihat bagaimana?" tanya Nathaniel saat mereka menjauh, suaranya rendah namun penuh penekanan.
"Iya... walau masih sedikit membingungkan, tapi terlihat," jawab Alessia pelan. Hatinya mencelos. "Mereka tidak peduli. Mereka pikir karena ini di pinggiran, standar Sinclair boleh diturunkan?"
"Persis," sahut Nathaniel. Ia kemudian mengajak Alessia memeriksa toilet di setiap lantai. Di lantai tiga, mereka menemukan tempat sampah yang meluap dan lantai yang licin tanpa tanda peringatan.
Alessia mencatat semuanya di ponselnya. Amarah kecil mulai membakar dadanya. Ini bukan Sinclair yang ia kenal. Ini bukan warisan ayahnya.
"Oke sekarang," ucap Nathaniel sembari merapikan kembali jasnya, tatapannya berubah menjadi dingin dan mematikan. "Kita akan memporak-porandakan mall cabang ini."
Nathaniel mengeluarkan ponselnya, menekan sebuah nomor yang tersimpan sebagai 'GM Branch 04'.
"Ini Nathaniel Luca. Saya ada di lobi utama bersama Ms. Alessia Sinclair. Saya beri waktu tiga menit untuk Anda dan seluruh jajaran manajer berada di ruang rapat. Lewat satu detik, anggap surat pengunduran diri Anda sudah saya terima."
Klik.
Suasana mall yang tadinya tenang mendadak berubah menjadi medan perang. Alessia bisa melihat dari kejauhan beberapa staf berseragam rapi mulai berlarian dengan wajah pucat pasi. Radio panggil mereka berbunyi berisik.
"Ayo, Nona Sinclair," Nathaniel mempersilakan Alessia berjalan lebih dulu dengan gestur formal yang tegas. "Tunjukkan pada mereka bahwa meskipun Anda 'Princess', Anda tahu cara menggenggam pedang."
Pintu ruang rapat terbuka dengan dentuman yang cukup keras. Di dalamnya, sepuluh pria dan wanita paruh baya sudah berdiri berjejer, keringat dingin membasahi dahi mereka. General Manajer, seorang pria tambun bernama Pak Bram, membungkuk hampir sembilan puluh derajat.
"M-Maaf, Pak Nathaniel... Ms. Alessia... kami tidak tahu kalau akan ada sidak..." suara Pak Bram bergetar.
Nathaniel tidak duduk. Ia berdiri di ujung meja, meletakkan tangannya yang kokoh di atas permukaan kayu, sementara Alessia duduk di kursi utama, kursi yang seharusnya milik ayahnya.
"Anda tidak tahu?" Nathaniel mengulang kata-kata itu dengan nada yang sangat tenang, namun justru itu yang paling menakutkan.
"Jadi, standar pelayanan Sinclair Mall hanya berlaku jika saya atau Tuan William ada di sini? Begitu, Pak Bram?"
"Bukan begitu, Pak... kami..."
"Toilet lantai tiga berantakan. Meja informasi lantai dasar lebih tertarik pada media sosial daripada keluhan pelanggan," potong Nathaniel cepat. Ia menoleh pada Alessia. "Ms. Sinclair, silakan berikan laporan Anda."
Alessia menarik napas panjang. Ia teringat wajah anak-anak panti asuhan yang selalu diajarkan untuk menghargai apa yang mereka miliki. Melihat mall ini terbengkalai membuatnya merasa dikhianati.
"Pak Bram," suara Alessia keluar dengan tegas, tanpa keraguan. "Saya menghabiskan waktu luang saya di panti asuhan, memastikan setiap inci tempat itu layak untuk anak-anak. Dan melihat mall keluarga saya diperlakukan seperti gudang tua oleh Anda... itu sangat mengecewakan."
Alessia melemparkan ponselnya ke tengah meja, memperlihatkan foto-foto pelanggaran yang ia ambil tadi. "Saya beri waktu 24 jam untuk membenahi semua ini. Jika besok saya kembali dan menemukan satu butir debu di meja informasi, saya pastikan Sinclair Mall tidak lagi membutuhkan jasa Anda."
Nathaniel terdiam, menatap Alessia dari samping. Ada kilat kebanggaan yang ia sembunyikan rapat-rapat di balik tatapan matanya yang dingin.
———
Lampu neon berwarna pastel dan alunan musik indie yang ceria memancar dari restoran tersebut, menciptakan suasana yang sangat kontras dengan ketegangan di ruang rapat beberapa menit lalu. Alessia menempelkan wajahnya ke kaca mobil, matanya berbinar seperti anak kecil yang menemukan toko permen.
"Wah!!! Kak! Restoran itu jarang sepi! Mumpung lagi sepi ayo mampir. Aku lapar juga," rengek Alessia. Suaranya kembali ke nada manjanya yang khas, nada yang selama ini selalu berhasil meluluhkan hati William Sinclair.
Nathaniel melirik arloji di pergelangan tangannya, lalu menatap Alessia. "Kita punya jadwal evaluasi laporan cabang pukul empat sore, Nona Sinclair. Makan siang formal sudah disiapkan di kantor."
"Tapi aku mau itu! Lihat, antreannya cuma sedikit sekarang. Ayolah, Mentor... Nathan... sekali ini saja!" Alessia menyatukan kedua tangannya, memberikan tatapan memohon yang paling maut kepada 'tembok berjalan' di sampingnya.
Nathaniel mengembuskan napas panjang, sebuah kekalahan yang jarang terjadi dalam hidupnya. Ia memijat pangkal hidungnya sejenak sebelum akhirnya memberikan isyarat kepada sopir di depan.
"Tepi. Kita berhenti sepuluh menit," perintah Nathaniel kaku.
"Yesss!" Alessia bersorak pelan, hampir melompat keluar bahkan sebelum mobil berhenti sempurna.
Begitu mereka masuk, atmosfer "anak muda" langsung menyergap. Interiornya penuh dengan tanaman gantung dan furnitur kayu minimalis. Alessia menarik tangan Nathaniel, gestur yang membuat jantung pria itu berdegup kencang secara aneh, menuju salah satu meja di sudut.
"Kamu harus coba Signature Truffle Pasta-nya, Kak. Aku pernah pesan lewat jasa antar, tapi makan langsung di sini pasti beda!" Alessia berbicara dengan semangat, tangannya sibuk membolak-balik buku menu yang penuh ilustrasi estetik.
Nathaniel duduk dengan kaku, setelan jas mahalnya terasa sangat mencolok di antara pengunjung lain yang hanya mengenakan kaos oversized dan celana denim. Ia merasa seperti alien di planet yang penuh warna.
"Satu pasta dan satu cold brew tanpa gula," ucap Nathaniel kepada pelayan, tetap dengan nada dinginnya.
"Aku mau pastanya juga, tapi tambah extra cheese, dan satu strawberry milkshake dengan whipped cream yang banyak!" tambah Alessia ceria.
Sambil menunggu pesanan, Alessia menopang dagu, menatap Nathaniel yang masih tampak tidak nyaman. "Kenapa mukanya begitu? Santai sedikit, Nathan. Dunia bisnis tidak akan runtuh hanya karena kita makan siang di tempat yang tidak punya dress code."
Nathaniel melepaskan kancing jasnya, mencoba mengikuti saran Alessia meskipun sulit. "Tempat seperti ini... tidak efisien. Terlalu berisik untuk berpikir."
"Tapi lihat orang-orang di sini," Alessia menunjuk sekeliling dengan matanya. "Mereka bahagia. Mereka adalah konsumen Sinclair Mall di masa depan. Jika kita hanya makan di restoran mewah yang sepi, kita tidak akan pernah tahu apa yang sebenarnya membuat orang ingin mengeluarkan uang mereka."
Nathaniel terdiam. Analisis Alessia sederhana, namun masuk akal. Di balik sifat manjanya, gadis ini memiliki empati yang tajam terhadap manusia, sesuatu yang seringkali Nathaniel lupakan karena terlalu fokus pada angka.
Pesanan datang, dan Alessia langsung menyuap pastanya dengan lahap. "Hmm! Enak banget! Coba deh, Kak."
Alessia menyodorkan garpunya yang berisi gulungan pasta ke depan mulut Nathaniel tanpa berpikir panjang. Nathaniel membeku. Matanya menatap garpu itu, lalu menatap mata cokelat Alessia yang tampak sangat tulus.
Untuk sejenak, tembok es di hati Nathaniel retak. Ia ragu, namun perlahan ia memajukan wajahnya dan menerima suapan dari Alessia.