Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.
Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.
Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1
Dunia ini sebenarnya hanya panggung sandiwara yang dipoles dengan cat mahal agar terlihat megah. Begitulah cara Kerajaan Aethelgard bertahan selama berabad-abad; menyembunyikan retakan fondasi di balik lapisan emas dan pesta-pesta dansa yang memuakkan. Bagi Arlo Valerius, setiap inci dinding istana ini adalah kebohongan yang terstruktur. Semakin berkilau permukaannya, semakin busuk apa yang ada di dalamnya.
Arlo menyentakkan bahunya, membuat tangan seorang penjahit muda yang sedang mengukur lingkar dadanya tergelincir. Jarum pentul itu nyaris menusuk kulit Arlo, namun ia tidak peduli. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar dengan tatapan yang bisa membekukan air terjun.
"Yang Mulia, mohon... hanya lima menit lagi," bisik penjahit itu dengan suara bergetar.
Arlo tidak menanggapi. Ia menarik napas panjang, merasakan kemeja sutra putih itu menekan dadanya seolah-olah kain itu adalah tangan tak kasat mata yang sedang mencekiknya. Di atas meja rias, sebuah undangan berwarna krem dengan stempel lilin berbentuk bunga lili—lambang Kerajaan Vandellia—tergeletak seperti sebuah vonis mati.
Putri Helena. Nama itu berdenging di telinga Arlo seperti nyamuk yang mengganggu. Ia belum pernah bertemu langsung, namun lukisan yang dikirimkan sudah cukup memberitahunya segalanya. Rambut pirang platina yang terlalu sempurna, tatapan mata yang seolah-olah sedang menilai harga barang di sekitarnya, dan senyum yang hanya menyentuh bibir, bukan mata. Helena adalah definisi dari segala hal yang Arlo benci: sebuah boneka porselen yang haus akan sorotan.
"Lord Cedric," panggil Arlo tanpa menoleh.
Pria tua dengan seragam hitam kaku yang berdiri di sudut ruangan segera membungkuk. "Ya, Yang Mulia?"
"Katakan pada ayahku, jika dia ingin aku menikahi lukisan itu, silakan pajang saja aku di galeri kerajaan. Setidaknya di sana aku tidak perlu bernapas," ucap Arlo datar.
"Yang Mulia, Raja sangat mengharapkan kesediaan Anda untuk menyambut kedatangan Putri Helena di gerbang utama dua jam lagi," balas Cedric dengan nada monoton, seolah-olah ia sudah menghafal skenario ini selama puluhan tahun.
Arlo mendengus. Tangannya bergerak cepat mencopot kancing kemeja sutranya yang paling atas hingga terlepas paksa. Ia tidak butuh lima menit. Ia butuh oksigen yang tidak berbau parfum mawar yang menyengat di ruangan ini.
Tanpa sepatah kata pun, Arlo menyambar sebuah jaket kulit tua yang tergeletak di balik kursi—satu-satunya barang yang tidak "direstui" oleh protokol istana—dan melangkah menuju pintu keluar. Para pengawal di depan pintu sempat ragu, namun tatapan tajam Arlo membuat mereka menyingkir seketika.
Arlo tidak menuju gerbang. Ia justru berbelok ke arah koridor sempit yang menuju ke Sayap Barat. Area itu adalah bagian istana yang paling jarang dikunjungi karena sedang dalam renovasi total. Arlo menyukai tempat itu bukan karena estetikanya, tapi karena di sana, orang-orang terlalu sibuk bekerja untuk mempedulikan siapa yang lewat.
Ia berjalan cepat, langkah sepatunya beradu dengan lantai marmer yang kusam dan penuh debu konstruksi. Aroma kayu yang baru dipotong dan bau tajam zat kimia mulai tercium, menggantikan aroma bunga yang memualkan tadi.
Di sebuah aula besar yang plafonnya masih setengah telanjang, Arlo berhenti. Ia melihat tumpukan kaleng cat dan steger kayu yang menjulang. Di atas sana, seseorang sedang bekerja.
"Warna itu sampah," ucap Arlo tiba-tiba, suaranya menggema di aula yang kosong.
Gadis yang berada di atas steger itu tersentak. Tangannya yang memegang kuas besar bergetar, menyebabkan setitik cat putih jatuh tepat di ujung sepatu kulit mahal Arlo.
Kalea Elara menarik napas tajam. Ia perlahan menundukkan kepala, menatap ke bawah dari ketinggian empat meter. Matanya menyipit saat melihat seorang pria berdiri di bawahnya dengan gaya angkuh, mengenakan jaket kulit yang terlihat kontras dengan kemeja sutra di dalamnya.
"Apa Anda baru saja bilang warna ini sampah?" Kalea bertanya, suaranya tidak terdengar takut sama sekali. Justru ada nada jengkel yang sangat jelas.
Arlo menunjuk ke arah dinding yang baru setengah dicat. "Putih mutiara? Itu warna untuk orang-orang yang terlalu pengecut untuk memilih karakter. Membosankan."
Kalea meletakkan kuasnya di atas papan kayu dengan suara plak yang keras. Ia mulai menuruni tangga steger dengan gerakan gesit, seolah-olah ia sudah melakukannya ribuan kali. Begitu kakinya menyentuh lantai, ia tidak membungkuk. Ia justru melangkah maju, berdiri tepat di depan Arlo, mengabaikan fakta bahwa tinggi badannya hanya sebatas bahu pria itu.
"Dengarkan saya, Tuan-yang-sepertinya-tidak-punya-pekerjaan," Kalea menunjuk dada Arlo dengan jarinya yang belepotan cat. "Warna ini dipilih oleh dewan artistik kerajaan yang dibayar mahal. Tugas saya adalah mengaplikasikannya, bukan mendengarkan kritik dari orang asing yang masuk ke area konstruksi tanpa izin."
Arlo menaikkan sebelah alisnya. Ia terbiasa dengan orang-orang yang gemetar saat menatap matanya, bukan gadis kecil dengan noda kapur di hidung yang berani menunjuk dadanya. "Warna putih itu akan membuat ruangan ini terlihat seperti rumah sakit dalam waktu dua tahun. Terlalu pucat."
Kalea mendengus kasar, ia menyilangkan tangan di depan dada, memperlihatkan lengan bajunya yang digulung asal-asalan. "Oh, benarkah? Dan menurut Anda, warna apa yang lebih baik? Emas? Agar kalian para bangsawan bisa merasa lebih suci saat duduk di atas penderitaan orang lain?"
Arlo tertegun sejenak. Kalimat itu bukan sekadar argumen tentang warna; itu adalah serangan terhadap kastanya. "Aku tidak bilang emas. Aku bilang warna yang punya nyawa. Biru tua, atau mungkin hijau hutan."
"Biru tua akan membuat ruangan ini gelap seperti gua, dan hijau hutan hanya akan membuat orang-orang di sini merasa sedang tersesat di semak-semak," balas Kalea cepat. Ia membungkuk, mengambil secarik kain lap kusam dan mulai menggosok noda cat yang tadi jatuh di sepatu Arlo dengan gerakan kasar. "Dan lain kali, kalau mau berjalan di area konstruksi, jangan pakai sepatu yang harganya bisa membiayai makan keluarga saya selama setahun. Anda hanya membuat saya repot."
Arlo menarik kakinya dengan kasar. "Jangan sentuh sepatuku."
Kalea berdiri tegak kembali, melempar kain lap itu ke lantai dengan pandangan menghina. "Dengan senang hati. Pergilah dari sini, Tuan. Anda mengganggu jadwal saya. Kalau tembok ini tidak selesai sore ini, kepala saya yang akan jadi taruhan, bukan kepala Anda yang rapi itu."
Arlo menatap gadis itu dengan intens. Ia bisa melihat peluh yang membasahi pelipis Kalea, noda-noda cat yang mengering di kulit tangannya yang kecokelatan, dan mata cokelat yang memancarkan kebencian murni terhadap keberadaannya. Gadis ini tidak melihatnya sebagai seorang pangeran—dan Arlo menyukainya, meski ego-nya merasa tergores.
"Siapa namamu?" tanya Arlo, suaranya sedikit lebih rendah.
"Kenapa? Anda mau melaporkan saya karena bersikap tidak sopan?" Kalea mendecak, lalu berbalik menuju kaleng catnya lagi. "Nama saya tidak penting untuk orang seperti Anda. Urusi saja urusan Anda sendiri, entah itu memilih dasi atau mencari cermin untuk mengagumi diri sendiri."
Arlo hendak membalas saat suara terompet dari arah gerbang depan terdengar memekik. Suaranya panjang dan berwibawa, menandakan tamu agung telah memasuki wilayah istana.
"Sial," umpat Arlo pelan.
Kalea menoleh sekilas, melihat raut wajah Arlo yang tiba-tiba berubah tegang. "Kenapa? Apa majikan Anda sudah datang? Cepatlah pergi sebelum Anda dicambuk karena membolos."
Arlo menatap Kalea sekali lagi, sebuah tatapan yang sulit diartikan. "Kau punya lidah yang tajam untuk ukuran seorang tukang cat."
"Dan Anda punya kepala yang sangat keras untuk ukuran seseorang yang sepertinya tidak punya otak," balas Kalea tanpa beban, kembali menaiki stegernya.
Arlo berbalik, melangkah lebar menuju jalur rahasianya kembali. Amarahnya anehnya sedikit mereda, digantikan oleh rasa penasaran yang mengusik. Ia sudah terbiasa dengan kelembutan yang palsu; kekasaran Kalea justru terasa seperti air dingin yang menyentak kesadarannya.
Setibanya di ruang ganti melalui pintu rahasia, Lord Cedric sudah berdiri di sana dengan wajah sepucat kertas. "Yang Mulia! Dari mana saja Anda? Kereta Putri Helena sudah berhenti!"
Arlo tidak menjawab. Ia melepas jaket kulitnya, membiarkan para penjahit kembali menyerbu tubuhnya untuk merapikan kemeja sutranya yang kini sedikit terkena noda cat putih di bagian ujungnya—noda yang ditinggalkan oleh Kalea.
"Jangan tutupi noda ini," perintah Arlo saat seorang penjahit hendak membersihkannya.
"Tapi Yang Mulia, ini..."
"Biarkan saja," potong Arlo tajam.
Sepuluh menit kemudian, Arlo berdiri di undakan tangga marmer gerbang utama. Di sampingnya, Raja Valerius menatapnya dengan pandangan memperingatkan. Di depannya, pintu kereta kencana Vandellia terbuka.
Seorang wanita turun. Helena.
Ia benar-benar seperti dalam lukisan. Rambutnya berkilau perak di bawah cahaya matahari, gaunnya yang berwarna ungu tua dipenuhi bordiran benang perak yang rumit. Ia melangkah dengan keanggunan yang sangat diperhitungkan. Saat ia sampai di depan Arlo, ia memberikan senyum tipis yang tampak sempurna, namun matanya tetap sedingin es.
"Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda, Pangeran Arlo," ucap Helena, suaranya halus seperti sutra, namun terdengar sangat dibuat-buat di telinga Arlo.
Arlo membungkuk sedikit, formalitas yang terasa seperti beban berat. "Selamat datang di Aethelgard, Putri Helena."
"Saya harap perjalanan saya tidak sia-sia," bisik Helena saat ia menegakkan tubuh, matanya melirik sekilas ke arah kerah baju Arlo yang sedikit berantakan. "Dan saya harap, pangeran saya memiliki selera yang lebih baik daripada apa yang saya lihat sekarang."
Arlo membalas tatapan itu tanpa ekspresi. Di pikirannya, suara halus Helena justru kalah nyaring dengan suara kasar seorang gadis di atas steger kayu yang menyebutnya "Tuan-yang-tidak-punya-otak".
Saat ia berjalan mendampingi Helena memasuki istana, mata Arlo sempat melirik ke arah Sayap Barat yang tertutup bayangan. Ia tahu, di sana ada seseorang yang membencinya tanpa alasan politik, dan entah kenapa, itu adalah hal paling nyata yang ia temui hari ini.
Retakan itu tidak lagi tertutup cat. Retakan itu baru saja mulai melebar, dan Arlo tidak punya niat untuk memperbaikinya.