Menceritakan kisah seorang pemuda desa yang tidak bisa berbicara atau bisu... kehidupannya yang miskin secara perlahan berubah setelah menemukan sebuah batu mustika indah berwarna jingga. bisu yang di alami pemuda itu seketika sembuh tidak hanya itu batu itu juga memiliki kekuatan yang di idam idamkan kebanyakan laki-laki yaitu membuat tubuh penggunanya tak dapat terlihat atau kasat mata.. namun di balik semua keistimewan batu jingga itu menyimpan sebuah misteri dan kutukan yang secara perlahan mendorong pemuda tersebut memasuki dunia gelap yang sesungguhnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abdul Rizqi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
tertawa tapi terluka
Di salah satu kamar rawat inap terlihat Linda baru saja bangun dengan nafas terengah engah dan ekspresi ketakutan. Bayangan kejadian tadi malam terus menghantuinya.
"Tenang bu. Bu Linda sudah berada di tempat yang aman." Ucap suster yang kebetulan saat itu sedang mengecek selang infus.
Linda hanya bisa menangis, ia seperti tampak ingin mengakhiri hidup. Tak di pungkiri trauma yang mendalam benar benar sudah melekat di dalam dirinya.
Tak lama kemudian seorang polisi datang ia tak lain adalah Adik Linda yaitu Jaya. Ia tampak berbincang bincang sebentar dengan suster..
"Bu Linda sepertinya harus di bawa ke psikolog pak. Kejadian tadi malam pasti membuat Bu Linda sangat trauma, terlebih lagi terdapat banyak lebam di tubuh Bu Linda.. pelaku pemerk*saan ini pasti melakukan tindakannya dengan sangat kasar." Ucap Suster.
"Baik Sus, nanti akan saya bicarakan dengan kakak saya." Jawab Jaya.
Suster itu melenggang pergi... Jaya tampak berdiri mematung di depan ranjang kakaknya, di tangannya terdapat hasil visum.
Sementara Linda hanya menatap langit langit kamar penuh ketakutan.
"Ja-- jangan sentuh!! Jangan sentuh!!" Linda tiba tiba berteriak seperti orang kesetanan..
Jaya terkejut, ia langsung menekan tombol pemanggil dokter.
Tak lama kemudian dokter dan beberapa suster datang berusaha menanangkan Linda, namun Linda terus memberontak dan bergerak liar, memuat dokter terpaksa mengambil tindakan bius.
Setelah kepergian dokter dan beberapa suster itu, Jaya duduk di sofa sembari meremas rambutnya sendiri penuh dengan frustasi.
"Aku yakin sekali pelakunya adalah Sugeng! Namun aku masih belum menemukan bukti yang kuat untuk menangkapnya.. aku tak bisa asal menangkapnya, ia bisa menuntut balik diriku." Jaya kemudian melihat hasil visum dari tubuh Linda, "bahkan tak ada sidik jari atau sperma yang tertinggal di tubuh Mbak Linda... dia benar benar melakukan aksinya dengan sangat teliti! Bajingan keparat! Awas saja kau Sugeng aku pasti akan menemukan bukti untuk menangkapmu!" Batin Jaya penuh frustasi.
Ia kemudian keluar entah pergi kemana.
Sore harinya Linda kembali sadar..
"Kamu sudah baikan mbak?" Tanya Jaya, ia baru saja kembali dengan membawa beberapa jenis cemilan kesukaan Linda. Ada putu ayu, kue lapis dan beberapa jajanan lainnya.
"Hmm.." jawab Linda singkat.
"Syukur lah Mbak.. ada yang mau aku tanyakan sedikit mbak.." Jaya duduk di kursi dekat dengan ranjang.
"Apa Mbak Linda ingat atau tahu bagaimana ciri ciri pelaku itu?" Tanya Jaya.
"Mbak ngga lihat wajahnya, Jay. Listrik di rumah di matiin... mbak sempet sorot dia pake senter handphone tapi ngga kelihatan apa apa.. dari tenaganya dia kayaknya laki laki masih muda.. dan satu lagi emm mbak mau jujur sama kamu, Jay.." Linda terlihat gelisah.
Ia mengerjap ketika mengingat sang pelaku membisikan kata, 'terimakasih Smoke Rose'
"Maksudnya gimana mbak?"
"Selama ini Mbak nulis novel, novel gituan... novel lendir.." Linda tampak ragu ragu.
"Hah?!!" Jaya tercengang, "makasud mbak novel 21+ gitu?"
"Iya, Jay. Kamu jangan marah ya? Jujur mbak waktu itu ngga ada kerjaan dan iseng iseng nulis kayak begitu, dan tahu tahu banyak pembacanya... makanya mbak lanjutin terus dan lumayan juga dapet uang.. mbak juga ngga pake nama asli mbak di nama pena akun mbak.. tapi nama Smoke Rose dan pelaku itu tahu nama pena mbak sebelum dia pergi dia ngomong 'terimakasih Smoke Rose' artinya orang itu tahu bahwa Smoke Rose itu adalah mbak."
Jaya kaget, "Pelakunya tahu bahwa mbak Linda menulis novel lendir? Dia tahu dari mana? Bukankah Mbak Linda sudah pakai nama samaran di akunnya, sialan pelaku ini benar benar misterius..." batin Jaya.
"Selain mbak sendiri apa Mbak pernah kasih tau ke orang lain?"
"Ngga ada yang pernah saya kasih tau Jay.. baru kali ini, dan cuma kamu."
"Kalau pelaku tahu nama penanya mbak Linda smoke rose artinya pelaku itu sangat dekat dengan Mbak Linda.. tapi siapa? Apakah kedua penjaga rumah Mbak Linda itu? Mereka berdua yang paling punya kesempatan untuk melakukan itu, Mereka bisa aja bohong dan buat buat cerita.. setahuku hubungan Sugeng dan Mbak Linda sama sekali ngga dekat, mustahil dia bisa tahu kalau mbak Linda nulis novel begituan." batin Jaya.
"Arrgghh! Aku benar benar pusing memikirkan kasus ini!" Imbuhnya.
"Oh ya Jay, jujur Mbak curiga Sugeng pelakunya. Dia tiba tiba punya banyak uang buat lunasin hutang ke mbak, dan uang pelunasan hutang itu juga di ambil oleh si pelaku."
Mata Jaya terbelalak, "hah?!! Ngga salah lagi, itu pasti uangnya Wanto! Aku pamit dulu mbak, mau menginterogasi Sugeng dia dapat uang itu dari mana!"
Linda hanya mengangguk.
Jaya membuka handphonenya dan hendak memberi komando untuk menginterogasi Sugeng. Namun sebuah kiriman rekaman cctv dari rekannya terlihat, dengan pesan 'Sugeng bukan pelakunya Pak Jaya. Dia punya alibi yang kuat berada di pos ronda dari jam 12 malam sampai setengah 4 dini hari.'
Jaya kembali duduk meremas rambutnya dengan penuh frustasi, "bajingan! Sebenanya siapa pelakunya?! Apa kedua penjaga itu?!"
***
Sore hari Sugeng pulang di antar becak. Ia tampak membawa kayu papan, plastik berisi paku, ya ia ingin membuat rak untuk warungnya. Tak hanya itu Sugeng juga membawa 3 bungkus bakso untuk seluruh bagian keluarganya.
Sugeng nyelonong masuk ke dalam rumah begitu saja, ia melihat nenek Ratmi, Mbak Sekar dan Isna mengobrol di ruang tamu.
Tiba tiba mata nenek Ratmi melotot menatap Sugeng. Sugeng hanya cengengesan, ia kembali keluar dan masuk seraya mengucapkan salam..
"Assalamu'alaikum... weh lagi ngobrolin apa nih?"
"Walaikumsalam." Mereka bertiga menjawabnya secara serentak.
"Eh kamu geng... sini ada yang mau mbak obrolin.."
"Iya mbak nanti aja, mau mandi dulu.."
"Sekarang!"
"Eh? Iya iya!" Sugeng mengalah dan duduk lesehan di sana, "ada apa mbak?"
Sugeng sedikit heran melihat mata kakaknya berkaca kaca.
Siapa sangka Sekar langsung memeluk Sugeng dengan derai air mata yang tak dapat di tahan lagi, "maafin mbak geng, maafin mbak. Mbak bener bener ngga tahu waktu itu nenek sakit, hingga kamu terpaksa minjem uang sama Linda. Maafin mbak karena udah biarin kamu berjuang sendirian.. kamu rela putus sekolah dan ikut Pak Jito jadi kuli demi lunasin hutang itu. Kenapa kamu ngga bilang? Coba aja kalau kamu bilang mbak pasti bakalan bantu."
Sugeng mematung tak di pungkiri ia teramat sedih mengingat masa lalunya, di mana ia harus rela bekerja keras menjadi kuli, kerja serabutan, mencari rumput untuk pakan kambing pak RT dan banyak lagi demi melunasi hutang ke Linda.. ia bahkan rela putus sekolah kala itu.
Sugeng hanya tertawa berusaha menyembunyikan luka dari keluarganya.