Putri Duke dari Kerajaan Aurelius, Elara Ravens, dikenal sebagai pewaris pedang keluarga. Namun sejak kecil ia selalu kalah dari kembarannya, dan selalu dibandingkan dan dicemooh sebagai kegagalan.
Tanpa menyadari bahwa tubuh Elara menyimpan sihir besar yang pernah meledak saat ia berusia tiga tahun dan kemudian disegel.
Sampai sebuah undangan datang dari Kerajaan sihir, Elara memilih pergi ke akademi sihir dan ingin menaklukkan kekuatan dalam dirinya.
Di sana ia bertemu kembali dengan Aaron Oberyn, Rank 1 akademi dan teman masa kecilnya. Di tengah sistem ranking yang kejam dan tatapan meremehkan, Elara harus membuktikan bahwa ia bukanlah kegagalan atau aib keluarga.
Apakah Elara akan menjadi kesatria pedang atau memilih menjadi penyihir kelak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22. MELAWAN
Raungan monster menggema di udara yang dipenuhi debu dan bau terbakar.
Di tengah reruntuhan bangunan Akademi Sihir Oberyn, Elara Ravens membeku di tempatnya.
Matanya membesar.
Tepat di belakangnya seekor monster besar berdiri.
Tubuhnya mirip beruang raksasa dengan bulu hitam pekat seperti bayangan malam. Cakarnya panjang dan tajam, sementara mulutnya dipenuhi taring yang meneteskan air liur kental.
Monster itu meraung. Suara itu begitu dekat hingga Elara bisa merasakan getaran di tulang punggungnya.
Di depannya, murid junior yang kakinya masih terjebak puing-puing bangunan menangis ketakutan.
"Senior, kita akan mati," ujar murid junior itu ketakutan.
Elara menggertakkan giginya. "Tidak akan! Kita tidak akan mati di sini!"
Elara tahu satu hal dengan sangat jelas. Ia tidak siap. Ia sedang menunduk, berusaha mengangkat batu besar dari kaki murid itu. Posisi tubuhnya buruk untuk bertahan, apalagi menyerang.
Namun monster itu sudah mengangkat cakarnya.
Bayangan besar jatuh menutupi tubuh Elara.
Serangan itu datang.
Elara hanya punya sepersekian detik. Ia menarik napas. Dan tanpa sadar ia bersiap menerima serangan itu.
Namun sebelum cakar monster itu menyentuhnya ...
DUUM!
Tanah di belakang Elara tiba-tiba terangkat.
Sebuah dinding tanah tebal muncul dari tanah seperti benteng.
Cakar monster menghantam dinding itu dengan keras. Memisahkan Elara dengan monster itu sesaat.
Debu beterbangan.
Elara terkejut. "Apa?!"
"ELARA?!"
Suara yang sangat familiar terdengar.
Evangeline. Gadis berambut cokelat itu berlari ke arah mereka.
Elara langsung berseru kaget. "Kenapa kau kembali?!" Ia menatap Evangeline dengan panik. "Kau seharusnya lari ke tempat aman!"
Evangeline berhenti di samping Elara. Matanya tajam dan berseru, "Dan meninggalkanmu sendirian diserang monster? Kau pikir aku teman yang jahat, huh?! Lagi pula kenapa kau tiba-tiba lari seperti itu ke tengah para monster sendirian!"
Elara tercengang. Ia tidak pernah melihat Evangeline marah seperti ini. Gadis yang biasanya lembut dan tenang itu kini berdiri dengan wajah kesal namun khawatir.
Elara hanya bisa menatapnya beberapa detik. Lalu ia tersenyum kecil.
"Maaf," ucap Elara.
Evangeline mendengus. "Bodoh."
Namun Evangeline langsung berlutut di samping Elara.
"Cepat!" seru Elara.
Mereka berdua bersama-sama mencoba mengangkat puing yang menimpa kaki murid junior itu.
"Ugh, berat!" kata Evangeline berusaha menyingkirkan puing bangunan itu.
Elara mengerahkan seluruh kekuatannya.
Evangeline juga menggunakan sedikit sihir untuk membantu mengangkat batu itu.
"Sekarang!" seru Evangeline memberi kode agar Elara mengangkat bersamaan.
Dengan usaha bersama mereka akhirnya berhasil menggeser batu itu.
Murid junior itu langsung menangis lega. "Terima kasih, Senior!"
Elara tersenyum. "Bisa berdiri?" tanyanya.
Murid itu mengangguk dengan kaki gemetar. "Bisa."
Elara dan Evangeline langsung memapah murid itu.
"Ayo segera pergi dari sini!" ujar Elara.
Mereka mulai berjalan menjauh dari area reruntuhan.
Namun ...
CRAAASH!
Suara keras terdengar dari belakang.
Dinding tanah yang tadi melindungi mereka hancur berkeping-keping.
Monster beruang hitam itu keluar dari balik debu. Matanya merah. Ia meraung marah.
Elara berhenti. Ia menoleh ke arah Evangeline.
"Bawa dia pergi," suruh Elara.
Evangeline membelalak. "Apa?!"
Elara melepaskan tangan murid itu. "Pergi dan bawa adik kelas kita jauh dari sini. Aku akan menahannya."
Evangeline.menunjuk makhluk besar itu dan langsung berseru. "Tapi dia monster! Dia sangat kuat! Kau tidak bisa melawannya!"
Elara tersenyum tipis. Ia menatap Evangeline dengan yakin. "Tenang saja. Aku pernah melawan monster yang lebih besar sebelumnya saat di Aurelius. Percaya padaku. Aku akan baik-baik saja."
"Tapi," Evangeline ragu, sangat ragu. Tidak mau meninggalkan Elara sendirian.
Elara menunjuk ke arah akademi. "Kalau kau khawatir, panggil guru ke area ini. Jika monsternya tidak dihadang, semua akan dalam bahaya."
Evangeline menatap Elara lama. Angin berhembus membawa debu dan suara jeritan murid-murid lain.
Akhirnya Evangeline mengangguk.
"Baik. Kau harus hati-hati. Dan kau harus selamat. Atau aku akan memukulmu nanti. Bahkan jika kau mati aku akan menarikmu dari neraka!" ujar Evangeline.
Elara tertawa kecil. "Baik."
Evangeline segera membawa murid junior itu pergi.
Sementara Elara berbalik.
Monster beruang hitam itu sudah berlari ke arah Elara. Tanah bergetar setiap langkahnya.
Elara menarik napas.
"Baiklah ..." Ia mengangkat pedangnya. "... kita mulai."
Monster itu menyerang.
Cakarnya menghantam tanah.
BOOM!
Elara melompat ke samping..Gerakannya cepat. Lebih cepat dari sebelumnya.
Ia berlari memutar.
Lalu.menebas.
SLASH!
Pedang Elara melukai bahu monster itu.
Monster itu meraung marah.
Namun Elara tercengang.
"Eh?" Ia menatap pedangnya.
Serangannya tadi terasa terlalu mudah.
Ia kembali bergerak. Menghindari serangan monster.
Lalu menebas lagi.
SLASH!
Monster itu terhuyung.
Elara menatap tangannya sendiri. "Kenapa terasa mudah sekali?"
Ia menunduk sebentar. Lalu tertawa kecil.
"Oh, ternyata karena itu," ucap Elara.
Ia teringat sesuatu.
Latihan tanpa henti.
Duel setiap hari.
Pelajaran tentang aliran mana.
Elara tersenyum. "Kurasa latihan duel dengan Senior Leon benar-benar memberikan hasil. Aku harus berterima kasih dengannya nanti."
Namun teriakan panik terdengar dari kejauhan.
"AAAAAH!"
Elara menoleh.
Sekelompok murid berlari ke arahnya..Wajah mereka penuh ketakutan.
Dan di belakang mereka beberapa monster mengejar.
Ada tiga monster besar. Tubuh mereka seperti kadal raksasa dengan gigi tajam.
Elara langsung berteriak. "LARI!"
Ia berlari menuju mereka dan mengarahkan para murid.
"Lari sekuat tenaga kalian menuju area dalam akademi!" tambahnya.
Para murid itu langsung berlari melewati Elara sesuai arahan.
Sementara Elara berdiri di antara mereka dan monster.
Ia menyerang.
CLANG!
Pedang Elara menghantam cakar monster pertama.
Ia melompat. Menghindari gigitan monster kedua.
Namun melawan tiga monster sekaligus bukan hal mudah.
Salah satu monster menghantamnya.
Elara terpental beberapa langkah namun ia segera bangkit. Tidak memberi mereka kesempatan.
Gadis itu menyerang lagi.
Gerakannya cepat.
Gesit.
Namun tubuh monster itu sangat besar. Setiap serangan mereka bisa menghancurkan tanah.
Elara menggertakkan gigi menahan efek kejut dari serangan monster itu.
Ia menangkis.
Menghindar.
Menyerang.
Namun ia tahu ini akan sulit jika sendirian karena monster bertambah banyak.
Elara melirik ke belakang.
Para murid masih ada di sekitar. Mereka belum sempat pergi jauh. Ia harus menahan monster-monster ini.
Tiba-tiba ...
SHRAAAK!
Salah satu monster terbelah dua..Darah hitam menyembur ke tanah.
Elara terkejut.
Monster itu jatuh dengan suara keras.
Seseorang berdiri di belakang monster itu.
Pedang besar di tangannya berlumuran darah monster.
Elara menoleh. Lalu tersenyum lebar.
"Senior Leon?!"
Leonhart berdiri di sana. Aura pertempuran terpancar dari tubuh besarnya. Ia menyeringai.
"Kau bekerja keras sendirian rupanya, Elara. Kau sungguh Vanguard sejati. Tidak mundur saat ada pertempuran."
"Terpaksa sebenarnya," jawab Elara.
Leonhart berdiri di samping Elara dan berkata, "Namun sekarang kau tidak bertarung sendirian."
Elara tersenyum.
Leonhart menoleh padanya. "Kau masih kuat?"
Elara memutar pedangnya. "Tentu saja!Staminaku masih penuh, Senior."
Leonhart tertawa keras. "Bagus! Itu baru junior kesayanganku! Kalau begitu mari kita bersihkan tempat ini!"
Keduanya maju bersamaan.
Leonhart menyerang dengan kekuatan brutal.
Pedang besarnya membelah monster dengan satu tebasan.
Sementara Elara bergerak cepat seperti bayangan.
Menyerang titik lemah monster.
Di kejauhan Elara bisa melihat murid senior dan beberapa guru.
Mereka melawan monster dengan sihir.
Ledakan sihir memenuhi udara.
Pertempuran besar terjadi di seluruh akademi.
Namun di tempat ini Elara dan Leonhart bertarung berdampingan.
Gerakan mereka mulai selaras.
Leonhart menghancurkan pertahanan monster.
Elara menyerang dari celah yang terbuka.
Monster demi monster jatuh.
Leonhart tertawa puas. "Kau benar-benar cepat belajar!"
Elara tersenyum. "Karena guruku terlalu galak."
Leonhart menyeringai. "Kesatria harus ditempa dengan keras, ingat! Anggap saja melawan monster ini praktik dari latihan dna duel kita!"
"Mana ada!" bantah Elara bercanda yang diiringi tawa Leonhart.
Keduanya kembali menyerang.
Pedang berkilat di udara.
Raungan monster bergema.
Namun satu hal jelas di tengah kekacauan ini Elara Ravens tidak mundur.
Dan di sampingnya seorang kesatria sejati bertarung bersama dalam kekacauan yang luar biasa. Hingga Elara kehabisan staminanya akibat menggunakan sihir yang belum pernah ia gunakan sebelumnya nanti.
tapi lucu banget, kebayang Lala ngejar" temen temennya
bukan nya takut malah tambah makin gemes 😜🤣🤣
𝐦𝐚𝐥𝐚𝐡 𝐧𝐲𝐚𝐧𝐲𝐢 𝐥𝐚𝐠𝐮𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐩 🤪🤪
menjadi dewasa,dengan beban dan kewajiban yg mengikuti.
bahkan kita sudah lupa kapan terakhir kita bisa tertawa lepas 🥹
panik donk😜🤣🤣