Marvel Dewangsa sadar bahwa hatinya sudah lama mati. Mungkin dari pengkhianatan oleh wanita yang ia sayangi, ditambah ia yang berkecimpung di dunia bawah yang tidak memerlukan simpati untuk bertahan hidup. Ia akhirnya percaya bahwa hidupnya akan seallau gelap sampai mati.
Namun, entah keajaiban apa, di hari itu seorang wanita yang bernama Elara , datang dan perlahan selalau ada di kehidupannya. Apakah marvel Dewangsa akan menerima Elara di kehidupannya dan hatinya akan luluh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erinaCalistaAzahra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
menghabiskan waktu bersama
Marvel mematikan semua ponselnya. Untuk pertama kalinya dalam satu dekade, "The Glacier" mencair sepenuhnya. Ia menyerahkan takhta berdarahnya kepada tangan kanan kepercayaannya demi satu minggu yang tak ternilai di vila terpencil itu.
Mereka menghabiskan waktu dengan cara yang kontras dengan dunia luar:
Pagi yang Tenang: Marvel yang biasanya memegang glock sebelum kopi, kini belajar menyeduh teh untuk Elara.
Mereka duduk di balkon, memperhatikan kabut laut yang perlahan menghilang. Marvel hanya mengenakan kemeja linen longgar, membiarkan angin membelai bekas luka di dadanya yang kini tak lagi tegang.
Elara memasang kanvas di taman belakang. Marvel memperhatikannya melukis dengan kekaguman yang dalam. Sesekali, Elara memaksa Marvel memegang kuas. Tangan yang biasa menarik pelatuk itu kini dipandu dengan lembut oleh jemari Elara untuk menggoreskan warna-warna cerah di atas kain putih.
Saat matahari terbenam, mereka berjalan menyusuri pantai pribadi di bawah tebing. Marvel menceritakan masa kecilnya yang keras, tentang bunga yang pernah ia lihat di tengah reruntuhan, sementara Elara menceritakan mimpinya untuk memamerkan lukisan di Paris.
Mereka memasak makan malam sederhana bersama. Marvel memotong bahan-bahan dengan presisi seorang algojo, namun dengan senyum tipis yang langka. Malam diakhiri dengan dansa lambat di ruang tengah tanpa musik, hanya irama napas dan deburan ombak sebagai melodi.
Bagi marvel, setiap detik bersama Elara adalah upaya untuk menebus dosa masa lalunya. Ia menyadari bahwa kemenangan terbesar dalam hidupnya bukan saat menaklukkan klan Valerius, melainkan saat ia berhasil memenangkan hati wanita di pelukannya ini.
Marvel menarik Elara kembali ke dalam dekapannya, seolah satu malam saja tidak akan pernah cukup untuk menghapus dingin yang selama bertahun-tahun membekukan jiwanya. Di bawah remang lampu kamar yang hampir padam, mereka mengulang momen keintiman itu dengan intensitas yang lebih dalam, lebih lambat, dan lebih penuh perasaan.
Kali ini, tidak ada lagi bayang-bayang pengejaran atau bau mesiu. Yang ada hanyalah:
Tangan Marvel, yang biasanya hanya mengenal dinginnya logam senjata, kini bergerak dengan kelembutan yang menyayat di atas kulit elara. Ia seolah sedang menghafal setiap lekuk tubuh wanita itu, menjadikannya satu-satunya peta yang ingin ia ikuti selamanya.
Gairah yang Membakar, Setiap ciuman yang mereka tukar terasa seperti sumpah setia yang baru. Marvel membenamkan wajahnya di leher Elara, menghirup aroma vanila yang menenangkan, sementara Elara mencengkeram bahu kokoh Marvel, memberikan kekuatan pada pria yang selama ini harus selalu menjadi dinding batu bagi orang lain.
Keheningan yang Berbicara, Di antara deru napas yang bersahutan, mereka saling menatap dalam diam. Di mata Marvel, elarabukan lagi sekadar pelukis jalanan, melainkan pusat semestanya. Dan di mata Elara, Marvel bukan lagi mafia kejam, melainkan pria yang rela hancur demi menjaganya tetap utuh.
Mereka mengulang penyatuan itu berkali-kali hingga fajar benar-benar menyapa jendela vila. Bagi marvel, setiap detik yang ia habiskan di dalam pelukan elara adalah cara ia mencuci tangannya dari darah masa lalu. Ia ingin tenggelam dalam perasaan ini, membiarkan cinta elara menjadi satu-satunya hukum yang ia patuhi.
Saat matahari mulai tinggi, Marvel masih memeluk Elara erat di bawah selimut sutra, enggan membiarkan realitas dunia luar mengganggu gelembung kedamaian yang baru saja mereka ciptakan.
"Sekali lagi," bisik Marvel parau di telinga Elara, "dan aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi."
Namun, di sela-sela tawa mereka, Marvel tetaplah seorang predator. Matanya sesekali melirik ke arah laut, memastikan tidak ada bayangan asing yang mendekat. Ia tahu kedamaian ini adalah pinjaman, dan ia bersumpah akan membayar bunganya dengan darah siapa pun yang berani mengusik mereka.
Marvel menarik Elara kembali ke dalam dekapannya, seolah satu malam saja tidak akan pernah cukup untuk menghapus dingin yang selama bertahun-tahun membekukan jiwanya. Di bawah remang lampu kamar yang hampir padam, mereka mengulang momen keintiman itu dengan intensitas yang lebih dalam, lebih lambat, dan lebih penuh perasaan.
Kali ini, tidak ada lagi bayang-bayang pengejaran atau bau mesiu. Yang ada hanyalah:
Sentuhan yang Menjelajah, Tangan marvel, yang biasanya hanya mengenal dinginnya logam senjata, kini bergerak dengan kelembutan yang menyayat di atas kulit elara. Ia seolah sedang menghafal setiap lekuk tubuh wanita itu, menjadikannya satu-satunya peta yang ingin ia ikuti selamanya.
Gairah yang Membakar, Setiap ciuman yang mereka tukar terasa seperti sumpah setia yang baru. Marvel membenamkan wajahnya di leher Elara, menghirup aroma vanila yang menenangkan, sementara Marvel mencengkeram bahu kokoh Elara, memberikan kekuatan pada pria yang selama ini harus selalu menjadi dinding batu bagi orang lain.
Keheningan yang Berbicara, Di antara deru napas yang bersahutan, mereka saling menatap dalam diam. Di mata Marvel , elarabukan lagi sekadar pelukis jalanan, melainkan pusat semestanya. Dan di mata elara, Marvel bukan lagi mafia kejam, melainkan pria yang rela hancur demi menjaganya tetap utuh.
Mereka mengulang penyatuan itu berkali-kali hingga fajar benar-benar menyapa jendela vila. Bagi Marvel, setiap detik yang ia habiskan di dalam pelukan elara adalah cara ia mencuci tangannya dari darah masa lalu. Ia ingin tenggelam dalam perasaan ini, membiarkan cinta elara menjadi satu-satunya hukum yang ia patuhi.
Saat matahari mulai tinggi, marvel masih memeluk Elara erat di bawah selimut sutra, enggan membiarkan realitas dunia luar mengganggu gelembung kedamaian yang baru saja mereka ciptakan.
"Sekali lagi," bisik Marvel parau di telinga Elara, "dan aku bersumpah, aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi."
Marvel membimbing Elara keluar menuju kolam renang infinity yang terletak di tepi tebing. Airnya tampak seperti cermin hitam yang memantulkan cahaya bulan purnama, tenang namun menyimpan kedalaman yang misterius—sama seperti pria yang kini memeluk pinggang Elara dari belakang.
Udara malam yang dingin terasa kontras dengan hangatnya air kolam saat mereka perlahan membenamkan diri. Di tengah kesunyian malam, Marvel menunjukkan sisi lain dari dirinya yang biasanya keras dan tak tersentuh.
Keheningan yang Mendalam, Mereka berdiri bersisian, menatap cakrawala di mana langit malam dan laut seolah menyatu tanpa batas. Air yang tenang memberikan rasa aman sementara bagi Elara dari segala kekacauan yang biasa mengelilingi kehidupan pria di sampingnya itu.
Percakapan di Bawah Bintang, elara memecah keheningan dengan suara rendah, membicarakan masa depan yang jarang ia janjikan kepada siapa pun. "Di tempat ini, kau aman," ucapnya singkat, namun nadanya sarat dengan kesungguhan yang mendalam.
Kewaspadaan yang Tetap Terjaga ,Meskipun tampak tenang, mata Elara tetap menyisir setiap sudut kegelapan di sekitar tebing. Baginya, ketenangan hanyalah jeda sebelum badai berikutnya datang.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat Elara baru saja mulai merasa rileks, Marvel tiba-tiba menegang. Matanya yang tajam menangkap kilatan cahaya aneh dari balik pepohonan di seberang kolam.
Secara insting, Marvel segera menarik Elara mendekat, melindunginya dengan tubuhnya sendiri. Ketegangan kembali menyelimuti suasana. Apakah cahaya itu merupakan tanda bahaya dari musuh yang mengintai, ataukah itu hanya pantulan alami yang memicu kewaspadaan berlebih dari sang mafia?