NovelToon NovelToon
The Mad Queen'S Secret

The Mad Queen'S Secret

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Mafia / Tamat
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Satu tahun lalu, Michael—sang pewaris SM Corporation—diselamatkan oleh wanita bertopeng misterius berjuluk "Si Perempuan Gila". Terpaku pada mata indahnya, Michael berjanji akan memberikan apa pun sebagai balasan hutang nyawa.

Kini, Michael dipaksa menikahi Shaneen, putri konglomerat manja yang ia anggap membosankan dan lemah. Michael tidak tahu bahwa di balik sikap manja dan keluhan konyol istrinya, Shaneen adalah sang legenda bertopeng yang selama ini ia cari.

Permainan kucing dan tikus dimulai. Di siang hari ia menjadi istri yang merepotkan, namun di malam hari, ia adalah ratu kegelapan yang memegang nyawa suaminya sendiri. Akankah Michael menyadari bahwa wanita yang ia tidak sukai adalah wanita yang paling ia gilai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serangan Pisau Lempar Perak

Di puncak gedung pencakar langit yang membelah awan, terpampang logo raksasa: SM Corporation. Inilah kerajaan Michael. Sebagai penerus tunggal, Michael mengendalikan segala sektor—mulai dari energi, perbankan, hingga logistik internasional. Namun, di balik meja marmernya yang bersih, Michael memiliki misi yang jauh lebih gelap.

Alasannya menemui vendor senjata ilegal di dermaga tempo hari bukan untuk memperkaya diri. Michael muak melihat bagaimana senjata-senjata tak terdaftar Menghancurkan sektor bisnis dan keamanan kota. Ia melakukan transaksi besar-besaran untuk memutus rantai pasokan. Michael membeli semua stok senjata berbahaya itu hanya untuk satu tujuan: Pemusnahan total. Ia ingin memastikan tidak ada satu pun peluru ilegal yang bisa meletus di kotanya. Ia menggunakan kekayaan SM Corporation untuk membeli "perdamaian" dengan cara yang paling keras.

Beberapa blok dari sana, berdiri Tizon Tech & Property. Gedung yang lebih artistik namun tak kalah megah. Di sinilah Shaneen bernaung. Dunia mengenal Shaneen sebagai putri manja pewaris properti yang hanya tahu cara menghabiskan uang ayahnya.

Padahal, Shaneen adalah "Bahayanya Bahaya".

Lima tahun lalu, Shaneen pernah berjanji pada ibunya untuk berhenti dari dunia gelap. Ia meletakkan belatinya, senjata api dan mematikan komputernya karena tak tega melihat kekhawatiran diraut wajah ibunya yang selalu ketakutan setiap kali Shaneen pulang dengan aroma mesiu. Selama setahun, Shaneen benar-benar menjadi "gadis normal".

Namun, takdir tidak membiarkannya pensiun dengan tenang.

Tepat setahun setelah ia berhenti, ayahnya—sang legenda yang mengajarinya banyak hal seperti cara merakit bom dan menjinakkan peledak dalam hitungan detik—tewas ditembak secara brutal di depan matanya sendiri. Sejak saat itu, janji kepada ibunya tetap ia jaga di permukaan, namun di bawah tanah, insting predator Shaneen meledak lebih hebat dari sebelumnya.

Setiap malam, saat ibunya mengira ia sedang tidur atau scrolling media sosial, Shaneen duduk di depan barisan monitor. Ia meretas satelit, melacak aliran dana hitam, dan merakit bom-bom mini yang bisa melumpuhkan sistem keamanan gedung paling ketat sekalipun. Ia mencari pembunuh ayahnya, dan ia melakukannya tidak sendirian. Ada banyak anak buahnya yang berdiri tegak dengan kesetiaan tak terbatas, serta Demian; sekretaris kantor yang selalu ia andalkan. Bukan hanya sekedar sekretaris, melainkan seperti bayangan dari balik punggung Shaneen.

***

Sinar matahari pagi baru saja menyentuh kaca jendela apartemen penthouse milik Shaneen saat bel pintu ditekan dengan brutal. Bukan sekali, tapi berkali-kali, menunjukkan ketidaksabaran sang tamu.

Shaneen, yang sebenarnya sudah bangun sejak pukul empat pagi untuk mendekripsi data transaksi Michael, dengan cepat mematikan tiga monitor di ruang rahasianya. Ia menyambar jubah tidur sutra berwarna lavender, mengacak rambutnya agar terlihat seperti orang yang baru bangun, dan memasang wajah mengantuk yang sempurna.

Saat pintu terbuka, Michael berdiri di sana. Napasnya pendek, matanya merah karena kurang tidur, dan ia masih mengenakan kemeja yang sama dengan semalam—hanya saja tanpa jas. Tepat sekali dugaan Shaneen, Michael pasti akan datang menemuinya.

"Michael? Ya ampun... Ini jam berapa? Kamu mau mengajakku sarapan di pasar kaget ya?" Ucap Shaneen sambil menguap lebar, menutupi mulutnya dengan tangan yang—jika Michael teliti—terasa sangat stabil tanpa getaran.

Michael tidak menjawab. Ia menerobos masuk, matanya langsung menyapu setiap sudut ruangan apartemen Shaneen yang minimalis namun mewah. Ia berjalan menuju balkon, tempat di mana ia menduga Shaneen bisa saja masuk atau keluar secara rahasia.

"Di mana kau semalam, Shaneen?" tanya Michael dingin, berbalik menatapnya tajam.

Shaneen mengerutkan kening, tampak bingung sekaligus tersinggung. "Di mana? Ya di sini! Menonton drama maraton sampai ketiduran di sofa. Lalu aku pindah ke tempat tidur karena leherku sakit. Kamu kenapa sih? Datang-datang seperti petugas sensus."

Michael melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Shaneen terdesak ke meja makan. Michael membungkuk, wajahnya hanya beberapa sentimeter dari leher Shaneen. Ia menghirup udara di sana.

Aroma vanilla yang manis dan hangat. Persis dengan aroma di atap dermaga itu.

"Bau ini..." desis Michael. "Bau vanilla ini tidak hanya ada di parfummu, Shaneen. Bau ini tertinggal di pisau lempar perak kecil yang aku temukan di dermaga semalam. Pisau perak kecil inilah yang menyelamatkan nyawaku."

"Oh ya? Lalu apa hubungannya denganku?"

"Shaneen, jangan berlagak bodoh. Pisau perak kecil ini hanya keluargamu yang punya, dan jangan bilang kau tidak tahu apa-apa soal ini!" Tekannya sekali lagi.

Shaneen berusaha untuk tetap tenang—setenang mungkin, tertawa halus yang terdengar sangat tulus hingga membuat Michael ragu. "Michael, kamu pasti sedang berhalusinasi karena terlalu banyak bekerja. Kamu tahu tidak, parfum Vanilla Sparkle ini sedang diskon besar-besaran di mall? Hampir semua wanita di gedung ini pakainya. Apa kamu mau aku ganti parfum bau melati saja supaya kamu tidak bingung? Dan soal pisau itu, coba berikan padaku biar aku tanyakan langsung pada nenek."

"Aku serius Shaneen!" Bentak Michael, tangannya memukul meja di samping Shaneen. "Wanita bertopeng itu... dia menjentikkan jarinya ke arahku. Sama seperti yang sering kulakukan padamu. Itu bukan kebetulan!"

Shaneen menatap mata Michael dengan tatapan paling polos yang bisa ia berikan. Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya bergetar sedikit. "Jentik jari? Kamu menuduhku jadi pelempar pisau perak itu hanya karena jentik jari? Michael, aku bahkan tidak tau kamu kemana? Kamu ini kenapa sih sebenarnya?"

Michael meraih tangan Shaneen, menuntun untuk menyentuh telapak tangan itu. Dan hasilnya halus. Shaneen tau dan akan otaknya akan bekerja satu langkah dari kakimu Michael. Tangan itu sudah ia rendam dengan cairan pelembut semalaman. "Kenapa? Ayo raba terus tanganku. Apa ini tangan seorang pembunuh? Tangan ini cuma bisa dipakai untuk mengetik password kartu kreditmu dan memakai skincare, Michael."

Michael terdiam. Telapak tangan itu memang sangat lembut. Tidak ada tanda-tanda kapalan, tidak ada bau mesiu—hanya bau sabun mandi bayi yang menenangkan. Pikirannya berperang. Logikanya mengatakan Shaneen adalah orangnya, tapi bukti fisik di depannya berkata lain.

"Lalu siapa dia?" gumam Michael, lebih kepada dirinya sendiri. "Siapa wanita yang tahu persis posisiku dan melindungiku seolah dia tahu setiap langkahku?"

Shaneen mengusap bahu Michael dengan lembut, suaranya berubah menjadi sangat manja. "Mungkin itu malaikat pelindungmu yang asli? Atau mungkin salah satu pengawalmu yang diam-diam naksir padamu? Kamu sih, terlalu tampan, jadi banyak yang ingin jadi pahlawan untukmu."

Shaneen kemudian menjentikkan jarinya dengan pelan tepat di depan hidung Michael. Tik!

"Nah! Aku juga bisa menjentik jari! Apa sekarang aku juga tersangka?" Goda Shaneen sambil tertawa kecil.

Michael memejamkan mata, kepalanya pening. Rasa penasarannya memuncak hingga ke ubun-ubun, tapi ia merasa seperti sedang mengejar bayangan di tengah kabut. Ia tidak tahu bahwa di bawah lantai marmer yang cantik itu tempatnya berdiri, terdapat brankas berisi sniper yang semalam ia cari.

"Pulanglah, Michael. Mandi, tidur, dan berhenti menonton film aksi," ucap Shaneen sambil mendorong pelan dada Michael menuju pintu. "Dan sini, berikan pisau kecil itu, nanti aku tanyakan pada nenek."

Begitu Michael keluar dan pintu tertutup rapat, wajah manja Shaneen lenyap dalam sekejap. Ia berjalan menuju jendela, menatap mobil Michael yang masih terparkir di bawah.

Michael sempat berpikir didalam mobilnya, "Selama kami memulai kedekatan ini, kenapa aku jadi sering bertemu dengannya? Padahal satu yang lalu, aku sibuk mencarinya kemana-mana. Awas saja! Kali ini kalau aku mendapatinya, aku benar-benar akan mengikatnya."

Sementara dibalik pintu besar itu, "Maaf, Michael," bisik Shaneen dengan suara yang sangat dingin dan cerdas. "Aku butuh kamu tetap penasaran. Karena jika kamu tahu siapa aku, kamu akan melarangku bergerak. Dan aku tidak akan berhenti sampai kepala pembunuh ayahku ada di tanganku."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!