Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Berhutang pada Adrian
Sierra melirik Gwen sebentar, memperhatikan mata gadis itu yang masih merah dan sembab.
"Aku mungkin punya seseorang yang bisa menolong," ucap Sierra.
Kalimat itu seketika menghentikan tangis Gwen. Ia menoleh perlahan, menyingkirkan anak rambut yang menempel di pipinya yang basah. Matanya yang merah dan membengkak melebar, menatap Sierra dengan binar harapan.
Sierra menggeser layar ponselnya. Ia mencari nama Adrian di daftar kontaknya. Setelah menemukannya, ia berjalan menjauh beberapa langkah, sebelum menekan tombol panggilan.
Sementara itu, beberapa kilometer jauhnya, di puncak gedung pencakar langit yang menjadi kantor pusat Blackwood Group, suasana sangat kontras. Adrian sedang duduk di balik meja mahoni besarnya yang mewah. Cahaya lampu ruangan yang terang benderang menyinari tumpukan laporan keuangan yang sedang ia periksa dengan dahi berkerut. Sebagai pemimpin di Blackwood Group, setiap tanda tangannya bernilai jutaan bahkan miliaran dolar.
Tiba-tiba, ponsel di atas mejanya bergetar. Adrian melirik sekilas, awalnya berniat mengabaikannya, namun matanya membelalak lebar saat melihat nama Sierra yang tertera di sana.
Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Gadis itu tidak pernah menghubunginya lebih dulu. Biasanya, Adrian-lah yang harus memutar otak mencari alasan untuk mengirim pesan singkat yang seringkali hanya dibalas dengan satu kata oleh Sierra. Dengan gerakan cepat yang hampir terlihat tidak sabar, ia menyambar ponselnya dan mengangkat telepon itu.
"Sierra? Ini pertama kalinya kau menghubungi aku lebih dulu," tanya Adrian. Ia berusaha menjaga suaranya tetap tenang dan berwibawa, meski nada antusiasme yang tertahan tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan. "Apa ada sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu?"
"Apa aku mengganggumu? Aku butuh bantuanmu," ucap Sierra tanpa basa-basi di seberang sana.
Adrian langsung menegakkan posisi duduknya. Tangannya yang bebas secara refleks meraih kunci mobil yang tergeletak di samping laptop. "Kau di mana? Beritahukan lokasimu, kita bisa bicara langsung sekarang. Aku akan ke sana."
"Apa tidak bisa lewat telepon saja? Aku... Um... butuh dokter yang bisa membantu untuk menggugurkan kandungan."
Hening mendadak menyelimuti keduanya.
Detik berikutnya, suara denting logam terdengar nyaring saat kunci mobil di tangan Adrian terlepas dan jatuh menghantam permukaan meja. Adrian seolah membeku. Jantungnya terasa berhenti berdetak sesaat, sebelum sebuah aliran dingin yang menusuk mulai merayap naik ke dadanya.
Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol. Adrian menarik kesimpulan paling buruk yang bisa ia bayangkan, Sierra sedang mengandung. Dan bagi Adrian, itu berarti ada laki-laki lain yang telah menyentuh Sierra. "Sierra baru delapan belas tahun, siapa pria kurang ajar itu?!", jeritan hati Adrian.
"Apa?!" Suara Adrian meninggi, bukan lagi antusias, melainkan tajam seperti sembilu. "Siapa pelakunya?" tanya Adrian dengan emosi yang meledak-ledak namun tertahan di tenggorokan. Giginya gemertak, matanya menatap tajam ke arah jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota, seolah ia ingin menghancurkan apa pun yang ada di depannya.
"Ha?" Di seberang telepon, Sierra mengernyitkan dahi, bingung dengan ledakan amarah Adrian yang tiba-tiba.
"Siapa laki-laki itu, Sierra?! Katakan padaku namanya! Biar aku beri pelajaran orang itu!!" Adrian membentak, suaranya menggelegar memenuhi ruangan hingga asistennya di luar ruangan mungkin bisa mendengarnya.
"Eh, bukan aku yang hamil," potong Sierra cepat, menyadari kesalahpahaman fatal yang sedang terjadi. Ia bisa merasakan intensitas amarah Adrian bahkan hanya melalui sinyal telepon. "Itu ada... Seseorang yang aku kenal. Dia seumuran denganku dan tidak siap menjadi seorang ibu, sedangkan si pria tidak mau mengakui anak di dalam kandungannya. Jadi tidak ada pilihan lain selain menggugurkan kandungannya, karena kedua belah pihak tidak menginginkannya. Apa kau punya kenalan yang bisa membantu? Aku butuh orang yang sangat bisa menjaga rahasia."
Adrian tertegun. Ia mematung selama beberapa detik sebelum akhirnya menyandarkan punggungnya dengan lemas ke kursi kebesarannya yang empuk. Ia mengembuskan napas panjang, sebuah embusan lega yang sangat berat, seolah beban berat baru saja diangkat dari pundaknya. Ketegangannya menguap dalam sekejap.
"Begitu rupanya," gumam Adrian. Ia memijat pangkal hidungnya, mencoba menenangkan sisa-sisa adrenalin yang masih bergejolak. "Tentu saja, aku bisa membantu. Tapi Sierra, kau tahu dunia ini tidak ada yang gratis. Itu artinya kau berutang satu permintaan padaku."
Sierra sudah menduga hal ini. Ia tahu berurusan dengan orang seperti Adrian selalu memiliki harga. "Apa yang kau inginkan dariku? Kalau soal bekerja untuk Blackwood Group, aku menolak. Cari syarat yang lain."
Adrian terkekeh pelan. Suaranya kini kembali lembut, hampir menyerupai bisikan yang menggoda. "Pfft, baiklah. Ini bukan soal pekerjaan. Aku belum memikirkannya sekarang. Aku akan memberitahumu saat aku sudah menemukan sesuatu yang benar-benar aku inginkan darimu. Aku akan segera mengabari kapan temanmu bisa menemui dokter."
"Ok. Terima kasih atas bantuanmu." Tanpa menunggu balasan atau basa-basi perpisahan, Sierra langsung mematikan sambungan teleponnya.
Gwen, yang sejak tadi mengamati dari jarak beberapa meter, mendekat dengan langkah ragu. Wajahnya masih terlihat sangat cemas, jemarinya bertautan dengan gelisah di depan dada. "Jadi... apa orang itu bisa membantu? Apa dia benar-benar bisa dipercaya, Sierra? Apa masalah ini tidak akan tersebar...?"
"Jangan khawatir. Dia akan mengabari lagi nanti," jawab Sierra singkat. Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku seragam.
"Terima kasih, Sierra... Itu... Nanti... Apa kau bisa menemani aku saat ke dokter?," bisik Gwen.
"Baiklah", jawab Sierra singkat."Ini sudah larut, biar aku antar kau pulang."
"Terima kasih...", jawab Gwen dengan suaranya parau karena terlalu banyak menangis. Ada rasa malu yang teramat besar terpancar dari matanya, ia malu karena selama ini ia berada di pihak Nora yang sering memusuhi Sierra, namun justru Sierra-lah yang mengulurkan tangan saat ia jatuh.
Sierra tidak bisa membiarkan Gwen pulang sendirian dalam keadaan mental yang tidak stabil. Sierra memesan taksi dan menemani gadis itu hingga sampai di depan gerbang kediaman keluarga Preston. Ia memastikan Gwen masuk ke dalam rumah dengan selamat, sebelum akhirnya Sierra mengendarai sepedanya untuk kembali ke rumah keluarga Moore.
Dalam pikirannya, Sierra terbesit untuk membeli mobil untuk kenyamanannya dalam bepergian, mengingat dia juga sudah memiliki izin mengemudi. Tentu saja ada fasilitas mobil dan supir dari keluarga Moore tapi Sierra tidak menyukainya. Dia lebih suka berkendara sendiri. Lagipula supir keluarga Moore hanya akan memata-matainya dan melaporkan setiap aktivitasnya pada Brady dan Samantha.