NovelToon NovelToon
Terpisah Oleh Dinding Agama

Terpisah Oleh Dinding Agama

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: abangku_ss

Alek seorang remaja SMA nakal beragama kristen sering bertanya soal kebenaran tentang hidup ini hingga datang seorang yang menjadi jawaban bagi Alek, Masya Khansa azza Nabila menjadi awal perubahan kehidupan Alek cahaya di kegelapan,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon abangku_ss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 8 konsekuensi

# TERPISAH OLEH DINDING AGAMA

## BAB 8: Konsekuensi

Minggu pagi. Alek terbangun dengan perasaan berat. Hari ini—malam ini tepatnya—dia harus menghadapi konsekuensi dari keputusannya.

Rapat geng. Jam tujuh malam. Di markas Venom Crew.

Dan dia... tidak akan datang.

Di ruang makan, ayahnya sudah menunggu dengan wajah dingin seperti biasa.

"Alek, hari ini kamu harus ke gereja. Ada ibadah pemuda. Kamu sebagai anak pendeta harus hadir," kata Pendeta Daniel tanpa melihat Alek.

"Gue nggak bisa."

"Kenapa?"

"Ada urusan."

"Urusan apa yang lebih penting dari gereja?"

Alek menatap ayahnya. "Urusan hidup gue, Pak."

Pendeta Daniel menggebrak meja. "Kamu ini—"

"Pak," potong Alek tenang. "Seumur hidup gue, Bapak selalu paksa gue ikut gereja. Tapi Bapak nggak pernah tanya: gue nyaman nggak di sana? Gue ngerti nggak apa yang dipelajarin? Buat gue, gereja itu cuma... ritual kosong."

"Alek! Jangan—"

"Tapi bukan berarti gue nggak percaya Tuhan, Pak," lanjut Alek. "Gue cuma... lagi cari cara yang bener buat deket sama Dia. Cara yang bikin gue... tenang."

Pendeta Daniel terdiam. Untuk pertama kalinya, dia tidak tahu harus menjawab apa.

Alek berdiri, mengambil tasnya. "Gue pergi dulu."

"Mau kemana?"

"Entahlah. Yang jelas... gue lagi cari sesuatu."

***

Sore itu, Alek duduk sendirian di taman kota. Hapenya berdering berkali-kali. Dimas. Kevin. Bagas. Semua dari geng.

Dia tidak angkat satupun.

Lalu masuk SMS dari Dimas:

**"Lex, lo dateng atau nggak? Jam 7 malam. Ini kesempatan terakhir."**

Alek menatap layar hape lama. Jemarinya bergetar di atas keyboard. Dia ingin membalas: *"Gue nggak dateng."*

Tapi dia tidak jadi. Dia mematikan hape.

"Keputusan gue udah jelas," gumamnya. "Nggak perlu dijelasin lagi."

***

Jam tujuh malam. Di markas Venom Crew, semua anggota sudah berkumpul. Dua puluh orang. Duduk melingkar di ruang tengah yang penuh asap rokok.

Tapi satu kursi kosong.

Kursi Alek.

Dimas menatap kursi kosong itu dengan rahang mengeras.

"Alek nggak dateng," kata Bagas.

"Gue tau," jawab Dimas dingin.

Kevin berdiri. "Berarti dia pengkhianat! Kita harus kasih pelajaran!"

Dimas mengangkat tangan, menyuruh Kevin duduk. "Tenang. Kita akan kasih pelajaran. Tapi nggak sekarang."

"Kapan, Bang?"

"Besok. Di sekolah. Kita datangin dia. Di tempat dia merasa aman. Biar dia tau... nggak ada tempat aman buat pengkhianat."

Semua anggota mengangguk setuju.

"Siapa yang mau ikut?" tanya Dimas.

Kevin langsung angkat tangan. "Gue, Bang!"

"Gue juga," sambung Bagas.

"Oke. Besok jam istirahat pertama. Kita tunggu dia di belakang gedung. Bawa tongkat baseball. Jangan sampai ada yang kelewatan. Alek... harus belajar."

***

Senin pagi. Alek datang ke sekolah seperti biasa. Wajahnya tenang—lebih tenang dari biasanya. Seperti orang yang sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi.

Riki langsung menghampiri, wajahnya panik.

"Lex! Lo gila apa? Kenapa lo nggak dateng semalam?!"

"Gue udah putuskan keluar, Rik."

"Lo tau nggak, mereka mau nyari lo hari ini! Kevin bilang mau 'kasih pelajaran'!"

"Gue tau."

"TERUS KENAPA LO MASIH DATENG KE SEKOLAH?!"

Alek tersenyum tipis. "Kalau gue kabur, berarti gue pengecut. Gue mau hadapin mereka. Gue mau buktiin... gue keluar bukan karena takut. Tapi karena gue udah muak."

Riki menatap sahabatnya dengan tatapan tidak percaya. "Lo... lo beneran berubah, Lex."

"Mungkin."

***

Jam istirahat pertama. Alek berjalan sendirian ke belakang gedung sekolah. Tempat yang sepi. Tempat yang biasa dipakai siswa nakal untuk merokok atau... tawuran kecil.

Dan di sana, sudah menunggu. Kevin, Bagas, dan dua anggota geng lainnya. Masing-masing membawa tongkat baseball.

"Akhirnya lo dateng juga," kata Kevin dengan seringai jahat.

Alek berdiri tenang. "Gue tau lo mau ngapain. Gue nggak lari."

"Bagus. Berarti lo masih punya harga diri."

Kevin melangkah maju. "Lo tau kan konsekuensinya keluar dari geng?"

"Gue tau."

"Dan lo masih mau keluar?"

"Iya."

"Kenapa? Karena cewek pesantren itu?"

Alek terdiam sebentar. "Bukan. Karena gue capek jadi monster."

Kevin tertawa keras. "Monster? Lo pikir lo monster? Lo cuma pecundang, Lex!"

BUGH!

Tongkat baseball menghantam perut Alek. Dia terjatuh, tersungkur. Napasnya sesak.

"Bangun! Kita belum selesai!"

Alek berdiri perlahan. Wajahnya meringis kesakitan. Tapi dia tidak melawan.

"Kenapa lo nggak lawan?!" teriak Kevin frustasi.

"Karena gue udah nggak mau jadi kayak lo," jawab Alek dengan napas tersengal.

BUGH! BUGH!

Dua pukulan lagi. Satu ke dada, satu ke wajah. Alek terjatuh lagi. Darah keluar dari sudut bibirnya.

"LEX!" teriak Riki yang tiba-tiba datang.

Riki mencoba menolong, tapi Bagas langsung menendangnya. Riki terjatuh.

"Lo juga mau ngerasain, Rik?!" ancam Bagas.

Riki tidak menjawab. Dia merangkak ke arah Alek, melindungi sahabatnya dengan tubuhnya sendiri.

"Kalau mau pukul Alek, pukul gue dulu!" teriak Riki.

Kevin tertawa. "Wah, touching banget. Sahabat sejati."

Tapi sebelum Kevin sempat memukul lagi, suara keras terdengar.

"BERHENTI!"

Pak Hendra, guru BK, datang berlari. Diikuti beberapa guru lain.

"Kalian apa-apaan?! Berantem di sekolah?!"

Kevin dan Bagas langsung buang tongkat, mencoba kabur. Tapi guru-guru sudah mengepung.

"Jangan ada yang bergerak!" bentak Pak Hendra.

Alek terbaring di tanah, napasnya berat. Wajahnya penuh darah. Riki menopang kepalanya.

"Lex, lo gak apa-apa?" tanya Riki panik.

Alek tersenyum lemah. "Gue... gue baik-baik aja."

Tapi kemudian dia pingsan.

***

Alek terbangun di rumah sakit. Ruangan putih. Bau antiseptik. Suara mesin monitor jantung yang berbunyi ritmis.

Tubuhnya sakit semua. Dada terasa sesak. Wajah terasa bengkak.

"Alek, kamu sudah sadar?"

Suara ibunya. Alek menoleh. Ibunya duduk di samping ranjang, wajahnya sembab—seperti habis menangis.

"Ma..."

"Kamu kenapa, Nak? Kenapa kamu dipukuli?" suara ibunya bergetar.

"Gue... gue keluar dari geng, Ma. Ini konsekuensinya."

Ibunya menangis. "Kenapa kamu tidak cerita ke Mama? Kenapa kamu—"

"Karena ini keputusan gue, Ma. Gue yang harus tanggung."

Pintu terbuka. Ayahnya masuk. Wajahnya datar, tapi matanya—matanya terlihat... lelah.

"Alek," panggil Pendeta Daniel.

"Pak."

Ayahnya duduk di kursi seberang. Hening sejenak.

"Dokter bilang tulang rusuk kamu retak. Wajah kamu memar parah. Tapi nggak ada yang fatal."

"Syukur deh."

"Alek..." suara ayahnya melembut—sesuatu yang jarang terjadi. "Kenapa kamu keluar dari geng? Kenapa kamu... berubah?"

Alek menatap langit-langit. "Karena gue capek, Pak. Capek hidup dalam kegelapan. Capek luka mulu. Capek... nggak punya tujuan."

"Lalu... apa tujuan kamu sekarang?"

"Gue nggak tau, Pak. Tapi gue tau... gue nggak mau jadi monster lagi."

Pendeta Daniel terdiam lama. Lalu untuk pertama kalinya—mungkin sejak Alek SMP—ayahnya menggenggam tangan Alek.

"Apa yang bisa Bapak bantu?"

Alek tersentak. Ini pertama kalinya ayahnya bertanya seperti itu.

"Bapak... cuma perlu... percaya sama gue. Percaya kalau gue lagi cari jalan yang bener."

Ayahnya mengangguk pelan. "Oke. Bapak akan coba."

Itu bukan janji besar. Tapi buat Alek... itu sudah cukup.

***

Malam itu, setelah ibunya dan ayahnya pulang, Alek sendirian di kamar rumah sakit. Tubuhnya masih sakit, tapi hatinya... anehnya... tenang.

Dia menatap jendela. Langit malam Bandung terlihat cerah. Bintang-bintang bersinar.

"Ini baru permulaan," gumamnya. "Masih banyak yang harus gue hadapin."

Dia ingat kata-kata Khansa waktu di panti asuhan:

*"Mas masih bisa diselamatkan."*

*"Cari kebenaran. Jangan berhenti."*

Alek tersenyum tipis meski sakit.

"Gue nggak nyesel," bisiknya. "Gue udah mulai jalan. Entah ini kemana... tapi setidaknya... gue udah jalan."

Dia menutup mata. Kali ini tidurnya nyenyak. Tidak ada mimpi buruk. Tidak ada bayang-bayang David. Tidak ada teriakan tawuran.

Hanya... ketenangan.

Dan di suatu tempat, jauh dari sana, seorang santriwati bercadar sedang shalat malam. Di akhir shalatnya, dia berdoa panjang.

"Ya Allah, jaga semua hamba-Mu yang sedang berjuang. Yang sedang mencari jalan-Mu. Berilah mereka petunjuk. Berilah mereka kekuatan. Aamiin."

Dia tidak tahu siapa yang dia doakan. Tapi doanya... entah bagaimana... sampai ke hati seorang pemuda yang sedang terbaring di rumah sakit dengan tubuh penuh luka.

Pemuda yang untuk pertama kalinya... merasa tidak sendirian.

***

**Bersambung ke Bab 9...**

*"Setiap perubahan punya harga. Kadang harganya adalah luka. Tapi luka yang membawa ke jalan yang benar... jauh lebih berharga daripada kenyamanan di jalan yang salah."*

1
falea sezi
Males deh enak bgt si. Maryam. klo sma. a Maryam. g sesuai. judul. lah
Valent Theashef
apa ada kemungkinan kelak,ahmad bisa sma khanza???
falea sezi
jodohin ma kanza lah jangan. maryam
falea sezi
lah masak nanti Maryam suka gmana nasib kanza donk
Cica Aretha
gmn khanza donk thor..duh jng sampai d poligami..🤭
nayla tsaqif
No no no poligamiii,, nggkkkk sukakkkk
Valent Theashef
trs jdohe spa thor,kasian khanza cinta suci mreka jika tdk brsatu,.
nayla tsaqif
Ini maryam temennya khansa thorr,, haduhhh cinta segibtiga nantinya,, kok bawang mulu babnya thor,, kpn happy nya
nayla tsaqif
Bukannya david temen alex yg udah meninggal ya thor,, ato mungkin ada nama david yg lain🤔ok next,,, 💪
Nazril Ilham: salah ketik ini bukan David tapi Dimas
total 1 replies
nayla tsaqif
Alex masih 17th,,masih labil2nya aplagi bacgroundnya mantan geng motor yg hoby tawuran,, tp pengendalian dirinya luar biasa,, masya allah,, jangan lelah belajar lexx,,
nayla tsaqif
Benar2 cerita yg memiliki makna dan nilai kehidupan,, baru nemu cerita seprti ini,, semangat thor,, 💪
nayla tsaqif
Semangat lex,, semoga menjadi manusia yg lebih baik lg suatu saat nanti,, teruslah bljr memperbaiki diri,,
nayla tsaqif
Hmm,,, ada yg sll komen buruk ttg sosok khanza di sini thor,,ntah komen ttg karakternya ato brandingnya khanza sbg seorang santri muslim,, kdg cerita yg membawa unsur agama yg itu sensitif.. Aplg ada dua agama,, semangat thor ceritanya bagus,,
nayla tsaqif
Deg deg an thorrr,,, semoga khanza alex baik2 saja,, jln menuju hijrah mmg berat lexx,, semangat dan sabar,,
nayla tsaqif
Kak,, dialog alex sama yg lebih tua sperti sama bpk/gurunya klo bisa jngn pke loe guwe gk enak bacanya🙏
Cerita pertama ya kak,, bagus banget🥰
nayla tsaqif
Knp sih,, kluar dr geng2 gitu di anggep penghianat,, pdhl tujuan kluar kn pengen berhijrah,, pengen hdp lbh baik,,?? 🤔Semoga km menemukn tujuan hdp km ya lex,,
Anne
ditunggu thor....
falea sezi
gara2 nolongin cwek sial lu jd apes. lex hadeh oon harusnya biarin aja tuh cwek mau mampus jg terserah ini dia malah diem. aja kabur ke pesantren g tau diri bgt kn uda di tolongim
falea sezi
maaf kansa wanita oon sok suci mending jd lacur aja cocok
falea sezi
bner yg di lindungi aja. GOblok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!