Han Shuo hanyalah seorang pelayan dapur di Sekte Awan Merah yang sering dihina karena bakat tulang yang buruk. Segalanya berubah ketika ia menemukan "Kitab Rasa Semesta", sebuah warisan kuno yang mengajarkan bahwa energi langit dan bumi paling murni tidak tersimpan dalam pil alkimia yang pahit, melainkan pada sari pati makhluk hidup yang diolah dengan api kuliner. Dengan sebilah pisau berkarat dan kuali tua, ia memulai perjalanan menantang maut demi mencicipi keabadian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 32 kedai arwah lapar dan rahasia sampah surgawi
Kota Gastronomi Surgawi adalah sebuah kontradiksi yang megah sekaligus busuk. Di bagian atas, menara-menara berbentuk sendok perak dan garpu emas menjulang menembus awan, tempat para Dewa Masak berpesta pora dengan embun keabadian. Namun di bawahnya, di "Sektor Akar", ribuan ras buangan hidup dari sisa-sisa energi spiritual yang bocor dari dapur-dapur langit.
Han Shuo berdiri di tengah gang sempit yang kini sunyi. Grog, si raksasa biru berlengan empat, masih tertegun melihat irisan bawang bombay yang melayang halus di udara seperti salju. Mata birunya yang besar masih berair karena aroma pedas yang tajam—aroma yang belum pernah ia rasakan sebelumnya di dunia yang hanya memuja "energi hambar".
"Apa... apa yang kau lakukan pada mataku, Manusia Kecil?!" gertak Grog, meski nada suaranya kini dipenuhi keraguan.
"Aku memberimu rasa pertama dari kenyataan," jawab Han Shuo tenang. Ia menyambar satu lembaran bawang di udara dan memasukkannya ke mulutnya sendiri. "Bawang ini disebut 'Bawang Pengusir Iblis' di duniaku. Di sini, kau membuangnya karena dianggap rendah energi. Padahal, jika diolah dengan benar, ini adalah kunci untuk membuka pori-pori energi yang tersumbat."
Grog meludah ke samping. "Pori-pori energi? Di sini kami hanya peduli pada Kristal Rasa. Jika makananmu tidak mengandung minimal 100 unit energi spiritual, itu sampah."
Han Shuo melihat sekeliling. Di tumpukan sampah itu, terdapat potongan daging monster Boar-Eater yang membiru, batang sayuran yang layu, dan lemak yang sudah membeku. Bagi penduduk Benua Atas, ini adalah limbah. Bagi Han Shuo, ini adalah harta karun yang belum dipoles.
"Grog, mau bertaruh?" Han Shuo menyeringai. "Pinjamkan aku sudut gang ini dan tungku bututmu itu selama satu jam. Aku akan memasak sesuatu dari 'sampah' ini. Jika kau tidak menangis karena kelezatannya, kau boleh memakan lenganku. Tapi jika kau suka... kau akan menjadi pelindung kedaiku."
Grog tertawa terbahak-bahak, memperlihatkan gigi-giginya yang seperti bongkahan batu koral. "Kesepakatan yang bagus! Aku sudah lama tidak makan daging manusia!"
Bagian 1: Alkimia di Tempat Sampah
Han Shuo mulai bekerja. Ini adalah tantangan terberatnya sejak memulai perjalanan kulinernya. Gravitasi di Benua Atas membuat tangannya terasa seperti memegang beban ratusan kilogram. Setiap gerakan memotong membutuhkan konsentrasi Qi yang luar biasa.
[Sistem Notifikasi: Mendeteksi Bahan Lokal - Daging Boar-Eater (Rusak), Kubis Langit (Layu).]
[Saran: Gunakan 'Teknik Pemurnian Api Jantung Bumi' untuk menghilangkan racun energi.]
Han Shuo menyalakan api di tungku tua milik Grog. Api itu berwarna merah tua, tidak stabil. Han Shuo memasukkan tangannya ke dalam api, menyuntikkan Api Jantung Bumi miliknya sendiri. Seketika, api itu berubah menjadi putih kebiruan yang stabil dan sangat panas.
"Dia menyentuh api tanpa terbakar?" gumam Grog, mulai merasa ngeri.
Han Shuo mengambil daging Boar-Eater yang sudah membiru. Daging ini keras dan berbau pesing karena mengandung terlalu banyak sisa energi yang tidak terolah. Han Shuo tidak memotongnya dengan cara biasa. Ia menggunakan teknik Getaran Pisau Seribu Frekuensi.
BZZZZZZT!
Pisau Bulan Sabit-nya bergetar begitu cepat hingga menciptakan suara dengungan. Saat pisau itu menyentuh daging, serat-serat otot yang keras itu hancur, namun tekstur luarnya tetap utuh. Ini adalah proses "pelunakan molekuler" yang dipelajarinya dari kitab kuno di Kekaisaran Naga Biru.
Lalu, ia mengambil Biji Lada Hitam Kehancuran yang diberikan oleh pria tua misterius itu.
"Mari kita lihat seberapa kuat kau," bisik Han Shuo.
Begitu ia menghancurkan biji lada itu, sebuah ledakan energi hitam kecil muncul. Bau yang keluar sangat ekstrem—perpaduan antara bau tanah basah, logam panas, dan sesuatu yang menyerupai gairah murni. Han Shuo mencampurkannya dengan lemak hewan yang telah dimurnikan.
Bagian 2: Hidangan Pertama - "Nasi Goreng Kebangkitan Akar"
Han Shuo menemukan sekarung sisa nasi dari restoran atas yang sudah mengeras seperti kerikil. Di dunia ini, nasi itu dibuang karena "energinya sudah menguap".
Han Shuo melemparkan nasi itu ke dalam kuali yang membara.
"Nasi ini tidak mati," kata Han Shuo pada Grog yang menonton dengan heran. "Dia hanya sedang tidur."
Ia melakukan teknik Wajan Melayang. Kuali raksasa itu berputar di udara, nasi di dalamnya melompat-lompat mengikuti irama jantung Han Shuo. Ia memasukkan potongan daging, kubis yang sudah direndam air bawang, dan bumbu lada hitam kehancuran.
SREEEEEET!
Uap mengepul hebat. Aroma yang keluar bukan lagi aroma sampah. Aroma itu mulai merayap keluar dari gang, melewati tumpukan beton, dan masuk ke hidung para penduduk Sektor Akar yang sedang kelaparan.
Aroma itu aneh. Ia tidak tercium seperti makanan mewah yang hambar. Aroma ini tercium seperti... Kenangan.
Seorang wanita tua dari ras bertelinga panjang (Elfin Rasa) yang sedang mengais sampah di ujung gang tiba-tiba berhenti. Ia menjatuhkan kaleng bekasnya. "Bau ini... kenapa mengingatkanku pada sup buatan ibuku seratus tahun lalu sebelum aku dibuang ke sini?"
Satu per satu, penduduk kumuh itu mulai mendekati gang Grog.
Bagian 3: Ledakan Rasa yang Terlarang
Han Shuo menyajikan satu mangkuk besar untuk Grog.
"Makanlah," tantang Han Shuo.
Grog menelan ludah. Keempat lengannya gemetar. Ia mengambil sesendok besar nasi goreng yang berwarna hitam keemasan itu. Begitu suapan pertama masuk ke mulutnya, mata Grog melotot.
BOOM!
Di dalam pikiran Grog, ia merasa seolah-olah seluruh tubuhnya dilemparkan ke dalam lautan api, lalu seketika dibilas dengan air es yang segar. Daging yang tadinya keras kini meleleh di lidahnya seperti mentega surgawi. Lada hitam kehancuran memberikan sensasi sengatan listrik yang memicu aliran Qi di dalam tubuhnya yang selama ini mampet.
"Ugh... Ahhh!" Grog mengerang keras.
Keempat lengan Grog tiba-tiba mengejang. Energi spiritual yang selama ini terperangkap di otot-ototnya karena masakan buruk tiba-tiba mengalir lancar. Tubuh birunya bersinar terang.
[Sistem Notifikasi: Pelanggan 'Grog' mengalami 'Terobosan Kuliner'. Level kekuatannya meningkat!]
Grog jatuh berlutut, air mata biru besar mengalir dari matanya. "Ini... ini bukan makanan. Ini adalah keajaiban. Aku... aku merasa seperti hidup kembali."
Han Shuo tersenyum puas. Ia menoleh ke arah kerumunan penduduk kumuh yang kini menatap mangkuk Grog dengan lapar.
"Namaku Han Shuo," teriaknya. "Selamat datang di Kedai Arwah Lapar. Di sini, aku tidak menjual energi. Aku menjual rasa yang akan membuat kalian ingat bahwa kalian adalah makhluk hidup, bukan sampah!"
Bagian 4: Konflik Pertama - Penagih Pajak Rasa
Baru saja Han Shuo hendak melayani pelanggan kedua, suara langkah kaki yang berat dan berisik terdengar dari mulut gang. Tiga orang prajurit dengan baju zirah perak yang mengilap muncul. Mereka adalah Penagih Pajak Rasa dari Distrik Menara Tengah.
"Bau apa ini?!" pemimpin mereka, seorang pria kurus dengan hidung panjang bernama Sir Vile, menutup hidungnya dengan sapu tangan sutra. "Siapa yang mengizinkan memasak bahan ilegal di area pembuangan?"
Vile melihat Han Shuo. "Manusia? Dan... lada hitam kehancuran? Itu adalah bahan terlarang yang hanya boleh dimiliki oleh Bangsawan Gourmet!"
Grog berdiri, menghalangi jalan mereka. "Dia temanku. Dia hanya memasak nasi."
"Minggir, Raksasa Bau!" Vile mengeluarkan sebuah alat berbentuk garpu perak yang bersinar. "Berdasarkan Hukum Gastronomi Pasal 4, setiap makanan yang dimasak di Sektor Akar yang melebihi standar aroma harus disita untuk 'pemeriksaan keamanan'."
Vile mendekati kuali Han Shuo. Ia melihat sisa nasi goreng itu. Matanya berkilat serakah. Sebagai penagih pajak, ia tahu aroma ini bernilai ribuan Kristal Rasa jika dijual di pasar gelap para kolektor rasa unik.
"Tangkap manusia ini! Dan sita kualinya!" perintah Vile.
Dua prajurit maju, menarik pedang mereka. Namun, Han Shuo tidak bergerak. Ia justru mengambil spatula besarnya.
"Sir Vile, kan?" Han Shuo berkata sambil mengaduk kualinya perlahan. "Kau bilang makanan ini ilegal. Bagaimana kalau kita lakukan tantangan koki? Jika kau bisa menelan satu sendok saus rahasiaku tanpa berlutut, aku akan menyerahkan diriku."
Vile tertawa menghina. "Aku telah memakan hidangan dari Koki Bintang Tiga di atas sana. Lidahku adalah lidah baja. Berikan sausmu, Manusia Rendah!"
Han Shuo mengambil sedikit cairan pekat dari dasar kuali—intisari dari Lada Hitam Kehancuran yang dikombinasikan dengan Api Jantung Bumi. Warnanya merah gelap, hampir hitam, dan terlihat mendidih meskipun sudah jauh dari api.
Han Shuo menyodorkannya.
Vile mengambilnya dengan sombong dan menelannya sekaligus.
Satu detik...
Dua detik...
Wajah Vile berubah dari pucat menjadi merah, lalu ungu, lalu hijau.
"PANAS! PANASSSSSSS!" Vile menjerit. Ia tidak hanya merasakan panas di lidah, tapi ia merasa seluruh organ dalamnya sedang berdansa di dalam bara api. Energi lada itu terlalu murni untuk lidahnya yang manja.
Vile jatuh tersungkur, mencakar-cakar tanah, mencoba mendinginkan mulutnya dengan debu.
"Itu disebut 'Pedasnya Keadilan'," kata Han Shuo dingin. "Prajurit, bawa tuanmu pergi sebelum perutnya meledak."
Para prajurit yang ketakutan segera membopong Vile yang pingsan dan lari terbirit-birit. Kerumunan penduduk Sektor Akar bersorak sorai. Belum pernah ada yang berani melawan Penagih Pajak dengan cara seperti itu.
Bagian 5: Tamu Tak Diundang
Malam itu, Kedai Arwah Lapar menjadi legenda instan di Sektor Akar. Han Shuo memasak hingga tangannya mati rasa, melayani ratusan orang dengan bahan-bahan sisa yang ia "sulap" menjadi hidangan kelas atas.
Saat pelanggan terakhir pergi, seorang pria tua bertopi lebar yang menutupi wajahnya duduk di sudut gang yang gelap. Ia sedari tadi hanya mengamati.
"Nasi goreng yang menarik," suara pria itu berat dan berwibawa.
Han Shuo membersihkan tangannya. "Kau ingin makan? Maaf, bahanku sudah habis."
"Aku tidak datang untuk makan makanan sisa," pria itu mengangkat kepalanya sedikit, memperlihatkan mata perak yang tajam. "Aku datang karena merasakan getaran dari Lada Hitam Kehancuran. Hanya ada tiga orang di Benua ini yang memiliki biji itu. Dan kau... bukan salah satu dari mereka."
Han Shuo waspada. Ia merasakan aura yang jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah ia temui. "Seorang teman memberikannya padaku di jalan dimensi."
Pria itu berdiri. "Teman? Kau menyebut 'Koki Gila' itu teman? Menarik."
Pria itu melemparkan sebuah koin kecil berwarna ungu ke arah Han Shuo. Koin itu bergambar pohon dengan daun berbentuk kotak-kotak kecil.
"Itu adalah lencana masuk untuk Pasar Gelap Bahan Surgawi," kata pria itu. "Jika kau benar-benar ingin mencari Pohon Kedelai Surgawi untuk jiwa yang kau bawa di pinggangmu itu, kau tidak akan menemukannya di tumpukan sampah ini."
Han Shuo terkejut. "Bagaimana kau tahu aku mencari itu?"
"Bau jiwa yang merana sangat tajam bagi mereka yang tahu cara menciumnya," pria itu berbalik dan mulai menghilang ke dalam kegelapan. "Datanglah ke Distrik Ketiga besok malam. Jika kau selamat dari ujian masuknya, mungkin kau akan menemukan apa yang kau cari. Tapi ingat, di Benua Atas, harga sebuah informasi sering kali dibayar dengan indra perasamu."
Pria itu menghilang seperti asap.
Bagian 6: Menatap Langit
Han Shuo berdiri sendirian di gang yang kini sunyi, memegang koin ungu itu. Grog sudah tidur mendengkur di pojok, perutnya kenyang untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun.
Han Shuo membuka Kotak Bumbu Raja. Kristal jiwa ayahnya bersinar redup.
"Ayah, tempat ini gila," bisik Han Shuo. "Koki di sini menggunakan rasa sebagai senjata, dan bahan makanan sebagai alat kekuasaan. Tapi jangan khawatir. Aku akan memasak jalan kita menuju puncak, meski aku harus mengubah seluruh Benua ini menjadi dapurku."
[Sistem Notifikasi: Misi Baru Terdeteksi!]
* Tujuan: Memasuki Pasar Gelap Bahan Surgawi.
* Syarat: Membuat hidangan yang bisa "Membuka Gerbang Terlarang".
* Hadiah: Peta Lokasi Hutan Kedelai Surgawi.
Han Shuo melihat ke arah menara-menara perak di atas awan. Ia tahu, perjalanannya di Benua Atas baru saja dimulai dari sebuah gang sempit, tapi namanya akan segera bergema hingga ke meja makan para Dewa.
* Pencapaian: Membangun Kedai Arwah Lapar, mengalahkan Penagih Pajak Rasa, mendapatkan akses ke Pasar Gelap.
* Teknik Baru: Getaran Pisau Seribu Frekuensi, Pedasnya Keadilan.
* Sekutu: Grog (Raksasa Biru, Pelindung Kedai).
* Item: Koin Ungu Pasar Gelap, Sisa Lada Hitam Kehancuran.