Karya Orisinal.
Genre: Fantasi Timur, Kultivasi, Xianxia.
Sub-Genre: Filosofi, Romance, Adventure, Action.
Desa kecil yang dipenuhi buai kenangan, Jinglan namanya. Di sebalik kabus fajar di ladang, hiduplah Aku—Ling Feng—berdiri ragu, mencoba merabit kata Pak Tua Chen, menyulamnya dengan tanya yang berbalut sunyi. Dalam pengembaraan, Aku menenun apa yang kubawa.
“Untuk Apa Kehidupan Dijalani?”
Jawab mungkin tak pernah kudapatkan. Namun, akankah Jawab sudi menyapaku kelak dan menanti?
Kupastikan langkahku setia pada arah, walau kelak degup jiwa tak lagi tegak menopang raga, kan kusulam tanya dalam bahasa sunyi dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MagnumKapalApi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 0 : Aku Duduk di Buaian Ini, Mendengar Dunia Sebelum Menyentuhnya.
Aku duduk di tepi ladang. Kaki telanjang menekan tanah basah oleh embun. Seketika, dingin itu menyebar, seperti sentuhan dunia yang baru saja sadar.
Jinglan adalah desa yang membesarkanku. Buaian yang lembut. Tersimpan di sekelilingku seperti napas yang tertahan, menyimpan suara yang hanya bisa terdengar oleh mereka yang bersedia mendengar.
Setiap batu. Setiap batang bambu. Bahkan retakan kayu di gubuk tua. Semuanya bergetar perlahan, berbisik dalam bahasa diam. Saat kusentuh, jari-jemariku merinding.
Delapan belas tahun hidup di sini.
Aku belajar mengenal gerak yang lambat.
Desir sungai menimpa batu dengan ritme menenangkan.
Aroma tanah basah, naik seperti uap kenangan.
Bisikan angin, menyingkap daun bambu dengan lembut.
Dan di sela-sela itu semua …
Aku merasakan sesuatu yang lain.
Halus. Samar.
Energi yang menari di udara, merambat di batang pohon, menembus akar, berdenyut di bawah kakiku.
Dunia ini, meski tampak sederhana, menyimpan lapisan yang tak kasat mata. Berdenyut dengan ritme sendiri. Menunggu telinga yang mau mendengar. Menunggu hati yang berani menatap.
Aku berkelana bukan untuk gulungan mantra kuno.
Bukan untuk kitab ranah langit para Kultivator.
Bukan untuk menuntut kekuatan atau kejayaan.
Aku berjalan untuk mendengar dunia dengan cara yang tak bisa dicatat dalam kitab.
Untuk merasakan denyutnya.
Menelusuri pertanyaan yang tak bisa diucap.
Menyingkap lapisan rahasia yang tersembunyi di balik kabut dan tanah.
Jalananku adalah dialog, dengan udara, dengan daun, dengan embun.
Bukan duel dengan langit.
Bukan pertempuran dengan takdir.
Embun menetes dari daun bambu yang membungkuk.
Jatuh di sela jari kakiku.
Setiap tetes … bukan sekadar air, seperti serpihan cahaya dari dunia lain. Menembus kulit. Meresap tulang. Membangkitkan sesuatu yang tertinggal jauh di ingatan.
Rindu yang tak pernah bisa diucap.
Kenangan yang hanya bisa dirasakan.
Angin pagi menyisir rambutku, membawa aroma tanah, rumput, dan sesuatu yang tak bisa dijelaskan. Asing, namun akrab, seperti rahasia lama yang menunggu untuk diingat.
Aku mengangkat tangan, membiarkan hembusan itu mengusap telapak.
Seketika, udara itu terasa menulis puisi di kulitku.
Mengukir nada halus yang hanya bisa kudengar … dengan hati.
Aku menutup mata.
Membiarkan kesunyian desa meresap ke tulang. Di telingaku, daun bambu berdesir berbeda. Di bawah kaki, tanah bergetar halus, menahan cerita yang hanya bisa didengar oleh mereka yang bersedia menyingkap tabir.
Aku menyadari.
Ada lapisan lain di balik batas desa ini.
Dunia yang berlapis.
Hidup.
Penuh rahasia.
Tapi untuk menyentuhnya … aku harus belajar mendengar, menunggu, membiarkan diri tenggelam dalam denyutnya.
Jinglan bukan penjara, ia juga bukan tujuan akhir. Desa ini adalah buaian. Buaian yang mengajariku bagaimana merasakan.
Bagaimana memahami gerak dan napas alam.
Bagaimana membaca bisikan yang tak diucapkan kata.
Di buaian ini, aku mengenal diriku sendiri. Menyadari bahwa dunia … lebih luas, lebih dalam, lebih hidup, daripada yang bisa kulihat dengan mata.
Aku membuka mata perlahan.
Kabut pagi menebal, menelan ladang dalam selimut putih tipis, membiaskan cahaya yang seolah menahan jawaban yang belum boleh kuterima.
Setiap titik embun bergetar, berkilau, seperti menyimpan rahasia dunia.
Dan aku duduk di sana. Ling Feng, yang berusia delapan belas tahun. Merasa pertanyaan pertama muncul.
Bukan tentang ke mana kaki akan melangkah.
Tetapi … seberapa luas hati mampu menampung suara dunia. Dan di dalam diam itu … aku belajar perlahan.
Bahasa dunia yang lebih luas.
Dunia yang bernapas.
Bersuara.
Berdenyut.
Dan menunggu untuk dibaca.
Oleh siapa pun yang bersedia mendengar.
Aku duduk di buaian ini.
Dengan telinga terbuka. Mata terbuka. Hati terbuka. Membiarkan dunia berbisik. Seakan mengatakan … Dengarkan aku … sebelum kau melangkah.
Dan ketika kabut bergerak pelan di atas ladang … aku memahami sesuatu tanpa perlu menamainya.
Jinglan tidak menahanku dengan dinding atau rantai.
Ia menahanku dengan kehangatan. Dengan kenangan yang melekat seperti embun di rumput pagi. Meninggalkannya kelak … bukan berarti memutus.
Melainkan merenggangkan genggaman … agar napas bisa mengalir lebih luas.
Tanah di bawah kakiku tetap mengenalku.
Angin tetap memanggil namaku dengan nada yang sama. Namun di balik semua itu … ada ruang yang menunggu untuk diinjak oleh langkah yang belum lahir.
Aku tidak berdiri.
Belum pergi.
Tetapi hatiku sudah belajar cara berpaling, tanpa mengkhianati.
Seperti anak yang dilepas dari buaian.
Aku tahu … Jinglan akan tetap tinggal di dalam darahku.
Bahkan ketika suatu hari … kakiku belajar menyentuh tanah yang tidak memanggil namaku. Dan justru karena itu … mengajarkanku arti kata pulang.