Demi melunasi hutang budi, Dokter Yoga terpaksa menikahi Dinda, wanita pengkhianat yang tak pernah ia sentuh selama setahun pernikahan. Di tengah sandiwara itu, ia harus menjaga Anindya, istri mendiang sahabatnya yang lumpuh akibat kecelakaan tragis.
Saat Yoga berhasil bebas dan menceraikan Dinda demi menikahi Anindya, sebuah rahasia besar meledak: Anindya ternyata adalah Nayla Rahardjo, putri sulung yang hilang dari keluarga mantan mertuanya sendiri.
Bagaimana Yoga mencintai wanita yang ternyata adalah kakak dari mantan istrinya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuningsih titin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali dalam pelukan yang sama
Setelah kepergian Dokter Reza, suasana kamar yang tadinya hening karena kecanggungan mendadak berubah menjadi penuh ketegangan. Anindya, yang masih ingin menjaga gengsinya, berusaha mengalihkan perhatian dengan terus menunduk, seolah-olah sangat sibuk dengan ponsel di tangannya.
Yoga yang melihat istrinya terus menghindar, tidak kehilangan akal. Dengan gerakan cepat yang tak terduga, ia menyambar ponsel itu dari tangan Anindya.
"Mas! Kembalikan!" Anindya melotot, matanya menyiratkan amarah yang bercampur dengan rasa kaget.
Yoga tidak menjawab. Sambil tersenyum tipis, ia menyembunyikan ponsel itu di balik piyama rumah sakit yang masih ia kenakan.
Saat Anindya mencoba merangsek maju dan merogoh piyamanya untuk mengambil ponsel tersebut, Yoga justru memanfaatkan momen itu. Dengan kekuatan yang telah kembali, ia menarik pergelangan tangan Anindya dan mendekap tubuh istrinya ke dalam pelukan yang sangat erat.
"Lepas, Mas! Kamu baru sembuh, jangan macam-macam!" Anindya memberontak. Ia memukul-mukul dada Yoga, namun pukulan itu terasa lemah di hadapan kerinduan Yoga yang sudah di ujung tanduk.
Yoga tidak memedulikan penolakan itu. Ia justru membenamkan wajahnya di ceruk leher Anindya, mengendus aroma tubuh istrinya yang sangat ia rindukan, lalu memberikan ciuman-ciuman panas di sana.
Dalam satu gerakan yang dominan, Yoga menarik Anindya ke atas ranjang, membalikkan posisi hingga kini Anindya berada di bawah kungkungannya.
Mata Yoga yang tadinya sayu karena sakit, kini berkilat penuh gairah dan pemujaan. Selama tiga bulan terakhir, ia tenggelam dalam ambisi dan pekerjaan hingga lupa bagaimana cara menyentuh ratunya. Ia memberikan ciuman yang dalam, sebuah ciuman yang menuntut sekaligus meminta maaf atas segala pengabaiannya.
Anindya awalnya mencoba memalingkan wajah, napasnya memburu antara marah dan rindu. Namun, Yoga adalah seorang dokter yang sangat tahu di mana titik-titik lemah istrinya. Dengan sedikit paksaan yang lembut namun tegas, Yoga mulai melucuti pakaian Anindya. Sentuhan jemari Yoga di daerah-daerah sensitif membuat pertahanan Anindya runtuh seketika.
Desahan halus mulai lolos dari bibir Anindya saat ia merasakan kembali kehangatan suaminya. Tubuhnya tidak bisa berbohong; ia merindukan sentuhan ini.
Terutama saat Yoga berpindah posisi ke arah bawah, memberikan perhatian intens dan ciuman di area paling sensitifnya.
Anindya melengkungkan tubuhnya, meremas sprei dengan erat seiring dengan pelepasan pertama yang membuatnya lemas tak berdaya.
Yoga tidak membiarkan Anindya beristirahat. Ia segera melepaskan seluruh pakaiannya sendiri, memperlihatkan tubuh tegapnya yang kini menyatu sempurna dengan Anindya. Penyatuan itu terasa begitu magis, seolah semua luka dan kesalahpahaman menguap tertutup oleh gelombang kenikmatan yang mereka ciptakan.
"Ahhh... Mas Yoga... pelan-pelan..." desah Anindya dengan suara serak, jemarinya mencengkeram erat bahu Yoga yang kokoh.
Rasa rindu yang ia pendam selama tiga bulan seolah meledak dalam setiap sentuhan yang diberikan suaminya.
Yoga tidak berhenti. Ia justru semakin dalam memberikan kecupan, menyesap setiap inci kulit Anindya seolah ia adalah pengelana yang baru menemukan mata air di tengah gurun.
"Kamu sangat indah, Anin... Maafkan aku yang bodoh karena sempat mengabaikan permata sepertimu," bisik Yoga tepat di telinga Anindya, suaranya rendah dan penuh gairah. "Setiap jengkal tubuhmu adalah candu bagiku. Aku mencintaimu, Sayang... sangat mencintaimu."
Anindya mendesah semakin kencang saat Yoga kembali memberikan stimulasi di titik sensitifnya. "Ohhh, Mas... ya Tuhan... itu... di sana..." Tubuh Anindya bergetar hebat, ia merasa seolah melayang di antara awan.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Mas... hhh... aku merindukanmu."
Pemujaan Yoga pun semakin menjadi-jadi. Ia menatap mata Anindya yang sayu karena kenikmatan. "Lihat aku, Anin. Lihat betapa aku memujamu. Kamu adalah ratuku, satu-satunya wanita yang bisa membuatku bertekuk lutut seperti ini. Aku milikmu sepenuhnya, lahir dan batin."
Penyatuan mereka kembali memanas. Gerakan Yoga yang perkasa namun penuh perasaan membuat Anindya tak henti-hentinya mendesah nikmat. "Mas Yoga... hhh... kamu luar biasa... akhhh!"
Suara-suara kenikmatan itu memenuhi ruangan, menjadi melodi penyembuh bagi luka yang sempat ada. Pemujaan Yoga terhadap kecantikan Anindya dan balasan Anindya terhadap keperkasaan suaminya mencapai puncaknya. Dalam kepasrahan yang total, keduanya mencapai klimaks bersamaan, saling mendekap erat seolah tidak ingin waktu memisahkan mereka lagi.
****
Setelah badai gairah mereda, Yoga masih memeluk Anindya di bawah selimut yang sama. Ia menciumi kening dan mata istrinya yang basah karena air mata bahagia.
"Terima kasih sudah menerimaku kembali, Anin," bisik Yoga lembut.
Anindya menyandarkan kepalanya di dada bidang Yoga, mendengarkan detak jantung suaminya yang masih berdegup kencang.
"Jangan pernah biarkan aku merasa sendirian lagi, Mas. Janji?"
"Aku janji. Nyawaku adalah jaminannya," jawab Yoga sungguh-sungguh sambil mengecup bibir Anindya dengan penuh kasih sayang.
Kamar itu seakan menjadi saksi bisu atas runtuhnya dinding es yang selama seminggu ini membeku. Udara di dalam ruangan terasa semakin berat oleh aroma keringat yang bercampur dengan wangi maskulin Yoga dan keharuman tubuh Anindya yang memabukkan. Yoga, yang kini telah mendapatkan kembali sedikit kekuatannya, menatap wanita di hadapannya dengan tatapan yang bisa melelehkan apa pun.
Dengan satu gerakan halus yang mendominasi, Yoga menarik Anindya ke atas tubuhnya. Kini, Anindya duduk di atas pangkuan Yoga, kedua kakinya mengapit pinggang suaminya yang kokoh. Posisi itu membuat wajah mereka sejajar, membiarkan napas panas mereka saling memburu di depan bibir masing-masing.
"Mas... Mas Yoga..." desah Anindya, suaranya parau, nyaris berupa bisikan yang tertelan oleh hasrat.
Yoga melingkarkan lengannya di pinggang ramping Anindya, jemarinya meremas lembut kulit punggung istrinya yang halus.
"Lihat aku, Anin. Katakan kalau kamu juga merindukanku sesakit ini," bisik Yoga, suaranya rendah dan menggetarkan sel saraf Anindya.
Anindya tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menenggelamkan jemarinya ke sela-sela rambut Yoga yang sedikit berantakan, menarik wajah suaminya itu agar bibir mereka kembali bertaut. Penyatuan kali ini terasa lebih dalam, lebih menuntut, dan penuh dengan emosi yang meledak-ledak.
Anindya mulai menggerakkan pinggulnya dengan ritme yang lambat namun pasti, membuat Yoga mengerang tertahan di balik ciuman mereka.
"Ahhh... ya Tuhan, Anin... Kamu begitu indah," igau Yoga saat ia merasakan kehangatan Anindya yang menyelimutinya sepenuhnya. Ia memejamkan mata, kepalanya mendongak dengan urat-urat leher yang menegang, menikmati setiap inci sensasi yang diberikan istrinya dari posisi atas.
"Hhh... Mas... Jangan lepaskan aku," rintih Anindya. Ia melengkungkan punggungnya, membiarkan rambut panjangnya tergerai jatuh ke belakang. Desahan-desahan nikmat keluar dari bibirnya yang kemerahan, mengisi setiap sudut kamar yang kini terasa begitu panas.
Yoga menangkup bokong Anindya, memberikan dorongan-dorongan kuat yang membuat Anindya memejamkan mata rapat-rapat. Pemujaan Yoga tidak berhenti.
Ia menciumi ceruk leher Anindya, menyesap kulitnya hingga meninggalkan tanda kepemilikan di sana.
"Kamu milikku, Anin. Selamanya milikku," gumam Yoga di sela-sela napasnya yang tersengal.
"Aku milikmu, Mas... Ohhh... Mas Yoga!" Anindya menjerit kecil saat gelombang kenikmatan itu mulai menghantamnya bertubi-tubi. Tubuhnya menegang, jantungnya berdegup kencang seirama dengan gerakan Yoga yang semakin liar di bawahnya.
Puncaknya tiba dengan begitu dahsyat. Keduanya saling mendekap, mencari pegangan satu sama lain di tengah badai gairah yang memuncak. Yoga menggeram rendah, melepaskan seluruh rindu dan beban yang menghimpit dadanya selama tiga bulan terakhir ke dalam rahim istrinya.
Anindya luruh, menyandarkan keningnya di bahu Yoga, napasnya tersengal-sengal saat mereka berdua perlahan turun dari puncak klimaks yang melelahkan namun begitu melegakan.
Di dalam keheningan yang menyusul, hanya terdengar suara detak jantung yang saling berpacu. Yoga mengusap punggung Anindya yang masih gemetar, menciumi setiap tetes keringat di pelipisnya dengan penuh pengabdian.
"Terima kasih, Anin... Terima kasih sudah kembali padaku," bisik Yoga lembut, kali ini dengan nada yang benar-benar tulus dan tanpa sisa-sisa keangkuhan seorang direktur.
mana anin yang dulu hidup sendiri tanpa kehadiran orang tua
ga selesai masalah kamu anin klo ditangani orang tua jangan manja
untuk dinda hukum tabur tuai semoga kamu n emak mu dapat karmanya segera