"Ini cek satu miliar. Tapi serahkan putri mu." Dexter.
Dexter yang dikenal dingin terhadap perempuan. Tapi tertarik pada seorang gadis yang ditemuinya.
Dengan caranya sendiri, dia memaksa untuk menikahi gadis itu. Bahkan tidak segan-segan memberikan cek senilai satu miliar.
"Pa, aku tidak ingin menikah dengan pria tua dan cacat." Wilona.
Sementara gadis yang diincar Dexter adalah Kiandra. Seorang gadis yang memiliki identitas ganda.
Siapa gadis itu sebenarnya? Apa yang istimewa dari gadis itu sehingga membuat Dexter tertarik? Bahkan rela mengeluarkan uang sebanyak itu untuk mendapatkan gadis itu.
Kalau penasaran baca yuk.
Cerita ini hanyalah fiksi belaka. Tidak ada kaitannya dengan kehidupan nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pa'tam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 4
"Kenapa sih Kiandra selalu beruntung?" gumam Wilona sambil mengepalkan tangannya kuat.
"Nona." Pelayan memanggil Wilona. Hingga Wilona sedikit tersentak kaget.
"Apa?!" Sahurnya dengan nada membentak demi menyembunyikan kekagetannya.
"Nyonya meminta Nona Wilona untuk makan bersama," kata pelayan dengan tertunduk. Tentu saja dia merasa takut, karena Wilona sering membentak bahkan menghina para pelayan.
Berbeda dengan Kiandra. Dia memperlakukan pelayan dengan baik. Kecuali jika pelayan itu yang bertindak jahat duluan kepadanya.
"Iya, nanti aku ke ruang makan. Sudah, pergi sana," usir Wilona.
Pelayan segera pergi dari situ. Selama bekerja di sini, tidak ada yang memperlakukan nya baik. Terutama Wilona dan Maura yang sok berkuasa di rumah ini.
Padahal, rumah yang mereka tempati adalah rumah peninggalan almarhum ibunya Kiandra. Namun, sejak kehadiran Maura dan Wilona di rumah ini, Kiandra pun tersingkir.
"Tuan, ayo makan dulu," kata Basuki seramah mungkin. Padahal dalam hatinya begitu dongkol, karena tidak mendapatkan apa-apa keuntungan dari pernikahan ini.
"Kemaskan pakaianmu, kita akan segera pindah," kata Dexter tanpa menghiraukan perkataan Basuki.
Kiandra mengangguk, kemudian berjalan naik ke atas menuju kamarnya. Ketika di lantai atas, Kiandra dihadang oleh Wilona.
"Berikan kartu ATM dari pria tua itu," kata Wilona.
Kiandra tersenyum. "Atas dasar apa aku memberikannya padamu? Ini adalah mahar yang diberikan oleh suamiku. Walaupun dia pria tua dan lumpuh, tapi dia sangat kaya."
Kiandra melangkah melewati Wilona. Namun Wilona menahan pundak Kiandra. Kiandra berbalik dan ....
Plak.... Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Wilona. Sehingga tercetak jelas bekas tamparan itu. Dan juga sudut bibir Wilona berdarah.
"Kamu menamparku!" Wilona yang tidak terima pun hendak membalas. Namun, tangan Kiandra lebih cepat dari tangan Wilona.
Satu tamparan lagi mendarat sempurna di pipi kanan Wilona. Beberapa orang pelayan yang melihatnya hanya tersenyum puas.
Seolah, apa yang ingin mereka lakukan sudah terlampiaskan. Walaupun bukan melalui tangan mereka sendiri.
"Kamu hanya anak seorang pelakor, jadi jangan macam-macam." Kiandra menuding jari dekat dengan wajah Wilona.
Wilona yang merasa kesakitan karena ditampar hanya mampu memegangi kedua belah pipinya.
Kiandra masuk ke dalam kamarnya. Beberapa menit kemudian dia keluar dengan penampilan yang sebelumnya. Dan membawa tas yang dibawanya dari desa.
"Ayo jalan," kata Dexter setelah Kiandra tiba di dekatnya.
James hendak mendorong kursi roda, namun Dexter melarangnya dan meminta Kiandra yang mendorongnya.
Basuki dan Maura tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mereka hanya memperhatikan kepergian Kiandra dan Dexter bersama asistennya.
"Pa, kita tidak dapat apa-apa dari pria tua itu. Dasar Kiandra sialan," kata Maura memaki Kiandra.
"Papa juga tidak bisa apa-apa, Ma," kata Basuki.
Maura begitu kesal, karena semuanya diambil oleh Kiandra. Hingga mereka tidak dapat sepeserpun.
Di dalam mobil ...
"Kenapa kamu mau menikah denganku?" tanya Dexter. "Aku pria tua dan lumpuh," tambahnya.
"Sepertinya aku tidak perlu menjawab," kata Kiandra.
Dexter hendak melepas kacamata milik Kiandra. Namun Kiandra menghindar, sehingga Dexter tidak jadi ingin melepasnya.
"Aku tidak mau kamu berpenampilan seperti itu," kata Dexter.
Kiandra tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya ke samping. Kiandra menatap ke arah luar mobil.
Sementara James menyetir mobil tidak ingin ikut campur urusan tuannya. Namun dalam hatinya memuji tuannya.
"Kita ke mana Tuan?" tanya James.
"Ke rumah ku," jawab Dexter.
James mengangguk. Rumah yang dimaksud oleh Dexter adalah rumah pribadinya. Namun jarang ditempati olehnya.
Mereka tiba di sebuah rumah besar dan mewah. Pintu gerbang pun terbuka, beberapa orang penjaga menunduk hormat ketika mobil yang ditumpangi Dexter lewat.
Setelah mobil terparkir, James membuka pintu mobil dan membantu tuannya naik ke kursi roda.
Para penjaga dan pelayan heran, karena yang mereka tahu, tuan mereka bukan pria tua dan lumpuh.
"Dengar sini semua. Mulai hari ini, dia adalah nyonya di rumah ini. Hormati dan layani dengan baik seperti kalian melayani ku," kata Dexter kepada penjaga dan pelayan.
"Baik Tuan," ucap mereka serentak. Kemudian menunduk hormat dan menyapa Kiandra dengan sebutan nyonya. Kiandra hanya tersenyum saja menanggapinya.
"Antar nyonya ke kamar," kata Dexter.
Pelayan pun langsung mengantar Kiandra ke kamar utama. Saat pintu kamar dibuka, Kiandra terpana melihat kamar Dexter yang bagus.
"Siapa namamu?" tanya Kiandra pada seorang pelayan.
"Ara Nyonya," jawabnya sambil menunduk.
"Jangan terlalu formal," kata Kiandra.
Pelayan yang bernama Ara pun mengangguk. Tapi, bagaimana mungkin dia bersikap tidak formal? Sementara tuan mereka cukup tegas orangnya.
Tapi yang mereka tidak mengerti, kenapa tuannya harus menyamar sebagai pria tua dan lumpuh?
"Pergilah," kata Dexter yang tiba-tiba berada didekat mereka.
"Iya Tuan. Nyonya, jika butuh sesuatu katakan saja," ucap Ara. Kiandra hanya mengangguk dan tersenyum saja.
Setelah Ara pergi, Dexter juga meminta James untuk pergi. Dexter pun segera menutup pintu kamarnya.
"Aku harus panggil apa?" tanya Kiandra. Karena dia tidak tahu harus memanggil apa kepada suaminya itu.
Sementara suaminya jauh lebih tua dari papanya, jadi Kiandra sedikit kesulitan untuk memanggil suaminya.
"Panggil hubby, sayang, honey atau apa saja yang menurutmu nyaman," jawab Dexter.
"Apa kita akan sekamar?" tanya Kiandra.
"Kenapa? Kita sudah sah sebagai pasangan suami istri. Di mana lagi jika bukan sekamar?"
Kiandra merasa cemas. Jujur saja, dia belum siap untuk tidur sekamar dengan suaminya. Apalagi pernikahan mereka adalah pernikahan paksa.
"Aku ...." Kiandra menjeda ucapannya. Dexter bangkit dari duduknya dan berjalan menghampiri Kiandra. "K-kamu bisa jalan?" tanyanya kaget.
"Kenapa? Kamu pikir aku beneran lumpuh?" tanya Dexter.
"Bukan, eh tidak, iya." Kiandra malah menjadi gugup karenanya.
Dexter semakin mendekat, kemudian melepas topeng wajahnya. Kiandra melongo, bahkan mulutnya pun ternganga melihat Dexter.
"Tampan sekali," batin Kiandra.
Dexter semakin mendekat, namun Kiandra menghadang kan kedua tangannya berpikir Dexter akan memeluknya.
Kiandra menelan ludahnya. Karena pria di depannya bukan pria tua dan lumpuh. Tapi seorang pemuda tampan yang menyamar.
"Lap iler mu," kata Dexter.
Kiandra malah menurut saja dan dengan cepat mengelap air liurnya. Dexter malah tertawa kecil melihat tingkah Kiandra.
"Aku mau mandi, siapkan pakaianku," kata Dexter.
Kiandra tidak bereaksi. Dia masih terdiam terpaku ditempatnya. Hingga Dexter masuk ke dalam kamar mandi.
"Kiandra, apa yang kamu pikirkan?" pekiknya dalam hati.
Kiandra menepuk-nepuk kedua belah pipinya. Dia seperti bermimpi melihat sosok gagah dan tampan yang kini menjadi suaminya.
Kiandra membuka lemari pakaian. Satu lemari penuh dengan pakaian perempuan. Kiandra melongo melihatnya.
Kemudian dia membuka lemari satunya, penuh dengan pakaian pria. Kiandra mengambil satu set pakaian casual untuk Dexter.