Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menunggu Dirinya
Lonceng kuil berdentang panjang.
Semua bangsawan kembali ke pelataran utama. Di tengah altar batu putih, sebuah mangkuk besar berisi air suci berkilau diterpa cahaya siang.
Pendeta agung mengangkat tongkat upacaranya. “Hari ini, seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, hanya satu gadis bangsawan dari tiap perwakilan keluarga bangsawan yang akan menerima pemberkatan air suci."
Suasana langsung berubah. Ini bukan sekadar ritual biasa. Ini kehormatan. Ini pengakuan.
Tatapan-tatapan mulai saling bertukar.
Pendeta melanjutkan “Lady Lilith dari keluarga Marquess.”
Tepuk tangan halus terdengar.
Marquess menghela napas lega, lalu tersenyum bangga. Lilith menunduk dengan anggun, ekspresinya terkejut dengan cara yang sangat terlatih.
“Saya merasa tidak pantas atas kehormatan ini,” ucapnya lembut. Namun, Ia melangkah maju tanpa ragu.
Elenna berdiri beberapa langkah di belakang, hampir tertutup oleh barisan bangsawan lain. Tidak ada yang menoleh padanya. Tidak ada yang mengira namanya akan dipanggil, dan memang tidak.
Lilith berdiri di depan altar. Pendeta menyentuhkan ujung tongkatnya ke air, lalu ke kening Lilith.
“Semoga hatimu tetap bersih seperti namamu dikenal.”
Air suci dipercikkan ke udara.
Cahaya matahari memantul di tetesannya.
Bisikan kagum terdengar lagi.
“Pantas saja.”
“Lady Lilith memang seperti gadis suci.”
“Elegan dan tanpa cela.”
Tanpa cela.
Kata itu terdengar jelas di telinga Elenna.
Ia menunduk sedikit.
Seolah dunia ini memang hanya menyediakan satu tempat untuk menjadi 'murni'.
Setelah ritual selesai, para bangsawan berkumpul di taman kuil.
Lilith kini benar-benar menjadi pusat perhatian. Beberapa ibu bangsawan mendekat.
“Putriku harus belajar darimu.”
“Kau membawa nama keluargamu dengan sempurna.”
Marquess berdiri di sampingnya, wajahnya bersinar oleh kebanggaan.
Elenna berdiri agak jauh di bawah bayangan pohon. Ia tidak iri.
Setidaknya, Ia mencoba meyakinkan dirinya begitu. Ia hanya… merasa kecil. Seolah kehadirannya memang tidak pernah dihitung dalam kemungkinan apa pun.
Saat ia hendak menjauh dari keramaian. Dua bangsawan muda lewat di dekatnya, tidak menyadari ia bisa mendengar.
“Untung yang dipilih adalah Nona Lilith.”
“Tentu saja. Bayangkan jika… yang satunya.”
Mereka tertawa kecil.
“Kuil ini bisa ternodai.”
Langkah Elenna terhenti. Ia tidak menoleh. Ia tidak menegur. Ia hanya berdiri diam sampai suara mereka menjauh.
Lalu ia kembali berjalan, lebih ke sudut taman yang sepi. Di sisi lain, Putri Isabella memperhatikan semuanya. Tatapannya bergeser dari Lilith… lalu ke Elenna yang berdiri sendirian.
Ia tidak tersenyum.
Namun, ada sesuatu yang berubah di matanya.
Bukan kebencian..
Bukan simpati.
Melainkan pengamatan.
Seolah ia baru menyadari,
Dalam keluarga itu, hanya satu yang dipoles untuk cahaya, sementara yang lain… dibiarkan berada di bayangan.
Isabella menoleh pada Alberto yang berdiri tidak jauh.
“Memang sudah seharusnya begitu." gumamnya pelan.
Festival masih berlangsung. Musik mulai dimainkan.
Tarian akan segera dimulai, dan tanpa disadari siapa pun. Hari ini bukan tentang siapa yang dipilih. Melainkan tentang siapa yang mulai diperhatikan… justru karena tidak pernah dipilih.
Ketika perhatian semua orang tertuju pada Lilith yang dikelilingi pujian, Elenna perlahan mundur dari barisan bangsawan. Langkahnya ringan, hampir tak bersuara di atas lantai batu putih.
Tak ada yang memanggil namanya. Tak ada yang menyadari ia pergi. Ia menyusuri lorong samping kuil, melewati deretan pilar tinggi yang menahan atap marmer. Di ujung lorong, sebuah pintu kecil setengah terbuka mengarah ke halaman belakang.
Angin lebih dingin di sana.
Halaman belakang kuil jauh lebih sepi. Hanya ada tembok batu tua, beberapa bangku kayu, dan pohon cemara yang menjulang sunyi.
Elenna berhenti di dekat dinding, di tempat yang terlindung bayangan.
Ia menunggu.
Kael mengatakan ia akan datang.
Tidak di tengah keramaian. Tidak di hadapan semua orang. Tapi di tempat yang lebih tenang. Ia menggenggam ujung gaunnya, berusaha mengatur napas.
Lima menit berlalu.
Lima belas menit.
Lalu lebih lama lagi.
Dari dalam kuil terdengar sorakan kecil, mungkin tarian dimulai. Musik mengalun lebih jelas sekarang. Namun, halaman belakang tetap kosong. Langkah kaki yang Ia harapkan tak kunjung terdengar.
Elenna menatap pintu kecil itu, seolah jika ia cukup lama memandang, seseorang akan muncul.
Tidak ada siapa pun.
Hatinya mulai memahami lebih dulu daripada pikirannya.
Kael tidak akan datang. Mungkin ia berubah pikiran. Mungkin ia sibuk. Atau mungkin… ia tak pernah benar-benar berniat untuk datang.
Angin berhembus lebih kencang, membuat ujung rambutnya bergerak pelan. Ia tersenyum tipis pada dirinya sendiri. Harapan yang kecil tetaplah harapan, dan harapan, ketika patah, tetap terasa sakit meski tak pernah diucapkan.
Ia menunduk, mencoba menelan rasa kosong yang merayap perlahan di dadanya.
“Ternyata aku memang bodoh,” gumamnya lirih.
“Terlalu dingin untuk berdiri sendirian di sini.”
Suara itu membuatnya sedikit tersentak.
Ia menoleh.
Alberto berdiri beberapa langkah darinya, mengenakan pakaian formal festival, namun jasnya sedikit terbuka seolah ia datang terburu-buru.
Ia menatap Elenna dengan alis sedikit berkerut.
“Elenna. Kenapa kau sendirian di belakang kuil?”
Elenna segera menegakkan tubuhnya.
“Hanya mencari angin. Di dalam terlalu ramai.”
Alberto tidak langsung percaya.
Tatapannya menyapu sekeliling halaman kosong itu.
“Angin?” ulangnya pelan.
Ia melangkah mendekat. Namun, tetap menjaga jarak sopan.
“Maaf terlambat, aku berusaha menyelesaikan pekerjaanku secepat mungkin, agar aku bisa menemuimu"
Ada nada jujur di sana. Bukan hanya sekadara basa-basi. Elenna sedikit terdiam mendengar hal itu.
“Kakak tidak perlu khawatir,” katanya pelan. “Aku baik-baik saja.”
Alberto menghela napas ringan.
“Lilith telah menunggu kakak di dalam,” lanjut Elenna seolah ingin mengalihkan pembicaraan. “Bukankah kakak biasanya berdiri di sisinya saat acara seperti ini?” ujarnya sembari tersenyum tipis, sangat tipis.
Alberto mengangguk kecil.
“Ya.”
Ia terdiam sejenak, lalu berkata lebih pelan,
“Tapi hari ini… aku lebih ingin memastikan kau tidak menghilang begitu saja.”
Kalimat itu membuat Elenna menoleh cepat.
Ada sesuatu di wajah Alberto, bukan sekadar kewajiban. Ia menahan pandangannya.
“Terlalu baik,” ucap Elenna lirih.
Alberto mengulurkan tangan sedikit, memberi isyarat sopan.
“Mari kita kembali. Udara di sini terlalu sepi untukmu.” Elenna memandang tangan itu beberapa detik.
Lalu ia menggeleng pelan.
“Tidak. Aku ingin sendiri saja.”
Jawabannya lembut, tapi tegas.
Alberto menurunkan tangannya perlahan.
“Apakah aku mengganggu?”
“Tidak,” Ia cepat menjawab. “Hanya saja… aku butuh waktu.”
Angin kembali berembus, membawa samar-samar suara tawa dari taman.
Alberto menatapnya lebih lama, seolah ingin mengatakan sesuatu.
Namun, akhirnya Ia hanya mengangguk.
“Baiklah. Tapi jangan terlalu lama. Festival belum selesai.” Ia berbalik beberapa langkah, lalu berhenti.
“Elenna.”
Elenna mendongak.
“Jika kau merasa tidak diinginkan di suatu tempat… bukan berarti tempat itu memang bukan untukmu."
Kalimat itu menggantung di udara. Tanpa penjelasan. Tanpa penegasan. Lalu Alberto berjalan kembali ke arah kuil.
Elenna tetap berdiri di bawah bayangan pohon cemara. Langit mulai sedikit berubah warna, sore perlahan turun. Ia tidak tahu mana yang lebih menyakitkan.
Kael yang tidak datang, atau kenyataan bahwa ia tetap menunggunya. dan untuk pertama kalinya hari itu, ia membiarkan dirinya merasa kecewa sepenuhnya. Tanpa senyum. Tanpa topeng.