NovelToon NovelToon
Mendaki Saat Menstruasi

Mendaki Saat Menstruasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Spiritual / Hantu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: TuanZx

Masih di atas gunung, Aya membuang bekas pembalutnya sembarangan ke semak-semak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TuanZx, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 20; Orok

Aya cuman, diem aja.

Kuntilanak-Kuntilanak itu gak ilang, tapi nggak juga ngedeket.

Terus jalan, sampe pada akhirnya mereka berdua ngelewatin pos yang namanya Kuburan Kuda.

Semakin naik ke atas, kabut semakin tebel, pohon-pohon tinggi, menjulang di mana-mana.

Dan di balik jejeran pohon-pohon itu, Aya sempet ngeliat, ada muka putih ngintip.

Terus kedengeran juga suara orang banyak ngomong pake nada rendah.

Seiring Aya jalan, suara-suara itu kedengeran makin deket.

Aya makin gelisah di situ.

Ketika mereka tiba di pos Panggalap, (Nama pos telah di samarkan) baru Aya tau, dari mana sumber suara-suara tadi.

Disana, di dalam kegelapan hutan, Aya ngeliat banyak banget sosok manusia, lagi duduk dalam posisi rapat.

Mereka lagi sibuk, ngobrol satu sama lain. Tapi, gak ada satupun dari mereka yang merhatiin Aya dan Bang Maka.

Banyak dari sosok itu yang make karung goni tebel, sebagai pembungkusan badan.

Aya sempet mikir, "Apa mereka orang kampung dari kaki gunung?"

Aya terus nanya ke bang Maka, "Bang, mereka siapa bang?"

"Orang."

"Iya, maksudnya siapa? Lagi apa?"

"Lagi nunggu,"

"Iyaaa! Siapa? Nunggu apa?"

"Elu gak akan mau tau mereka lagi nunggu apa. Udah, jalan aja. Hormatin orang yang udah gak ada."

Aya kaget ngedenger jawaban itu, "Hormatin orang yang udah gak ada? Berarti mereka semua bukan manusia?” pikirnya.

Bang Maka terus ngomong lagi, "Lu khawatirin aja nasib lu sendiri."

Sosok-sosok itu, seakan-akan gak ngeliat mereka berdua.

Mereka terus aja ngomong bisik-bisik ketika Bang Maka dan Aya lewat di depan mereka.

Aya dan Bang Maka terus aja jalan sampe suara orang-orang itu mengecil, mengecil dan gak kedengeran lagi.

Gak lama kemudian, Bang Maka bilang, "Elu kan penakut, saran gua mendingan lu tutup mata nanti."

"Hah? Tutup mata?” Aya bertanya-tanya dalam hati, "Ada apa? Siapa? Dan kenapa mesti tutup mata?" pikirnya.

Bang Maka bilang, "Sabar ya... Nanti."

"Dimana?”

"Tanjakan Seruni."

Selama dalam perjalanan itu, sosok-sosok Kuntilanak itu terus bermunculan. Tapi, mereka-mereka itu gak ada yang berani mendekat. Mereka cuma muncul, ilang, muncul, ilang, di iringi sama suara tangis sama suara ketawa.

Aya mikir, "Apa mereka emang kayak gitu? Atau, karena ada Bang Maka makannya mereka gak ada yang berani ngedeket?"

Aya yang jalan di belakangnya Bang Maka bertanya-tanya. "Nih orang siapa sih sebenernya?"

Pengen dia nanya, tapi kalo inget sama cara ngomongnya yang ngeselin, dia jadi males.

Jalur gak usah di tanya lagi, semakin ke atas, semakin terjal.

Tapi, Bang Maka dengan gampang ngelewatin itu semua.

Sementara Aya, dia mesti susah payah.

Dari atas jalur, Bang Maka bilang. "Capek ya?"

Aya cuekin sindiran Bang Maka itu. Karna dia udah terlalu capek buat ngejawab.

Tapi, Bang Maka gak berhenti-berhentinya nyindir Aya. Dia bilang, "Mau istirahat dulu? Makan apa? Steak? Perlu di pijitin kakinya?"

Aya masih cuekin sindiran-sindiran itu. Sampe Bang Maka bilang, "Atau... Perlukah kita hentikan pikniknya malam ini? Pulang, terus tidur. Kalo besok bisa bangun cepet... Mungkin... Masih ada waktu buat dateng ke pemakamannya pacar nona."

Deg!

Aya langsung ke sentak di situ.

Dia sadar kalo gak ada waktu buat capek di sini. Nasibnya Ari tergantung sama dia.

Tiba-tiba aja dia langsung dapet kayak dorongan.

Aya sebenarnya udah muak banget sama tanjakan curam itu. Tanjakan yang di dominasi sama akar-akar yang menjalar.

Sambil istirahat sebentar, di situ Aya baru sadar, kalo dia lagi ada di Tanjakan Seruni.

Baru Aya mau jalan lagi.

Tiba-tiba...

Kecium wangi bunga melati.

Dari sudut matanya, Aya ngeliat, ada yang bergerak ke arahnya.

Dia gak tau itu apa, cuma samar-samar aja karna ketutupan kabut.

Tapi, sesuatu itu terus bergerak pelan-pelan.

Aya pun mulai melangkah naik lagi. Tapi, bau melati itu, makin kecium.

Dan, kedengeran suara dari semak-semak.

Aya perhatiin ke semak-semak itu.

Pelan-pelan perempuan itu jalan lurus ke arah Aya. Dan Aya cuma bisa mematung nggak bisa gerak.

Dia cuma berharap kalo sosok itu ilang, terbang, atau kemana lah, kayak sosok-sosok yang sebelumnya.

Tapi enggak, sosok itu masih terus ngedeket.

Aya nggak bisa ngapa-ngapain kecuali ngeliat sosok itu.

Muka sosok itu, pucet. Pakaian yang dia pake sama persis kayak pakaian-pakaian Kuntilanak yang mukanya ancur sebelumnya.

Tapi, bedanya adalah, pakaian sosok itu, di bagian perutnya sobek besar. Dan keliatan busuk.

Ketika Aya ngeliatin dengan lebih jelas. Ternyata bukan bajunya aja yang sobek.

Ternyata perutnya juga sobek.

Isi perut sosok itu, jeroan segala macem. Keluar semua.

Lagi-lagi Aya pengen teriak. Tapi gak bisa.

Dan gak cuma itu, perempuan itu kayak nyeret sesuatu. Sesuatu yang kayak terhubung sama sesuatu di tangan kirinya.

Pas Aya Perhatiin bener-bener. Ternyata yang perempuan itu seret adalah...

Orok. (Orok dalam bahasa Sunda. Dalam bahasa Indonesia adalah bayi.)

Orok yang udah berubah jadi mayat.

Tali warna hitam dan agak kemerah-merahan itu, dipake buat narik orok itu.

Pada akhirnya Aya sadar kalo itu adalah...

Tali pusar.

Di situ dia pingsan.

Gak tau berapa lama dia pingsan. Orang yang pertama dia liat adalah, Bang Maka.

Dia bilang dengan nada ngejek, "Udahan istirahatnya?"

Gak jawab pertanyaan itu, Aya langsung nyoba buat diri.

Di situ dia langsung keinget sama sosok perempuan yang tadi.

Dia langsung panik, nengok ke sana ke ke mari. Ngeliat Aya yang kayak gitu, Bang Maka bilang, "Dia udah pergi."

"Udah pergi?" berarti Bang Maka juga liat?

"Tapi kok, ini orang tenang bener?”

Aya nanya, "S—siapa tadi Bang?”

"Seruni."

Mereka berdua pun ngelanjutin perjalanan.

Sambil jalan Aya terus kepikiran sama nama sosok itu, "Seruni?"

"Apa karna sosok tersebut, daerah itu di namain tanjakan Seruni?" pikirnya.

Lalu tiba-tiba...

Kecium bau yang bener-bener busuk.

Perut Aya langsung bergejolak dan mual-mual.

Sontak dia langsung nyari dari mana sumber bau itu.

Dari atas dahan, gak ada, dari balik pohon, gak ada, di semak-semak, gak ada.

Penampakan sosok Seruni itu muncul lagi di pikirannya. "Apa jangan-jangan ini tanda dia mau dateng?"

Tapi Aya ke inget kalo sosok itu kan tandanya wangi melati. Bukan bau busuk, kalo bau busuk ini...

Pocong.

Aya langsung waspada di situ, "Apa jangan-jangan makhluk itu ada di belakang?"

Dia nengok lah tuh, dan gak ada siapa-siapa. Kosong.

Cuman kabut tebel aja. "Tapi, kok bau busuk itu makin menyengat?"

Aya pun berhenti sebentar, sambil merhatiin kabut yang ada di belakangnya itu, karna keliatannya ada sosok yang bergerak.

Diperhatiin, diperhatiin. Dan bener aja, kabut tiba-tiba tersibak dan keluar rombongan orang yang lagi pada nunduk.

Aya perhatiin, orang-orang ini mukanya pucet, dan gak ada ekspresi.

1
Melissa McCarthy
jam 02.05 gini bacanya jadi tambah horor thor
Melissa McCarthy
apa itu bg?
Melissa McCarthy
kerasa sampe sini merindingnya thor
Melissa McCarthy
merinding/Awkward/
Melissa McCarthy
waduh/Toasted/
Melissa McCarthy
lanjut bang
Ina Emut
tkutt
TuanZx: jangan takut, hehe. semoga terhibur. jika tak keberatan. boleh tinggalkan bintang lima ya... terimakasih
total 1 replies
Melissa McCarthy
betul tuh kak, kata bang Maka
Melissa McCarthy
bagus bgt tanpa tedeng aling-aling
tse
percaya banget...
masa cuma dari tali pocong bisa kaya...
kalo mau kaya ya usaha, kerja, dagang jangan yang aneh2 dech
tse
ga kebayang kalo aku yang ngalamin...pingsan langsung
TuanZx: hehe, semoga terhibur. jika tak keberatan boleh tinggalkan bintang lima ya. terimakasih
total 1 replies
tse
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Melissa McCarthy: 🤣😄💪💪💪💪💪💪💪
total 1 replies
TuanZx
Selamat membaca, semoga menghibur. Jika tidak keberatan, boleh lah kasi bintang 5
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!