NovelToon NovelToon
LAKSANA SAMUDRA

LAKSANA SAMUDRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Inar Hamzah

Melihatmu tersenyum lebar dibawah sinar mentari pagi, membuatku semangat menjalani hari.

Dandelion, adakah kesempatan untukku ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GARA GARA AKU YA ?

Sepanjang jalan menuju resto Deya hanya diam membisu, Rico ingin sekali membuka percakapan tapi gadis itu sepertinya enggan sekali bertukar ucapan dengannya.

Setelah berkendara kurang lebih dua puluh menit, sampai lah meraka di resto yang dimaksud Deya.

“De, kamu kenapa ?” Rico bertanya kembali, setelah membantu Deya melepas helmnya.

Deya hanya menggeleng pelan, namun wajahnya semakin pucat pasi.

“Kamu sakit ?”

Lagi, hanya gelengan pelan di sertai mata yang semakin sayu.

“Nggak, kamu lagi sakit ini. Kamu demam ?” Dengan segera tangan Rico hendak menyentuh kening Deya. Namun Deya memundurkan diri.

“Oh, maaf.” Ucapnya sambil turun dari motor.

“Ayo.” Ajak Rico dan melihat ke arah Deya.

“Aku nggak mau.” Deya hanya mematung.

Heran Rico dibuatnya. “Kenapa ? Bukannya kamu pengen ke sini kan ?”

“Sekarang sudah nggak mau.” Dengan entengnya perempuan itu berkata setelah membuat Rico menunggu dan berkendara selama dua puluh menit.

Rico menghela nafas pelan dan berjalan menghampiri Deya yang kini duduk di atas motor.

“Iya udah, sekarang mau apa ?”

“Kayaknya rujak buah enak deh.” Jawabnya lebih semangat.

“Kan belum makan.” Dengan lembut Rico memperlakukan gadis berseragam kantor itu. “Makan dulu ya, abis itu kita cari rujak yang kamu pengen itu, ya.” Tawar Rico sambil memperhatikan wajah pucat gadis di depannya.

Gelengan pelan sebagai jawaban dari usulannya kembali diterima.

“Ya udah, kita take a way aja ya.” Usulnya kembali.

“Lama.”

“Sebentar kok, kita masuk dulu.” Ajaknya dan membawa slim bag Deya.

 

***

“Mau rujak dimana ?” Tanya Rico membantu Deya memasangkan helmnya.

Ah, sungguh manis sekali moment ini, Deya benar-benar diperlakukan baik oleh Rico. Beberapa mata memandang ke arah mereka, melihat hal sederhana yang terkesan manis itu.

“Dimana aja. Mau cepat-cepat balik kantor.”

“Iya, kita cari yah. Nanti mampir di apotek beli vitamin buat kamu. Kayaknya semalam begadang deh kamu.” Jelas Rico dan meninggalkan area parkir resto.

Setelah mendapatkan rujak buah yang Deya inginkan. Cepat-cepat Rico melajukan motor ke arah kantor Deya. Tak lupa mampir untuk membeli di apotek dan mini market atas permintaan Deya.

Rupanya gadis itu tengah kedatangan tamu, wajarnya saja wajah terlihat pucat menahan sakit dan tak berselera makan.

“De.” Panggil Rico.

“Hm.”

“Sedikit ngegas tidak apa-apa kan ? Tidak membuat perut mu semakin sakit dan kram kan ?”

“Iya tidak apa-apa.”

 

***

Rico membantu Deya untuk memasuki ruang kantornya, membawakan slim bag dan beberapa kantong plastik.

Deya menatap Rico datar dan sendu, wajah yang menahan kesakitan itu semakin terlihat jelas dimata Rico. Nyaris membuat laki-laki itu meminta ijin agar Deya pulang lebih awal.

“Aku tunggu di cafe depan yah. Kalau sudah pulang kabari aku. Apalagi kalau perut mu semakin sakit. Kabari aku.” Ucap Rico penuh penekanan dan tak ingin dibantah.

Entah karena sedang tak ingin berdebat atau mulai merasakan ketulusan Rico, Deya hanya mengangguk dan meraih plastik dari genggaman Rico, kemudian melangkah memasuki kantornya.

“Mau minta ijin dengan atasanku, memangnya dia siapa ? Seseorang yang penting gitu ?” Gerutu Deya yang meninggalkan Rico.

Sedangkan Rico kini berbincang dengan satpam yang hari itu bertugas.

“Pak Rico ? Apa kabar ? Sudah lama nggak kelihatan ini ?” Tanya satpam itu berbasa basi.

“Ada yang urus aja beberapa bulan ini, makanya baru kelihatan sekarang.” Jawab Rico sedikit berbohong.

Sedari Rico menunggu di area parkir, satpam tersebut beberapa kali melihat ke arahnya. Memastikan bahwa laki-laki tersebut adalah salah satu orang yang rutin berkunjung ke kantornya.

 

***

“De, aku nyari makan dulu yah. Sekalian mau istirahat. Kalau ada apa-apa langsung kabari aku bila perlu langsung saja telepon.” Rico mengirim pesan singkat untuk Deya yang mulai sibuk dengan pekerjaannya. Gadis itu sama sekali tak menghiraukan apa yang dibelinya tadi, dan mengesampingkan sakit yang kini semakin menderanya.

 

Waktu berlalu tak terasa, sore ini laki-laki itu terlihat sudah berada di cafe depan kantor Deya. Menikmati secangkir latte dengan guratan senja yang semakin jelas membentang. Laki-laki itu benar-benar menikmati masa penantiannya. Ia dengan sabar menunggu Deya menjawab tanpa perlu memaksa dan menyuruh untuk terburu-buru.

“Mau cookies ?” Tawar Rico melalui pesan singkat. Bahkan pesan yang tadi siang di kirim belum kunjung dibaca, namun sekarang dia sudah mengirim pesan singkatnya lagi.

Triing,,

Suara yang cukup nyaring terdengar dari ponsel pintarnya.

“Nggak, mau tiramisu latte aja.”

“Okee, pulang jam berapa ? Atau mau di antar ke kantornya ?”

“Nggak usah, Belum tau, ini masih ada beberapa kerjaan yang belum selesai.”

“Ya udah, sepuluh menit sebelum pulang kabarin ya. Biar dipesankan memang.”

Pesan tersebut hanya dibaca oleh salah satu gadis yang berada di ruangan kantor di depan matanya. Namun bagi Rico itu tak apa-apa, Deya tak lagi marah-marah dan mau menemuinya saja itu sudah lebih dari sebuah kemajuan besar.

“Bentar lagi pulang.”

Notif dari Deya kembali terdengar di ponselnya, dengan segera Rico memesan apa yang di inginkan gadis itu. Setelah beberapa saat menunggu, Rico beranjak dari tempat itu dan kembali ia menangkap sosok Deya dengan lunglai berjalan menuruni anak tangga kantornya. Rupanya gadis itu lupa bahwa ia memarkirkan motornya di area parkir customer.

Selfi yang melihat Deya begitu lesu tak seperti biasanya, sempat menawarkan bantuan untuk mengantarkan. Namun ditolaknya, pun Hendy juga menawarkan, penolakan juga yang diterima olehnya.

Rico memperhatikan Deya dari bahu jalan, matanya juga tertuju pada beberapa kantong plastik yang diyakini tak tersentuh sama sekali. Dengan segera menghampirinya.

“Makin sakit ?” sambil menyerahkan kantong plastik berisi cup.

Deya hanya mengangguk pelan.

“Belum dimakan ?”

Anggukan kembali dilayangkan sebagai jawaban.

Rico berdecak kesal, dan memandang ke sekitar.

“Makan dulu.” Mengajak Deya duduk di kursi besi depan kantornya.

“Aku mau pulang.”

“Makan dulu.” Intonasi Rico naik setengah oktaf.

“Aku mau pulang aja.” Keras kepala Deya dan masih dengan pendiriannya.

“Makan dulu Deya.” Rico menyebut nama panggilan Deya dengan sempurna dan dengan intonasi penuh penekanan.

Sedangkan sosok yang di sebut Namanya hanya memandang datar dan kesal.

“Ayo.” Rico tak menghiraukan tatapan Deya dan meraih kantong plastik.

Telaten Rico membuka kantong plastik berisi makanan yang mereka beli di resto favorit Deya.

Meski masih merasa enggan, Deya mulai menyuapi makanan tersebut ke dalam mulutnya. Sementara Rico asyik memperhatikannya mengunyah.

“De, maaf yah. Nada ku tadi sedikit keras ke kamu.”

Tak ada jawaban sama sekali.

“Aku nggak suka kamu nyiksa diri kamu gini. Hanya alasan kamu lagi nggak pengen kamu bisa abaikan makanan gitu aja. Kamu tau kan banyak orang yang tak seberuntung kita di luar sana yang untuk makan hari ini saja harus bekerja keras lebih dulu.”

Anggukan kembali di berikan oleh Deya. Rico tersenyum singkat, melihat Deya yang kesusahan membuka tutup minumannya. Rico segera mengambil alih botol minuman itu dan membukanya.

“Udah nggak dimakan ?”

“Nggak, kenyang. Mau bawa pulang aja.”

Tanpa rasa jijik atau risih, Rico memakan makanan yang tak dihabiskannya. Deya hanya tertegun melihat hal tersebut.

 

***

Jika kemarin, Rico mengantarkan Deya dengan cara mengikutinya dari belakang. Berbeda dengan hari ini, dia memutuskan untuk mengantar dengan motornya sendiri. Sedangkan motor Deya akan di antarkan oleh seorang teman yang dimintainya tolong.

Sepanjang jalan, sakit perut karena siklus bulanan semakin membuat Deya diam membisu dan tetesan bulir dari ujung matanya menetes.

“Dee.”

“Hm.”

“Kamu kenapa nangis ?” Rico menepikan motornya.

Gelengan kembali dijadikan jawaban. Sepertinya hari ini Deya hemat bicara, tak seperti biasanya.

“Gara-gara aku ? Gara-gara tadi nada bicaraku ?” Tanya Rico gelagapan.

“Aku mau cepat sampai rumah. Perut ku sakit banget.”

“Astaga, iya-iya. Ini kita pulang.” Wajah panik Rico tak bisa disembunyikan dan segera melajukan motornya kembali.

 

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!