NovelToon NovelToon
Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Kubuat Kau Kembali Keasalmu, Saat Kau Selingkuhi Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Pelakor jahat / Selingkuh / Cinta Terlarang
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 Rania Berterus terang Kepada Alex

Rania menarik napas dalam-dalam, merasakan debaran jantungnya semakin kencang. Setelah semalaman bergulat dengan pikiran dan perasaan, pagi ini ia merasa lebih siap, meski ketegangan tetap menyelimuti hatinya. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, menimbang-nimbang kata-kata yang akan diucapkan. Akhirnya, dengan tekad yang bulat, ia menekan tombol panggil.

“Halo, Kak?” sapa Rania dengan suara yang sedikit bergetar.

Terdengar suara Alex di seberang sana, hangat dan penuh perhatian seperti biasa. “Rania? Tumben telepon pagi-pagi. Ada apa, Dek? Kamu baik-baik saja kan?”

Rania mencoba menenangkan diri. “Aku baik, Kak. Aku… aku cuma kangen sama Kakak. Sudah lama kita tidak bertemu.”

“Iya, Kakak juga kangen sama kamu. Gimana kalau Kakak yang ke Bandung? Kebetulan ada urusan kerjaan juga di sana. Kita bisa sekalian ketemu dan ngobrol-ngobrol,” jawab Alex dengan nada antusias.

Rania terdiam sejenak. Sebenarnya, ia sudah merencanakan untuk pergi ke Jakarta dan menemui Alex di sana. Tapi, tawaran Alex untuk datang ke Bandung membuatnya bimbang. Di satu sisi, ia merasa lebih nyaman jika Alex datang ke rumahnya. Di sisi lain, ia takut jika Alex datang, ia tidak akan punya keberanian untuk menceritakan semuanya.

“Sebenarnya… Kak, aku yang mau ke Jakarta,” ucap Rania akhirnya. “Aku mau ketemu Kakak, Fitri, Dona, dan Doni. Aku kangen banget sama kalian semua.”

“Lho, kenapa repot-repot ke Jakarta? Kakak saja yang ke Bandung. Nanti kita bisa jalan-jalan di Bandung, makan enak, dan menghabiskan waktu bersama,” balas Alex.

Rania kembali menarik napas dalam-dalam. Ia tahu, ia tidak bisa menunda-nunda lagi. Ia harus memberanikan diri untuk menceritakan semuanya kepada Alex. “Kak… sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku ceritakan sama Kakak. Sesuatu yang penting.”

Terdengar keheningan sejenak di seberang sana. “Sesuatu yang penting? Ada apa, Ran? Apa terjadi sesuatu?” tanya Alex dengan nada khawatir.

“Iya, Kak. Tapi aku lebih nyaman kalau kita bicara secara langsung. Bisa kan Kakak datang ke Bandung? Aku janji, aku akan cerita semuanya,” pinta Rania dengan suara memohon.

Alex menghela napas. “Baiklah, Dek. Kalau itu maumu, Kakak akan datang ke Bandung. Kakak akan usahakan secepatnya ya. Jaga diri baik-baik di sana.”

Setelah menutup telepon, Rania merasa lega sekaligus semakin tegang. Ia tahu, hari ini akan menjadi hari yang sangat berat baginya. Ia harus mempersiapkan diri untuk menghadapi Alex dan menceritakan semua kebenaran, meski ia takut akan reaksi kakaknya.

Beberapa jam kemudian, Rania menerima pesan dari Alex yang mengabarkan bahwa ia, Fitri, dan kedua anak kembarnya, Dona dan Doni, sudah dalam perjalanan menuju Bandung. Rania segera bergegas membersihkan rumah dan menyiapkan hidangan sederhana untuk menyambut kedatangan keluarganya.

Menjelang sore, mobil Alex akhirnya tiba di depan rumah Rania. Rania menyambut mereka dengan senyum yang dipaksakan. Ia memeluk Alex erat-erat, merasakan kehangatan dan kasih sayang kakaknya yang selalu membuatnya merasa aman dan terlindungi.

“Rania, kamu terlihat kurusan. Kamu baik-baik saja kan?” tanya Alex sambil menatap adiknya dengan tatapan khawatir.

“Aku baik, Kak. Cuma sedikit kelelahan saja,” jawab Rania mencoba menutupi kegelisahannya.

Setelah saling berpelukan dan bertukar sapa, mereka masuk ke dalam rumah. Dona dan Doni, si kembar yang lucu dan energik, langsung berlarian ke sana kemari, menjelajahi setiap sudut rumah Rania. Fitri, istri Alex, menyalami Rania dengan hangat dan menanyakan kabarnya.

“Rumah kamu nyaman sekali, Ran. Kamu pintar sekali menata rumah,” puji Fitri sambil tersenyum.

“Terima kasih, Mbak Fitri,” balas Rania. “Ayo, silakan duduk. Aku sudah siapkan teh dan beberapa camilan.”

Mereka duduk di ruang tamu, menikmati teh dan camilan sambil bercerita tentang berbagai hal. Rania berusaha untuk tetap tenang dan ceria, meski dalam hatinya ia merasa sangat gugup. Ia tahu, ia tidak bisa menunda-nunda lagi. Ia harus segera menceritakan semuanya kepada Alex.

Setelah Dona dan Doni mulai bosan dan meminta untuk bermain di luar, Rania memberanikan diri untuk memulai pembicaraan.

“Kak… sebenarnya ada sesuatu yang ingin aku ceritakan sama Kakak,” ucap Rania dengan suara yang pelan.

Alex menatap adiknya dengan tatapan serius. “Ada apa, Ran? Kakak siap mendengarkan.”

Rania menarik napas dalam-dalam dan mulai menceritakan semuanya. Ia menceritakan tentang perceraiannya dengan Arga, tentang perselingkuhan Arga dengan Maya, sahabat dekatnya, dan tentang bagaimana Arga telah menyalahgunakan uang perusahaan untuk kepentingan pribadinya dan keluarganya. Ia juga menceritakan tentang bagaimana ia merasa malu dan bersalah karena telah tidak mendengarkan nasihat Alex dulu dan memilih untuk menikahi Arga.

Selama Rania bercerita, Alex hanya diam mendengarkan dengan seksama. Ekspresi wajahnya berubah-ubah, dari khawatir, sedih, marah, hingga akhirnya kembali tenang. Fitri, yang duduk di samping Alex, juga terlihat sangat terkejut dan prihatin dengan cerita Rania.

Setelah Rania selesai bercerita, suasana menjadi hening. Rania menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah kakaknya. Ia takut melihat kekecewaan dan kemarahan di mata Alex.

“Rania…” panggil Alex dengan suara yang lembut.

Rania mengangkat kepalanya dan menatap Alex dengan tatapan takut.

“Kakak tahu, kamu pasti sudah sangat menderita selama ini,” ucap Alex sambil meraih tangan Rania dan menggenggamnya erat. “Kakak minta maaf karena tidak ada di samping kamu saat kamu mengalami kesulitan. Kakak juga minta maaf karena dulu pernah marah dan berselisih dengan kamu.”

Rania terisak mendengar kata-kata Alex. Ia tidak menyangka bahwa kakaknya akan bereaksi seperti ini. Ia pikir, Alex akan marah dan kecewa padanya.

“Kakak tidak marah sama kamu, Ran,” lanjut Alex. “Kakak justru bangga sama kamu karena kamu sudah berani menghadapi semua masalah ini sendirian. Kakak tahu, kamu adalah wanita yang kuat dan hebat.”

“Tapi Kak… aku sudah membuat kesalahan besar. Aku sudah tidak mendengarkan nasihat Kakak dan memilih untuk menikahi Arga. Aku juga sudah membiarkan Arga menyalahgunakan uang perusahaan. Aku merasa sangat bersalah dan malu,” ujar Rania dengan suara yang terisak-isak.

Alex memeluk Rania erat-erat. “Sudah, Dek. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri. Setiap orang pasti pernah membuat kesalahan. Yang penting, kamu sudah belajar dari kesalahan itu dan tidak akan mengulanginya lagi. Kakak yakin, kamu bisa bangkit kembali dan membangun hidup yang lebih baik.”

Fitri juga ikut memeluk Rania dan memberikan kata-kata penghiburan. “Rania, kamu tidak sendirian. Kami semua sayang sama kamu dan akan selalu ada untuk kamu. Jangan sungkan untuk meminta bantuan kepada kami jika kamu membutuhkan sesuatu.”

Rania merasa lega dan terharu mendengar kata-kata dukungan dari Alex dan Fitri. Ia merasa bahwa beban yang selama ini menghimpitnya perlahan-lahan mulai terangkat. Ia tahu, ia tidak sendirian. Ia memiliki keluarga yang selalu mencintainya dan mendukungnya.

“Terima kasih, Kak. Terima kasih, Mbak Fitri,” ucap Rania sambil memeluk Alex dan Fitri erat-erat. “Aku sayang banget sama kalian.”

Setelah suasana menjadi lebih tenang, Alex bertanya kepada Rania tentang rencana ke depannya.

“Lalu, apa yang akan kamu lakukan sekarang, Ran? Apa kamu akan tetap menjalankan perusahaan di Bandung atau kamu punya rencana lain?” tanya Alex.

Rania berpikir sejenak. “Aku belum tahu pasti, Kak. Tapi aku ingin tetap menjalankan perusahaan di Bandung. Aku ingin membuktikan kepada semua orang, termasuk kepada diriku sendiri, bahwa aku bisa sukses dan mandiri.”

“Kakak mendukung semua keputusan kamu, Ran,” ujar Alex. “Jika kamu membutuhkan bantuan, jangan ragu untuk menghubungi Kakak. Kakak akan selalu ada untuk kamu.”

“Terima kasih, Kak,” balas Rania dengan senyum yang tulus.

Setelah itu, mereka melanjutkan obrolan mereka dengan suasana yang lebih santai dan ceria. Dona dan Doni kembali masuk ke dalam rumah dan ikut bergabung dengan mereka. Mereka bermain dan bercanda bersama, melupakan sejenak masalah yang telah terjadi.

Malam itu, Rania merasa sangat bahagia dan bersyukur. Ia telah berhasil menceritakan semua masalahnya kepada Alex dan mendapatkan dukungan penuh dari kakaknya dan keluarganya. Ia tahu, ia masih harus berjuang dan bekerja keras untuk membangun kembali hidupnya. Tapi, dengan dukungan dan cinta dari keluarganya, ia yakin ia bisa melewati semua kesulitan dan mencapai kesuksesan.

Sebelum Alex dan keluarganya kembali ke Jakarta, Alex berpesan kepada Rania untuk selalu menjaga diri baik-baik dan tidak sungkan untuk menghubunginya jika membutuhkan sesuatu. Ia juga berjanji akan sering mengunjungi Rania di Bandung dan membantunya dalam menjalankan perusahaan.

“Ingat, Ran. Kamu tidak sendirian. Kami semua sayang sama kamu,” ucap Alex sambil memeluk Rania erat-erat.

Rania membalas pelukan Alex dengan erat. Ia merasa bahwa hubungannya dengan Alex kini semakin kuat dan erat. Ia tahu, ia telah melakukan hal yang benar dengan menceritakan semua kebenaran kepada kakaknya.

Setelah mengantar Alex dan keluarganya pergi, Rania masuk ke dalam rumah dengan hati yang lebih ringan dan penuh harapan. Ia tahu, ia telah memulai lembaran baru dalam hidupnya. Ia akan berjuang dan bekerja keras untuk mencapai kesuksesan dan membahagiakan keluarganya. Ia juga akan berusaha untuk menjadi wanita yang lebih baik dan bijaksana.

Rania tersenyum menatap foto keluarga kecil yang terpajang di dinding ruang tamu. Di foto itu, ia, Alex, dan kedua orang tuanya sedang tersenyum bahagia. Ia tahu, kedua orang tuanya pasti bangga padanya. Ia akan berusaha untuk tidak mengecewakan mereka dan akan selalu menjaga nama baik keluarga.

Dengan semangat yang baru, Rania melangkah maju ke masa depan, siap menghadapi segala tantangan dan rintangan yang mungkin menghadang. Ia tahu, ia tidak sendirian. Ia memiliki keluarga yang selalu mencintainya dan mendukungnya. Dan dengan cinta dan dukungan itu, ia yakin ia bisa mencapai semua impiannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!