NovelToon NovelToon
Cinta Di Orang Yang Sama

Cinta Di Orang Yang Sama

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Yun Alghff

Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Taktik Reno

Berada di kampus yang sama adalah berkah sekaligus ancaman bagi Reno. Sementara Reno sibuk membangun citra sebagai mahasiswa teknik yang keren dan misterius di depan Sarah, Abel justru bergerak di bawah radar dengan membawa seluruh data rahasia kakaknya.

Suatu sore yang cerah, Abel melihat Sarah sedang duduk sendirian di bangku taman kampus, fokus membaca jurnal medis. Dengan langkah ringan dan senyum ramah khas mahasiswi Psikologi, Abel menghampirinya.

"Permisi Kak, boleh ikut duduk?" Sapa Abel basa-basi.

"Silahkan," jawab Sarah tidak menoleh dan masih fokus pada tabletnya membaca riset jurnal.

"Kak Sarah? Aku Abel, adiknya Reno, salam kenal, Kak." Sapa Abel sopan.

Sarah mendongak, wajahnya yang cerdas langsung berubah ceria. "Oh, Abel! Reno sering cerita tentang kamu. Katanya kamu pinter banget, ya? Dan ternyata kamu cantik juga, ya."

Abel duduk di samping Sarah, dalam hati tertawa kecil. Reno cerita yang baik-baik? Pasti ada udang di balik batu, pikirnya. Abel pun memulai rencana bedah psikologi-nya.

"Ah, Kakak bisa aja. Tapi sebenernya aku ke sini mau minta maaf," ujar Abel dengan nada yang dibuat sedikit prihatin.

Sarah mengernyit heran. "Minta maaf buat apa?"

"Buat semua taktik 'kebetulan' Kak Reno. Dia pasti sering tiba-tiba muncul di perpustakaan kedokteran bawa kopi favorit Kakak, kan? Atau pura-pura nggak sengaja lewat saat Kakak nunggu jemputan?"

Sarah tersipu, wajahnya sedikit memerah. "Iya, kok kamu tahu?"

"Itu semua hasil riset Kak Reno selama tiga malam, Kak," bisik Abel sambil menahan tawa. "Dia bahkan pakai aplikasi pelacak jadwal kuliah yang dia bikin sendiri supaya bisa 'papasan' sama Kakak. Secara psikologis, dia lagi pakai teknik Mere-Exposure Effect, yaitu bikin Kakak terbiasa sama kehadirannya supaya Kakak ngerasa nyaman secara bawah sadar."

Sarah tertawa renyah, tidak menyangka cowok teknik yang kaku itu bisa seberusaha itu. "Jadi semuanya direncanain?"

"Persis. Bahkan parfum yang dia pakai sekarang? Itu karena aku bilang kalau Kak Sarah suka aroma sandalwood. Tapi tenang, Kak. Meskipun taktiknya agak 'teknis' banget, Kak Reno itu orangnya jujur. Kalau dia udah fokus ke satu target, dia nggak bakal nengok kanan-kiri. Itu tipe loyalitas absolut dalam profil kepribadiannya."

Sarah hanya bisa terdiam menyimak ocehan Abel yang terkesan lucu itu. Sebuah informasi yang menjadi alasan kuat Sarah menaruh hati pada Reno.

Abel kemudian memberikan sebuah tips maut pada Sarah. "Nanti sore, Kak Reno bakal ajak Kakak makan di cafe depan kampus. Dia bakal pura-pura lupa bawa dompet supaya bisa 'berlama-lama' nunggu aku dateng nganterin dompetnya. Itu trik Ben Franklin Effect—bikin Kakak ngerasa berjasa supaya hubungan makin erat."

Sarah menutup jurnalnya, matanya berbinar jenaka. "Oke, makasih infonya, Abel. Gimana kalau kita kerjain dia balik?"

" Aku setuju, Kak."

Sore itu sesuai prediksi mereka, Reno mengajak Sarah makan di sebuah cafe. Reno duduk dengan gugup di depan Sarah. Semuanya berjalan sesuai rencana... sampai tiba saatnya membayar.

"Aduh, Sarah... sorry banget, dompet gue ketinggalan di loker lab. Gue telepon Abel dulu ya buat anterin," ucap Reno dengan akting yang menurutnya sangat natural.

Namun, Sarah justru tersenyum manis dan mengeluarkan dompetnya. "Nggak usah, Ren. Tadi aku udah ketemu Abel di taman. Dia bilang kamu lagi eksperimen tentang 'Ben Franklin Effect', jadi biar aku aja yang bayar ya?"

Reno membeku. Wajahnya langsung merah padam sampai ke telinga. Di sudut cafe, di balik rak buku, Abel melambaikan tangan dengan wajah penuh kemenangan sambil memegang ponselnya—siap merekam momen paling memalukan sekaligus bersejarah dalam hidup kakaknya.

Begitu pintu rumah terbanting terbuka, Reno melangkah masuk dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus—merah padam dan beruap. Ia melempar kunci motornya ke sofa dengan dramatis, sementara Abel mengekor di belakangnya sambil menahan tawa hingga bahunya berguncang.

"ARABELLA BELLVANIA!" teriak Reno, suaranya menggema di ruang tengah yang luas. Ia berbalik dan menunjuk Abel dengan sosis goreng yang tadi sempat ia beli di jalan sebagai pelampiasan stres. "Lo bener-bener ya! Lo tahu nggak seberapa keras gue bangun image cowok keren dan misterius di depan Sarah? Hancur, Bel! Hancur berkeping-keping gara-gara analisis 'Ben Franklin' lo itu!"

Abel langsung meletakkan tasnya dan duduk dengan tenang di sofa, melipat kaki, dan memasang wajah sok bijak khas terapis profesional.

"Secara psikologis, Kak," mulai Abel dengan nada suara yang sengaja diberatkan, "kemarahan Kakak saat ini adalah bentuk dari Ego Defense Mechanism. Kakak merasa terancam karena topeng 'misterius' Kakak dikupas habis oleh fakta lapangan. Kakak nggak marah sama aku, Kakak cuma malu karena ketahuan kalau Kakak itu sebenernya bucin tingkat dewa."

"Gue nggak bucin! Itu namanya strategi akuisisi target!" bantah Reno sambil berjalan mondar-mandir seperti setrikaan.

"Tapi kenyataannya begitu, strategi Kakak itu salah dan ㅡ"

Reno berhenti tepat di depan Abel, ia kemudian menatap wajah adiknya dengan senyum liciknya, tepat di depan wajah Abel dan mulai melakukan keusilan maut-nya: ia menjepit hidung Abel dengan dua jarinya.

"Strategi pala lo peyang! Gara-gara lo, Sarah sepanjang makan malem tadi malah nanya ke gue: 'Ren, ini kamu lagi pakai teknik Foot-in-the-Door ya buat minta aku nemenin beli buku?'. Gue malu, mau ditaruh di mana muka ganteng gue ini, Bel?!"

Abel melepaskan diri sambil tertawa lepas. "Tapi Kakak lihat nggak? Kak Sarah ketawa terus, kan? Itu namanya Social Bonding. Dia nggak ilfil, dia justru ngerasa Kakak itu lucu dan manusiawi, bukan robot coding yang nggak punya perasaan. Justru taktik kaku Kakak itu yang bikin dia cringe kalau nggak aku bantu netralisir."

Reno terdiam sejenak, memproses kata-kata adiknya. Namun, egonya tetap tidak mau kalah. Ia mengambil bantal sofa dan mencoba menimpa kepala Abel. "Halah! Itu cuma teori lo doang biar nggak gue hukum! Sini lo, jangan lari!"

Maka terjadilah aksi kejar-kejaran di ruang tengah yang biasanya sunyi itu. Reno yang badannya jauh lebih tinggi dan tegap terlihat konyol saat mencoba menangkap Abel yang kecil dan lincah menyelinap di balik meja makan.

"Kak, inget! Displacement Aggression itu nggak baik!" teriak Abel sambil tertawa di balik kursi. "Jangan lampiasin kegagalan cinta Kakak ke adik sendiri!"

"Bacot mulu, lu. Gue nggak gagal! Sarah malah minta nomor telepon lo tadi! Dia bilang mau konsultasi gimana cara ngadepin cowok aneh kayak gue!" Reno berhenti mengejar, ia kembali duduk dan menatap kesal ke arah Abel, namun sebuah senyum tipis mulai muncul di sudut bibirnya.

Abel berhenti tertawa, ia menatap kakaknya dengan hangat. "Nah, itu artinya aku berhasil, kan? Sekarang kita satu tim, Kak. Kak Sarah udah masuk ke lingkaran kita."

Reno mendengus, lalu menjitak pelan kepala Abel saat adiknya itu mendekat. "Satu tim pala lo. Inget ya, mulai besok jangan berani-berani lo bahas teori psikologi lagi di depan Sarah, atau gue bakal hack akun sosial media lo dan ganti fotonya jadi foto lo pas masih bayi yang lagi nangis sambil ingusan!"

"Ih, Kak Reno jahat banget!"

Ruangan yang besar dan mewah itu kini tak lagi terasa dingin. Perdebatan konyol, tawa yang meledak, dan keusilan tak berujung itu telah mengubah rumah mereka menjadi tempat yang paling hangat di dunia.

1
Ariany Sudjana
tetap waspada yah dokter Arslan, bagaimanapun kamu dokter, konglomerat pula, pasti banyak pelakor yang ingin menjadi istri kamu
Mifhara Dewi: bumbu kehidupan tetap akan di sajikan. tunggu bab selanjutnya ya Kak
total 1 replies
Ariany Sudjana
puji Tuhan, tinggal langkah selanjutnya Arslan dan Abel
Mifhara Dewi: mau seperti apa nantinya Kak? langsung sat set atau belok2 dulu?
total 1 replies
Naomi Willem Tuasela
semangatttt Thor 👊🏼😇💙💗
Mifhara Dewi: terimakasih Kak
total 1 replies
Mifhara Dewi
Satu saran dari kalian adalah penyemangat untuk ku terus berkarya 🥰🙏
Dwi Sulistyowati
lanjut kak seru cerita nya
Mifhara Dewi: di tunggu updatenya ya kak. kita usahakan 1 hari bisa up 3 bab
total 1 replies
kucing kawai
Bagus bngt
Mifhara Dewi: terimakasih banyak Kak
total 1 replies
kucing kawai
up yg banyak ya thor
Mifhara Dewi: terimakasih kak, di tunggu ya bab selanjutnya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!