Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Garis yang Menyentuh Rumah
Serangan berikutnya datang di tempat yang seharusnya aman.
Aruna baru saja membuka pintu apartemennya ketika ponselnya berdering. Nama ibunya muncul di layar. Ia tersenyum kecil—refleks yang jarang muncul akhir-akhir ini.
“Halo, Bu?”
Suara di seberang terdengar ragu. “Aruna… kamu ada masalah di kantor?”
Senyum itu hilang.
“Kenapa Ibu tanya begitu?” Aruna berusaha menjaga nadanya tetap ringan.
“Tadi ada orang datang,” jawab ibunya pelan. “Katanya rekan kerja kamu. Dia bilang kamu sedang diselidiki. Ibu cuma… khawatir.”
Dunia Aruna terasa berhenti sepersekian detik.
“Orangnya seperti apa?” tanyanya hati-hati.
“Tidak lama. Bicara sopan. Tapi… caranya membuat Ibu merasa ada yang salah.”
Aruna menutup pintu apartemen dengan pelan. Tangannya mengepal di sisi tubuh.
“Bu,” katanya lembut tapi tegas, “kalau ada orang datang lagi, jangan buka pintu. Langsung telepon aku.”
Ibunya terdiam sejenak. “Kamu baik-baik saja?”
Pertanyaan sederhana itu terasa lebih berat dari semua rapat audit.
“Iya,” jawab Aruna. “Aku hanya sedang menangani sesuatu.”
Setelah menutup telepon, Aruna berdiri diam di ruang tamunya. Serangan ini berbeda. Tidak lagi rumor kantor. Tidak lagi pesan anonim.
Ini menyentuh rumah.
Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik satu pesan:
Saya perlu bicara. Sekarang.
Balasan datang hampir instan.
Calvin:
Di kantor atau di tempatmu?
Aruna menatap layar. Ia ragu sepersekian detik.
Di sini, ketiknya.
Dua puluh menit kemudian, bel apartemen berbunyi.
Calvin berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya. Tidak ada formalitas. Begitu masuk, ia langsung bertanya, “Apa yang terjadi?”
Aruna menjelaskan singkat. Tidak dramatis. Tidak dilebih-lebihkan. Justru itu yang membuat ceritanya terasa lebih berat.
Tatapan Calvin mengeras.
“Mereka melanggar batas,” katanya pelan.
“Ibu saya tidak tahu apa-apa,” ujar Aruna. “Dan sekarang dia ikut khawatir.”
Calvin berjalan ke jendela, rahangnya menegang. “Ini bukan lagi tekanan profesional. Ini intimidasi.”
“Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Aruna.
“Kita dokumentasikan semuanya,” jawabnya. “Dan aku akan mendorong audit memperluas penyelidikan.”
Aruna menatapnya. “Ini akan memperkeruh keadaan.”
Calvin menoleh. “Keadaan sudah keruh.”
Sunyi jatuh di antara mereka. Untuk pertama kalinya, kantor terasa jauh—yang ada hanya dua orang berdiri di ruang pribadi Aruna, berbagi ancaman yang kini terasa nyata.
“Kamu tidak sendirian dalam ini,” kata Calvin akhirnya.
Kalimat itu sederhana. Tidak emosional. Tapi cukup untuk membuat dada Aruna terasa lebih ringan.
“Saya tidak takut,” katanya pelan. “Saya hanya… tidak ingin mereka menyeret orang lain.”
“Mereka sudah mencoba,” balas Calvin. “Dan itu kesalahan mereka.”
Aruna menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Calvin yang jarang terlihat—bukan kemarahan, tapi proteksi yang dingin dan terukur.
“Mulai sekarang,” katanya, “setiap langkah mereka akan dicatat. Tidak ada lagi ruang abu-abu.”
Aruna mengangguk.
Di luar jendela, lampu kota menyala satu per satu. Kehidupan berjalan seperti biasa—orang-orang pulang, tertawa, berbicara—tanpa tahu perang kecil sedang berlangsung di sebuah apartemen lantai dua puluh.
Aruna menyadari tangannya masih sedikit gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang ditahan rapi. Ada garis yang tak seharusnya disentuh siapa pun. Dan sekarang garis itu sudah dilewati. Ia tidak akan membiarkannya terjadi dua kali.
Aruna menarik napas panjang.
Mereka telah menyentuh rumah.
Dan begitu garis itu dilewati, ini bukan lagi soal reputasi atau karier.
Ini menjadi pribadi.
Dan Aruna tahu—perang yang menyentuh rumah tidak pernah berakhir tanpa konsekuensi.
Aruna menunduk sejenak, menatap tangannya sendiri. Ponsel yang tadi menjadi penghubung dengan Calvin masih terasa hangat di telapak tangannya. Ia tahu, ancaman ini bukan sekadar pesan atau kunjungan singkat—ini sinyal yang jelas: mereka tahu di mana ia tinggal.
Ia berjalan perlahan ke dapur, mengambil segelas air. Setiap langkah terasa berat. Bahkan suara sendiri di ruangan sepi itu terdengar asing. Suara jantungnya berdetak begitu keras sehingga seolah bisa didengar orang lain.
Kalau ini diteruskan, pikirnya, mereka tidak akan berhenti. Sekali langkah mereka menyentuh rumah, ruang yang seharusnya aman, batas profesional dan pribadi mulai kabur. Dan untuk Aruna… itu adalah garis yang tak boleh dilanggar.
Ia menatap jendela, melihat lampu kota yang berkedip-kedip. Di luar sana, kehidupan terus berjalan. Orang-orang yang pulang, yang tertawa, yang pulang dari kantor, sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di dalam apartemen ini. Tapi Aruna merasakannya—ketegangan itu seperti kabut tebal yang menutupi ruangan, menekan dari segala sisi.
Aruna menutup mata sejenak. Bayangan ibunya muncul lagi. Bagaimana perasaan seorang ibu jika tahu anaknya berada di tengah ancaman yang tidak terlihat? Rasa tanggung jawab, rasa bersalah, dan kemarahan bercampur menjadi satu. Ia merasa tidak cukup melindungi ibunya, dan itu membuat dadanya sesak.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Ini bukan soal kepanikan. Ini soal strategi. Ia sadar, setiap reaksi yang salah bisa dimanfaatkan lawan. Jadi ia memilih diam sejenak, menimbang langkah berikutnya.
Lalu ia menatap Calvin. Ada sesuatu yang menenangkan di hadapannya, sesuatu yang mengingatkan bahwa meski ancaman nyata, ia tidak sendirian. Calvin berdiri dekat jendela, menatap keluar kota seakan menghitung kemungkinan setiap gerakan pihak lawan. Ada ketenangan dalam keyakinannya—bahwa mereka bisa menghadapinya bersama.
Aruna menyadari, untuk pertama kalinya, ia merasakan keseimbangan aneh: takut, tapi siap. Panik, tapi terkendali. Emosi yang biasanya menguasai dirinya kini menjadi bahan bakar untuk strategi. Ia mengatur napasnya, mengingat setiap dokumen yang telah dikaji, setiap jejak yang bisa dipertahankan, setiap langkah yang bisa mereka ambil untuk membalik keadaan.
Kalau lawan pikir mereka bisa menekan Aruna hanya dengan mengancam rumahnya, mereka salah. Sekarang garis itu sudah dilewati—dan setiap langkah selanjutnya harus lebih cerdas, lebih cepat, lebih tepat. Ia merasa seolah berada di tengah papan catur raksasa, di mana setiap pion bisa menentukan kemenangan atau kekalahan.
Ia menatap ke arah Calvin lagi, dan kali ini, ada rasa tekad yang muncul: “Kalau mereka ingin bermain kotor, biarkan. Tapi kita akan lebih pintar. Kita akan menutup setiap celah, kita akan mengatur setiap langkah mereka, dan kita akan memastikan siapa pun yang menyentuh garis itu… merasakan konsekuensinya.”
Calvin mengangguk pelan, memahami maksudnya tanpa kata-kata panjang. Ada pengertian diam-diam yang tercipta, semacam janji: bahwa mereka berdiri di sisi yang sama, menghadapi ancaman yang sama, melindungi garis yang sama.
Aruna duduk di sofa, menarik napas panjang, tapi matanya tetap fokus. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena takut, tapi karena adrenalin dan kemarahan yang tertahan. Ada garis yang tidak boleh dilewati—dan mereka baru saja menyentuhnya.
Ia membuka laptopnya lagi, mulai menata dokumen, mencatat setiap kejadian, setiap pesan, setiap langkah yang terjadi di apartemen. Setiap detail ini bisa menjadi senjata atau perlindungan. Ia tahu, ketika perang ini menyentuh rumah, semuanya menjadi lebih pribadi—dan lebih berbahaya.
Aruna menatap jendela lagi, melihat lampu kota yang terus berkedip. Di luar sana, dunia berjalan seperti biasa. Tapi di sini, di ruang kecil ini, garis telah dilewati. Dan ia bertekad—garis itu tidak akan disentuh lagi tanpa konsekuensi.
Ia menutup laptop, menghela napas, dan untuk pertama kalinya, tersenyum tipis. Sebuah senyum yang penuh tekad, marah tapi terkendali. Garis itu telah disentuh, tapi Aruna tahu satu hal: perang ini baru saja mulai.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/