NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Garis yang Menyentuh Rumah

Serangan berikutnya datang di tempat yang seharusnya aman.

Aruna baru saja membuka pintu apartemennya ketika ponselnya berdering. Nama ibunya muncul di layar. Ia tersenyum kecil—refleks yang jarang muncul akhir-akhir ini.

“Halo, Bu?”

Suara di seberang terdengar ragu. “Aruna… kamu ada masalah di kantor?”

Senyum itu hilang.

“Kenapa Ibu tanya begitu?” Aruna berusaha menjaga nadanya tetap ringan.

“Tadi ada orang datang,” jawab ibunya pelan. “Katanya rekan kerja kamu. Dia bilang kamu sedang diselidiki. Ibu cuma… khawatir.”

Dunia Aruna terasa berhenti sepersekian detik.

“Orangnya seperti apa?” tanyanya hati-hati.

“Tidak lama. Bicara sopan. Tapi… caranya membuat Ibu merasa ada yang salah.”

Aruna menutup pintu apartemen dengan pelan. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

“Bu,” katanya lembut tapi tegas, “kalau ada orang datang lagi, jangan buka pintu. Langsung telepon aku.”

Ibunya terdiam sejenak. “Kamu baik-baik saja?”

Pertanyaan sederhana itu terasa lebih berat dari semua rapat audit.

“Iya,” jawab Aruna. “Aku hanya sedang menangani sesuatu.”

Setelah menutup telepon, Aruna berdiri diam di ruang tamunya. Serangan ini berbeda. Tidak lagi rumor kantor. Tidak lagi pesan anonim.

Ini menyentuh rumah.

Ia mengeluarkan ponsel dan mengetik satu pesan:

Saya perlu bicara. Sekarang.

Balasan datang hampir instan.

Calvin:

Di kantor atau di tempatmu?

Aruna menatap layar. Ia ragu sepersekian detik.

Di sini, ketiknya.

Dua puluh menit kemudian, bel apartemen berbunyi.

Calvin berdiri di depan pintu dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya. Tidak ada formalitas. Begitu masuk, ia langsung bertanya, “Apa yang terjadi?”

Aruna menjelaskan singkat. Tidak dramatis. Tidak dilebih-lebihkan. Justru itu yang membuat ceritanya terasa lebih berat.

Tatapan Calvin mengeras.

“Mereka melanggar batas,” katanya pelan.

“Ibu saya tidak tahu apa-apa,” ujar Aruna. “Dan sekarang dia ikut khawatir.”

Calvin berjalan ke jendela, rahangnya menegang. “Ini bukan lagi tekanan profesional. Ini intimidasi.”

“Apa yang bisa kita lakukan?” tanya Aruna.

“Kita dokumentasikan semuanya,” jawabnya. “Dan aku akan mendorong audit memperluas penyelidikan.”

Aruna menatapnya. “Ini akan memperkeruh keadaan.”

Calvin menoleh. “Keadaan sudah keruh.”

Sunyi jatuh di antara mereka. Untuk pertama kalinya, kantor terasa jauh—yang ada hanya dua orang berdiri di ruang pribadi Aruna, berbagi ancaman yang kini terasa nyata.

“Kamu tidak sendirian dalam ini,” kata Calvin akhirnya.

Kalimat itu sederhana. Tidak emosional. Tapi cukup untuk membuat dada Aruna terasa lebih ringan.

“Saya tidak takut,” katanya pelan. “Saya hanya… tidak ingin mereka menyeret orang lain.”

“Mereka sudah mencoba,” balas Calvin. “Dan itu kesalahan mereka.”

Aruna menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Calvin yang jarang terlihat—bukan kemarahan, tapi proteksi yang dingin dan terukur.

“Mulai sekarang,” katanya, “setiap langkah mereka akan dicatat. Tidak ada lagi ruang abu-abu.”

Aruna mengangguk.

Di luar jendela, lampu kota menyala satu per satu. Kehidupan berjalan seperti biasa—orang-orang pulang, tertawa, berbicara—tanpa tahu perang kecil sedang berlangsung di sebuah apartemen lantai dua puluh.

Aruna menyadari tangannya masih sedikit gemetar. Bukan karena takut, melainkan karena kemarahan yang ditahan rapi. Ada garis yang tak seharusnya disentuh siapa pun. Dan sekarang garis itu sudah dilewati. Ia tidak akan membiarkannya terjadi dua kali.

Aruna menarik napas panjang.

Mereka telah menyentuh rumah.

Dan begitu garis itu dilewati, ini bukan lagi soal reputasi atau karier.

Ini menjadi pribadi.

Dan Aruna tahu—perang yang menyentuh rumah tidak pernah berakhir tanpa konsekuensi.

Aruna menunduk sejenak, menatap tangannya sendiri. Ponsel yang tadi menjadi penghubung dengan Calvin masih terasa hangat di telapak tangannya. Ia tahu, ancaman ini bukan sekadar pesan atau kunjungan singkat—ini sinyal yang jelas: mereka tahu di mana ia tinggal.

Ia berjalan perlahan ke dapur, mengambil segelas air. Setiap langkah terasa berat. Bahkan suara sendiri di ruangan sepi itu terdengar asing. Suara jantungnya berdetak begitu keras sehingga seolah bisa didengar orang lain.

Kalau ini diteruskan, pikirnya, mereka tidak akan berhenti. Sekali langkah mereka menyentuh rumah, ruang yang seharusnya aman, batas profesional dan pribadi mulai kabur. Dan untuk Aruna… itu adalah garis yang tak boleh dilanggar.

Ia menatap jendela, melihat lampu kota yang berkedip-kedip. Di luar sana, kehidupan terus berjalan. Orang-orang yang pulang, yang tertawa, yang pulang dari kantor, sama sekali tidak menyadari apa yang terjadi di dalam apartemen ini. Tapi Aruna merasakannya—ketegangan itu seperti kabut tebal yang menutupi ruangan, menekan dari segala sisi.

Aruna menutup mata sejenak. Bayangan ibunya muncul lagi. Bagaimana perasaan seorang ibu jika tahu anaknya berada di tengah ancaman yang tidak terlihat? Rasa tanggung jawab, rasa bersalah, dan kemarahan bercampur menjadi satu. Ia merasa tidak cukup melindungi ibunya, dan itu membuat dadanya sesak.

Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan pikirannya. Ini bukan soal kepanikan. Ini soal strategi. Ia sadar, setiap reaksi yang salah bisa dimanfaatkan lawan. Jadi ia memilih diam sejenak, menimbang langkah berikutnya.

Lalu ia menatap Calvin. Ada sesuatu yang menenangkan di hadapannya, sesuatu yang mengingatkan bahwa meski ancaman nyata, ia tidak sendirian. Calvin berdiri dekat jendela, menatap keluar kota seakan menghitung kemungkinan setiap gerakan pihak lawan. Ada ketenangan dalam keyakinannya—bahwa mereka bisa menghadapinya bersama.

Aruna menyadari, untuk pertama kalinya, ia merasakan keseimbangan aneh: takut, tapi siap. Panik, tapi terkendali. Emosi yang biasanya menguasai dirinya kini menjadi bahan bakar untuk strategi. Ia mengatur napasnya, mengingat setiap dokumen yang telah dikaji, setiap jejak yang bisa dipertahankan, setiap langkah yang bisa mereka ambil untuk membalik keadaan.

Kalau lawan pikir mereka bisa menekan Aruna hanya dengan mengancam rumahnya, mereka salah. Sekarang garis itu sudah dilewati—dan setiap langkah selanjutnya harus lebih cerdas, lebih cepat, lebih tepat. Ia merasa seolah berada di tengah papan catur raksasa, di mana setiap pion bisa menentukan kemenangan atau kekalahan.

Ia menatap ke arah Calvin lagi, dan kali ini, ada rasa tekad yang muncul: “Kalau mereka ingin bermain kotor, biarkan. Tapi kita akan lebih pintar. Kita akan menutup setiap celah, kita akan mengatur setiap langkah mereka, dan kita akan memastikan siapa pun yang menyentuh garis itu… merasakan konsekuensinya.”

Calvin mengangguk pelan, memahami maksudnya tanpa kata-kata panjang. Ada pengertian diam-diam yang tercipta, semacam janji: bahwa mereka berdiri di sisi yang sama, menghadapi ancaman yang sama, melindungi garis yang sama.

Aruna duduk di sofa, menarik napas panjang, tapi matanya tetap fokus. Tangannya gemetar sedikit, bukan karena takut, tapi karena adrenalin dan kemarahan yang tertahan. Ada garis yang tidak boleh dilewati—dan mereka baru saja menyentuhnya.

Ia membuka laptopnya lagi, mulai menata dokumen, mencatat setiap kejadian, setiap pesan, setiap langkah yang terjadi di apartemen. Setiap detail ini bisa menjadi senjata atau perlindungan. Ia tahu, ketika perang ini menyentuh rumah, semuanya menjadi lebih pribadi—dan lebih berbahaya.

Aruna menatap jendela lagi, melihat lampu kota yang terus berkedip. Di luar sana, dunia berjalan seperti biasa. Tapi di sini, di ruang kecil ini, garis telah dilewati. Dan ia bertekad—garis itu tidak akan disentuh lagi tanpa konsekuensi.

Ia menutup laptop, menghela napas, dan untuk pertama kalinya, tersenyum tipis. Sebuah senyum yang penuh tekad, marah tapi terkendali. Garis itu telah disentuh, tapi Aruna tahu satu hal: perang ini baru saja mulai.

1
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!