NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Dendam

Antara Cinta Dan Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: ches$¥

melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bantuan dari dalam

melda menatap Raka dengan mata penuh kecurigaan.

Nama Kusuma saja sudah cukup membuat darahnya mendidih. Sekarang salah satu dari mereka berdiri di depannya seolah ingin membantu.

“Aku tidak percaya satu kata pun dari keluarga kalian,” kata Melda dingin.

Raka tidak tampak tersinggung. Ia justru terlihat seperti sudah menduga jawaban itu.

“Wajar,” katanya pelan. “Kalau aku di posisimu, aku juga akan berpikir begitu.”

Melda hendak berbalik pergi. Namun suara Raka kembali menghentikan langkahnya.

“Agung tahu tentang kehamilan Wulan.”

Kalimat itu membuat tubuh Melda menegang.

Perlahan ia menoleh.

Tatapannya sekarang dipenuhi kemarahan yang lebih tajam.

“Jadi kamu datang hanya untuk memastikan aku tahu bahwa kakakku dihancurkan oleh keluarga kalian?” suaranya bergetar.

Raka menggeleng pelan.

“Tidak.”

Ia menatap Melda dengan serius.

“Agung tahu Wulan hamil. Tapi dia tidak berani bertanggung jawab.”

Melda mengepalkan tangan.

Itu sama seperti yang ia duga.

Pengecut.

“Kenapa?” tanya Melda sinis. “Takut kehilangan uang keluarga?”

Raka tidak langsung menjawab.

Tatapannya justru berubah menjadi lebih gelap.

“Karena ayahku.”

Nama itu langsung membuat Melda teringat pada ancaman yang ditulis dalam surat Wulan.

Surya Kusuma.

Orang yang menekan kakaknya sampai ke titik kehancuran.

Raka melanjutkan.

“Ayahku memberi pilihan sederhana pada Agung.”

Ia berhenti sejenak.

“Melupakan Wulan… atau kehilangan segalanya.”

Melda tertawa kecil.

Tawa yang pahit.

“Dan dia memilih melupakan kakakku.”

Raka tidak membantah.

“Ya.”

Jawaban itu jujur.

Dan justru karena itu Melda semakin marah.

“Jadi apa bedanya dia dengan pembunuh?”

Raka terdiam beberapa detik.

“Tidak ada,” katanya akhirnya.

Jawaban itu membuat Melda sedikit terkejut.

Ia tidak menyangka seorang Kusuma akan mengakuinya begitu saja.

Mobil travel yang tadi ditumpangi Melda mulai menyalakan mesin.

Sopir melambaikan tangan ke arah para penumpang yang masih di luar.

Namun Melda tidak bergerak.

Ia masih menatap Raka.

“Kalau kamu datang hanya untuk bercerita, kamu membuang waktuku,” katanya tajam.

Raka mengeluarkan sebuah kartu dari sakunya.

Ia menyerahkannya kepada Melda.

“Aku datang untuk memberimu pilihan.”

Melda menatap kartu itu tanpa menyentuhnya.

“Aku tidak butuh bantuan dari keluarga Kusuma.”

“Ini bukan bantuan,” jawab Raka tenang.

“Ini kesempatan.”

Melda akhirnya mengambil kartu itu.

Di sana tertulis sebuah alamat apartemen di kota besar beberapa jam dari tempat mereka berdiri.

“Apa ini?” tanya Melda.

“Tempat untuk memulai sesuatu.”

Melda mengerutkan kening.

Raka melanjutkan.

“Jika kamu ingin membalas dendam pada keluargaku, kamu tidak bisa melakukannya sebagai gadis yang hanya memiliki kedai kecil.”

Kata-kata itu terasa seperti tamparan.

Namun Melda tahu itu benar.

Ia menatap kartu itu lagi.

“Kamu pikir aku akan bekerja sama denganmu?”

Raka mengangkat bahu.

“Tidak harus.”

Ia menunjuk kartu itu.

“Tapi di kota itu kamu bisa belajar banyak hal.”

“Bisnis. Jaringan. Cara bermain di dunia yang sama dengan keluargaku.”

Melda terdiam.

Pikirannya mulai berputar.

Jika ia tetap menjadi Melda yang sekarang…

Ia tidak akan pernah bisa menyentuh keluarga Kusuma.

Mereka terlalu besar.

Terlalu kuat.

Namun jika ia berubah…

Jika ia menjadi seseorang yang cukup kuat…

Mobil travel itu akhirnya pergi meninggalkan rest area.

Melda melihatnya menghilang di kejauhan.

Sekarang ia benar-benar sendirian.

Raka memperhatikannya dengan tenang.

“Keputusan ada di tanganmu,” katanya.

Ia berjalan kembali menuju mobil hitamnya.

Namun sebelum masuk, ia menoleh.

“Ayahku tidak pernah membiarkan orang yang mengancam keluarganya hidup tenang.”

Tatapannya tajam.

“Jika kamu ingin membalas dendam… pastikan kamu cukup kuat untuk bertahan hidup.”

Mobil itu kemudian melaju meninggalkan rest area.

Melda berdiri sendirian di sana.

Tangannya menggenggam kartu itu lebih erat.

Ia memejamkan mata.

Bayangan Wulan muncul dalam pikirannya.

Senyum lembut kakaknya.

Kerja kerasnya di kedai kecil.

Dan akhirnya… tubuhnya yang tak bernyawa di kamar itu.

Dada Melda terasa panas.

“Kak…” bisiknya.

“Aku tidak akan berhenti.”

Beberapa menit kemudian sebuah bus antar kota berhenti.

Melda menarik napas panjang.

Kemudian naik ke dalam bus itu.

Ia duduk di kursi dekat jendela.

Bus mulai bergerak perlahan meninggalkan rest area.

Melda membuka buku catatan milik Wulan lagi.

Surat terakhir itu masih ada di sana.

Kalimat tentang keluarga Kusuma terasa seperti api yang terus menyala di dadanya.

Namun kali ini perasaannya berbeda.

Bukan hanya marah.

Ia mulai berpikir.

Merencanakan.

Belajar menjadi lebih sabar.

Ia menatap alamat di kartu yang diberikan Raka.

Mungkin di sanalah semuanya akan dimulai.

Perjalanan untuk menjadi cukup kuat.

Cukup kuat untuk menghancurkan mereka semua.

Namun jauh di dalam kota tempat tragedi itu dimulai…

Agung berdiri sendirian di ruang kerjanya.

Surat Wulan berada di tangannya.

Tangannya bergetar.

Ia sudah membaca surat itu puluhan kali.

Namun rasa bersalah itu tidak pernah berkurang.

Justru semakin besar.

Ia mengingat malam ketika Wulan memohon padanya.

Memintanya bertanggung jawab atas anak mereka.

Namun ia memilih diam.

Karena ancaman ayahnya.

Karena ketakutannya kehilangan segalanya.

Sekarang semuanya sudah terlambat.

Agung menutup matanya.

“Maafkan aku…” bisiknya pelan.

Namun pintu ruangannya tiba-tiba terbuka.

Seorang pria tua masuk dengan langkah tenang.

Surya Kusuma.

Ayahnya.

Agung langsung berdiri.

Surya menatapnya beberapa detik sebelum berbicara.

“Aku dengar kamu bertemu dengan adik perempuan itu.”

Agung tidak menjawab.

Surya tersenyum tipis.

“Perempuan seperti itu biasanya hanya membawa masalah.”

Ia berjalan mendekati meja.

“Aku sudah menyuruh orang mengawasinya.”

Jantung Agung langsung berdetak lebih keras.

“Ayah…”

Namun Surya mengangkat tangan menghentikannya.

“Tenang saja.”

Tatapannya menjadi dingin.

“Jika dia cukup pintar untuk melupakan semuanya, kita tidak perlu melakukan apa pun.”

Ia berhenti sejenak.

Kemudian berkata dengan suara rendah yang membuat udara di ruangan itu terasa lebih berat.

“Tapi jika dia mencoba menghancurkan keluarga kita…”

Surya menatap lurus ke mata Agung.

“…maka kita akan menghancurkannya lebih dulu.”

Di saat yang sama, bus yang membawa Melda terus melaju menuju kota baru.

Ia tidak tahu bahwa seseorang sudah mulai mengawasinya.

Tidak tahu bahwa langkah pertamanya menuju balas dendam…

Telah membuat dirinya menjadi target keluarga Kusuma.

Bus yang membawa Melda melaju menembus jalan panjang menuju kota besar di depan.

Lampu-lampu kendaraan yang lewat menciptakan garis cahaya di jendela tempat ia duduk. Namun pikiran Melda jauh dari perjalanan itu.

Tangannya masih menggenggam kartu yang diberikan Raka.

Alamat itu kini terasa seperti pintu menuju kehidupan baru.

Bukan kehidupan yang damai.

Melainkan kehidupan yang penuh perhitungan.

Melda menutup buku catatan milik Wulan dan menarik napas dalam.

“Aku tidak akan menjadi orang yang sama lagi,” bisiknya pelan.

Ia menatap bayangan dirinya di kaca jendela bus.

Gadis yang dulu hanya membantu kakaknya menjaga kedai kecil perlahan menghilang.

Digantikan seseorang yang memiliki tujuan yang jauh lebih gelap.

Beberapa jam kemudian, bus akhirnya memasuki kota tujuan.

Gedung-gedung tinggi berdiri seperti raksasa yang menatap setiap orang yang datang.

Melda turun dari bus dengan tas di pundaknya.

Kota ini asing baginya.

Namun justru itu yang ia butuhkan.

Tempat untuk berubah.

Tempat untuk memulai permainan.

Saat ia berjalan keluar dari terminal, sebuah mobil hitam yang terparkir di seberang jalan menyalakan lampunya.

Di dalam mobil itu, seorang pria berbicara pelan melalui telepon.

“Dia sudah sampai di kota.”

Suara di seberang telepon terdengar dingin.

“Bagus. Awasi setiap langkahnya.”

Pria itu menatap punggung Melda yang semakin menjauh.

Tanpa ia sadari…

Langkah pertama balas dendamnya telah diawasi sejak awal.

perang baru saja dimulai

1
Hunk
Permintaannya sederhana. Namun tak mudah.
Paavey 2001: terkadang yg sederhana itu disepelekan/Frown/
total 1 replies
Hunk
Muda banget 24 tahun, udah di kasih beban hidup/Cry/
Paavey 2001: iya kak kasian yaa/Frown//Frown/
total 1 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
soalnya yg satu penub ambisi yg satunya cuma lembut dan menawan juga jadi admin di perusahaan kecil.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡: selau ditunggu
total 2 replies
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
Melda sama Wulan ini nanti kira kira kayaknya sifatnya berlaeanan dehh.
«☆ ⃟⃟Ms•° Achaa♡
bisa dijadiin puisi tentang senjaa ini.
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.
Paavey 2001: hehe mencoba jadi puitis aja sih kak
total 1 replies
Paavey 2001
bukan lagi kakak udh ngalahin percintaan jendral tianfeng😁😁
Paavey 2001
tapi gk gt kak, baca seksama agar tidak galfok🤭
MARDONI
Aku suka banget hubungan kakak adik antara Wulan dan Melda di sini, hangat tapi juga bikin haru 😭 Wulan yang terus berusaha percaya sama Agung sementara Melda diam-diam khawatir itu kerasa banget emosinya. Apalagi di akhir pas Wulan bilang berharap cintanya cukup kuat… aduh rasanya hati ikut takut juga.
Paavey 2001: siapin tissue nya kak agar tidak terlihat orang lain😁
total 1 replies
izmie kim
tanggung jawab yang harus di ambil alih karena keadaan itu terkadang sebuah pengorbanan yang gak mudah banyak yang harus kita korbankan
Paavey 2001: betul banget kakak
total 1 replies
cimownim
semoga terwujud ya Wulan🤗
Paavey 2001: amiin kakak
total 1 replies
SarSari_
semua perempuan kayaknya harapannya gini deh ya🫣
Paavey 2001: semoga harapan kakak disegerakan ya
total 1 replies
putrijawa
cinta mereka cukup berat cobaannya
Indira Mr
Ujian Wulan dan Agung dengan status yg berbeda..semoga mereka kuat 💙💙💙
Indira Mr
Wulan mulia kakak yg bertanggung jawab 😂😂😂💙
Paavey 2001: heheh iya kak, sama seperti kakak juga ya🤭
total 1 replies
Paavey 2001
hehe gk bisa kak udah alur cerita nya begitu 😁 melda juga bagus kok kak gk kalah jauh dengan wulan nantikan aja bab selanjutnya dijamin lebih bagus
Emi Sudiarni
seru bngat. jgn di matikan wula👍n nya ya thor
Paavey 2001
Terima kasih kakak cantik
chiechie kim
aku suka cerita nya
Emi Sudiarni
bgus bngat meng hari biru.. tpi sayang bngat si wulan hrus di matikan, pd hal sdah terbiasa dgn sosok wulan, klw di gantikan melda sy kira udah kurang menarik lgi utk di baca
Paavey 2001: tunggu kelanjutan nya aja ya kak dijamin bagus
total 1 replies
Paavey 2001
jelek ya kak cerita nya/Frown/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!