Tessa hanyalah gadis biasa yang hidupnya digerakkan oleh takdir dan kesalahan orang lain. Pernikahan mendadak dengan Nickolas Adhitama, pria kaya dan dingin, bukanlah pilihannya, tapi kenyataan yang harus dihadapinya.
Nick, yang terbiasa menguasai segalanya, kini berhadapan dengan Tessa, wanita lembut, teguh, tapi menantang yang membuatnya kehilangan kendali.
Sementara Tessa berjuang menjaga harga diri dan kemandirian, Nick harus belajar bahwa hati manusia tak bisa diatur dengan kekuasaan atau uang.
Di dunia di mana satu keputusan bisa menjadi perang psikologis, akankah cinta tumbuh di antara ketegangan dan luka masa lalu, ataukah mereka hanya menjadi tawanan takdir yang kejam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ludiantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Mobil hitam itu berhenti tepat di depan gedung utama perusahaan.
Gedung kaca tinggi menjulang, memantulkan cahaya pagi yang kini sudah sangat terang.
Nick turun tanpa menunggu pintu dibukakan,
Beberapa staf yang kebetulan berada di lobi langsung
menunduk.
“Selamat pagi, Tuan.”
Ia tidak menjawab.
Langkahnya cepat. Terukur. Tegas.
Lift eksekutif sudah terbuka sebelum ia benar-benar sampai di depannya.
Asistennya berdiri di dalam.
“Semua direksi sudah menunggu di ruang rapat, Tuan.”
Nick hanya mengangguk singkat.
Pintu lift tertutup.
Suasana di dalamnya hening.
“Asisten legal mengirim revisi kontrak tadi pagi,” lanjut pria berjas abu-abu itu. “Ada sedikit keberatan dari pihak proyek Timur terkait pembagian saham.”
“Keberatan?” ulang Nick pelan.
“Ya, Tuan. Mereka meminta penyesuaian dua persen tambahan.”
Lift terbuka.
Nick melangkah keluar.
“Kalau mereka berani meminta, berarti mereka merasa kita butuh mereka.”
Ia berhenti tepat di depan pintu ruang rapat.
Tatapannya berubah lebih tajam.
“Dan aku tidak suka terlihat membutuhkan siapa pun.”
Pintu dibuka.
Sepuluh orang sudah duduk mengelilingi meja panjang.
Begitu Nick masuk, semua berdiri.
“Duduk.” hanya butuh satu kata, semua kembali duduk.
Nick tidak langsung menempati kursinya. Ia berdiri di ujung meja, membuka map hitam yang sudah disiapkan.
“Aku dengar ada permintaan tambahan dua persen.”
Salah satu direktur, pria paruh baya berkacamata itu menggaruk lehernya,
“Itu hanya negosiasi awal, Nick. Kita masih bisa...”
“Aku tidak bertanya apakah kita bisa.”
Suasana menjadi hening, Pria itu langsung terdiam.
Nick melemparkan dokumen ke tengah meja, membuat semua mata tertuju pada dokumen itu,
“Proyeksi keuntungan tiga tahun ke depan sudah lebih dari cukup untuk mereka. Kalau masih merasa kurang, berarti mereka tidak percaya pada kemampuan kita.”
“Bukan begitu maksudnya...”
“Aku tidak suka penjelasan berputar.” nada suaranya mulai meninggi.
Ruangan langsung terasa lebih sempit.
“Kita tidak sedang meminta bantuan. Kita menawarkan peluang.” ucap nick yang akhirnya duduk.
“Kirim revisi. Tanpa tambahan dua persen. Jika mereka menolak, cari mitra lain.” sambung nick tegas, tidak terbantahkan.
Salah satu direktur muda tampak ragu.
“Proyek ini cukup besar. Kalau kita melepasnya begitu saja, media bisa membaca ini sebagai kegagalan negosiasi.”
Nick menatapnya tajam, tatapan yang tidak berkedip.
“Namamu?”
Pria itu terlihat gugup. “Arman, Tuan.”
“Arman,” ulang Nick pelan. “Jika kau lebih takut pada opini media daripada pada kerugian jangka panjang, mungkin kau salah duduk di kursi itu.”
Wajah Arman memucat.
Tak ada yang membela, takkan ada yang berani.
“Kita tidak pernah menurunkan standar hanya karena takut kehilangan.” ucap nick sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi,
Suasana semakin hening.
Ia lalu menoleh pada asistennya.
“Siapkan konferensi internal jam sebelas. Aku akan jelaskan posisi perusahaan secara terbuka. Dan pastikan tidak ada kebocoran ke media sebelum itu.”
“Baik, Tuan.”
Rapat berlanjut, tapi tak ada satu pun suara yang terdengar santai, semua jawaban singkat dan keputusan terjadi cepat.
Tidak ada ruang untuk debat panjang.
Tidak ada ruang untuk ego selain miliknya.
Setelah hampir satu jam, Nick berdiri.
“Jika ada yang tidak sanggup mengikuti ritme ini, pintu keluar selalu terbuka.”
Ia berjalan keluar tanpa menunggu respons.
Pintu tertutup.
Baru setelah itu, beberapa direksi saling berpandangan dan menghela napas pelan.
“Dia semakin keras,” gumam seseorang hampir tak terdengar.
Sementara itu, di lorong kantor, Nick berjalan sendirian dengan wajahnya yang datar tanpa ekspresi.
Tangan kanannya mengepal samar bukan karena proyek dua persen itu.
Tapi karena kalimat di ruang makan tadi pagi.
“Aku hanya ingin tahu apakah aku boleh punya pilihan.”
Langkahnya melambat sepersekian detik, lalu kembali tegas.
Ia tidak terbiasa dengan pertanyaan seperti itu.
Dan lebih tidak terbiasa lagi… dengan perasaan bahwa kalimat itu masih terngiang di kepalanya.
capek banget keknya jadi tessa
kalo aku jadi tessa keknya gak akan sanggup deh soalnya aku gtogian arangnya😁🤭
sweet banget😍😍😍
padahal baru kenal tessa tapi di bertanggung jawab dengan statusnya sebagai suami dg begitu sempurna