Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.
Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.
Kecuali Karina.
Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.
Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18 - Simbol atau Pencitraan
Layar televisi menyala tanpa suara di ruang tamu rumah Karina.
Cahaya biru memantul ke wajahnya yang pucat.
Breaking News.
“Sudah lebih dari satu bulan sejak rangkaian pembunuhan misterius mengguncang kota ini. Hingga kini, pihak kepolisian belum mengumumkan satu pun tersangka.”
Potongan gambar berganti cepat.
Garis polisi.
Ambulans.
Wajah Karina saat konferensi pers.
Tulisan besar di layar:
SIMBOL ATAU KEGAGALAN?
Presenter berbicara dengan nada tegas.
“Publik mempertanyakan kinerja aparat. Jika pelaku masih bebas berkeliaran, siapa yang menjamin keselamatan masyarakat?”
Layar menampilkan cuplikan komentar netizen.
Katanya simbol ketegasan. Mana hasilnya?
Kalau nggak sanggup, mundur aja.
Jangan-jangan pelakunya orang dalam.
Semua cuma pencitraan.
Kalimat terakhir diulang dalam grafis besar.
PENCITRAAN.
Karina menatap layar itu tanpa ekspresi.
Matanya kosong.
Sejak Adelia meninggal, ia tak lagi menonton berita.
Tapi pagi itu, entah kenapa, ia membiarkannya menyala.
Seolah ingin menyakiti dirinya sendiri.
Telepon bergetar di meja.
Arga.
Karina tak langsung mengangkatnya.
Berita berlanjut.
“Beberapa sumber internal menyebutkan bahwa kepolisian telah memiliki profil pelaku, namun belum cukup bukti untuk melakukan penangkapan. Apakah ini berarti pelaku semakin cerdas… atau aparat yang semakin tertinggal?”
Karina mematikan televisi.
Sunyi.
Telepon berhenti bergetar.
Ia menarik napas panjang.
Tekanan publik.
Tekanan media.
Tekanan internal.
Dan tekanan paling sunyi—
kecurigaan di dalam lingkarannya sendiri.
...----------------...
Ruang rapat penuh.
Semua wajah lelah.
Komandan berbicara tanpa basa-basi.
“Kita disorot. Kalian tahu itu.”
Proyektor menampilkan headline berita.
“Ini bukan lagi sekadar kasus pembunuhan. Ini soal kepercayaan publik.”
Semua diam.
Tatapan perlahan beralih ke Karina.
Bukan karena menyalahkan.
Tapi karena semua tahu—
ia wajah dari kasus ini.
Karina berdiri.
Tenang.
“Pelaku ingin ini,” katanya.
Beberapa orang mengernyit.
“Ingin apa?”
“Ia ingin publik panik. Ingin kita terburu-buru. Ingin kita salah langkah.”
“Lalu?”
Karina menatap layar.
“Kita beri dia sesuatu.”
“Umpan.”
Ruangan hening.
...----------------...
Karina duduk sendirian di ruangannya.
Ia membuka kembali seluruh kronologi.
Waktu.
Tempat.
Jarak.
Pergerakan.
Lalu ia menulis sesuatu di papan kecil.
Motif belum terlihat.
Pesan simbolik konsisten.
Huruf A.
Ia menatap huruf itu lama.
A.
Arga.
Antono.
Atau dirinya sendiri.
Ia tersenyum tipis.
Pelaku cerdas.
Tapi pelaku juga manusia.
Dan manusia suka merasa unggul.
Karina membuka laptopnya.
Mengetik laporan internal.
Laporan itu tidak sepenuhnya benar.
Tidak sepenuhnya salah.
Ia sengaja memasukkan satu detail baru.
Sebuah “temuan” forensik.
Pisau dengan sidik jari parsial.
Belum cocok dengan siapa pun.
Tapi arah analisisnya jelas.
Terlalu jelas.
Jika laporan itu bocor, publik akan berpikir polisi sudah sangat dekat.
Jika pelaku membacanya—
ia akan merasa terpojok.
Atau tertantang.
Karina mengirim laporan itu.
Ke grup terbatas.
Orang-orang inti.
Termasuk Arga.
Termasuk Antono.
Ia bersandar di kursi.
Menutup mata.
“Kalau kamu memang salah satu dari mereka…” gumamnya pelan.
“Mainkan langkahmu.”
...----------------...
Berita baru muncul.
“SUMBER INTERNAL: POLISI KANTONGI PETUNJUK KUAT.”
Headline itu menyebar cepat.
Netizen berubah arah.
“Akhirnya ada progres.”
“Tangkap cepat sebelum ada korban lagi!”
“Kalau bener ada sidik jari, tinggal waktu aja.”
Karina membaca semua komentar itu.
Tidak tersenyum.
Karena ia tahu—
Tidak ada sidik jari.
Itu jebakan.
Dan jebakan terbaik bukan yang rumit.
Tapi yang terlalu jelas.
...----------------...
Arga menghampirinya.
“Kamu yakin soal laporan itu?”
Nada suaranya normal.
Tapi mata Arga mencari sesuatu.
Karina menatapnya datar.
“Kenapa?”
“Karena detailnya terlalu… spesifik.”
Karina mengangkat bahu.
“Atau kamu cuma takut kalau itu benar?”
Arga terdiam sepersekian detik.
Sangat singkat.
Tapi cukup.
“Kamu curiga sama aku?” Arga bertanya pelan.
Karina tersenyum tipis.
“Aku curiga sama semua orang.”
Jawaban aman.
Tapi tidak sepenuhnya.
Arga mengangguk pelan.
“Oke.”
Ia pergi.
Karina memperhatikan langkahnya.
Tenang.
Tidak terburu-buru.
Tidak gugup.
Atau terlalu tenang?
...****************...
Seseorang membaca berita itu.
Di ruangan gelap.
Cahaya layar memantul ke dinding penuh foto.
Foto Karina.
Foto Arga.
Foto korban.
Dan satu tempat kosong—
bekas foto Adelia yang telah diambil.
Senyum tipis muncul.
“Sidik jari?”
Suara itu pelan.
Nyaris berbisik.
“Menarik.”
Ia tahu itu jebakan.
Tapi ia juga tahu—
Permainan akan jauh lebih menyenangkan jika ia ikut bergerak.
...****************...
Pesan masuk ke email anonim kepolisian.
Subjek:
KALAU SUDAH PUNYA SIDIK JARI, GUNAKANLAH.
Terlampir satu foto.
Karina membukanya.
Jantungnya berdetak satu kali lebih keras.
Foto itu menunjukkan—
Meja kerjanya.
Dari sudut tertentu.
Foto itu baru.
Sangat baru.
Artinya pelaku bukan hanya membaca berita.
Ia dekat.
Sangat dekat.
Karina tidak panik.
Justru…
Ia tersenyum.
“Terima kasih sudah membalas.”
Arga masuk ke ruangan.
“Ada apa?”
Karina memutar layar.
Arga melihat foto itu.
Wajahnya berubah.
Bukan ketakutan.
Tapi kesadaran.
“Dia ada di sekitar kita.”
Karina mengangguk.
“Dan dia kesal.”
Arga menatap Karina.
“Kamu sengaja?”
Karina tidak menjawab langsung.
“Kadang untuk menangkap sesuatu yang bersembunyi, kamu harus membuatnya merasa terancam.”
Arga terdiam.
Lama.
“Dan kalau dia menyerang lagi?”
Karina menatap lurus ke depan.
“Berarti dia sudah menggigit umpan.”
...----------------...
Malam.
Karina berdiri di depan jendela rumahnya.
Lampu kota redup.
Ia memikirkan satu hal—
Bagaimana jika ia salah?
Bagaimana jika ia justru memancing korban berikutnya?
Teleponnya berbunyi.
Nomor tidak dikenal.
Ia angkat.
Sunyi beberapa detik.
Lalu suara pelan.
Tenang.
“Simbol.”
Karina membeku.
“Kamu mulai berani bermain.”
Klik.
Telepon mati.
Karina tidak bergerak.
Ia tahu satu hal sekarang.
Pelaku tidak hanya menonton.
Ia menikmati.
Dan permainan benar-benar dimulai kembali.
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y