NovelToon NovelToon
Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Sekretaris Pengganti Sang CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Langit

"Aku tahu kamu bukan dia. Dan sekarang, bayar harga penyamaranmu dengan menjadi istriku."
Demi nyawa ibunya, Alana nekat menyamar menjadi kakaknya untuk bekerja pada Arkananta, CEO kejam yang dijuluki "Monster Es". Namun, Arkan justru menjebaknya dalam pernikahan kontrak untuk menghadapi ular-ular di keluarganya.
Dari puncak kemewahan hingga titik terendah saat Arkan dikhianati dan terusir dari hartanya, Alana tetap bertahan. Bersama, mereka membangun kembali kekaisaran dari nol untuk membalas dendam pada setiap pengkhianat.
Saat rahasia identitas terbongkar dan dunia membuang mereka, mampukah cinta sang sekretaris pengganti menjadi kekuatan terakhir sang CEO?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Umpan Di Meja Perjamuan

Sore itu, langit Jakarta tampak mendung, seolah-olah ikut merasakan kegelisahan yang meluap di hati Alana. Ia berdiri di depan cermin, merapikan setelan blazer berwarna krem yang terlihat profesional namun tetap feminin. Di balik bros emas kecil yang menempel di kerahnya, terdapat mikrofon penyadap sekecil biji beras—mata dan telinga Arkananta yang akan mengawasinya setiap detik.

"Jangan pernah melepaskan bros itu, apa pun yang terjadi," suara Arkan terdengar dari earpiece transparan yang tersembunyi di balik rambut panjang Alana. "Jika keadaan memburuk, ketuk bros itu dua kali. Tim keamananku hanya berjarak tiga puluh detik darimu."

Alana menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran jantungnya. "Aku mengerti, Arkan. Aku akan melakukannya."

"Bagus. Ingat, Kevin mengira kamu adalah wanita lemah yang bisa diancam. Gunakan itu sebagai senjatamu. Biarkan dia merasa dominan."

Mobil jemputan berhenti di depan sebuah kafe bergaya vintage yang terletak di area tersembunyi di Jakarta Selatan. Tempat itu sepi, hanya ada beberapa pelanggan di sudut ruangan—yang Alana curigai adalah orang-orang Arkan yang sedang menyamar. Di meja paling ujung, dekat jendela yang menghadap ke jalanan sempit, Kevin sudah menunggu dengan senyum miringnya yang khas.

Alana melangkah masuk, suara hak sepatunya terdengar nyaring di atas lantai kayu. Ia duduk di depan Kevin dengan kepala tegak, mencoba menunjukkan ketenangan yang sebenarnya tidak ia rasakan.

"Senang melihatmu datang, Alana. Atau haruskah aku memanggilmu Elena?" Kevin membuka pembicaraan dengan nada mengejek. Ia menyesap kopi hitamnya perlahan.

"Panggil aku sesukamu, Kevin. Kita berdua tahu kenapa aku di sini. Apa yang kamu inginkan?" jawab Alana dingin.

Kevin tertawa kecil, suara tawanya terdengar kering dan penuh kebencian. "Kamu belajar cepat dari Arkan, ya? Langsung ke inti masalah. Aku menyukainya. Aku ingin dokumen Cendana Hills. Aku tahu Arkan menyembunyikan laporan asli yang bisa membuktikan bahwa perusahaan telah menggelapkan pajak melalui tangan kakakmu."

"Aku tidak tahu apa yang kamu bicarakan," Alana mencoba tetap tenang sesuai instruksi Arkan.

"Jangan berbohong padaku! Jika dokumen itu sampai ke tangan jaksa, Arkan tidak hanya akan kehilangan jabatannya, dia akan berakhir di balik jeruji besi. Dan kamu... kamu akan kembali menjadi gadis miskin yang tidak punya apa-apa." Kevin mencondongkan tubuhnya, matanya berkilat penuh nafsu berkuasa. "Berikan dokumen itu padaku, dan aku akan memastikan kamu tetap aman. Aku bahkan bisa memberimu lebih banyak uang daripada yang diberikan pria es itu."

Alana terdiam sejenak. Melalui earpiece, ia mendengar suara napas Arkan yang berat, menandakan pria itu sedang menahan amarah di pusat pemantauan.

"Lalu, apa jaminannya jika aku membantumu?" tanya Alana, mencoba memancing Kevin lebih dalam.

"Jaminannya?" Kevin bersandar kembali ke kursinya. "Jaminannya adalah aku tidak akan membongkar rahasia yang jauh lebih besar dari sekadar identitas palsumu. Rahasia yang dibawa oleh teman lamaku ini."

Kevin memberi isyarat ke arah pintu masuk. Seorang pria paruh baya dengan setelan jas abu-abu tua masuk ke dalam kafe. Rambutnya mulai memutih di pelipis, namun matanya memiliki ketajaman yang sangat mirip dengan seseorang yang Alana kenal. Saat pria itu mendekat, Alana merasa suhu di sekelilingnya turun drastis.

"Perkenalkan, Alana. Ini adalah Tuan Hendrawan. Dia adalah mantan pengacara keluarga Wiryodinoto... ayahmu," ucap Kevin dengan nada penuh kemenangan.

Alana membeku. Wiryodinoto adalah nama keluarga bangsawan yang digunakan Arkan untuk memalsukan identitasnya. Namun, nama itu sebenarnya bukan karangan belaka. Itu adalah nama keluarga ayah Alana yang telah lama bangkrut dan menghilang.

"Nona Alana," pria bernama Hendrawan itu bersuara, nadanya berat dan penuh penyesalan. "Sudah lama sekali sejak terakhir kali saya melihat Anda saat masih kecil. Anda sangat mirip dengan mendiang Tuan Wiryodinoto."

"Apa maksud semua ini?" tanya Alana, suaranya bergetar.

"Arkan memberimu identitas itu bukan karena dia berbaik hati, Alana," sela Kevin dengan cepat. "Dia memberimu nama itu karena dia tahu siapa ayahmu sebenarnya. Ayahmu bukan sekadar bangsawan yang bangkrut. Ayahmu adalah pria yang dikhianati oleh Kakek Arkananta tiga puluh tahun yang lalu dalam perebutan lahan tambang. Arkan menggunakanmu sebagai bentuk penebusan dosa keluarganya... atau mungkin, dia hanya ingin memastikan keturunan Wiryodinoto berada di bawah kendalinya agar tidak pernah menuntut balas."

Dunia seakan runtuh bagi Alana. Melalui earpiece, tidak ada lagi suara Arkan. Hening total. Kesunyian itu jauh lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun.

"Itu tidak mungkin," bisik Alana. "Arkan tidak tahu siapa aku sampai aku melamar menjadi sekretaris."

"Benarkah?" Hendrawan mengeluarkan sebuah dokumen tua dari tasnya. "Ini adalah akta kelahiran Anda dan Elena yang asli, yang selama ini disimpan oleh firma hukum saya. Arkananta menebus dokumen ini dari saya satu bulan sebelum dia mempekerjakan Anda. Dia sudah merencanakan ini semua, Nona. Dia menjebak Anda sejak awal."

Hati Alana terasa seperti diremas. Segala perhatian Arkan, biaya rumah sakit ibunya, perlindungan yang diberikan pria itu... apakah semuanya hanya bagian dari skenario untuk meredam bom waktu yang bisa menghancurkan Arkananta Group di masa depan? Apakah ia hanyalah bidak catur dalam permainan menebus dosa masa lalu?

"Sekarang pilihan ada di tanganmu," Kevin mengetukkan jarinya di meja. "Bantu aku menjatuhkan Arkan, dan aku akan mengembalikan aset ayahmu yang dicuri oleh keluargaku. Kamu bisa menjadi wanita bangsawan yang sesungguhnya, bukan sekadar boneka pajangan Arkan."

Alana mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia merasa mual. Ia ingin berteriak pada Arkan melalui mikrofon di brosnya, menanyakan apakah semua ini benar. Namun, ia ingat satu hal: Arkan benci pengkhianatan. Jika ia berkhianat sekarang, ia tidak akan berbeda dengan orang-orang yang telah menghancurkan hidup ayahnya.

Tiba-tiba, suara Arkan kembali terdengar di earpiece, namun kali ini suaranya terdengar sangat parau, seolah pria itu baru saja menelan duri.

"Alana... keluar dari sana sekarang. Jangan dengarkan mereka lagi. Keluar."

Alana berdiri dengan tiba-tiba, membuat kursi yang didudukinya berderit nyaring. "Aku tidak akan membantumu, Kevin. Dan Tuan Hendrawan, jika Anda benar-benar peduli pada ayahku, Anda tidak akan bekerja sama dengan ular seperti Kevin."

"Alana, jangan bodoh!" seru Kevin, ikut berdiri.

"Aku mungkin boneka di mata kalian semua," ucap Alana dengan mata berkilat marah. "Tapi aku lebih suka menjadi boneka bagi pria yang setidaknya menjamin keselamatan ibuku, daripada menjadi alat bagi pria yang ingin menghancurkan keluarganya sendiri demi uang."

Alana berjalan keluar dari kafe tanpa menoleh lagi. Begitu ia sampai di trotoar, mobil hitam Arkan sudah menunggu. Pintu terbuka secara otomatis. Alana masuk dan menemukan Arkan duduk di sana dengan wajah yang tertutup bayangan.

Mobil itu melaju kencang, membelah hujan yang mulai turun deras. Tidak ada suara di dalam kabin selama beberapa menit.

"Apakah itu benar?" tanya Alana akhirnya, suaranya pecah. "Apakah kamu sudah tahu siapa aku sejak awal?"

Arkan tidak langsung menjawab. Ia menatap ke luar jendela, memperhatikan tetesan air yang meluncur di kaca. "Ya. Aku tahu."

Alana tertawa getir, air matanya mulai mengalir. "Jadi pernikahan ini... semua perlindunganmu... itu bukan karena kamu peduli padaku? Itu karena kamu merasa bersalah atas apa yang kakekmu lakukan pada ayahku?"

Arkan berbalik, menatap Alana dengan tatapan yang penuh dengan luka yang sangat dalam. "Awalnya, memang begitu. Aku menemukan dokumen itu secara tidak sengaja dan aku berpikir untuk menjagamu agar kakekku tidak bisa mencelakaimu jika dia tahu keturunan Wiryodinoto masih hidup. Tapi Alana... apa yang terjadi di antara kita setelah itu, itu bukan bagian dari rencana."

"Bagaimana aku bisa mempercayaimu, Arkan?!" teriak Alana. "Setiap hal dalam hidupku ternyata adalah kebohongan yang kamu susun!"

Arkan meraih bahu Alana, memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Aku memang menyusun awalnya, tapi aku tidak bisa mengontrol perasaanku saat aku melihatmu berjuang demi ibumu. Aku tidak bisa mengontrol rasa ingin melindungimu saat badai semalam! Apakah kamu pikir aku melakukan itu semua hanya karena selembar kertas tua?"

"Aku tidak tahu lagi mana yang nyata dan mana yang bohong," isak Alana.

Arkan menarik Alana ke dalam pelukannya, meski gadis itu mencoba memberontak. Ia memeluknya dengan sangat erat, seolah-olah jika ia melepaskannya, Alana akan menghilang selamanya.

"Maafkan aku karena tidak jujur sejak awal," bisik Arkan di telinga Alana. "Tapi Kevin benar tentang satu hal. Posisi kita sekarang sangat berbahaya. Kakekku tidak boleh tahu bahwa Hendrawan telah muncul. Jika dia tahu aku menyembunyikan keturunan Wiryodinoto di dalam rumahnya sendiri, dia akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan pada ibuku."

Alana membeku dalam pelukan Arkan. Ancaman itu nyata. Kakek Arkananta adalah pria yang sanggup melakukan apa pun demi kekuasaan. Kini, Alana menyadari bahwa ia bukan hanya sekadar umpan bagi Kevin, tapi ia adalah ancaman terbesar bagi dinasti Arkananta.

"Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Alana lemah.

"Kita akan menyerang lebih dulu," mata Arkan berkilat penuh tekad. "Besok, aku akan mengumumkan penggabungan aset pribadiku dengan sisa aset Wiryodinoto yang berhasil kupulihkan secara diam-diam. Kita akan membuat identitasmu sah secara hukum, bukan sebagai penyamaran, tapi sebagai pewaris sah yang kembali untuk menagih hutang."

Malam itu, di dalam mobil yang meluncur di tengah badai, aliansi baru terbentuk. Bukan lagi berdasarkan kontrak atau paksaan, melainkan berdasarkan takdir pahit yang saling terkait. Alana menyadari bahwa untuk bertahan hidup, ia harus menjadi lebih kejam daripada musuh-musuhnya. Ia harus berhenti menjadi korban dan mulai menjadi ratu di samping sang Monster Es.

Namun, di kediaman utama Arkananta, Sang Kakek sedang duduk di ruang kerjanya yang gelap. Di depannya, ada rekaman suara pertemuan Alana dan Kevin sore tadi. Seseorang telah mengkhianati Arkan dan mengirimkan rekaman itu langsung ke tangan Sang Kakek.

"Wiryodinoto..." gumam pria tua itu dengan suara serak yang mengerikan. "Ternyata serigala yang kupelihara telah membawa anak harimau ke dalam rumahku. Arkan, kau telah membuat kesalahan terbesar dalam hidupmu."

1
Sweet Girl
Nikmati aja dulu kemewahan yang diberikan Arkan, toh kamu sendiri belum punya pacarkan...
Sweet Girl
Nah... ini gak enaknya...
Sweet Girl
Kok seperti nya Arkan sudah mengenal Alana ya Tor...
Sweet Girl
Dirantai kamu Alana...
Sweet Girl
Apa kau terpesona pada pandangan pertama dengan Sekretaris kecil pengganti, Tuan CEO...???
Sweet Girl
Bwahahaha bener tau dia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!