NovelToon NovelToon
Satu Rasa Yang Tak Pergi

Satu Rasa Yang Tak Pergi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Anak Yatim Piatu
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ms.Una

Seri ke-satu

Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.

Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Racun dan penawar

Dua hari kemudian, tugas kelompok Clara telah selesai dan siap dikumpulkan hari ini.

Seperti hari-hari sebelumnya, Clara bersiap pergi kuliah. Ia mengecek isi tasnya laptop, buku catatan, dompet, ponsel lalu mengunci pintu rumahnya. Udara pagi masih lembap, sisa hujan semalam membuat tanah di tepi jalan sedikit basah.

Saat melewati lapangan kecil di gang rumahnya, Clara melihat cukup banyak warga berkumpul. Ibu-ibu, bapak-bapak, bahkan ada yang membawa anak kecil. Suasananya agak ramai, seperti ada pengumuman penting.

Karena penasaran, Clara mendekat. “Ada pengumuman apa, Bu?” tanyanya pada salah satu warga.

“Kata Pak Yanto besok di kecamatan bakal ada program… CS apa tadi ya,” jawab ibu itu sambil berpikir.

“Program CSR roadshow dari Forrer Pharmaceutical Indonesia,” sahut seorang ibu muda di sebelahnya lebih sigap.

Clara terdiam. Nama itu seperti mengetuk sesuatu yang hampir ia kubur dalam pikirannya.

Mbak Siti yang sedang menggendong anaknya menoleh pada Clara. “Mbak Clara mau ikut? Besok kan tanggal merah.”

Clara menggeleng cepat. “Enggak, Mbak. Saya ada tugas kuliah.” bohongnya

“Sayang loh, Mbak, nggak ikutan. Katanya bakal ada konsultasi kesehatan sama mental gratis,” ujar Mbak Siti dengan semangat.

Clara tersenyum tipis. “Lain kali saja ya, Mbak Siti,” ucapnya sambil berniat melangkah pergi.

Namun belum sempat ia menjauh, suara Pak Yanto menahannya.

“Maaf, Neng Clara. Kira-kira mau ikutan daftar kegiatan ini nggak?” tanya Pak Yanto tanpa basa-basi.

Clara menoleh, sedikit canggung. “Memangnya kenapa, Pak?”

“Kami kekurangan tiga orang lagi buat memenuhi kuota kegiatan besok. Soalnya kalau sudah mencapai target, RT kita bisa dapat keuntungan besar,” jelas Pak Yanto.

“Maaf, Pak Yanto. Mungkin bisa cari orang lain saja,” tolak Clara halus.

Pak Yanto menghela napas. “Sudah nggak ada, Neng. Rata-rata warga kita kerja di pabrik. Meskipun besok tanggal merah, mereka tetap masuk kerja.”

“Iya, Neng Clara,” sambung Bu Jamilah yang baru saja datang. “Katanya nanti kalau yang pergi sesuai target, posyandu kita bakal dapat alat-alat baru. Terus mereka juga bakal kirim tim buat cek kesehatan lansia rutin selama enam bulan, sama pemantauan anak-anak yang kena stunting. Begitu kan, Pak Yanto?”

Pak Yanto mengangguk membenarkan. “Betul. Tolong kali ini saja, Neng. Demi lansia dan anak-anak.”

Clara terdiam, di kepalanya terlintas wajah-wajah para lansia di gang itu, Pak Hadi yang sering pegang lutut karena asam urat, Bu Rahmi yang tekanan darahnya naik turun, dan beberapa anak kecil yang badannya lebih kecil dari seharusnya.

Ia menarik napas pelan.

“Iya, Pak. Saya ikut,” ucap Clara akhirnya.

Wajah Pak Yanto langsung berbinar. Bu Jamilah dan Mbak Siti tersenyum lega.

“Alhamdulillah. Berarti tinggal dua orang lagi. Nanti saya cari lagi,” ujar Pak Yanto penuh syukur.

“Terima kasih ya, Clara. Semoga warga kita selalu rukun dan saling bantu,” ucap Bu Jamilah sambil menepuk pundak Clara.

“Aamiin. Clara berangkat kuliah dulu, Bu,” balasnya lembut sambil mencium tangan bu Jamilah.

Ia meninggalkan kerumunan itu dan melangkah menuju jalan besar.

Clara masuk ke kelas seperti biasa. Ia memang mahasiswi yang disiplin, nyaris tak pernah terlambat, apalagi absen tanpa alasan. Pagi itu ia datang lebih awal, duduk di bangku paling depan, lalu membuka lembar esai yang sudah ia cetak rapi tadi malam. Kertasnya masih kaku, sudutnya belum terlipat sedikit pun.

Tak lama kemudian Wulan dan Zita masuk. “Pagi, Clar,” ucap mereka bersamaan.

Clara menoleh dan tersenyum manis seperti biasanya. “Pagi, Wulan. Zita.”

Mereka duduk dan mulai membicarakan siapa yang akan membacakan esai di depan kelas. Beberapa menit kemudian Rio dan Adit datang menghampiri, menyeret kursi tanpa sungkan.

“Lagi bahas apa?” tanya Rio sambil menggeser kursi dan duduk santai.

“Lo mau baca esai nggak, Dit?” tanya Wulan langsung.

“Gak ah, gue kan laki,” jawab Adit santai sambil kembali fokus pada game di ponselnya bersama Rio.

“Gue juga nggak mau,” sahut Rio cepat sebelum Wulan sempat menoleh padanya.

Wulan mendecakkan lidah kesal. “Hadeh.”

“Kamu aja, Clara,” ucap Zita lembut.

Clara menoleh sedikit terkejut.

“Kamu lebih paham makna esai ini dibanding kita. Aku yakin kita bakal dapat nilai tinggi,” lanjut Zita tulus.

Clara terdiam. Ia masih belum terbiasa berdiri di depan banyak orang, menjadi pusat perhatian, didengar dan dinilai.

“Masuk sosmed aja kamu bisa, masa cuma di ruangan ini kamu grogi?” ujar Wulan, seolah tahu isi pikirannya.

“Iya, Clara. Kami di sini buat dukung kamu. Kamu pasti bisa,” tambah Zita menyemangati.

Clara menghela napas pelan. “Ya sudah… nanti aku yang baca,” ucapnya akhirnya.

Ia tak sadar bahwa teman-temannya sedang berusaha membangun kepercayaan dirinya sedikit demi sedikit.

Mereka masih berbincang santai sampai Pak Seno masuk ke kelas. Suasana langsung hening. Satu per satu kelompok maju membacakan esai mereka. Ada yang membaca dengan suara gemetar, ada yang terlalu cepat, ada pula yang terdengar datar, sedangkan kelompok agnes mendapatkan pujian yang bagus dari pak Seno.

Sampailah giliran kelompok Clara, Clara bangkit dari kursinya dan berjalan ke depan kelas. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Ia berdiri di samping Pak Seno, menggenggam lembar esainya.

Di bangku depan, Wulan, Zita, Rio, dan Adit memberi semangat dengan gerakan tangan kecil dan senyum lebar. Clara membalas dengan senyum malu-malu.

“Siapa saja yang berada di kelompokmu, Clara?” tanya Pak Seno pelan.

“Saya, Wulan, Zita, Rio, dan Adit, Pak,” jawab Clara. Pak Seno mengangguk.

Clara mengangkat kertas esainya. Ia menarik napas dalam, mencoba menenangkan gemetar di ujung jarinya. Ruangan terasa lebih sunyi dari biasanya. Bahkan Agnes yang duduk di barisan tengah kini menatap lurus ke arahnya.

Clara membuka mulutnya, suara pertamanya terdengar pelan, tapi jelas.

Racun tidak selalu pahit, kadang ia terasa manis karena dibungkus niat baik.

Beberapa hari lalu saya berdiri di depan ruang ICU dan melihat seorang pria terbaring koma. Tubuhnya diam, wajahnya pucat, dan mesin di sekelilingnya bekerja lebih keras daripada dirinya yang dulu bekerja tanpa henti. Dokter menyebutnya overdosis stimulan dan obat penenang. Tetapi saya tahu, yang membuatnya sampai di sana bukan hanya obat.

Ia hanya seorang anak yang ingin membahagiakan ibunya.

Ia bekerja di pabrik garmen pada siang hari. Pada malam hari ia menjadi maskot di gerai ice cream. Hampir dua puluh empat jam hidupnya habis untuk bekerja. Ia menelan obat agar tetap terjaga. Ia menelan penenang agar bisa tidur sejenak. Ia menelan semuanya demi satu ambisi sederhana, membelikan ibunya rumah yang lebih layak.

Ambisi itu lahir dari cinta.

Namun cinta yang dipadukan dengan rasa takut akan kemiskinan bisa berubah menjadi tekanan yang tidak terlihat. Ia merasa waktu tidak pernah cukup. Ia merasa tenaga tidak boleh habis. Ia merasa gagal jika belum berhasil.

Dalam masyarakat yang memuji kerja keras tanpa jeda, kelelahan sering dianggap biasa. Kita diajarkan untuk bangga ketika bisa bertahan tanpa istirahat. Kita memuji mereka yang bekerja siang dan malam. Kita menyebutnya pejuang. Kita lupa bahwa tubuh memiliki batas.

Obat yang ia minum seharusnya menjadi penawar lelah. Tetapi ketika lelah tidak pernah diizinkan hadir, penawar berubah menjadi racun.

Saya melihat ibunya duduk di lorong rumah sakit, menangis dalam diam. Ia tidak pernah meminta rumah besar. Ia hanya ingin anaknya sehat. Tetapi anak itu merasa belum cukup. Ia ingin memberi lebih. Ia ingin menjadi alasan ibunya bangga.

Ambisi yang lahir dari cinta bisa berubah menjadi racun ketika tidak diberi batas.

Kita sering berpikir bahwa racun adalah sesuatu yang datang dari luar. Padahal racun paling berbahaya sering tumbuh dari dalam diri dari rasa tidak pernah puas, dari ketakutan dianggap gagal, dari tekanan untuk membuktikan diri.

Banyak orang dari kalangan bawah bekerja mati-matian agar generasi setelahnya bisa hidup lebih baik. Mereka menukar waktu, kesehatan, bahkan usia mereka dengan harapan. Namun tidak semua ambisi berakhir pada keberhasilan. Sebagian berakhir di ruang ICU, di kamar rumah sakit, atau di liang lahat yang sunyi.

Kita jarang bertanya: apakah keberhasilan layak dibayar dengan kesehatan? Apakah mimpi harus ditebus dengan tubuh yang rusak?

Penawar dalam cerita ini bukan hanya infus dan obat detoksifikasi. Penawar sejati adalah kesadaran bahwa menjadi manusia berarti memiliki batas. Bahwa cinta tidak harus dibuktikan dengan pengorbanan yang menghancurkan diri sendiri. Bahwa bekerja keras tidak berarti menghapus hak untuk beristirahat.

Penawar adalah keberanian untuk berkata cukup.

Karena racun terbesar dalam hidup manusia bukanlah zat yang masuk ke dalam tubuh, melainkan keyakinan bahwa kita harus terus melampaui batas demi terlihat berhasil.

Dan mungkin, sebelum kita sibuk mengejar keberhasilan berikutnya, kita perlu bertanya dengan jujur:

apakah orang-orang yang kita perjuangkan sebenarnya hanya menginginkan kita tetap hidup?

Sebab tidak ada gelar, tidak ada rumah, tidak ada pencapaian apa pun yang mampu menggantikan satu hal sederhana kesempatan untuk melihat mereka tersenyum saat kita masih ada di sampingnya.

1
falea sezi
bkin Clara g menye Thor bikin dia move on dan bahagiain diri sendiri jual. rmh tinggal. tempat lain biar bebas dr. keluarga toxic
falea sezi
lupain Noel. Clara laki. yg bisanya manut bapak nya itu g bs mandiri
falea sezi
move on Clara qm. berhak bahagia dengan nathan lupain. masa. lalu
falea sezi
pasti Noel cwok lemah plin plan g cocok ma Clara moga aja nathan bisa bkin Clara. move on lahh males liat Clara gini kesannya kayak menye menye
Una.: tenang ya kak clara orang yang kuat, terimakasih sudah baca 🤗
total 1 replies
falea sezi
move on Clara siapa tau Noel mu ngilang karena di jodohkan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!