Cerita ini adalah season dua dari karya "Cinta Masa Kecil Ustadz Athar"
***
"Abid... Kamu gak perlu merasa bertanggung jawab karna kemarin kita udah dalam posisi yang tak pantas, kita gak perlu menikah. Kita bisa menolak dan mengatakan itu pada kakek kamu dan semua orang. Kita gak harr-"
"Harus." Athar memotong ucapan Azzura cepat. "Kamu harus tanggung jawab."
"Loh kok aku? Dimana-mana yang dimintai pertanggungjawaban itu laki-laki, masa perempuan!" Azzura makin sewot.
"Ya udah ayo kita nikah kalau gitu. Aku mau tanggung jawab kok, meski kamu yang kemarin cium aku duluan."
"Ya itu karna gak sengaja, Abid. Kamu yang narik aku."
"Maka dari itu aku tanggung jawab."
Itu semua berawal dari Azzura yang berniat untuk mengagetkan Ayza tapi ia tidak tau bahwa itu Abidzar terjadilah mereka jatuh bersamaan dengan posisi tak pantas.
***
"aku kaya orang udah gak waras mau setuju aja nikah sama kamu!"
***
"Jadi kamu sudah tau apa tugas istri yang sesungguhnya?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap Abidzar
Abidzar masih duduk bersila di atas sajadahnya setelah salam terakhir terucap.
Lampu kamar redup, hanya menyisakan cahaya temaram yang membuat suasana terasa lebih hening.
Di sampingnya, Azzura juga masih terdiam. Tangannya terlipat di pangkuan, pandangannya lurus ke depan. Ia tidak berdoa keras-keras—hanya menunggu, memberi ruang.
Abidzar menundukkan kepala. Dadanya naik turun pelan. Lalu, dengan suara lirih yang hampir seperti bisikan—namun penuh kesungguhan—ia berdoa.
“Allahumma inni as’aluka khairaha, wa khaira ma jabaltaha ‘alaihi…”
Ia berhenti sejenak, menelan napas. “Ya Allah…
Aku memohon kepada-Mu kebaikan dari perempuan yang hari ini Kau titipkan padaku. Dan kebaikan dari segala sifat yang Engkau tanamkan di dalam dirinya.”
Azzura menunduk sedikit. Ia tidak berniat mendengar, tapi suara itu terlalu dekat untuk diabaikan.
“Wa a‘udzu bika min sharriha, wa sharri ma jabaltaha ‘alaihi…” Abidzar merapatkan kedua telapak tangannya. “Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan diriku sendiri. Dari lisanku yang mungkin melukai, dari sikapku yang mungkin membuatnya merasa sendirian.”
Suaranya mulai sedikit bergetar—hanya sedikit, tapi cukup terasa. “Ya Allah, jika hari ini aku belum pantas menjadi imam baginya, maka pantaskanlah aku. Ajari aku sabar ketika dia lelah, ajari aku lembut ketika dia keras, dan ajari aku diam ketika emosiku ingin menang.”
Azzura menahan napas. Ia tidak menyangka—tidak pernah menyangka—Abidzar akan berdoa seperti ini.
“Ya Allah… Aku tidak menikah karena terpaksa.
Aku menikah karena aku percaya, Engkau menitipkan dia padaku bukan tanpa alasan.”
Abidzar menoleh sebentar ke arah Azzura, tanpa menatap langsung—hanya memastikan ia masih di sana.
“Maka jagalah hatinya melalui aku, dan jagalah aku agar tidak menjadi alasan lukanya.”
Ia menutup doanya dengan suara yang lebih pelan. “Rabbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrata a‘yun, waj‘alna lil-muttaqina imama.”
Azzura meremas ujung mukenanya.
Ada sesuatu yang menghangat di dadanya—bukan cinta, belum.
Tapi rasa aman.
Air mata Azzura terus mengalir saat mengamini doa Abidzar. Ia masih tidak percaya kalau saat ini laki-laki yang sedang berdoa dengan khusyuk di depannya adalah suaminya, imamnya, dan laki-laki yang harus ia patuhi perintahnya.
Usai solat dan memanjatkan doa, Abidzar berbalik menghadap Azzura. Azzura juga memandang Abidzar dengan sudut nata yang berair.
"Kenapa nangis, hm?"
Azzura menggeleng. "Gak tau. Perasaan aku campur aduk sekarang."
Jujur saja, Azzura tidak tau bagaimana menyikapi pernikahan yang mendadak ini. Ini sama sekali bukan keinginannya yang menikah di umur dua puluh tahun, baginya, itu masih terlalu muda. Ia masih ingin mengejarnya cita-citanya dulu.
Tapi Azzura mungkin tidak tau atau tidak ingat bahwa dulu Ummanya menikah di usia delapan belas tahun, lebih muda darinya, tapi berhasil meraih segala cita-citanya.
"Abid," Suara Azzura bergetar. "ini beneran kita udah nikah?" Pertanyaan yang Azzura lontarkan sudah berulang kali ia tanyakan. Abidzar yang gemas menyentil kening istrinya itu.
"Zuyaaa, ini sudah ke dua belas kali kamu nanya kaya gitu. Mau sampai berapa kali kamu nanya kaya gitu?"
Azzura meringis. Mau sampai ribuan atau jutaan kali ia bertanya, jawabannya akan tetap sama bahwa ia sudah menikah. Yang ia harapkan adalah bahwa ia sedang bermimpi.
"Tapi tetap saja ini salah. Seharusnya kita tidak menikah, Abid."
"Tadi kamu bilang apa? Salah? Kamu menganggap pernikahan kita adalah sebuah kesalahan?" Abidzar bertanya dengan nada yang tidak biasa, terdengar seperti menahan sesuatu.
Azzura menelan ludah. Abidzar terlihat sangat menyeramkan sekarang. Matanya menatap Azzura dengan sorotan tajam yang entah mengapa ia seperti terluka.
Tapi kenapa bisa terluka? Selama mereka kecil, dua puluh tahun berteman, mereka sudah biasa saling mengejek tapi tidak pernah mengambil hati semua ucapannya.
Azzura menjawab dengan hati-hati. "Iya ini salah Abid, kamu juga berpikir begitu kan? Atau, kamu... Mau balas dendam sama aku ya, karna aku sering cerewet, ngejek kamu dan hal lainnya?"
Abidzar menggeram tertahan. Bisa-bisanya Azzura mengatakan bahwa pernikahan mereka adalah sebuah kesalahan tepat setelah Abidzar berdoa panjang lebar untuk keberkahan pernikahan mereka. Apalagi untuk balas dendam? Tidak, Abidzar tidak seprti itu.
"Demi Allah, Zuya, aku tidak menikahi kamu karna terpaksa atau apalagi untuk balas dendam. Aku tidak seperti yang kamu katakan. Aku akan membuktikan kalau pernikahan ini bukanlah kesalahan. Menikahi kamu adalah hal yang paling benar yang pernah aku lakukan selama hidup aku." Ucap Abidzar, lalu ia mendekati Azzura dan mencium kening istrinya dengan lembut.
Azzura terkesiap, ia hendak mundur, berusaha menjauhkan diri dari Abidzar. Tapi sebelum usahanya ia lakukan, Abidzar lebih dulu memegang tengkuk Azzura dan mencium kembali kening Azzura. Lebih lembut dan lebih lama.
Azzura sendiri tidak lagi berontak. Gadis itu memejamkan mata dengan jantung yang berdetak dan hanya mampu meremas ujung mukenanya.
"Abidzar, udah." Azzura menyadarkan Abidzar yang sepertinya tidak ada niat untuk menjauh dari keningnya.
"A-aku ngantuk. Bisa kita tidur sekarang. Tadi kamu sudah janji."
Abidzar menarik diri, menjauh dari Azzura dan kembali ke posisinya semula. Berhadap-hadapan dengan istrinya. Ia tersenyum penuh arti pada Azzura, "tentu."
Dan entah kenapa… Azzura merasa jawaban itu sama sekali tidak meyakinkan.
Benar saja.
Mereka memang tidur.
Tapi bukan dalam arti yang Azzura maksud.
Seharusnya Azzura tau—ia tidak pernah bisa sepenuhnya percaya pada teman ributnya itu. Laki-laki yang selalu punya cara membuatnya menyerah tanpa sadar.
Dan malam itu, tanpa benar-benar menyadarinya, Azzura melangkah masuk ke dalam perangkap Abidzar—bukan dengan paksaan, melainkan dengan perasaan yang perlahan goyah.
***
Langit masih gelap ketika azan belum juga terdengar.
Udara dingin menyusup pelan ke dalam kamar, membuat pagi terasa berat untuk dimulai.
Azzura terbangun lebih dulu.
Matanya terbuka perlahan, refleks mencari jam—lalu tersadar oleh sesuatu yang asing. Bukan kamar lamanya. Bukan aroma rumah orang tuanya. Bukan pula selimut tipis yang biasa ia gunakan.
Ini kamar Abidzar.
Dan… ia bukan lagi sendiri.
Napasnya tertahan ketika kesadarannya benar-benar utuh.
Azzura memutar ulang kejadian semalam hingga sampai pada kejadian membuat ia berakhir tidur dengan laki-laki yang kini memeluknya dari belakang. Azzura bisa merasakan napas teratur Abidzar dari balik punggungnya, pertanda Abidzar masih terlelap.
Dasar curang.
Bagaimana bisa Abidzar tidur sepulas itu, sementara Azzura bahkan memejamkan mata saja terasa sulit?
Ia memegang lengan Abidzar, berusaha melepaskan pelukan itu. Namun belum sempat berhasil, Abidzar justru mengeratkan lengannya. Jauh lebih erat dari sebelumnya.
“Lepas, Abidzar. Kamu kenapa sih, meluknya kenceng banget? Kamu mau bunuh aku, ya?” protes Azzura sambil memukul pelan lengannya.
Abidzar tetap tidak melepaskan pelukannya.
“Lepas gak, atau—” ancam Azzura.
“Atau apa?” sahut Abidzar, suaranya masih berat oleh kantuk, tapi jelas terdengar menantang.
Azzura mendengus kesal. Percuma mengancam Abidzar. Pria itu selalu punya seribu satu cara untuk membalasnya, seperti semalam. Kenangan itu masih terlalu jelas—tentang Abidzar yang berbeda dari yang ia kenal selama puluhan tahun.
Ia tidak pernah tau bahwa teman debatnya yang irit bicara itu menyimpan sisi lain. Sisi yang tenang, meyakinkan, dan tanpa sadar mampu membuat Azzura menyerah. Abidzar yang cuek di luar, ternyata mampu bersikap begitu lembut ketika diperlukan.
“Kok diem?” tanya Abidzar pelan.
Padahal ia sudah siap dengan konsekuensi yang istrinya itu akan berikan. Mungkin mendapat hadiah pukulan, cubitan, atau tatapan tajam dari Azzura. Ia tidak masalah mendapatkan itu asal ia bisa memeluk teman ributnya... Ah bukan, sekarang Azzura sudah sah menjadi istrinya.
Azzura berdecak kesal. "Ck, gak jadi. Lepasin aku, Abid. Aku mau ke kemar mandi. Kamu mau aku ngompol disini?"
Tangan Abidzar masih bertengger di pinggangnya beberapa detik, sebelum akhirnya terdengar tawa kecil dari bibir pria itu.
“Ya sudah,” ucapnya, lalu melepaskan pelukan.
Begitu bebas, Azzura langsung bangkit berdiri. Ia meringis pelan saat rasa tidak nyaman menjalar, membuat langkah pertamanya terasa kaku. Ia pernah mendengar cerita, membaca banyak hal—tentang malam pertama dan segala ketakutannya.
Namun kenyataannya tidak seburuk yang ia bayangkan.
Rasa itu ada, tapi tidak membuatnya panik seperti yang selama ini ia takuti. Azzura menghela napas lega—entah karena keberuntungan, atau karena Abidzar yang ahli sehingga membuatnya tidak terlalu merasakan sakit.
Ia kembali meringis ketika ingatan semalam singgah lagi di kepalanya. Dan kenapa juga ia masih memikirkannya?
“Kenapa? Gak jadi ke kamar mandi?” tanya Abidzar heran, melihat Azzura hanya berdiri tanpa bergerak.
“I-iya, ini mau ke sana,” jawab Azzura cepat.
Dengan langkah sedikit tertatih, Azzura segera berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Abidzar yang menatap punggungnya dengan sorot mata yang sulit diartikan.
Pagi belum datang sepenuhnya, tapi hidup Azzura sudah berubah sejak malam tadi.
***
Azzura menutup pintu kamar mandi pelan, lalu bersandar sesaat di baliknya. Dadanya naik turun, bukan karena lelah, tapi karena pikirannya terlalu penuh untuk pagi yang bahkan belum benar-benar dimulai.
Ia keluar kamar mandi, melirik jam yang berada di dinding. Azzura mendesah pelan ketika masih satu jam lagi waktu Subuh tiba. Yang artinya, ia akan terjebak kembali di kamar bersama Abidzar selama itu.
"Kok lama banget di kamar mandinya? Kamu gapapa kan?"
"Ngapain dia nanya kaya gitu, mau ngeledek aku atau apa sih... Aku bingung kalo deket kamu gimana, Abid. Karena semalam, aku mesti nyiapin mental dulu."
Dengan langkah pelan sambil menarik tepi kaos Abidzar untuk menutupi pahanya yang semalam ia ambil asal dan pakai mengingat ia sendiri tidak mengetahui dimana bajunya berada sebelum tidur. Azzura tidak pernah segugup ini hanya karena di tatap lekat oleh Abidzar.
Biasanya, tatapan Abidzar adalah tantangan.
Tatapan yang selalu ia balas dengan sinis atau ejekan.
Tapi sekarang…
Tatapan itu justru membuatnya gugup.
“Kamu kenapa diam di situ?” Abidzar kembali bersuara. “Ayo sini.”
Azzura tersentak, lalu berhenti di dekat ranjang—cukup dekat untuk berbicara, tapi cukup jauh untuk tidak disentuh.
“Pakai baju dulu, Abid,” katanya cepat. “Sejak kapan kamu suka pamer dada gitu?”
Sudut bibir Abidzar terangkat samar. “Kalau kamu lupa,” ucapnya santai, “kaos aku kan lagi kamu pakai, Zuyaa.”
Azzura yang sadar kemana mata laki-laki itu berada sontak mengambil bantal lalu melemparkannya pada Abidzar. "Heh, mata di jaga ya!"
"Untuk apa? Kamu itu pemandangan halal untuk aku lihat, aku tatap, aku pandangi, Zuya. Sah-sah aja dong."
"Ck, udah sana pakai baju dulu Abiiiiddd."
Namun Abidzar masih tidak juga beranjak dari atas ranjang, membuat Azzura berdecak kesal. Lalu Azzura bangkit, membuka lemari dan mengambil baju Athar.
"Udah aku ambilin, sekarang pake."
"Kalau aku gak mau, gimana?" Balas Abidzar menantang.
Azzura menggeram kesal. "Kamu memang benar-benar menyebalkan, Abid!" Azzura melemparkan kaos itu hingga mengenai dada Abidzar kemudian memilih duduk di tepi ranjang.
Ia menjatuhkan diri duduk di tepi ranjang—tidak naik, tidak bersandar. Jarak itu jelas disengaja.
Sikap defensif itu membuat Abidzar menghela napas pelan.
Tanpa banyak peringatan, ia menarik pinggang Azzura perlahan, mendekatkannya ke tubuhnya. Tidak kasar—justru terlalu mudah.
“Abid!” Azzura terkejut. “Ngapain sih kamu?!”
Abidzar memeluknya dari belakang. Dagu laki-laki itu bertumpu ringan di bahunya. Napasnya menyentuh helai rambut Azzura.
***
"Jadi... sebulan tanpa coklat?"
ckckck mau cari gr"🤭
apa lgi nggak ksh kabar,,,,
maaf kmungkinan coklat kamu nggak mempan ya abidz