NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32 Jarak yang menyakitkan

Sisa jam pelajaran itu dilewati dengan kesunyian yang menyiksa. Mereka memang bekerja dalam satu kelompok, namun jiwa mereka benar-benar berada di tempat yang berbeda. Aluna menulis dengan air mata yang sesekali mengaburkan pandangannya, sementara Brian hanya memberikan coretan-coretan singkat tanpa mau lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Ruangan kelas yang tadinya akrab, kini berubah menjadi medan perang batin yang sangat dingin.

Begitu bel istirahat berbunyi, Brian langsung bangkit seolah baru saja terlepas dari belenggu. Tanpa merapikan bukunya dengan benar, Brian keluar kelas lebih dulu.

"Brian, tunggu!" ucap Bara yang berusaha mengejar langkah sahabatnya itu.

Brian menghentikan langkahnya di depan pintu, namun ia tidak berbalik sepenuhnya. Tatapannya kosong, menembus dinding koridor. "Mau apa lagi? Gue laper mau makan," sahutnya ketus.

Bara mencoba mengatur napasnya, berusaha mencari celah agar hubungan mereka tidak semakin renggang. "Gue ikut,".

Namun, jawaban Brian justru menjadi tamparan keras bagi Bara. "Gak usah, gue gak mau ganggu Lo berdua,".

"Tapi Brian..." kalimat Bara menggantung di udara.

Brian tidak memberi ruang untuk penjelasan apa pun. Ia segera pergi, menghilang di antara kerumunan siswa yang mulai memadati lorong sekolah. Kepergiannya yang begitu cepat meninggalkan luka yang semakin menganga di hati Bara.

Aluna yang sejak tadi memperhatikan dari ambang pintu berjalan mendekati Bara. Ia menyentuh lengan Bara pelan, berusaha meredam emosi yang berkecamuk di antara mereka.

"Sudah Bar, biarin Brian sendiri dulu, mungkin dia butuh waktu buat tenangin dirinya," ujar Luna dengan nada suara yang berusaha tegar, meski matanya masih terlihat sembab.

Bara mengembuskan napas panjang, menatap koridor yang kini kosong tanpa sosok Brian. "Iya, Lun. Yaudah yuk ke kantin," jawab Bara akhirnya dengan pasrah.

"Ayok," sahut Luna lirih.

Mereka berdua pun juga ke kantin. Namun, langkah mereka terasa sangat berat. Mereka tahu, meskipun mereka pergi ke tempat yang sama, suasana meja makan yang biasanya penuh tawa kini telah hilang.

Aroma makanan yang biasanya menggugah selera kini terasa hambar bagi Bara dan Aluna. Begitu mereka sampai di area kantin yang riuh, mata mereka secara otomatis menyisir setiap sudut, mencari sosok yang sangat mereka kenal.

Harapan mereka hancur seketika saat melihat Brian.

Di meja paling pojok, Brian tidak duduk sendirian. Ia justru tampak sedang tertawa keras bersama Dimas dan beberapa anak kelas lain yang biasanya tidak terlalu dekat dengannya. Tawa itu terdengar begitu dipaksakan di telinga Bara dan Aluna, namun cukup untuk menunjukkan bahwa Brian sedang berusaha keras menciptakan dunia baru tanpa mereka.

Bara dan Aluna hanya bisa berdiri terpaku di dekat gerai minuman, menatap pemandangan itu dari jauh. Meja yang biasanya menjadi milik mereka bertiga kini ditempati orang lain, sementara Brian sengaja memilih tempat yang paling jauh dari jangkauan pandangan mereka.

"Dia bener-bener gak mau lihat kita, Lun," bisik Bara dengan suara yang tercekat di tenggorokan.

Aluna tidak menjawab. Ia melihat Brian sempat melirik ke arah mereka selama sedetik, namun dengan cepat membuang muka dan kembali bercanda dengan teman-teman barunya. Sorot mata itu tidak lagi berisi kehangatan, melainkan kebencian yang masih menyala.

Langkah Bara dan Aluna terasa berat saat menyusuri barisan meja kantin yang penuh sesak. Namun, melihat Brian duduk di sana bersama Dimas, ada secercah harapan di hati mereka bahwa mungkin suasana santai kantin bisa sedikit mencairkan suasana.

Dengan perasaan ragu yang sangat besar, mereka akhirnya sampai di depan meja tersebut.

"Brian, kita boleh gabung makan di sini nggak?" tanya Bara.

Mendengar suara itu, tubuh Brian mendadak kaku. Bukannya menjawab atau setidaknya mempersilakan, Brian membuang muka saat Bara mendekat. Ia menatap ke arah lapangan sekolah seolah-olah ada sesuatu yang jauh lebih menarik di sana daripada kehadiran dua sahabat lamanya.

Suasana di meja itu mendadak canggung. Dimas yang berada di antara mereka hanya bisa melirik bergantian dengan tatapan tidak enak. Belum sempat Bara atau Aluna menarik kursi, Brian sudah berdiri lebih dulu.

"Dim, udah yok masuk kelas, gue udah kenyang," ucapnya kepada Dimas tanpa memandang ke arah Bara maupun Aluna sedikit pun.

Dimas yang merasa tidak enak hati mencoba memberikan senyum tipis yang dipaksakan. Ia segera membereskan minumannya dan ikut berdiri.

"Oke, ayok. Bara, kita duluan ya," ujar Dimas sambil menepuk pundak Bara , sebagai tanda pamit.

Brian berjalan pergi begitu saja, melewati bahu Bara tanpa sepatah kata pun. Ia melangkah dengan cepat, meninggalkan nampan makanannya yang bahkan belum habis separuh. Aluna hanya bisa berdiri mematung, menatap punggung Brian yang semakin menjauh.

Setelah kepergian Brian dan Dimas, kantin yang bising itu mendadak terasa senyap di telinga Bara dan Aluna. Mereka akhirnya duduk di salah satu kursi kayu yang kosong, namun makanan di depan mereka sama sekali tidak disentuh. Aluna menunduk, menatap meja dengan pandangan kosong sebelum akhirnya ia bersuara pelan.

"Sepertinya Brian sudah gak mau berteman sama kita lagi ya, Bar," ucap Aluna. Suaranya terdengar sangat rapuh, seolah-olah kenyataan itu adalah hantaman yang paling menyakitkan baginya.

Bara menggeleng pelan, mencoba mencari sisa-sisa harapan meski hatinya sendiri terasa hancur. "Nggak gitu, Lun. Mungkin Brian masih kecewa sama kita," sahut Bara, berusaha menenangkan Aluna sekaligus menghibur dirinya sendiri.

Air mata yang sejak tadi ditahan Aluna akhirnya jatuh juga, membasahi jemarinya yang saling bertautan. "Aku nyesel, Bar. Aku nyesel udah buat Brian kecewa," rintihnya penuh penyesalan.

Bara mengembuskan napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit kantin dengan perasaan yang sama beratnya. "Aku juga, Lun. Tapi ini semua sudah terjadi, jadi kita harus lewati ini semua."

Aluna menghapus air matanya dengan ujung seragam. Ia mencoba menguatkan hatinya, berharap bahwa badai ini akan segera berlalu meski entah kapan. "Iya, Bar. Aku harap suatu saat Brian mengerti semua ini."

Bersambung..........

Jangan lupa like dan beri rating lima ya kakak 😌 🙏

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!