NovelToon NovelToon
Cinta Aluna

Cinta Aluna

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Wiji Yani

Aluna adalah gadis yang nyaris sempurna, pintar, cantik, dan menjadi pusat perhatian di SMA Bina Cendekia . Namun, hatinya hanya terkunci pada satu nama: Bara. Sahabat masa kecilnya yang pendiam, misterius, tapi selalu ada untuknya.
Sayangnya, cinta Aluna tak pernah sampai. Bukan karena Bara tak memiliki rasa yang sama, melainkan karena kehadiran Brian. Brian, cowok populer yang ceria sekaligus sahabat karib Bara, jatuh cinta setengah mati pada Aluna.
Bagi Bara, persahabatan adalah segalanya. Saat Brian meminta bantuannya untuk mendekati Aluna, Bara memilih untuk membunuh perasaannya sendiri. Ia menjauh, bersikap dingin, bahkan menjadi "kurir cinta" demi kebahagiaan Brian. Ia rela menuliskan puisi paling puitis untuk Aluna, meski setiap kata yang ia goreskan adalah luka bagi hatinya sendiri.
Aluna hancur melihat Bara yang terus mendorongnya ke pelukan orang lain. Ia merasa seperti barang yang sedang dioper, tanpa Bara tahu bahwa hanya dialah alasan Aluna tetap bertahan di sekolah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wiji Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18 Tembok tinggi Dimata bara

Pagi itu, sekolah terasa lebih panas, dari biasanya. Langkah kaki Bara terasa berat saat memasuki kelas, namun matanya tak henti mencari sosok gadis yang semalam menutup pintu tepat di depan wajahnya.

Namun, yang ia temukan bukanlah amarah, melainkan sesuatu yang jauh lebih menyakitkan: sebuah kenyataan baru.

Aluna berdiri di dekat loker, tampak sedang berbicara dengan Brian. Wajahnya tenang, terlalu tenang, sampai-sampai Bara tidak bisa lagi membaca apa yang ada di pikiran gadis itu.

Tiba-tiba, Brian melihat Bara. Wajah Brian seketika cerah, sebuah senyum lebar merekah yang bahkan tidak bisa ditutupi oleh sinar matahari pagi.

"Bara!" teriak Brian kencang, suaranya menggema di koridor yang mulai ramai. Ia berlari kecil menghampiri sahabatnya itu dengan langkah ringan, seolah sedang melayang di udara.

Bara berhenti, mencoba mengatur detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. Ia menatap Brian yang kini sudah berdiri di depannya dengan wajah berseri-seri.

"Iya, kenapa Bri? Kok tumben pagi-pagi udah senyum-senyum gitu kenapa? Lo sakit?" tanya Bara, mencoba bercanda meski suaranya terasa hambar.

Brian tertawa lepas, ia menepuk bahu Bara dengan semangat yang meluap. "Bar! Gue sama Aluna sekarang udah resmi jadian! Tadi pas gue tembak Luna lagi, dia jawab mau... Ah, gue seneng banget, Bar!"

Dunia Bara seolah berhenti berputar detik itu juga. Ucapan Brian , terasa seperti hantaman beton tepat di dadanya. Sesak. Ia sempat melirik ke arah Aluna yang masih berdiri di kejauhan. Gadis itu menatapnya, dingin dan tanpa ekspresi, seolah sedang menunjukkan bahwa inilah tembok tinggi yang ia bangun sebagai balasan atas luka semalam.

"Oh... selamat ya, Bri," ucap Bara, "Semoga kalian langgeng."

"Amin! Makasih ya, Bar. Lo emang sahabat terbaik gue. Gue nggak bakal bisa dapetin dia kalau bukan karena dukungan lo juga," seru Brian tanpa tahu bahwa setiap kata yang ia ucapkan adalah belati bagi Bara.

Bara hanya bisa mengangguk pelan. "Iya, sama-sama."

Suasana kelas saat jam istirahat terasa begitu riuh, namun bagi Bara, semua suara itu terdengar seperti dengung yang jauh. Ia duduk di bangkunya, mencoba menenggelamkan diri dalam layar ponsel yang sebenarnya tidak menampilkan apa-apa. Di barisan depan, pemandangan yang paling ia hindari justru terpampang nyata.

Brian dan Aluna duduk berdekatan, terlihat sangat bahagia seolah dunia hanya milik mereka berdua, tanpa sedikit pun memedulikan ada hati yang sedang hancur berkeping-keping di belakang mereka.

"Luna, sini geh," ucap Brian sambil melambaikan tangan, memanggil Aluna agar mendekat ke arah meja yang dipenuhi katalog barang di ponselnya.

Aluna menurut. Ia mendekat, berdiri cukup dekat di samping Brian. "Kenapa, Bri?"

"Luna, lihat deh. Gelang ini bagus ya? Kayaknya cocok deh kalau kita pakai barengan," ujar Brian dengan mata berbinar, menunjukkan sebuah foto gelang couple yang tampak elegan.

Aluna condong ke depan, memperhatikan layar ponsel Brian dengan saksama. "Coba aku lihat," ujarnya lembut.

Setelah memperhatikan detailnya, Aluna sedikit terkejut melihat harganya. "Wah, iya bagus. Tapi Bri, ini mahal banget. Mending kita beli di pasar aja yang murah, yang penting kan barangnya sama."

Brian tertawa kecil, ia menatap Aluna dengan tatapan memuja yang terang-terangan. "Udah, kamu tenang aja. Nanti aku yang bayar. Pokoknya demi pacar aku yang cantik dan baik ini, apapun pasti aku beri," ucapnya mantap, tangannya sesekali mengacak rambut Aluna dengan gemas.

Aluna tidak menolak. Ia hanya tersenyum manis. Sebuah senyum yang dulu hanya milik Bara, kini telah berpindah tangan sepenuhnya.

Bara yang mendengar setiap kata dari obrolan mereka hanya bisa menunduk lebih dalam. Ia berpura-pura sibuk menggeser layar ponselnya, padahal jemarinya terasa kaku. Setiap tawa kecil Aluna dan setiap janji manis Brian terasa seperti jarum yang ditusukkan ke dadanya berkali-kali.

Bel pulang sekolah berbunyi, namun bagi Bara, itu bukanlah tanda kebebasan, melainkan awal dari siksaan yang lebih berat. Di parkiran yang mulai ramai, ia sengaja melambatkan gerakannya saat memakai helm, hanya agar bisa melihat sosok Aluna dari kejauhan.

Namun, pemandangan di depannya justru menghantamnya lebih keras. Brian sudah berada di samping motornya, menunggu Aluna dengan senyum yang tak pernah luntur. Begitu Aluna mendekat, Brian tanpa ragu menggandeng tangan gadis itu dengan sangat mesra.

"Luna, yuk pulang bareng. Nanti aku mau beliin kamu sesuatu," ucap Brian semangat sambil menuntun Aluna menuju motornya.

Aluna mendongak, menatap Brian dengan ekspresi tak enak hati. "Beli apalagi, Brian? Kan tadi kamu udah belikan gelang," sahutnya pelan.

"Iya, tapi kan gelangnya belum datang. Kali ini aku mau beliin kamu boneka yang besar banget, supaya kalau kamu kangen aku, kamu bisa peluk bonekanya," ujar Brian sambil tertawa kecil, nada suaranya begitu tulus dan protektif.

Aluna menghela napas, jemarinya masih bertautan dengan jari Brian. "Aku nggak enak, Bri. Aku nggak mau jadi beban kamu."

"Sshhh... udah ya, kamu harus nurut. Nggak boleh protes, oke?" Brian menaruh jari telunjuknya di depan bibir Aluna, lalu mengerling nakal.

Aluna akhirnya menyerah, ia memberikan senyum tipis yang tampak pasrah namun manis. "Yaudah deh."

Bara yang berdiri hanya beberapa meter dari sana, pura-pura sibuk membenarkan spion motornya. Padahal, tangannya gemetar hebat. Setiap kalimat perhatian dari Brian terasa seperti sembilu yang menyayat luka lamanya yang belum kering.

Brian kemudian naik ke atas motor besarnya dan menyalakan mesin. Setelah Aluna naik ke boncengan, Brian menoleh ke belakang.

"Luna, pegangan. Nanti kamu jatuh," perintah Brian.

Aluna hanya memegang ujung jaket Brian dengan ragu, namun Brian tidak puas. Ia meraih kedua tangan Aluna, menariknya ke depan, hingga sontak tubuh Aluna merapat dan memeluk erat pinggang Brian.

"Nah, kalau begini kan aman," seru Brian sebelum memacu motornya keluar dari gerbang sekolah.

Bara mematung di atas motornya, menatap asap knalpot motor Brian yang perlahan menghilang. Kehangatan yang baru saja ia lihat adalah kehangatan yang dulu pernah ia miliki, namun kini telah ia buang dengan tangannya sendiri. Di bawah terik matahari siang itu, Bara merasa dunianya benar-benar telah runtuh.

Bersambung.......

Jangan lupa like dan beri rating lima ya kakak😌🙏, Terimakasih 💪🥰

1
Dian Fitriana
update
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!