NovelToon NovelToon
Universe Network

Universe Network

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Zombie / Fantasi
Popularitas:999
Nilai: 5
Nama Author: Candra S

Beberapa bulan setelah Leon lulus dari SMA, gurunya menawarkan Leon untuk bekerja di villa sang guru. Setahun setelah itu, Leon berhasil menembus tahap pemurnian qi level satu, dan secara resmi dijadikan murid oleh sang guru. Pada malam peresmian murid, gurunya memberikan sebuah bola hitam misterius kepada Leon. Keesokan harinya, kehidupan Leon mulai berubah secara drastis!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Candra S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelelangan Besar 2

"Atas nama Fin, dengan ini aku menjadikanmu, Leon Gerald, sebagai murid keduaku."

Itu adalah kata-kata yang diucapkan gurunya pada hari Leon secara resmi diangkat menjadi seorang murid. Namun kalimat tersebut selalu membuat Leon penasaran. Nama gurunya adalah Robert. Leon bahkan telah menganggap Robert sebagai guru selama sepuluh tahun. Lalu siapa itu Fin? Apakah gurunya memiliki nama lain yaitu Fin? Atau itu merupakan orang yang dihargai oleh masternya? Atau jangan-jangan.... Itu adalah nama kekasih gurunya?

Plak!!!

Leon menampar wajahnya karena berpikir buruk tentang gurunya.

Sementara Leon sedang berpikir, penawaran mulai melambat.

"Nomor 130 menawar dengan harga 360 miliar, apakah ada yang lain?"

"Ohhh, harga meningkat secara drastis. Nomor 567 menaikkan harga menjadi 400 miliar."

Leon memasukkan angka 40 pada pengali lipatan, langsung menaikkan harga menjadi 400 miliar. Sial, dia bahkan akan menghabiskan uangnya untuk membeli lukisan dengan tanda tangan Fin ini!

"Nomor 130 menaikkannya lagi menjadi 410 miliar... Ohhh, nomor 567 langsung membalas dengan harga 450 miliar."

Di samping Leon, Robenyo merasa penasaran dan bertanya kepada Leon.

"Leon, apakah lukisan itu benar-benar berharga?"

"Tidak juga. Aku hanya penasaran apa yang dimaksud dengan kalimat di kertas yang ditinggalkan oleh pelukisnya."

"Hargai uangmu. Ratusan miliar bukanlah jumlah yang kecil."

"Tentu saja. Tapi bagi seseorang sepertiku, uang hanyalah sebuah alat untuk meningkatkan kekuatan. Mungkin lukisan itu benar-benar dapat meningkatkan kekuatanku seperti yang dituliskan oleh sang pelukis."

"Baiklah jika itu maumu."

Sementara keduanya berbicara, pembawa acara menunjukkan perang harga antara Leon dan peserta nomor 130.

"Nomor 130 menaikkan harga lagi menjadi 505 miliar. Keduanya sudah bersaing sengit selama beberapa waktu. Apakah nomor 567 akan menaikkannya lagi?"

"505 miliar pertama.... Ohhh.... Nomor 567 menaikkannya lagi menjadi 550 miliar."

Layar besar di panggung sudah terbagi menjadi dua bagian. Bagian kiri menyoroti peserta nomor 130, sementara bagian kanan menyoroti Leon, yang bernomor 567. Pembawa acara memiliki layarnya sendiri yang menunjukkan penawaran tertinggi dengan nomor kursi yang menyertainya.

"Itu adalah pria dari sebelumnya!"

Pria yang duduk di kursi nomor 130 terkejut melihat layar besar yang menampilkan Leon. Ternyata, pria itu merupakan orang yang berusaha melecehkan empat gadis di hotel dua hari yang lalu!

Pria tersebut merupakan seorang kultivator yang dianggap mengesankan diantara rekan-rekan seusianya. Ketika dia melihat kalimat yang tertulis di kertas, dia langsung tertarik dengan penyebutan memperoleh kekuatan yang menakjubkan!

"550 miliar pertama.... Apakah peserta nomor 123 ingin melanjutkannya lagi? 550 miliar kedua...."

Pria itu menggertakkan giginya dan menaikkan harga.

"Dan nomor 130 membalasnya lagi dengan harga 560 miliar. Apakah lukisan terkutuk ini benar-benar berharga? Mungkinkah kedua peserta ini menemukan sesuatu yang unik pada lukisan terkutuk ini?"

Pembawa acara jelas-jelas ingin menaikkan harganya lebih lanjut, terutama ingin membuat peserta lain ikut bergabung agar persaingan tidak hanya terjadi diantara keduanya saja.

"Nomor 567 menaikkan harga menjadi 567 miliar. Jelas-jelas dia merasa bosan dengan penawaran yang berlangsung cukup lama ini!"

Semua orang tertawa mendengar lelucon yang dilontarkan pembawa acara itu. Kecuali nomor 130 yang harus menggertakkan giginya lagi untuk menaikkan harga.

"Nomor 130 menambahkannya menjadi 570 miliar."

Karena Leon merasa itu akan terlalu lama jika harganya hanya meningkat secara perlahan-lahan, dia langsung menaikkannya secara drastis.

"Nomor 567 menaikkan harga menjadi 1 triliun! Sungguh kenaikan harga yang fantastis. Benar saja apa yang kukatakan tadi, dia sudah cukup bosan dengan perang harga yang berlangsung lama!"

Pria pada kursi nomor 130 akhirnya menyerah ketika angka yang ditampilkan sudah melebihi anggarannya. Dia hanyalah seorang pemuda berusia 28 tahun. Meskipun dia adalah seorang kultivator, dia tidak hanya menghasilkan uang begitu saja!

Dia hanya menatap lekat-lekat wajah Leon di layar dan menanamkannya ke dalam ingatan.

"1 triliun kedua.... 1 triliun ketiga!!! Lukisan terkutuk jatuh kepada nomor 567!"

Setelah tepuk tangan berakhir, Leon bertanya kepada Robenyo.

"Apakah aku dapat mengambilnya langsung?"

"Kamu dapat mengambilnya di akhir sesi pertama atau setelah sesi kedua nanti malam."

"Baiklah."

Pelelangan terus berjalan selama beberapa saat lagi. Karena sulit untuk menentukan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk setiap barang, pelelangan akan terus berlanjut hingga pukul 5 sore.

"Sebelum sesi pertama lelang berakhir, mari kita simak video berikut ini bersama-sama."

Layar kemudian menampilkan video sebuah rumah kayu rapuh dengan seorang anak kurus yang terlihat kelaparan. Kemudian beralih ke anak kurus itu yang tengah memandangi derasnya hujan dari jendela rumah kayu tersebut.

Video beralih ke berbagai bangunan sekolah di pelosok gunung yang sangat menyedihkan, dilanjutkan dengan kesulitan akses jalan menuju sekolah, termasuk anak-anak yang harus melintasi jembatan rapuh untuk melintasi sungai.

Dan akhirnya, video mulai beralih ke pembongkaran rumah kayu rapuh yang pertama kali ditampilkan, dilanjutkan dengan pembangunan rumah permanen untuk menggantikannya, termasuk anak kurus tadi serta keluarganya yang diberi bantuan oleh pihak penyelenggara lelang. Ini juga dilanjutkan dengan bantuan-bantuan lain untuk berbagai sekolah di pelosok terpencil.

Video itu berlangsung selama kurang dari lima menit. Namun dengan pengambilan video yang baik, itu berhasil menarik rasa kemanusiaan pada setiap orang, termasuk Leon.

"Video tersebut menunjukkan kehidupan menyedihkan yang dialami oleh berbagai orang. Termasuk pelelangan kali ini, kami selalu menyalurkan 1% dari total harga semua barang untuk membantu banyak kehidupan di luar sana, secara khusus untuk anak-anak."

Untuk setiap barang yang terjual, pelelangan akan mengambil 15% bagian dan menyerahkan 85% sisanya kepada orang yang menjual barang. Tentu pajaknya akan ditanggung oleh masing-masing pihak.

"Jika anda juga memiliki niat yang sama seperti kami, silahkan mengangkat tangan. Setelah petugas kami menyerahkan mikrofon, anda dapat memperkenalkan diri terlebih dahulu, atau langsung menyebutkan jumlah donasi yang ingin kalian berikan."

Tentu karena ini berbeda dengan sebelumnya, pihak penyelenggara bersedia memberi waktu bagi para donatur untuk memperkenalkan diri. Setidaknya ini akan menarik minat bagi mereka yang ingin namanya dikenal diantara orang-orang kaya lain di tempat ini.

Beberapa orang mulai mengangkat tangan ketika pembawa acara menyelesaikan kalimatnya. Terdapat 20 petugas yang bergerak untuk menyerahkan mikrofon kepada peserta yang mengangkat tangan.

Pembawa acara kemudian akan menunjuk orang yang duduk di samping kanan petugas yang berdiri, dan mempersilahkan orang tersebut untuk berdiri dan berbicara melalui mikrofon.

"Nama saya Heru, saya akan mendonasikan 500 juta rupiah."

Tepuk tangan bergema setiap kali donatur selesai berbicara. Leon bertanya kepada Robenyo disampingnya.

"Apakah uangnya akan tersalurkan dengan baik?"

"Tentu saja. Sebagai salah satu anggota, aku dapat memastikan hal itu. Pelelangan juga benar-benar memberikan 1% seperti yang disebutkan tadi. Kamu dapat memegang namaku untuk itu."

Karena Robenyo sudah berkata seperti itu, Leon kemudian dapat yakin untuk ikut berdonasi. Ketika salah satu diantara 20 petugas bebas, Leon kemudian mengangkat tangan, dan petugas itu mulai menghampiri Leon.

Leon menunggu cukup lama hingga akhirnya pembawa acara mengulurkan tangan ke arahnya.

"Silahkan bapak di sana. Iya anda pak, anda dapat berdiri dan berbicara."

Karena mereka telah mencatat nomor kursinya, Leon tidak berniat memperkenalkan diri seperti sebagian besar donatur lain.

"Saya akan mendonasikan satu triliun rupiah."

1
Jujun Adnin
ok
Jujun Adnin
yang banyak
Jujun Adnin
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!