Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retakan yang Tersembunyi
Enam bulan telah berlalu sejak insiden yang hampir merenggut nyawa Luna. Pernikahan mereka kini bukan lagi sekadar kontrak di atas kertas; Isaac dan Luna telah menjelma menjadi pasangan paling berpengaruh di dunia arsitektur dan bisnis. Namun, kedamaian yang mereka bangun mulai terusik oleh sebuah rahasia besar yang selama ini disembunyikan oleh Tuan Waren, ayah Isaac.
Pagi itu, Isaac sedang bersiap untuk rapat besar mengenai peresmian hotel yang mereka rancang bersama. Luna berdiri di hadapannya, merapikan dasi Isaac dengan gerakan lembut yang sudah menjadi kebiasaan baru mereka. Di atas nakas, ponsel Isaac tiba-tiba bergetar. Isaac sedang berada di kamar mandi, dan tanpa sengaja mata Luna tertumbuk pada pesan singkat yang menyala di layar.
> “Isaac, pengadilan sudah mengetok palu. Ayah Clara divonis 15 tahun. Tapi dia mengancam akan membongkar keterlibatan ayahmu dalam skema pemindahan dana tiga tahun lalu jika kau tidak membantunya keluar. Kita harus bicara.” — Hendra.
Tangan Luna membeku di kerah kemeja Isaac. Keterlibatan ayahmu? Tiga tahun lalu?
Tepat saat itu, Isaac keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya. Ia langsung menyadari perubahan ekspresi Luna. Dengan gerakan sedikit terlalu kasar, ia menyambar ponselnya dari tangan Luna.
“Luna… kau membaca pesannya?” tanya Isaac, suaranya rendah dan penuh kewaspadaan.
Luna mundur satu langkah. Matanya menatap Isaac, bukan dengan amarah, melainkan kebingungan yang menyakitkan. “Apa maksudnya ini, Isaac? Keterlibatan apa? Dan kenapa Hendra bilang ini alasan Ayahmu mengirimmu ke London tiga tahun lalu?”
Isaac menghela napas panjang, mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Luna, ini urusan bisnis yang rumit. Aku sedang mencoba menyelesaikannya agar tidak berdampak pada kita.”
“Jangan gunakan kalimat itu lagi padaku, Isaac!” seru Luna, suaranya bergetar. “Tiga tahun lalu kau pergi dengan alasan melindungiku dari kekacauan keluargamu. Sekarang kau ingin menyembunyikan sesuatu lagi?”
Ia menelan ludah, dadanya naik turun. “Apa kau tahu artinya ini? Jika ayahmu terlibat kriminal, seluruh reputasi hotel yang kita bangun—semua kerja keras kita—akan hancur!”
“Itu sebabnya aku tidak ingin kau tahu!” Isaac mendekat dan mencoba memegang bahu Luna, namun Luna menepisnya.
“Kau berjanji tidak akan ada rahasia lagi,” ucap Luna dingin. “Tapi ternyata pondasi hubungan kita masih dibangun di atas kebohongan besar.”
Ia menatap Isaac dengan sorot mata yang menusuk. “Jadi, apakah pernikahan ini juga bagian dari cara ayahmu mencuci nama baiknya? Dengan menggunakan keluarga keduaku yang terpandang?”
Pertanyaan itu menghantam Isaac tepat di ulu hati. Ia terdiam, tidak mampu memberikan jawaban instan. Di saat mereka mengira musuh terbesar adalah orang luar seperti Clara, ancaman sesungguhnya justru berasal dari dalam darah mereka sendiri.
Luna menyambar tasnya dan berjalan menuju pintu. “Jangan cari aku hari ini. Aku butuh waktu untuk berpikir—apakah aku mencintai seorang pria jujur, atau hanya pion dalam permainan besar Tuan Waren.”
Pintu kamar terbanting keras. Isaac berdiri mematung, menyadari bahwa bayang-bayang masa lalu ayahnya kini siap menelan kebahagiaan yang baru saja ia genggam.
---
Luna tidak pergi ke kantor. Ia memacu mobilnya menuju sebuah kafe kecil di pinggiran kota—tempat yang dulu sering ia kunjungi saat ingin melarikan diri dari tekanan kuliah. Ia butuh oksigen, butuh ruang untuk mencerna kenyataan bahwa kebahagiaan singkatnya mungkin hanyalah lapisan gula di atas racun yang disiapkan Tuan Waren.
Di sana, ia menghubungi seorang teman lama yang bekerja di biro investigasi finansial. “Cari tahu tentang pemindahan dana Waren Group ke London tiga tahun lalu. Aku butuh data mentahnya, bukan laporan tahunan yang sudah dipoles,” perintah Luna dengan suara dingin dan tegas.
Dua jam kemudian, sebuah dokumen digital masuk ke ponselnya. Mata Luna membelalak.
Catatan itu menunjukkan bahwa kepergian Isaac ke London bukan sekadar ekspansi bisnis, melainkan upaya mencuci dana bermasalah agar lolos dari pengawasan otoritas pajak. Dan yang paling menyakitkan—pernikahan mereka yang dipercepat oleh Tuan Waren digunakan sebagai dalih untuk menggabungkan aset dua keluarga besar, menutup rapat jejak aliran dana tersebut dengan legitimasi sebuah merger keluarga.
“Jadi… aku benar-benar hanya tameng,” bisik Luna pada dirinya sendiri. Air mata kemarahan menetes, membasahi layar ponselnya.
---
Sementara itu, di kantor pusat Waren Group, suasana memanas. Isaac berdiri di depan meja kerja ayahnya. Tuan Waren tampak tenang, menyesap cerutu seolah tidak ada badai yang sedang mendekat.
“Kau membiarkan Hendra mengirim pesan itu saat Luna bersamaku?” desis Isaac, tangannya mengepal di atas meja.
“Tenanglah, Isaac. Ini hanya kerikil kecil,” jawab Tuan Waren santai. “Ayah Clara hanya menggertak. Pernikahanmu dengan Luna sudah menyelamatkan posisi kita.”
“Tidak akan ada yang berani menyentuh Waren Group selama keluarga Luna berdiri di belakang kita.”
“Aku tidak menikahinya untuk menyelamatkan posisimu, Ayah!” teriak Isaac. “Aku menikahinya karena aku mencintainya!”
Tuan Waren menghembuskan asap cerutu perlahan. “Cinta itu bonus. Keamanan finansial adalah fondasi. Sekarang jemput istrimu, ajak dia makan malam, dan pastikan dia tetap diam.”
Nada suaranya mengeras. “Jika berita ini bocor, bukan hanya aku yang hancur. Karier arsitektur Luna yang baru saja bersinar juga akan ikut runtuh.”
Isaac terdiam. Ayahnya tidak sekadar licik—ia menggunakan karier Luna sebagai sandera.
---
Malam harinya, Isaac kembali ke apartemen dengan hati yang remuk. Ruangan itu gelap. Hanya cahaya laptop yang menerangi sosok Luna yang duduk diam di ruang tengah.
“Kau sudah tahu semuanya?” tanya Isaac pelan. Ia bahkan tidak berani melangkah mendekat.
Luna menoleh. Wajahnya sembab, namun tatapannya tajam seperti silet. “Aku bisa memaafkanmu karena meninggalkanku tiga tahun lalu. Aku bisa memaafkanmu karena membiarkan Clara masuk ke hidup kita.”
Ia berdiri, suaranya bergetar oleh amarah yang tertahan. “Tapi aku tidak bisa memaafkan jika kau menjadikanku alat untuk menutupi kejahatan ayahmu.”
Luna mengangkat sebuah koper kecil yang sudah siap di samping sofa. “Aku pergi. Jangan cari aku di kantor. Jangan juga di rumah orang tuaku.”
“Luna, tunggu!” Isaac panik, mencoba menghalangi. “Jika kau pergi sekarang, Ayah akan bertindak nekat. Dia bisa menghancurkan reputasimu dalam semalam!”
Luna berhenti di depan pintu. Ia menatap Isaac dengan kekecewaan yang dalam.
“Biarkan dia melakukannya,” ucapnya lirih namun tegas. “Aku lebih baik kehilangan karierku daripada kehilangan harga diriku dengan terus menjadi istri dari pria yang tidak punya keberanian melawan ayahnya sendiri.”
Pintu tertutup.
Kali ini, Luna pergi bukan karena lelah atau mati rasa—melainkan karena ia memilih untuk berperang dengan caranya sendiri.