NovelToon NovelToon
Istri Kontrak Sang CEO Muda

Istri Kontrak Sang CEO Muda

Status: tamat
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:10.2k
Nilai: 5
Nama Author: Tang Lin

Ariana Dewi, 24 tahun, seorang desainer grafis freelance yang hidupnya berantakan setelah tunangan sekaligus bosnya selingkuh dengan sahabatnya sendiri. Terlilit utang almarhum ayahnya dan hampir kehilangan rumah, ia menerima tawaran gila dari Revano Aldrich, 29 tahun, CEO muda Aldrich Group yang dingin dan penuh misteri.
Tawarannya sederhana: menikah kontrak selama satu tahun.
Revano butuh istri untuk meredam tekanan sang kakek agar tidak menyerahkan kendali perusahaan ke tangan paman yang licik. Ariana butuh uang untuk melunasi utang dan menyelamatkan rumah ibunya.
Tidak ada cinta. Tidak ada perasaan. Hanya kontrak.
Tapi aturan paling ketat sekalipun bisa retak ketika dua orang terpaksa hidup dalam satu atap, menanggung luka yang sama, dan perlahan mulai melihat satu sama lain bukan sebagai rekanan bisnis — melainkan sebagai manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 Pertanyaan Yang Tidak Ada di Kontrak

Aku membuat daftar.

Bukan daftar belanja, bukan daftar resolusi tahun baru yang tidak pernah bertahan lebih dari Februari — daftar pertanyaan. Aku menulisnya malam tadi di notes ponsel setelah gagal tidur untuk ketiga malam berturut-turut, menambahkan poin-poin baru setiap kali terbangun, sampai pukul lima pagi daftarnya sudah ada sebelas item dan aku memutuskan itu cukup mewakili semua yang perlu aku ketahui sebelum membuat keputusan yang tidak bisa aku tarik kembali.

Beberapa pertanyaannya praktis — soal mekanisme teknis kontrak, soal bagaimana situasi dijelaskan ke lingkaran terdekat Revano, soal apa yang terjadi jika salah satu pihak melanggar ketentuan. Beberapa pertanyaan lainnya lebih personal — dan aku sadar itu, tapi tetap menuliskannya karena menurut logika yang masih waras, aku berhak tahu dengan siapa aku akan berpura-pura menikah selama dua belas bulan.

Aku tiba di Aldrich Tower pukul delapan lima puluh satu.

Dua menit lebih awal dari kemarin. Bukan karena aku lebih antusias — lebih karena angkot yang aku naiki ternyata tidak terjebak macet di persimpangan yang biasanya jadi kuburan waktu, dan aku tidak punya alasan rasional untuk berdiri di luar gedung menunggu waktu yang lebih pas.

Resepsionis yang sama menyambutku dengan senyum yang persis sama seperti kemarin. Aku mulai menghargai konsistensinya.

"Lantai dua puluh delapan, Bu."

"Terima kasih."

Kenzo sudah ada di depan lift ketika pintunya terbuka. Pagi ini dia memakai jas biru dongker yang membuat penampilan keseluruhannya terlihat lebih muda dari kemarin — atau mungkin aku baru memperhatikan.

"Selamat pagi, Bu Ariana." Jabat tangan. Profesional. "Pak Revano sudah menunggu."

Sudah menunggu — bukan sedang menyelesaikan panggilan seperti kemarin. Aku mencatat itu.

Ruang pertemuan yang sama. Kopi yang masih mengepul di tempat yang sama. Tapi kali ini tidak ada map abu-abu di atas meja — hanya dua cangkir, dua kursi, dan Revano Aldrich yang sudah duduk dengan laptop terbuka di hadapannya.

Dia menutup laptopnya ketika aku masuk. Langsung — bukan dengan terburu-buru, tapi dengan cara yang mengisyaratkan bahwa apapun yang ada di layarnya sudah selesai atau bisa menunggu.

"Duduk," katanya. Bukan perintah — lebih seperti pernyataan tentang opsi yang tersedia.

Aku duduk. Mengeluarkan ponselku dan meletakkannya di atas meja dengan layar menghadap atas — daftar sebelas pertanyaan terbuka di notes.

Revano melirik ponsel itu sebentar. Sesuatu di sudut matanya bergerak sedikit.

"Kamu membuat daftar," katanya.

"Kebiasaan," jawabku. "Mulai dari yang mana?"

Pertanyaan pertama: siapa saja yang akan tahu tentang sifat asli pernikahan ini.

Revano menjawab tanpa jeda. "Kenzo. Pengacara yang menangani kontrak. Dan sekarang kamu."

"Tidak ada anggota keluarga?"

"Tidak."

"Termasuk kakekmu yang menjadi alasan kontrak ini ada?"

"Terutama kakekku."

Aku memandangnya. "Itu risiko besar. Kalau dia tahu—"

"Dia tidak akan tahu." Dikatakan dengan cara yang tidak memberi ruang untuk elaborasi lebih jauh — bukan arogan, tapi seperti seseorang yang sudah menghitung probabilitasnya dan sudah nyaman dengan angkanya. "Kakekku adalah orang yang tajam, tapi dia menilai berdasarkan apa yang dia lihat. Selama yang dia lihat meyakinkan, dia tidak akan mencari lebih jauh."

"Kamu sangat yakin."

"Aku mengenalnya empat puluh tahun lebih lama dari kamu."

Poin diambil. Aku lanjut.

Pertanyaan kedua: bagaimana situasi ini dijelaskan ke publik — kapan menikahnya, bagaimana kenal, berapa lama pacaran.

"Tim komunikasiku sudah menyiapkan narasi dasar," kata Revano. "Kita bisa sesuaikan dengan detail yang kamu rasa perlu ditambahkan supaya lebih natural."

"Tim komunikasi." Aku mengulanginya. "Jadi ada tim yang dibayar untuk membuat cerita tentang hubungan kita."

"Ada tim yang dibayar untuk memastikan narasi publik konsisten dan tidak menimbulkan pertanyaan yang tidak perlu."

"Itu hal yang sama."

"Framing-nya berbeda."

Aku hampir tersenyum. Hampir. "Aku ingin lihat narasi dasarnya."

"Akan dikirim hari ini kalau kamu setuju untuk lanjut."

"Kalau." Aku mencatat pilihannya. "Baik. Lanjut."

Pertanyaan ketiga: tempat tinggal. Kontrak menyebutkan tempat tinggal yang layak — seberapa spesifik definisi layak.

"Penthouse di Distrik Sudirman," jawabnya. "Empat kamar tidur, dua lantai. Kamu akan menempati kamar di wing kiri — ada kamar mandi dalam, ruang kerja terpisah, akses ke semua fasilitas gedung."

"Kita tinggal di tempat yang sama."

"Kondisi kontrak mengharuskan itu untuk menjaga konsistensi narasi."

"Tapi kamar terpisah."

"Itu sudah tertulis di pasal 4.5."

"Aku tahu sudah tertulis. Aku ingin mendengarnya dikatakan langsung."

Revano menatapku selama dua detik — bukan lama, tapi cukup untuk aku sadar bahwa dia sedang menyesuaikan sesuatu di caranya memproses percakapan ini.

"Kamar terpisah," katanya. "Tidak ada pengecualian untuk itu."

"Baik."

Pertanyaan keempat: bagaimana dengan orang-orang di hidupku. Teman, keluarga — khususnya Mama.

Ini yang pertama kali membuat jawabannya tidak datang dalam tiga detik.

Revano meraih cangkir kopinya. Minum satu teguk. Meletakkannya kembali.

"Kontrak mengharuskan kerahasiaan," katanya akhirnya. "Itu berlaku untuk semua pihak, termasuk keluargamu."

"Artinya Mama tidak boleh tahu."

"Artinya tidak ada yang boleh tahu."

"Mama bukan tidak ada yang — dia ibuku, Revano."

Pertama kalinya aku menyebut namanya tanpa embel-embel formal. Kami sama-sama tidak mengomentari itu.

"Aku mengerti," katanya, dan suaranya untuk pertama kalinya hari ini turun sedikit dari register bisnis yang digunakannya secara default. "Tapi satu kebocoran informasi cukup untuk meruntuhkan keseluruhan situasi. Bukan hanya kontraknya — tapi posisi perusahaan, kepercayaan kakekku, dan semua yang sudah dibangun selama tiga tahun terakhir."

"Aku tidak mempertanyakan logikanya. Aku hanya ingin kamu mengerti bahwa ini bukan hal kecil yang aku setujui begitu saja."

"Aku mengerti," ulangnya. Dan kali ini terdengar seperti dia benar-benar mengerti — bukan mengakui poin dalam argumen, tapi mengakui bahwa ada beratnya.

Perbedaan yang kecil. Tapi aku belajar bahwa perbedaan kecil itu penting, terutama ketika menyangkut orang yang secara default tidak menunjukkan banyak.

Pertanyaan kelima sampai ketujuh selesai relatif cepat — soal mekanisme pelanggaran kontrak dan konsekuensinya, soal bagaimana situasi diakhiri setelah dua belas bulan, soal apakah ada klausul perpanjangan yang bisa diaktifkan sepihak.

Jawaban Revano konsisten: terukur, spesifik, tidak meninggalkan celah ambigu. Pengacaranya jelas orang yang sangat baik pekerjaannya — atau Revano sendiri yang teliti sampai ke tingkat yang tidak wajar.

Mungkin keduanya.

Pertanyaan kedelapan adalah yang pertama membuat suasana ruangan berubah teksturnya.

Aku menatap layar ponselku sebentar sebelum mengatakannya. "Kenapa berakhir dengan Lana?"

Hening.

Bukan hening canggung — lebih seperti hening yang ada karena Revano memilih untuk membiarkannya ada dulu sebelum merespons.

"Itu ada di artikel mana?" tanyanya akhirnya.

"Tidak ada. Kamu tidak punya riwayat hubungan publik yang terdokumentasi — tapi namanya muncul satu kali di kolom sosialita tiga tahun lalu dalam konteks yang cukup untuk disimpulkan." Aku meletakkan ponsel. "Aku melakukan riset juga."

Sesuatu di wajahnya bergerak. Sangat halus — seperti sesuatu yang hampir muncul ke permukaan lalu memutuskan untuk tidak.

"Itu tidak relevan dengan kontrak."

"Mungkin tidak secara legal," kataku. "Tapi kalau aku akan menghabiskan dua belas bulan berpura-pura jadi istrimu di depan orang-orang yang mengenalmu, aku perlu tahu konteks yang cukup supaya tidak salah langkah di tempat yang salah."

Dia tidak menjawab langsung. Memutar cangkir kopinya pelan di atas meja — satu putaran penuh, seperti gerakan tangan yang menggantikan kata-kata yang sedang dipilih.

"Itu situasi yang selesai," katanya akhirnya.

"Aku tidak bertanya apakah selesai. Aku bertanya kenapa."

Jeda lagi. Lebih panjang.

"Karena ekspektasinya dan kapasitasku untuk memenuhinya tidak berada di titik yang sama." Dikatakan dengan nada yang sama ratanya dengan semua kalimat lain yang sudah dia ucapkan hari ini — tapi ada sesuatu di pilihan katanya yang terasa seperti dia sudah pernah memformulasikan kalimat ini, mungkin di kepala, mungkin bertahun-tahun lalu, dan baru sekarang mengatakannya ke luar.

Aku tidak mendorong lebih jauh. Itu cukup — untuk sekarang.

Pertanyaan kesembilan: apa yang dia harapkan dari aku di luar kewajiban kontrak yang sudah tertulis.

Revano mengerutkan dahi sedikit — gerakan wajah pertama yang benar-benar ekspresif yang aku lihat darinya. "Pertanyaannya terlalu luas."

"Sengaja," kataku. "Kontrak bisa ditulis untuk mengatur hal-hal yang bisa diprediksi. Tapi dua belas bulan adalah waktu yang panjang, dan pasti ada situasi yang tidak ter-cover di pasal manapun. Aku ingin tahu apa ekspektasi dasarnya."

Dia memandangku beberapa saat. Lalu — dan ini yang tidak aku antisipasi — dia menyandarkan punggungnya ke kursi, melepaskan sedikit dari postur tegak yang sudah dia pertahankan sejak aku masuk.

Bukan santai. Lebih seperti... menurunkan beban kecil yang tidak dia sadari sedang dibawa.

"Tidak berbohong di luar yang memang harus dibohongi untuk menjaga kontrak," katanya akhirnya. "Tidak membuat situasi lebih rumit dari yang sudah ada. Dan—" dia berhenti sejenak, "—tidak memerlukan lebih dari yang sudah ada di pasal empat."

Kalimat terakhir itu terdengar seperti peringatan yang sudah dia berikan berkali-kali di kepalanya sebelum sampai ke mulutnya.

"Kamu pernah melakukan ini sebelumnya?" tanyaku. "Bukan pernikahan kontrak — tapi hidup serumah dengan seseorang."

"Tidak."

"Aku juga tidak." Aku menarik napas. "Artinya kita berdua akan tidak tahu caranya pada awalnya."

"Kita akan menyesuaikan."

"Kamu sangat yakin dengan kemampuan untuk menyesuaikan diri terhadap hal-hal yang tidak bisa diprediksi."

"Tidak," koreksinya. "Aku yakin bahwa ketidakpastian bisa dikelola dengan ekspektasi yang tepat dari awal."

Aku menatapnya. Pria ini berbicara tentang hidup bersama seperti orang lain berbicara tentang implementasi sistem baru di kantor. Dan yang lebih mengkhawatirkan — ada logika di dalamnya yang susah aku bantah sepenuhnya.

Pertanyaan kesepuluh aku lewati.

Itu yang paling personal yang aku tulis malam tadi — apa yang kamu takuti? — dan ketika sampai di sana, aku memutuskan bahwa itu pertanyaan untuk waktu yang lain, jika waktu itu pernah datang. Beberapa hal perlu dibangun sebelum bisa ditanya.

Pertanyaan kesebelas: apakah dia siap untuk kemungkinan bahwa dua belas bulan tidak berjalan persis seperti yang tertulis di kontrak — dan apa rencananya kalau itu terjadi.

Revano diam lebih lama dari semua jeda sebelumnya.

Di luar jendela, Jakarta pagi terlihat bersih dari ketinggian ini — langit lebih cerah dari kemarin, gedung-gedung berkilau oleh pantulan matahari yang baru naik penuh. Aku menunggu tanpa mengisi keheningannya.

"Tidak ada rencana yang sempurna untuk variabel yang tidak bisa diprediksi," katanya akhirnya. "Yang bisa aku jamin adalah bahwa aku akan menjalankan kewajiban di pihakku sesuai kontrak, dan kalau ada situasi yang keluar dari koridor itu, aku akan mengkomunikasikannya sebelum mengambil keputusan apapun."

"Kamu akan komunikasi dulu."

"Itu yang wajar dalam kemitraan apapun."

Kemitraan. Dia menyebutnya kemitraan.

Aku menyimpan itu di suatu tempat di kepala — bukan sebagai sesuatu yang baik atau buruk, hanya sebagai informasi tentang bagaimana dia memposisikan semua ini dalam kerangka berpikirnya.

"Baik," kataku. Aku mengunci layar ponselku. Daftar sebelas pertanyaan tertutup. "Aku punya satu hal lagi yang bukan pertanyaan."

"Katakan."

"Aku ingin ada mekanisme untuk mengakhiri kontrak lebih awal jika ada kondisi tertentu yang terpenuhi — bukan hanya dari pihakmu, tapi dari pihakku juga. Simetris."

Revano menatapku. "Kondisi apa?"

"Kalau salah satu pihak melanggar prinsip dasar yang membuat kontrak ini bisa berjalan — kejujuran, komunikasi, batas yang sudah disepakati. Bukan soal jadwal atau penampilan publik — itu sudah ada di pasal-pasal yang ada. Tapi kalau fondasi dasarnya dilanggar, aku ingin ada jalan keluar yang tidak memerlukan proses hukum berbulan-bulan."

Kali ini jawabannya datang lebih cepat dari yang aku kira. "Aku akan minta pengacara menambahkan klausul itu hari ini."

Aku berhenti. "Kamu tidak keberatan?"

"Itu permintaan yang wajar."

"Kebanyakan orang akan berargumen bahwa klausul itu membuka risiko—"

"Klausul itu ada untuk kedua pihak," potongnya. "Aku juga butuh jaminan yang sama."

Aku menatapnya. Dia menatapku balik — dengan cara yang sama seperti pertama kali di warung kopi itu, membaca sesuatu, tapi kali ini aku tidak merasa seperti laporan keuangan yang sedang dianalisis. Lebih seperti — dokumen penting yang sedang dibaca dengan hati-hati sebelum ditandatangani.

Mungkin itu analogi yang paling tepat untuk situasi ini.

Aku meletakkan ponselku ke dalam tas.

"Revano."

"Ya."

"Aku perlu kamu menjawab satu hal secara langsung, tanpa diproses dulu jadi kalimat yang terdengar baik." Aku memandangnya. "Apakah ada sesuatu tentang situasi ini — keluargamu, perusahaanmu, apapun — yang kalau aku tahu dari awal, mungkin aku tidak akan setuju untuk lanjut?"

Hening yang paling panjang sepanjang pagi ini.

Revano memutar cangkir kopinya pelan. Sekali. Dua kali.

"Ada kompleksitas di keluargaku yang tidak bisa dijelaskan dalam satu pertemuan," katanya akhirnya. "Ada pihak-pihak yang kepentingannya berlawanan dengan posisiku, dan keberadaanmu sebagai istriku akan membuat beberapa dari mereka tidak senang."

"Artinya aku akan menjadi target juga."

"Artinya ada tekanan yang mungkin kamu terima yang tidak sepenuhnya bisa aku kendalikan meski aku ingin bisa."

Dia mengatakannya dengan sangat hati-hati — tapi justru kehati-hatian itu yang membuat aku mendengarnya lebih keras dari kalimat-kalimatnya yang lain. Ini bukan optimisme yang diperhalus. Ini jujur.

"Terima kasih sudah mengatakannya," kataku pelan.

Dia mengangguk sedikit.

Aku berdiri. Meraih tasku.

"Aku butuh sampai sore untuk memutuskan secara final." Aku menatapnya dari berdiri. "Tapi kamu perlu tahu bahwa daftar sebelas pertanyaan tadi sudah terjawab dengan memuaskan."

Sesuatu di wajah Revano bergerak lagi — lebih jelas dari sebelumnya, meski tetap tidak sampai bisa disebut ekspresi yang mudah dibaca. Seperti seseorang yang baru mendengar berita yang sudah dia perhitungkan dengan probabilitas tinggi, tapi tetap memilih untuk tidak merayakannya sebelum resmi.

"Sore ini," katanya.

"Sore ini," konfirmasiku.

Aku keluar dari ruangan itu, melewati koridor yang sama, masuk lift yang sama, turun ke lobi yang sama.

Tapi sesuatu sudah berbeda dari kemarin ketika aku melakukan perjalanan yang sama.

Kemarin aku keluar dengan map abu-abu di tas dan keputusan yang setengah jadi tanpa aku akui. Hari ini aku keluar dengan tangan kosong dan keputusan yang hampir sepenuhnya jadi — hanya menyisakan beberapa jam untuk memastikan bahwa itu bukan reaksi terhadap tekanan, tapi pilihan yang aku buat dengan kepala yang jernih.

Aku berdiri di trotoar depan Aldrich Tower. Matahari sudah naik penuh, lalu lintas Jakarta sudah mulai menemukan ritme kacaunya, dan angin kering bulan kemarau menggerakkan ujung rambutku ke arah yang tidak konsisten.

Aku membuka notes di ponselku.

Menghapus sebelas pertanyaan yang sudah terjawab.

Dan mengetik satu catatan baru:

Sore ini. Bilang iya atau tidak — tapi putuskan dengan kepala, bukan karena takut.

— Revano —

Kenzo masuk tiga menit setelah Ariana Dewi keluar dari ruangan itu.

Tidak ketuk pintu — mereka sudah lama melewati formalitas itu. Kenzo tahu kapan pintu terbuka dan kapan tidak, dan pagi ini pintunya terbuka.

"Bagaimana?" tanya Kenzo, duduk di kursi yang baru saja ditinggalkan Ariana.

Aku tidak langsung menjawab. Memutar cangkir kopi yang sudah hampir dingin di tanganku dan memikirkan satu hal yang tidak aku antisipasi dari pertemuan pagi ini.

Sebelas pertanyaan. Disiapkan malam sebelumnya, disusun dengan struktur yang jelas, diajukan dengan cara yang tidak meninggalkan celah untuk jawaban yang tidak lengkap. Tidak ada yang bertanya seperti itu kepadaku — setidaknya tidak dalam konteks yang bukan negosiasi bisnis formal.

Dan pertanyaan yang dia lewati — aku melihatnya, nomor sepuluh di daftar di layarnya, tapi dia tidak mengatakannya.

Aku tidak bertanya apa isinya.

Tapi aku ingin tahu.

"Hubungi pengacara," kataku akhirnya. "Tambahkan klausul terminasi dini yang simetris. Kedua pihak punya hak yang sama."

Kenzo mencatat. "Ada yang lain?"

"Narasi publik — kirim draft ke nomornya sore ini. Beri waktu sampai besok untuk direvisi kalau perlu."

"Baik." Kenzo berhenti sebentar. "Pak, apakah ini akan berjalan?"

Pertanyaan yang terlalu luas untuk dijawab dengan ya atau tidak — Kenzo tahu itu, dan dia bertanya bukan karena butuh jawaban pasti, tapi karena dia orang yang membolehkan dirinya bertanya hal-hal yang orang lain tidak tanyakan ke aku.

Itu salah satu alasan dia masih bekerja denganku tujuh tahun.

"Belum tahu," jawabku jujur. "Tapi dia orang yang tepat untuk situasi ini."

"Karena dia memenuhi kriteria?"

Aku meletakkan cangkir kopi.

"Karena dia membuat daftar sebelas pertanyaan, mengajukan semuanya dengan kepala dingin, dan melewati satu tanpa menjelaskan kenapa." Aku berdiri, merapikan jas. "Dan ketika aku mengatakan sesuatu yang tidak nyaman didengar, dia berterima kasih — bukan mundur."

Kenzo menatapku dengan ekspresi yang sudah aku hapal dalam tujuh tahun: ekspresi orang yang mencatat sesuatu yang tidak akan ditulisnya di notulen manapun.

"Hubungi pengacara," ulangku. "Dan pastikan semua siap sebelum sore."

— Selesai Bab 4 —

1
Nina Ninu
terlalu kaku dan bertele tele
Nabilah Putri
💪💪
Wahyu🐊
ok
Ds Phone
ada yang belum puas hati
Ds Phone
nasib baik dia ni ceras d
Ds Phone
tak bolih silap sekit pun
Ds Phone
semua kena ikut aturan
Ds Phone
bermula hidup baru
Ds Phone
semua nya untuk hidup
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!