Demi menyelamatkan keluarganya dari kehancuran, Alya menerima tawaran menjadi istri kontrak Bima, CEO muda paling berpengaruh di kota itu. Pernikahan mereka hanya berlangsung satu tahun — tanpa cinta, tanpa perasaan, tanpa masa depan.
Namun tinggal serumah dengan pria sedingin es yang diam-diam menyimpan luka masa lalu membuat batas antara kontrak dan kenyataan perlahan memudar. Ketika hati mulai terlibat, fitnah dan pengkhianatan justru menghancurkan kepercayaan mereka.
Saat kontrak berakhir, Alya pergi membawa rahasia yang tak pernah Bima duga.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, sang CEO muda harus belajar bahwa kehilangan jauh lebih menyakitkan daripada mencintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tang Lin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 Meja Makan yang Tidak Pernah Hangat
Dan dua hari lagi, mereka akan berdiri berdampingan di hadapan hukum.
Namun sebelum itu, Alya harus melewati ujian pertama.
Makan malam keluarga Wijaya.
Mobil berhenti tepat di depan rumah utama keluarga Wijaya yang berbeda dari mansion tempat Bima tinggal. Rumah ini lebih klasik, megah, dengan pilar tinggi dan halaman luas yang tertata simetris. Bangunan lama yang jelas menyimpan sejarah panjang.
Alya menarik napas pelan sebelum pintu mobil dibukakan.
“Siap?” tanya Bima singkat.
Ia mengenakan setelan hitam formal. Tatapannya tenang, wajahnya sulit dibaca seperti biasa.
Alya mengenakan gaun biru gelap sederhana yang elegan. Rambutnya terurai rapi. Ia tidak berlebihan, tapi cukup untuk terlihat pantas berdiri di sisi CEO Wijaya Group.
“Siap,” jawabnya.
Bima mengulurkan tangannya.
Bukan romantis.
Bukan mesra.
Namun cukup jelas sebagai simbol.
Alya menerima uluran itu.
Begitu mereka melangkah masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju pada mereka.
Ruang makan besar itu dipenuhi aura formal. Meja panjang dengan susunan kursi yang hampir menyerupai rapat direksi, bukan makan malam keluarga.
Seorang pria tua dengan rambut memutih duduk di ujung meja.
Kakek Wijaya.
Tatapannya tajam, meski usianya jelas tak lagi muda.
“Ini dia,” ujar sang kakek pelan.
Bima menuntun Alya mendekat.
“Kek, ini Alya.”
Alya menunduk sopan. “Selamat malam, Pak.”
“Panggil saya Kakek saja, kalau memang berniat menjadi bagian keluarga ini.”
Kalimat itu terdengar netral, namun mengandung bobot yang berat.
Dua pria lain duduk di sisi kanan meja. Salah satunya berkacamata tipis dengan ekspresi penuh perhitungan. Yang lain lebih muda, tapi sorot matanya jelas tidak ramah.
Direksi.
Mereka bukan hanya keluarga.
Mereka penentu arah perusahaan.
“Duduk,” ujar Kakek Wijaya.
Makan malam dimulai.
Percakapan awal terdengar ringan. Tentang perkembangan perusahaan, ekspansi proyek, kondisi pasar.
Alya hanya mendengarkan.
Hingga salah satu pria berkacamata akhirnya berbicara langsung padanya.
“Nona Alya, latar belakang Anda apa?”
“Akuntansi, Pak.”
“Menarik. Jadi Anda paham laporan keuangan?”
“Cukup.”
Pria itu tersenyum tipis. “Semoga juga paham konsekuensi menikah dengan CEO.”
Bima meletakkan sendoknya perlahan.
“Paman Arif.”
Nada suaranya rendah, namun cukup untuk menghentikan percakapan yang mulai mengarah ke sindiran.
“Saya hanya ingin memastikan calon istrimu tidak kaget dengan tekanan yang akan datang,” balas pria itu.
Alya mengangkat wajahnya.
“Saya sudah tahu sebagian tekanan yang akan datang.”
“Sebagian?” pria itu menaikkan alis.
“Ya. Sisanya akan saya pelajari.”
Sunyi sesaat.
Jawaban itu tidak menantang. Tidak defensif. Namun cukup tegas.
Kakek Wijaya memperhatikan Alya lebih lama.
“Kamu tahu kenapa Bima menikah secepat ini?”
Alya menoleh pada pria tua itu.
“Untuk stabilitas perusahaan.”
“Dan kamu tidak keberatan?”
Alya menjawab tanpa ragu. “Saya tahu posisi saya.”
Bima menatapnya sekilas.
Jawaban itu sesuai kontrak.
Namun entah kenapa, ada sesuatu dalam nada Alya yang tidak terdengar seperti pengakuan pasif.
Melainkan keputusan sadar.
Makan malam berlanjut dengan tensi yang masih terasa.
Salah satu direksi lain akhirnya berbicara.
“Pernikahan ini akan diumumkan secara terbatas. Investor utama akan diberi tahu setelah akad selesai. Kami tidak ingin ada kebocoran informasi.”
“Kami?” ulang Bima datar.
“Dewan,” jawab pria itu.
Bima menyandarkan tubuhnya sedikit.
“Saya CEO.”
“Dan Anda tetap bertanggung jawab pada dewan.”
Tatapan mereka beradu.
Alya bisa merasakan gesekan di antara keduanya.
Ini bukan hanya soal pernikahan.
Ini soal kekuasaan.
Kakek Wijaya mengetuk meja dengan sendoknya pelan.
“Cukup.”
Semua langsung diam.
“Pernikahan ini bukan hanya strategi. Ini keputusan keluarga.”
Ia menatap Alya.
“Jika kamu masuk ke keluarga ini, kamu harus kuat. Dunia bisnis tidak mengenal belas kasihan.”
“Saya tidak mencari belas kasihan,” jawab Alya tenang.
Kakek Wijaya tersenyum tipis.
“Bagus.”
Makan malam selesai tidak lama setelah itu.
Saat mereka berjalan keluar menuju mobil, Alya akhirnya berbicara.
“Dewan tidak sepenuhnya percaya padamu.”
“Tidak pernah,” jawab Bima singkat.
“Dan mereka juga tidak percaya padaku.”
“Mereka tidak perlu percaya padamu. Mereka hanya perlu tidak menemukan celah.”
Alya berhenti berjalan.
“Dan jika suatu hari mereka mencoba menjadikanku celah itu?”
Bima menatapnya.
“Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.”
Jawaban itu cepat.
Tanpa perhitungan.
Untuk pertama kalinya, Alya melihat reaksi spontan dari pria itu.
Ia mengangguk pelan.
“Baik.”
Mobil kembali melaju.
Di dalam kabin yang sunyi, Alya menyadari satu hal—
pernikahan ini bukan hanya tentang menyelamatkan rumahnya.
Ini juga tentang perang yang lebih besar.
Dan ia baru saja duduk di garis depan tanpa benar-benar memahami medannya.
Keesokan harinya, suasana mansion lebih sibuk dari biasanya.
Staf keluar masuk. Dekorasi sederhana mulai dipasang untuk acara kecil yang hanya dihadiri keluarga inti dan notaris.
Alya berdiri di depan cermin dengan gaun pengantin tergantung di sampingnya.
Hari ini.
Tidak ada lagi dua hari.
Tidak ada lagi waktu untuk berpikir.
Ketukan terdengar di pintu.
“Masuk,” ujarnya.
Bima berdiri di sana, sudah mengenakan setelan resmi pernikahan.
Hitam. Sempurna. Tegas.
Mereka saling menatap beberapa detik.
“Kau siap?” tanya Bima.
Alya menarik napas panjang.
“Ya.”
Ia meraih gaun itu.
Ketika kain putih itu akhirnya melekat di tubuhnya, segala sesuatu terasa nyata.
Ini bukan lagi dokumen.
Bukan lagi diskusi.
Bukan lagi strategi.
Ini pernikahan.
Dan beberapa menit lagi, ia akan resmi menjadi istri Bima Wijaya.
Bima mengulurkan tangannya sekali lagi.
Kali ini bukan untuk makan malam.
Bukan untuk rapat.
Melainkan untuk berjalan menuju altar kecil yang telah disiapkan di aula mansion.
Alya menatap tangan itu sebentar.
Lalu menggenggamnya.
Hangat.
Lebih hangat dari yang ia bayangkan.
Tanpa banyak kata, mereka berjalan berdampingan.
Pintu aula terbuka.
Notaris sudah menunggu.
Kakek Wijaya duduk di kursi depan.
Beberapa saksi berdiri tenang.
Suasana hening.
Formal.
Serius.
Alya berdiri di samping Bima.
Dan saat prosesi dimulai, ia sadar—
tidak ada jalan kembali setelah ini.
Beberapa menit lagi, statusnya akan berubah selamanya.
Dan hari ini, ia akan menjadi Nyonya Wijaya.
Bukan karena cinta.
Bukan karena takdir.
Tetapi karena pilihan yang ia ambil dengan sadar.
Mobil hitam panjang berhenti sempurna di depan ballroom hotel mewah itu. Karpet merah telah tergelar. Deretan fotografer berdiri di balik pembatas. Kilatan kamera sudah mulai menyala bahkan sebelum pintu mobil terbuka.
Alya menatap pantulan dirinya di kaca mobil.
Gaun putih itu jatuh sempurna mengikuti lekuk tubuhnya. Elegan. Anggun. Tidak berlebihan. Riasannya lembut, membuat wajahnya terlihat dewasa, tenang, dan jauh lebih berkelas daripada hari-hari biasanya di kantor.
Ia hampir tidak mengenali dirinya sendiri.
Pintu di sisi lain terbuka lebih dulu.
Bima turun dengan setelan jas hitam tailored sempurna. Rambutnya disisir rapi ke belakang. Rahangnya tegas. Sorot matanya tenang namun dingin.
CEO termuda di Jakarta.
Dan hari ini, pengantin pria paling dibicarakan.
Ia mengulurkan tangan.
Tanpa senyum.
Tanpa kata-kata manis.
Hanya gestur formal yang tak bisa ditolak.
Alya menarik napas perlahan.
Lalu meletakkan tangannya di telapak tangan pria itu.
Hangat.
Kokoh.
Dan penuh kendali.
Begitu kakinya menginjak karpet merah, suara kamera memekakkan telinga. Wartawan memanggil nama mereka. Pertanyaan bersahutan.
“Pak Bima! Apa benar ini pernikahan kilat?”
“Bu Alya! Bagaimana perasaan Anda menjadi istri CEO Wijaya Group?”
Bima sedikit menarik Alya lebih dekat ke sisinya. Tangannya berpindah ke pinggang Alya. Gestur posesif yang terlihat natural di depan publik.
Alya mengerti.
Peran sudah dimulai.
Ia tersenyum.
Senyum yang sudah ia latih sejak semalam.
Senyum yang cukup hangat untuk kamera, tapi tidak terlalu intim untuk terlihat palsu.
Ballroom dipenuhi elit bisnis, pejabat, dan keluarga besar Wijaya. Lampu kristal berkilauan di atas kepala. Musik klasik mengalun lembut.
Semuanya megah.
Semuanya sempurna.
Semuanya terasa seperti mimpi yang bukan miliknya.
Prosesi berjalan lancar. Ijab kabul diucapkan dengan suara tegas dan tanpa ragu.
Satu kalimat pendek.
Satu tarikan napas.
Dan statusnya berubah.
Tepuk tangan memenuhi ruangan.
Alya resmi menjadi istri Bima Wijaya.
Cincin itu melingkar di jarinya. Dingin pada awalnya. Lalu terasa berat.
Berat karena maknanya.
Berat karena konsekuensinya.
Ketika sesi foto berlangsung, Bima berbisik pelan tanpa mengubah ekspresi wajahnya.
“Kamu melakukannya dengan baik.”
Suara rendah. Profesional.
Bukan pujian seorang suami.
Lebih seperti evaluasi seorang atasan.
Alya tidak tersinggung.
Ia sudah tahu sejak awal, ini bukan kisah romantis.
“Terima kasih,” jawabnya sama tenangnya.
Acara resepsi berlangsung hingga sore. Mereka berdiri berdampingan menyambut tamu. Senyum. Jabat tangan. Formalitas. Ucapan selamat.
Di mata orang lain, mereka terlihat seperti pasangan sempurna.
Serasi.
Berwibawa.
Tak ada yang tahu isi kontrak di balik pernikahan ini.
Tak ada yang tahu batasan yang sudah disepakati.
Malam mulai turun ketika mobil kembali membawa mereka pergi—bukan ke rumah Alya, bukan ke apartemen lamanya.
Melainkan ke rumah utama keluarga Wijaya.
Rumah besar dengan gerbang tinggi dan halaman luas.
Tempat yang kini resmi menjadi alamatnya.
Pintu mobil dibuka oleh staf rumah tangga. Semua berdiri rapi menyambut.
“Selamat datang, Tuan dan Nyonya.”
Kata itu.
Nyonya.
Masih terasa asing di telinganya.
Bima berjalan lebih dulu masuk. Alya mengikutinya.
Interior rumah itu modern dan dingin. Dominasi warna abu-abu dan hitam. Minimalis. Tegas. Sama seperti pemiliknya.
Langkah mereka berhenti di depan tangga besar.
“Kamar kita di lantai dua,” ucap Bima singkat.
Bukan kamar kamu.
Bukan kamar saya.
Kamar kita.
Sesuai kontrak.
Sesuai skenario.
Alya mengangguk.
Tidak ada pembicaraan canggung. Tidak ada adegan romantis khas pengantin baru.
Ketika pintu kamar utama terbuka, ruangan luas itu menyambut dengan aroma kayu dan linen bersih. Satu tempat tidur king size berada di tengah.
Alya berdiri beberapa detik.
Ini nyata.
Bima melepaskan jasnya, menggantungnya rapi.
“Kita tetap pada kesepakatan awal,” katanya tanpa menatapnya. “Privasi tetap dijaga. Tidak ada campur tangan urusan pribadi masing-masing. Di luar kamar ini, kita pasangan suami istri yang harmonis.”
Ia menoleh.
“Di dalam kamar ini, kita dua orang dewasa yang saling menghormati batasan.”
Jelas.
Tegas.
Tanpa celah ambigu.
Alya menatapnya lurus.
“Saya mengerti.”
Tidak ada drama.
Tidak ada harapan berlebihan.
Ia berjalan ke sisi lain tempat tidur, meletakkan buket bunga yang sejak tadi dibawanya.
Hening beberapa detik.
Bukan hening canggung.
Lebih seperti dua orang yang sadar bahwa garis batas telah ditarik.
Bima membuka kancing mansetnya perlahan.
“Kamu boleh menggunakan lemari sisi kiri. Semua sudah disiapkan.”
Efisien seperti biasa.
Alya berjalan ke arah lemari itu. Ketika pintunya dibuka, deretan pakaian baru sudah tergantung rapi. Gaun. Dress kerja. Tas bermerek.
Ia terdiam.
“Ini terlalu banyak,” ucapnya pelan.
“Itu bagian dari peranmu.”
Jawaban sederhana.
Bukan hadiah.
Bukan perhatian personal.
Bagian dari peran.
Alya menyentuh kain halus salah satu dress.
Dalam satu hari, hidupnya berubah drastis.
Dari pegawai biasa menjadi istri CEO.
Dari rumah sederhana menjadi mansion megah.
Dari anonim menjadi sorotan publik.
Ia menarik napas panjang.
Tidak ada jalan mundur.
Ia sudah memilih.
Dan hari ini, ia resmi melangkah masuk sepenuhnya ke dunia Bima Wijaya.
Bima berjalan ke arah balkon, membuka sedikit tirai, menatap kota yang gemerlap di kejauhan.
“Kita akan menghadiri gala perusahaan minggu depan,” katanya tanpa berbalik. “Itu debut resmimu sebagai Nyonya Wijaya di hadapan para pemegang saham.”
Nada suaranya tetap datar.
Bisnis tetap prioritas.
Alya menutup pintu lemari.
“Baik.”
Ia tidak bertanya kenapa secepat itu.
Ia tidak mengeluh.
Karena ia tahu, inilah konsekuensi dari kontrak yang ia tandatangani.
Ia melangkah ke tengah kamar, menatap pria yang kini resmi menjadi suaminya.
Tak ada cinta di antara mereka.
Tak ada janji manis.
Yang ada hanya kesepakatan.
Namun di balik ketenangan wajah Bima, Alya menangkap sesuatu yang samar.
Bukan kelembutan.
Bukan juga kehangatan.
Melainkan beban.
Seolah pernikahan ini bukan hanya solusi bisnis.
Tapi juga tameng dari sesuatu yang lebih besar.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Alya menyadari satu hal—
ia mungkin bukan satu-satunya yang berkorban dalam pernikahan ini.
Lampu kamar diredupkan.
Malam pertama mereka sebagai suami istri dimulai tanpa sentuhan yang dipaksakan, tanpa romantisasi yang palsu.
Hanya dua orang asing yang kini terikat dalam satu nama keluarga.
Alya duduk di tepi tempat tidur, menatap cincin di jarinya sekali lagi.
Hari ini, ia resmi menjadi Nyonya Wijaya.
Dan sejak detik ini—
hidupnya tidak lagi sekadar tentang bertahan.
Melainkan tentang bagaimana ia akan berdiri sejajar dengan pria yang seluruh dunianya dibangun dari kekuasaan dan kendali.
Ia mengangkat wajahnya, menatap pantulan dirinya di cermin besar kamar itu.
Bukan lagi Alya si pegawai biasa.
Bukan lagi wanita yang terdesak keadaan.
Mulai malam ini,
ia adalah istri seorang CEO.
Dan ia tidak akan menjadi bayangan di sampingnya.
Bab 4 selesai dengan status yang jelas:
Alya resmi menjadi Nyonya Wijaya dan tinggal di rumah utama bersama Bima.