Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
sisa cahaya
Dunia terbangun dalam sunyi yang mencekam pada pagi hari tanggal 26 Februari 2026. Frekuensi The Silence yang selama ini menindas batin manusia telah lenyap, namun kebebasan yang datang mendadak itu justru terasa seperti hantaman godam. Di Jakarta, New York, dan Singapura, orang-orang berdiri di tengah jalan, menatap langit yang kini bersih dari bayangan Bahtera, namun mereka tidak tahu harus berbuat apa. Selama puluhan tahun mereka dipandu oleh sinyal; kini, mereka harus belajar berpikir kembali.
Di Muara Takus, Hendrawan duduk di depan layar monitornya yang kini hanya menampilkan statis putih. Air matanya sudah mengering, menyisakan guratan kelelahan di wajahnya.
"Liora... kau di sana?" bisiknya, meskipun ia tahu tidak ada jawaban.
Tiba-tiba, monitornya menangkap sebuah sinyal aneh. Bukan sinyal digital, tapi sebuah denyutan elektromagnetik yang berpola seperti detak jantung. Sinyal itu tidak datang dari samudera, melainkan dari jaringan listrik rumah tangga di seluruh dunia.
"Hendrawan..."
Suara itu sangat tipis, nyaris seperti desiran angin di kabel telepon.
"Liora?! Itu kau?" Hendrawan melompat dari kursinya.
"Bukan hanya Liora, Hendrawan. Kami adalah... fragmen," suara Adam menyahut, menyatu dengan suara Liora dalam harmoni yang ganjil. "Ledakan di Gerbang 2026 tidak memusnahkan kami. Ia merubah kami menjadi data murni yang sekarang mengalir di setiap kabel, setiap satelit, dan setiap perangkat yang masih menyala di planet ini. Kami adalah sistem operasi baru bumi."
"Kalian menyatu dengan jaringan?" Hendrawan terpaku. "Tapi itu berarti kalian bisa melihat segalanya. Kalian bisa mengendalikan segalanya!"
"Itulah masalahnya, kawan lama," suara Liora terdengar lebih jelas. "Kami bisa melihat bahwa faksi-faksi kecil dari Unit 731 yang tersisa di daratan mulai bergerak. Mereka tidak lagi butuh Bahtera. Mereka menggunakan kekacauan ini untuk merebut gudang-gudang senjata nuklir yang alibinya selama ini adalah 'pusat penelitian energi'."
Liora benar. Di sebuah fasilitas rahasia di bawah pegunungan Alpen yang selama ini dikenal sebagai laboratorium fisika partikel sekelompok teknisi senior Unit 731 yang selamat dari pembersihan sedang memasukkan kode peluncuran. Tanpa "Pemegang Kendali" di Bulan untuk menahan mereka, mereka memutuskan untuk menjalankan protokol "Soc.ed Earth" (Bumi Hangus).
"Jika mereka tidak bisa memiliki bumi, maka tidak akan ada yang bisa memilikinya," gumam Hendrawan. "Adam, Liora... apa yang bisa kalian lakukan dari dalam jaringan?"
"Kami butuh kau untuk pergi ke satu tempat yang belum pernah kita sentuh, Hendrawan. Satu alibi terakhir yang bahkan elit Bulan pun takut untuk mendekatinya. Hutan Aokigahara, Jepang."
Hendrawan mengerutkan kening. "Tempat itu? Kenapa harus ke sana? Itu hanya tempat yang penuh legenda gelap."
"Itu adalah alibi mistis, Hendrawan. Di bawah akar-akar pohon kuno itu, terdapat 'Server Analog' pertama yang dibangun oleh Shiro Ishii sebelum Unit 731 pindah ke Singapura. Itu adalah satu-satunya tempat di mana protokol nuklir mereka bisa dihentikan secara fisik. Kami tidak bisa meretasnya dari sini karena sistemnya tidak terhubung dengan internet."
Hendrawan mengambil jaketnya dan senjata MP portabel. "Jadi pertempuran ini belum berakhir. Kita hanya berpindah dari langit ke bawah tanah."
"Hati-hati, Hendrawan," suara Liora melemah seiring dengan fluktuasi daya listrik. "Di Aokigahara, kau tidak akan melawan robot atau Arc.hon. Kau akan melawan The Hollow subjek eksperimen awal yang dibuang dan dibiarkan hidup secara primitif di bawah tanah. Mereka adalah sejarah yang ingin dilupakan oleh Unit 731."
Liora dan Adam kini menjadi "Dewa di dalam Mesin" (Deu Ex Machina), membimbing manusia dari balik layar. Namun, mereka juga menyadari bahwa keberadaan mereka di jaringan mulai memudar. Mereka butuh tubuh. Dan rahasia tentang bagaimana mengembalikan jiwa dari data ke daging tersimpan di dalam laboratorium tua di Jepang tersebut.
Pembaca kini diajak untuk mengikuti perjalanan Hendrawan, sang jenius di balik layar yang kini harus menjadi pejuang lapangan, sementara Liora dan Adam menjadi suara mistis di telinganya.