Di benua Xuanyuan yang luas, di mana kekuatan kultivasi menentukan segalanya, keluarga besar Lin menguasai wilayah Selatan dengan gemilang. Lin Feng, putra sulung dari garis keturunan utama, seharusnya menjadi harapan masa depan keluarga. Namun, saat upacara pembukaan dantian di usia 12 tahun, kebenaran kejam terungkap: dantiannya rusak parah sejak lahir, meridiannya tersumbat, dan qi langit & bumi tak mampu mengalir masuk.
Sejak saat itu, julukan "Tuan Muda Sampah" melekat padanya. Saudara-saudara tiri yang iri, tetua keluarga yang kecewa, serta para pelayan yang dulu merendah kini berani menghinanya secara terang-terangan. Tunangannya yang cantik dari sekte terkemuka membatalkan pertunangan dengan alasan "tak layak", dan ayahnya sendiri, Patriark Lin, hanya bisa menghela nafas sambil menatap sedih anaknya.
Namun, takdirnya mulai berubah ketika Lin Feng mewarisi kekuatan Dewa Api.
Bagaimana kisah Lin Feng? Yuk, ikuti kisahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wang Qiu'er, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Pagi berikutnya, sinar matahari baru menyentuh puncak Gunung Lin ketika Lin Feng melangkah keluar dari paviliun utama. Jubah hitamnya berkibar pelan, aura api merah gelap samar-samar mengelilingi tubuhnya seperti kabut panas. Setiap pelayan yang melihatnya langsung membungkuk dalam-dalam, suara mereka bergetar memanggil “Tuan Muda Lin Feng” bukan lagi dengan ejekan, melainkan dengan ketakutan yang tulus.
Ia berjalan lurus menuju paviliun samping—tempat tinggal Lin Hao dan beberapa saudara tiri lainnya. Berita tentang tiga pembunuh bayaran yang lenyap tanpa jejak semalam sudah menyebar. Tak ada mayat, tak ada darah, hanya abu hitam yang ditemukan pelayan pagi ini di kamar Lin Feng.
Di halaman paviliun samping, Lin Hao sedang duduk di kursi kayu dengan tangan kanannya yang masih dibalut. Wajahnya pucat, mata merah karena kurang tidur. Di sampingnya berdiri Lin Mei, jubah putih sekte Bunga Salju-nya masih melekat, tapi raut wajahnya kini campur aduk—marah, takut, dan ada sedikit… penyesalan yang ia coba sembunyikan.
Belasan pengawal keluarga berdiri mengelilingi mereka, tangan di gagang pedang. Mereka sudah siap.
Lin Hao melihat Lin Feng mendekat. Ia bangkit dengan susah payah, suaranya parau karena amarah dan rasa sakit.
“Lin Feng! Kau berani datang ke sini setelah membunuh orang suruhanku?! Kau pikir kau sudah jadi apa?!”
Lin Feng berhenti sepuluh langkah di depan mereka. Senyum tipis tersungging di bibirnya.
“Aku datang untuk mengambil utangmu, adik. Dua ribu batu roh untuk membunuhku? Itu harga yang murah sekali untuk nyawa Tuan Muda Lin.”
Lin Hao tertawa sinis, tapi tawa itu bergetar. “Kau cuma sampah yang mendapat keberuntungan! Kekuatanmu pasti dari racun atau artefak terlarang! Ayah pasti akan—”
“Patriark sudah tahu,” potong Lin Feng dingin. “Dan dia tidak berani menyentuhku lagi. Sekarang… giliranmu.”
Ia mengangkat tangan kanan.
**Langkah Api Bayangan.**
Tubuh Lin Feng berubah menjadi bayangan api merah samar. Dalam sekejap, ia sudah berada tepat di depan Lin Hao. Tangan kirinya menyambar leher saudara tirinya, mengangkatnya tinggi-tinggi seperti mengangkat anak ayam.
Lin Hao menggeliat, kakinya menendang-nendang. “Lepas… lepaskan aku! Pengawal! Bunuh dia!!”
Pengawal-pengawal itu langsung bergerak. Pedang mereka menyala dengan qi biru, menebas ke arah Lin Feng dari segala sisi.
Lin Feng hanya melirik sekilas.
**Napas Api Jiwa – Area.**
Dari tubuhnya meledak gelombang api merah gelap yang menyebar seperti riak air. Pedang-pedang itu menyentuh api dan langsung meleleh menjadi besi cair yang menetes ke tanah. Pengawal yang paling dekat berteriak saat api menyentuh kulit mereka—bukan terbakar luar, tapi qi mereka langsung tersedot, tubuh mereka mengering dalam hitungan detik, jatuh seperti daun kering.
Dalam lima detik, dua belas pengawal menjadi abu dan tulang kering yang berserakan.
Lin Mei mundur ketakutan, punggungnya menempel di dinding paviliun. “Lin Feng… hentikan! Kau sudah gila!”
Lin Feng menatap Lin Hao yang masih tergantung di tangannya. Wajah adik tirinya sudah biru karena kekurangan udara.
“Kau dulu suka memanggilku sampah. Sekarang… rasakan apa artinya jadi sampah yang tak berguna.”
Api merah gelap merayap dari telapak tangan Lin Feng masuk ke leher Lin Hao. Luka bakar dalam mulai terbentuk, tulang rahangnya berderit, siap meleleh.
Lin Hao menangis. Air mata bercampur ingus. “Kakak… kakak sulung… ampun… aku salah… aku tidak akan lagi… tolong…”
Lin Feng menatapnya dingin. “Terlambat.”
Tapi sebelum api benar-benar membakar habis, sebuah suara menggelegar dari langit.
“BERHENTI!”
Patriark Lin Tianhao turun dari langit dengan jubah hitamnya berkibar. Ia mendarat di antara mereka, aura qi surgawi tingkat tinggi menekan seluruh halaman. Tapi kali ini, tekanan itu terasa lebih lemah di depan Lin Feng.
“Lin Feng… cukup,” kata Lin Tianhao dengan suara berat. “Dia masih saudaramu. Bunuh dia, dan nama keluarga Lin akan hancur karena skandal saudara saling bunuh.”
Lin Feng menatap ayahnya. Api di tangannya masih menyala, tapi ia tidak langsung melepaskan.
“Dia mencoba membunuhku semalam. Apakah itu juga bagian dari ‘nama keluarga’?”
Lin Tianhao menghela napas. “Aku akan hukum dia sendiri. Kau sudah buktikan kekuatanmu. Mulai hari ini, kau adalah pewaris utama keluarga Lin. Tapi… ada masalah yang lebih besar.”
Ia melirik ke langit barat.
Di kejauhan, tiga burung roh berukuran besar mendekat dengan cepat. Di punggung burung-burung itu berdiri puluhan sosok berjubah putih—utusan Sekte Bunga Salju.
Lin Mei membelalak. “Guru… mereka datang lebih cepat dari jadwal!”
Burung roh mendarat di halaman besar paviliun utama. Dari burung paling depan turun seorang wanita paruh baya berjubah putih salju, aura dingin seperti es abadi. Di belakangnya, belasan elder sekte dan… seorang pemuda tampan berpakaian mewah, mata dingin, dantian kelas langit puncak.
Wanita itu adalah Tetua Agung Sekte Bunga Salju—Lin Xue’er, bibi dari Lin Mei.
Matanya langsung tertuju ke Lin Feng.
“Jadi ini dia… mantan calon menantu yang katanya sampah, tapi kini membunuh orang seenaknya dan membatalkan pertunangan dengan cara kasar?”
Suara Lin Xue’er dingin, tapi mengandung kekuatan tekanan es yang membuat udara di sekitar membeku.
Lin Feng melepaskan Lin Hao yang langsung ambruk ke tanah, terbatuk-batuk sambil memegang lehernya yang melepuh. Ia berbalik menghadap utusan sekte.
“Aku tidak membatalkan pertunangan. Lin Mei yang membatalkannya di depan umum karena aku ‘tak berguna’. Sekarang aku datang untuk bilang… pertunangan itu tetap batal. Tapi bukan karena aku tak layak. Karena Sekte Bunga Salju tidak layak lagi menjadi sekutu keluarga Lin.”
Lin Xue’er tersenyum tipis, tapi matanya tajam seperti pisau es.
“Berani sekali. Kau pikir dengan kekuatan baru yang entah dari mana asalnya, kau bisa menghina sekte kami? Hari ini kami datang bukan hanya untuk Lin Mei. Kami mendengar kau memiliki teknik api aneh yang bisa menyerap qi musuh. Sekte kami tertarik… dan jika kau tidak mau menyerahkan rahasianya secara sukarela…”
Ia mengangkat tangan. Belasan elder di belakangnya mengeluarkan pedang es yang menyala dingin.
“…kami akan ambil dengan paksa. Mulai dari mayatmu.”
Lin Feng tertawa kecil. Tawa itu bergema, membuat api di dadanya semakin menyala.
“Bagus. Aku sedang butuh lebih banyak kayu bakar.”
Ia melangkah maju satu langkah. Tungku Api Abadi di dalam dantiannya berputar ganas.
Yan Di Shen Zun di dalam kesadarannya berbisik puas.
“Mulai sekarang, anakku… dunia luar akan tahu nama ‘Lin Feng’ bukan lagi nama sampah. Tapi nama api yang akan membakar segalanya.”
Di halaman yang luas itu, angin pagi berubah menjadi angin panas dan dingin yang bertabrakan.
Konflik besar pertama di luar keluarga… baru saja dimulai.