Selama ini Nana selalu mengalah pada tunangannya, dia bagaikan gadis bodoh yang tidak ingin kehilangan cinta Tris. Sampai Tris mempermalukan Nana di depan orang banyak, karena kejadian itu Nana dihujat di internet. Lalu Nana mulai berubah usai mendapatkan uluran tangan acuh tak acuh dari abangnya Tris, yaitu Aska.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rinnaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kontrak satu tahun.
Restoran yang dipilih Aska terletak di lantai teratas sebuah gedung pencakar langit dengan konsep fine dining yang sangat eksklusif. Hanya ada sepuluh meja di seluruh ruangan, masing-masing dipisahkan oleh jarak yang cukup jauh untuk menjamin privasi mutlak. Pencahayaannya sangat temaram, hanya mengandalkan lampu kristal kecil di tengah meja dan kelap-kelip lampu kota Jakarta yang terhampar luas di balik jendela kaca setinggi langit-langit, menyerupai lautan permata yang tak terjangkau.
Nana duduk di hadapan Aska, merasa sedikit asing dengan suasana ini. Meskipun ia sudah mengenakan blazer terbaiknya, ia tetap merasa kecil di tengah kemewahan yang begitu terorganisir.
Di sisi lain, Aska tampak sangat menyatu dengan atmosfer ini. Pria itu memesan menu tasting tujuh rangkaian tanpa perlu melihat buku menu, menunjukkan betapa seringnya ia berada di lingkungan kelas atas ini. Setiap gerakan Aska, cara ia memegang gelas wine, cara ia memotong daging dengan presisi, adalah pelajaran tentang kelas dan kendali diri.
Selama empat rangkaian makanan pertama, percakapan mereka hanya berkisar pada detail kontrak Richard dan langkah teknis produksi minggu depan. Aska berbicara dengan nada bariton yang stabil, membedah pasal demi pasal seolah mereka masih berada di ruang rapat.
Namun, saat hidangan penutup disajikan, sebuah karya seni cokelat pekat dengan aroma vanila yang manis, Nana merasa keberanian yang ia kumpulkan selama berbulan-bulan mulai mencapai puncaknya. Denyut nadinya terasa hingga ke ujung telinga.
Ia meletakkan sendok peraknya dengan perlahan, menarik napas panjang yang terasa berat di dadanya, dan menatap Aska yang sedang menyesap kopinya dengan tenang.
"Bang," panggil Nana. Suaranya sedikit bergetar, namun ia memaksa matanya untuk tidak beralih.
Aska menurunkan cangkirnya, menatap Nana dengan tatapan yang selalu datar dan sulit dibaca. "Ya? Ada bagian kontrak yang ingin kau tanyakan lagi?"
"Bukan soal kontrak," Nana menjeda, jemarinya meremas serbet kain di bawah meja hingga buku jarinya memutih. "Aku ingin mengakui sesuatu ... dan aku ingin meminta maaf sebelumnya atas ketidaksopananku ini."
Nana mengambil jeda sesaat, mengumpulkan sisa-sisa harga diri yang ia miliki. "Aku menyukaimu, Bang. Secara personal. Bukan hanya sebagai mentor yang kuhormati atau pelindung yang menjagaku."
Hening sejenak. Denting piano sayup-sayup di sudut restoran seolah menjadi satu-satunya suara yang mengisi kekosongan mencekam di antara mereka.
Nana melanjutkan dengan suara yang lebih serak, "Abang adalah orang yang menarikku dari lumpur saat semua orang menginjakku. Abang yang memberiku senjata untuk berdiri kembali dan mengajariku cara menggunakannya. Mustahil bagiku untuk tidak ... 'baper' setelah semua yang Abang lakukan untukku. Aku bukan robot, Bang. Aku hanya wanita biasa yang punya hati."
Nana menunduk, menunggu ledakan kemarahan, tawa mengejek, atau setidaknya raut wajah terkejut yang manusiawi. Namun, saat ia mendongak kembali, ia mendapati wajah Aska tetap biasa-biasa saja. Tidak ada alis yang terangkat kaget, tidak ada binar bingung di matanya. Pria itu tampak seolah-olah baru saja mendengar laporan cuaca yang sudah ia ketahui dari ramalan pagi tadi.
Aska menyandarkan punggungnya ke kursi kulit yang mewah, menyilangkan kaki dengan keanggunan seorang predator. "Sudah selesai?"
Nana tertegun, lidahnya terasa kelu. "Abang ... tidak terkejut sama sekali?"
"Aku tidak bisa mengatur perasaan suka seseorang, Nana. Itu di luar yurisdiksimu, dan tentu saja di luar kendaliku," sahut Aska. Suaranya terdengar sangat logis, namun ada nada kejam yang terselip di setiap intonasinya.
"Tapi ada satu hal yang kau lupakan karena terlalu terbawa perasaan. Secara moral dan etika sosial, ini adalah kekacauan. Tidak etis jika seorang wanita yang statusnya adalah mantan calon adik ipar, tiba-tiba berbalik mengejar abang dari mantan tunangannya sendiri. Kau tahu betapa buruknya narasi itu jika didengar publik, kolega, atau keluarga kami?"
Hati Nana terasa seperti diremas dengan tangan besi. Kalimat "tidak etis" dan sebutan "mantan calon adik ipar" itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan fisik mana pun. Ia tahu itu benar secara logika, tapi mendengarnya langsung dari mulut pria yang ia cintai terasa jauh lebih menyakitkan daripada penghinaan Elli dulu.
"Aku tahu itu sulit, Bang. Aku tahu ini terlihat sangat buruk di mata orang lain," suara Nana mulai serak menahan tangis, namun ia menolak untuk meneteskan air mata di sini. "Tapi aku tidak bisa mematikan perasaan ini begitu saja hanya karena alasan etika yang kau sebutkan. Perasaan ini tumbuh karena kau benar-benar melihatku saat orang lain menutup mata."
Nana mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya yang berkaca-kaca menatap tajam ke arah mata elang Aska yang tak bergeming.
"Karena itu, aku ingin membuat sebuah kesepakatan. Sebuah kontrak emosional jika kau mengizinkannya. Beri aku waktu satu tahun. Selama satu tahun ini, aku akan terus bekerja keras, aku akan terus mengejar langkahmu hingga aku benar-benar sejajar di duniamu. Aku akan berusaha membuatmu melihatku bukan sebagai 'mantan calon adik ipar' atau 'adik perempuan' yang malang, tapi sebagai seorang wanita yang layak kau miliki."
Nana menjeda, mengambil napas dalam-dalam seolah itu adalah napas terakhirnya. "Jika dalam satu tahun Abang masih tidak bisa memandangku dengan cara itu ... maka aku akan menyerah sepenuhnya. Aku tidak akan mengganggumu lagi, aku tidak akan muncul di hadapanmu secara personal, dan aku akan bersikap profesional murni. Bisa atau tidaknya aku melupakanmu nanti, itu urusanku sendiri, tapi aku janji tidak akan pernah menjadi beban emosional bagimu lagi."
Aska tetap diam selama beberapa saat yang terasa seperti keabadian bagi Nana. Ia menatap Nana, memperhatikannya dari ujung rambut hingga cara gadis itu mengepalkan tangannya di atas meja yang bergetar. Nana sedang memberikan sebuah pertaruhan nyawa atas harga dirinya sendiri.
Aska meraih pena kayu ek di saku kemejanya, benda yang selalu ia bawa ke mana pun, dan mengetuk-ngetukkannya di atas meja dengan ritme pelan yang monoton.
"Satu tahun?" tanya Aska singkat, nadanya datar.
"Satu tahun," tegas Nana, suaranya kini kembali stabil.
Aska memberikan seringai tipis yang sulit diartikan, setengah meremehkan, setengah menantang. Ia kemudian memalingkan wajahnya ke arah jendela, menatap gedung-gedung Jakarta yang mulai memudar tertutup kabut malam dan polusi.
"Terserah," jawab Aska pendek, hampir dingin. "Lakukan sesukamu. Aku tidak punya waktu untuk melarang perasaan yang sia-sia. Tapi jangan salahkan aku jika di akhir tahun nanti, kau hanya akan menemukan dinding yang lebih tinggi dan lebih dingin daripada yang kau duga saat ini. Aku bukan pria yang mudah luluh oleh kegigihan emosional."
Aska kemudian berdiri tanpa menunggu reaksi Nana, merapikan jasnya dengan gerakan sempurna, dan memberi isyarat pada pelayan untuk membawakan tagihan. "Ayo pulang. Besok pagi kau punya jadwal revisi naskah jam sembilan kan? Jangan sampai pengakuan dramatis ini mengganggu produktivitasmu. Aku membayar investasiku pada bakatmu, bukan pada drama asmaramu."
Nana mengikuti langkah kaki Aska yang lebar menuju lift dengan perasaan yang benar-benar hancur namun juga lega.
Ia baru saja menyatakan perang pada hati seorang pria yang paling tidak mungkin ditaklukkan di dunia ini. Aska tidak menolaknya secara kasar hingga mengusirnya, tapi dia juga tidak memberinya secercah harapan. Dia membiarkan Nana mencoba, seolah-olah ia sangat yakin bahwa Nana akan gagal dan layu dengan sendirinya sebelum tahun itu berakhir.
Suasana di dalam lift yang meluncur turun dari lantai 56 terasa sangat menyesakkan. Hanya ada mereka berdua di sana. Cermin di sekeliling lift memantulkan dua sosok yang sangat kontras: Aska yang tampak kokoh tak tergoyahkan, dan Nana yang tampak rapuh namun memiliki kilat keras kepala di matanya.
Saat lift berdenting di lantai lobi, Aska berhenti sejenak sebelum pintu terbuka.
"Nana," panggilnya tanpa menoleh.
"Ya, Bang?"
"Jangan pernah berharap aku akan memberikan perlakuan khusus atau kemudahan karena kesepakatan satu tahun ini. Di kantor, kau tetaplah artist yang harus memenuhi target. Di luar kantor, kau tetaplah wanita yang harus tahu batasanmu. Mengerti?"
"Aku mengerti, Bang. Justru karena itu aku menyukaimu. Karena kau tidak pernah membiarkanku merasa lemah," jawab Nana dengan senyum getir yang dipaksakan.
Mereka berjalan menuju area parkir valet. Mobil hitam mewah Aska sudah menunggu. Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada kata yang terucap. Aska fokus pada jalanan dengan kecepatan yang stabil, sementara Nana menatap keluar jendela, melihat trotoar jalanan Jakarta yang dilewati orang-orang kelas bawah, tempat ia dulu berada.
Ia menyadari satu hal: Aska baru saja memberinya izin untuk "mencintai", tapi dia juga baru saja menegaskan bahwa dia tidak akan membalasnya. Jarak antara kursi pengemudi dan kursi penumpang malam itu terasa lebih jauh daripada jarak antara Jakarta dan kutub utara.
Sesampainya di depan apartemen Nana, Aska tidak turun. Ia hanya menekan tombol kunci pintu.
"Turunlah. Istirahat. Jangan biarkan matamu bengkak besok pagi. Itu tidak profesional," ujar Aska dingin.
"Terima kasih untuk makan malamnya, Bang. Dan terima kasih sudah mau mendengar," kata Nana sebelum keluar.
Aska hanya menjawab dengan gumaman pendek dan langsung melesat pergi begitu pintu mobil tertutup. Nana berdiri di pinggir jalan, menatap lampu belakang mobil Aska yang menghilang di kegelapan malam. Ia meremas blazer-nya, merasakan sisa hangat dari pertemuan tadi.
"Satu tahun, Nana," bisiknya pada diri sendiri. "Satu tahun untuk membuktikan bahwa kau bukan lagi sekadar aksesori, tapi wanita yang sanggup berdiri sejajar di sisi Aska."
Nana berjalan masuk ke lobi apartemennya dengan punggung tegak. Ia tidak tahu apakah ia akan menang atau kalah, tapi ia tahu satu hal: ia tidak akan lagi membiarkan dirinya menjadi narasi yang menyedihkan dalam hidup siapa pun.
Bersambung....