NovelToon NovelToon
Yang Selalu Ada

Yang Selalu Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Persahabatan / Mantan
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Silly Girls

Ada orang yang pergi tanpa benar-benar hilang.
Dan ada yang tetap ada, meski seharusnya sudah selesai.

Lala tidak pernah menyangka bahwa kepindahannya ke kantor cabang justru mempertemukannya kembali dengan Brian, seseorang yang dulu ia kenal terlalu baik, dan terlalu ia sayangi.

Bukan pertemuan yang ia rencanakan.
Bukan juga yang ia harapkan.

Namun di tempat asing itu, di antara rutinitas baru dan wajah-wajah baru, masa lalu justru muncul tanpa permisi. Lengkap dengan perasaan yang belum benar-benar mati.

Di sisi lain, ada Rendra. Teman lama yang selalu ada di setiap fase hidupnya. Hadir tanpa janji, tanpa tuntutan, tapi entah sejak kapan keberadaannya terasa berbeda.

Lala terjebak di antara dua hal.
kenangan yang belum usai,
dan kenyamanan yang perlahan tumbuh.
Karena ternyata, tidak semua yang selalu ada memang ditakdirkan untuk pergi.
Dan tidak semua yang kembali, datang untuk tinggal.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silly Girls, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tenang yang Mengganggu

Motor Rendra berhenti di halaman rumah ibunya tepat saat jarum jam menunjuk lewat pukul sepuluh malam.

Lampu teras masih menyala. Seperti biasa ibunya belum tidur.

Ia mematikan mesin, melepas helm, lalu menghela napas pelan sebelum masuk.

“Ren?” suara ibunya terdengar dari ruang tengah.

“baru pulang?”

“Iya, bu,” jawab Rendra sambil melepas sepatu. “Tadi mampir.”

Ibunya menoleh dari sofa, menatapnya sebentar. Tatapan yang terlalu mengenal anaknya sendiri.

“Mampir ke mana?”

“Ke temen.”

Ibunya mengangguk pelan, tapi jelas belum puas.

“Kamu belakangan sering pulang ke sini,” katanya kemudian. “Biasanya kamu betah di rumah sendiri.”

Rendra terdiam sesaat. Ia duduk di kursi makan, meletakkan kunci motor di atas meja.

“Lagi pengen aja, bu.”

Ibunya menatapnya lagi. Kali ini lebih lama.

“Kamu kenapa?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi entah kenapa, dadanya terasa menghangat sekaligus berat.

“Enggak kenapa-kenapa,” jawabnya cepat. Terlalu cepat.

Ibunya tersenyum kecil, seperti tahu tapi memilih tidak memaksa.

“Yaudah. Ibu cuma nanya.”

Rendra bangkit. “Aku ke kamar ya, bu.”

“Iya. Jangan lupa minum air.”

“Iya.”

Di kamar, Rendra menutup pintu perlahan.

Ia duduk di tepi kasur, punggungnya membungkuk sedikit, tangan bertumpu di paha.

Baru sekarang saat sunyi benar-benar datang kata itu kembali muncul di kepalanya.

Nikah.

Bukan dari mulutnya sendiri.

Bukan juga dari orang-orang yang biasa menanyakan.

Tapi dari mama Lala.

Dan lebih dari itu. cara Lala terdiam saat kata itu disebut.

Rendra menyandarkan kepala ke dinding. Ia bukan takut pada pernikahan.

Ia hanya... belum pernah benar-benar membayangkan dirinya di sana.

Lima tahun bersama Shila berakhir tanpa arah.

Janji yang dulu terasa pasti, runtuh tanpa aba-aba.

Dan sekarang

ia berdiri di posisi aneh, berpura-pura dekat, tapi justru mulai terlalu peduli.

Ia teringat caranya menahan Lala tadi. Bukan karena ingin terlihat hebat.

Tapi karena ia tahu. jika Lala berbicara saat itu, jawabannya mungkin bukan yang ia siap dengar.

“Ren... lo ngapain sih?” gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Ini cuma solusi.

Kesepakatan.

Sementara.

Begitu yang terus ia ulang di kepalanya.

Tapi anehnya...

ia ingin melakukannya dengan benar. Bukan main-main. Bukan asal lewat.

Ia meraih ponsel dari saku jaketnya.

Nama Lala masih ada di layar.

Pesan singkatnya tadi kembali terlintas.

Makasih ya tadi.

Rendra menatap layar cukup lama.

Lalu ia mengetik balasan. yang sebenarnya sudah ia kirim, tapi baru sekarang ia pahami artinya.

Istirahat ya.

Ia meletakkan ponsel di samping bantal, merebahkan diri, menatap langit-langit.

Untuk pertama kalinya sejak lama, kata nikah tidak terdengar seperti tuntutan. Tapi juga belum jadi mimpi.

Ia menutup mata. Dan tanpa sadar, wajah Lala muncul di pikirannya.

bukan sebagai “teman”, bukan juga sebagai “pura-pura”. Itu yang membuat dadanya terasa sesak.

Sejak malam itu, sejak Rendra datang ke rumah dan duduk di ruang tamu sebagai seseorang yang diperkenalkan, sesuatu berubah di rumah Lala.

Perubahannya kecil, tapi konsisten. Mamannya jadi sering menyebut nama Rendra di sela-sela obrolan ringan. Kadang saat pagi hari, saat Lala masih setengah mengantuk sambil minum teh.

“la... Rendra kapan main lagi?” tanya mamanya seolah sedang membahas cuaca.

Kadang juga saat akhir pekan, ketika Lala memilih rebahan di sofa sambil menonton ulang acara yang sama.

“Kamu nggak jalan sama Rendra?”

“Biasanya anak muda kalo weekend kan keluar.”

Lala selalu menjawab dengan nada yang sama, singkat, tanpa detail berlebih.

“Lagi sibuk, Mah.”

“Kerjaannya lagi padat.”

“Dia ada urusan kantor.”

Dan, jawaban itu bukan kebohongan.

Beberapa hari ini Rendra memang sedang perjalanan dinas ke luar kota.

Ia sempat bilang singkat, tanpa cerita panjang, hanya memberi kabar bahwa ia akan agak susah dihubungi.

Jadi setiap kali mamanya bertanya, Lala tahu ia tidak sedang mengarang alasan.

Ia hanya memilih versi yang paling aman.

Yang tidak memancing pertanyaan lanjutan. Yang tidak membuka ruang untuk ekspektasi baru. Ia juga sengaja tidak menceritakan semua ini ke Rendra.

Bukan karena tidak percaya. Justru karena terlalu percaya.

Lala tahu, kalau ia bercerita kalau ia bilang mamanya terus bertanya, terus menunggu, terus berharap, Rendra tidak akan tinggal diam.

Ia akan datang. Tanpa diminta. Tanpa banyak pertimbangan.

Dan entah kenapa, pikiran itu membuat dada Lala terasa sesak. Ini semua sudah cukup rumit.

Ia tidak ingin menambah satu lapisan lagi. Di satu sisi, Lala merasa bersalah. Karena membiarkan mamanya berharap.

Karena membiarkan nama Rendra terus disebut seolah sudah punya tempat tetap.

Di sisi lain, ia juga lelah.

Ia hanya ingin hari-harinya berjalan biasa.

Pergi kerja.

Pulang.

Makan.

Tidur.

Tanpa harus menjawab kapan. Tanpa harus menjelaskan kenapa. Malam-malam, saat ia sendirian di kamar, Lala sering menatap layar ponselnya lebih lama dari biasanya.

Nama Rendra ada di sana.

Tapi ia tidak mengetik apa-apa. Ia memilih diam. Karena untuk pertama kalinya, diam terasa lebih aman daripada bicara.

Beberapa hari terakhir, Lala mulai menyadari satu hal kecil.

Ia jadi lebih sering memikirkan Rendra.

Bukan yang membuat jantung berdebar seperti di film-film.

Lebih ke... kehadiran yang tiba-tiba terasa akrab di kepalanya.

Saat ia menunggu lift di kantor, pikirannya sempat melayang ke obrolan receh terakhir mereka.

Saat makan malam sendirian di rumah, ia teringat cara Rendra selalu menghabiskan nasi lebih dulu sebelum lauk.

Bahkan saat sedang menonton acara yang sama sekali tidak menarik, ia mendapati dirinya ingin mengirim chat iseng lalu mengurungkannya.

Lala menyadari itu.

Dan justru karena sadar, ia buru-buru menepisnya.

“Ini cuma karena lagi sering bareng aja,” katanya pada diri sendiri.

“Wajar.”

Rendra itu temannya.

Teman lama.

Teman sejak masa di mana mereka masih sama-sama belum terlalu paham soal hidup.

Teman yang tahu sisi jeleknya yang cerewet, yang keras kepala, yang suka menghilang kalau lagi capek.

Dan ia juga tahu Rendra.

Tahu keras kepalanya.

Tahu sifat cueknya yang sering disalahartikan.

Tahu kebiasaan Rendra menghindari topik serius dengan bercanda.

Mereka terlalu saling tahu untuk disebut sesuatu yang lain. Lagipula, Rendra jelas bukan tipe Lala.

Bukan.

Ia bukan laki-laki yang rapi berlebihan. Bukan yang romantis atau pandai berkata manis. Bukan yang terlihat siap dengan hidup yang tertata.

Rendra itu... berantakan dengan caranya sendiri.

Dan Lala selalu merasa, ia sudah cukup lelah dengan hal-hal yang setengah-setengah.

“Gue cuma nyaman,” gumamnya suatu malam.

“Bukan apa-apa.”

Nyaman karena tidak perlu berpura-pura.

Nyaman karena tidak perlu menjelaskan diri.

Nyaman karena tidak ada tuntutan.

Dan kenyamanan, menurut Lala, sering disalahartikan.

Ia tidak ingin salah paham dengan perasaannya sendiri. Tidak ingin mengulang cerita lama yang terlalu cepat berharap, lalu terlalu lama menyembuhkan.

Bahwa ini hanya fase.

Bahwa ini hanya efek sering bersama.

Bahwa Rendra tetap Rendra teman.

Tidak lebih.

Walaupun...

Ada satu bagian kecil di dadanya yang mulai sulit diajak sepakat.

Pada hari itu, Lala yang baru sampai rumahnya sepulang kerja dikagetkan karena mendapati motor Rendra terparkir di halaman rumahnya.

“Loh ren, ko disini” ucap Lala saat sudah sampai di ruang tengah. Benar saja ia melihat Rendra sedang mengobrol santai dengan mamanya

Kedua orang yang sedang mengobrol itu menoleh secara bersamaan

“Eh la udah pulang, iya ini mampir dari rumah ibu gue sekalian bawa oleh-oleh.” Ucap re Drs

Lalu Lala ikut duduk di sofa.

“Lo kapan pulang” tanya Lala, karena ia pun baru tahu kalau Rendra sudah pulang dari perjalanan dinasnya

“Yauda deh ini tinggak ya ren, kamu ngobrol sama Lala” ucap ibu Lala lalu leminggalkan mereka dan pergi ke kamarnya.

“Kok ga bilang-bilang kalo kesini” ucap Lala lagi

“Kenapa gak boleh kah?” Jawab rendra tanpa menjawab pertanyaan Lala.

“Ya bukan gak boleh. Lo di tanya macem-macem ga sama mamah” selidik Lala

“Ngga ko aman aja” ucap Rendra

“Lo apa kabar” tanya rendra, karena kesibukannya mereka jarang berkomunikasi hampir 2 Minggu lamanya mereka hanya bertukar kabar singkat melalau chat.

“Gue baik, Lo sehat kan.” Tanya Lala balik

“Hahaha sehat ko gue”.

1
malamlarut
duuh laki-laki tu ya emang demam dikit udah lebay
falea sezi
rumah tangga macam apa ini mereka ini g bs move on dr mantan apa gimana hadeh
kyle
waah tambah seruu😍
La Viola
ceritanya reuni bertemu mantan ? duh, bikin susah move on gak sih? 😍

semangat kak... salam dari Edelweiss...
kyle
baguss sekali
Anggrekbulan: terimakasih kak
total 1 replies
malamlarut
ayo kak up lagii
Anggrekbulan: ditunggu yaaa
total 1 replies
malamlarut
update lagi ka
Anggrekbulan: siyaaap staytune yaa
total 1 replies
malamlarut
teman apa teman nih la🤭🤭🤭🤭
malamlarut
baru awal udah seru
malamlarut
coba dibaca aja langsung
babygurls
sukak banget, buat yang kejebak friendzone cocok deh
Anggrekbulan: yakaan, yuk ajak temen-temennya buat baca karyaku
total 1 replies
babygurls
ayo kak up lagie😄
Anggrekbulan: okaaai ditunggu yah🤭
total 1 replies
Anggrekbulan
👍
Anggrekbulan
terimakasih sudah membaca😄
sunrise
ditunggu update bab selanjutnya😍
Anggrekbulan: hihihi siyaap🙏
total 1 replies
sunrise
bagus alur ceritanya, jarang menemukan yang seperti ini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!