Hazel Bellvania Cavanaugh adalah definisi kesetiaan yang naif. Ia mencintai James Patrick, seorang atlet sekolah yang karismatik namun manipulatif.
Hubungan mereka aneh—tanpa ciuman, tanpa sentuhan intim, karena James berjanji ingin "menjaga" Hazel hingga pernikahan. Namun, di balik topeng itu, James adalah predator yang memanfaatkan jari-jarinya untuk memuaskan hampir seluruh siswi di SMA mereka.
Kebohongan James terkubur rapat di bawah bayang-bayang geng paling berkuasa di sekolah yang dipimpin oleh Kenneth Karl Graciano. Kenneth yang dingin dan tak tersentuh mengetahui rahasia busuk James, namun ia diam. Bukan karena setia kawan, melainkan karena ia sedang menunggu saat yang tepat untuk meruntuhkan segalanya dan mengambil apa yang menurutnya pantas ia miliki, Hazel Bellvania Cavanaugh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dua Puluh Satu
Kenneth merasakan sesak yang luar biasa di dadanya. Waktunya sangat sempit; ia bisa mendengar deru mesin mobil Arthur yang semakin meninggi, siap untuk membawa pergi dunianya sekali lagi.
Ia menatap Kenzo, putra kecilnya yang berdiri dengan angkuh namun memiliki tatapan yang haus akan sosok pelindung. Kenneth tahu, ia tidak bisa memaksa Hazel keluar sekarang tanpa membuat keributan di depan anak-anak ini.
Dengan tangan gemetar, Kenneth melepas jam tangan Patek Philippe miliknya—benda berharga yang selalu ia pakai sebagai pengingat waktu-waktu yang hilang tanpa Hazel. Ia meraih tangan mungil Kenzo dan meletakkan jam tangan itu di telapak tangannya.
"Berikan ini pada Ibumu," bisik Kenneth, suaranya parau dan berat oleh emosi.
Kenzo mengerutkan kening, menatap jam tangan yang terasa berat di tangannya. "Kenapa?"
Kenneth menatap mata Kenzo dalam-dalam, lalu beralih ke Zella yang menatapnya dengan rasa ingin tahu yang polos. Kenneth mengusap kepala Zella dengan lembut sebelum kembali menatap putra laki-lakinya.
"Katakan padanya... 'Hutang belum lunas'," desis Kenneth. "Katakan padanya bahwa tujuh tahun tidak cukup untuk membayar apa yang sudah dia curi dariku. Dan katakan padanya... aku tidak akan berhenti sampai aku mengambil kembali semua miliku."
Kenzo terdiam, seolah mencerna kata-kata berat itu dengan kedewasaan yang melampaui usianya. Ia mengangguk pelan, lalu menggandeng tangan Zella dan berlari menuju mobil sedan hitam yang sudah mulai bergerak.
Di dalam mobil, pintu terbuka dan kedua anak itu melompat masuk. Begitu pintu tertutup, Arthur langsung menginjak gas, meninggalkan area parkir dengan kecepatan tinggi.
Hazel segera memeluk kedua anaknya, menciumi puncak kepala mereka dengan isak tangis yang tertahan. "Kalian tidak apa-apa? Apa yang dia katakan?"
Kenzo melepaskan pelukan ibunya dan menyerahkan jam tangan mewah milik Kenneth. "Dia titip ini untuk Mommy."
Hazel menerima jam tangan itu. Logamnya masih terasa hangat—hangat dari suhu tubuh Kenneth. Saat ia mendengar Kenzo mengulangi pesan ayahnya, tubuh Hazel seketika menegang.
"Hutang belum lunas..."
Hazel memejamkan mata, memeluk jam tangan itu di dadanya. Ia tahu persis apa maksudnya. Itu bukan ancaman dendam seperti tujuh tahun lalu. Itu adalah janji pengejaran. Kenneth tidak akan lagi menggunakan cara kotor; pria itu akan memburunya dengan seluruh cinta dan obsesi yang sempat tertunda.
Di parkiran yang sunyi, Kenneth berdiri mematung menatap sisa lampu belakang mobil Arthur yang menghilang di kegelapan malam. Ia merogoh ponselnya, menekan satu nomor yang selama tujuh tahun ini ia biarkan non-aktif.
"Aiden," ucap Kenneth saat panggilan tersambung. Suaranya kini terdengar penuh vitalitas, tidak lagi dingin dan kosong. "Batalkan semua rapatku untuk satu bulan ke depan."
"Ken? Apa yang terjadi? Kau terdengar... berbeda," tanya Aiden bingung.
Kenneth menyunggingkan senyum tipis yang sangat gelap sekaligus penuh tekad. Matanya berkilat menantang malam.
"Buruanku sudah muncul, Aiden. Dan kali ini, aku tidak akan membiarkan kakak atau siapapun menghalangi jalanku. Siapkan jet pribadi. Kita ke Swiss besok pagi."
Langkah Hazel kali ini benar-benar di luar dugaan. Alih-alih melarikan diri kembali ke Swiss, ia justru meminta Arthur untuk mengantarnya ke apartemen Kenneth. Ia tahu, jika mereka terus berlari, lingkaran setan ini tidak akan pernah usai. Anak-anak mereka berhak tahu siapa ayah mereka, dan Kenneth berhak mendapatkan jawaban atas tujuh tahun kesepiannya.
Di Depan Apartemen Kenneth...
Pintu lift terbuka. Kenneth yang baru saja hendak melangkah keluar dengan koper di tangannya, langsung mematung. Di depan pintunya, berdiri Hazel dengan balutan coat krem yang elegan, menggandeng Kenzo dan Zella di kedua sisinya.
Keheningan menyelimuti lorong itu selama beberapa detik. Dunia seolah berhenti berputar.
"Hazel..." suara Kenneth tercekat. Koper di tangannya terlepas begitu saja ke lantai.
Hazel menatap Kenneth dengan mata yang berkaca-kaca. "Kau bilang hutang kita belum lunas, Ken? Aku datang untuk membayarnya. Bukan dengan dendam, tapi dengan mereka."
Tanpa aba-aba, pertahanan Kenneth yang ia bangun selama tujuh tahun runtuh seketika. Pria yang dikenal sebagai iblis Queenstown yang berdarah dingin dan tak tersentuh itu, tiba-tiba limbung. Ia jatuh berlutut di depan Hazel.
Kenneth merengkuh pinggang Hazel, menyembunyikan wajahnya di perut gadis itu, dan tangisnya pecah. Isak tangis yang begitu memilukan, seolah melepaskan semua beban, rasa bersalah, dan kerinduan yang selama ini membatu di dadanya.
"Maafkan aku... Hazel, maafkan aku," isak Kenneth parau. Suaranya bergetar hebat. "Aku monster... aku menghancurkan mu... aku menyia-nyiakan tujuh tahun melihat mereka tumbuh..."
Hazel ikut berlutut, memeluk kepala Kenneth dan membiarkan air matanya jatuh membasahi rambut pria itu. "Ssttt... sudah, Ken. Sudah."
Zella yang melihat ayahnya menangis, mendekat dengan ragu lalu mengusap bahu Kenneth dengan tangan mungilnya. "Tuan Ayah, jangan menangis. Zella sudah di sini."
Mendengar sebutan "Tuan Ayah", tangis Kenneth semakin menjadi. Ia menarik kedua anak itu ke dalam pelukannya bersama Hazel. Di lorong apartemen yang dingin itu, untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun, Kenneth Graciano melepaskan topeng keangkuhannya. Ia bukan lagi penguasa yang ditakuti, ia hanyalah seorang pria, seorang suami, dan seorang ayah yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Malam itu di dalam apartemen...
Suasana menjadi sangat hangat. Kenzo dan Zella tertidur pulas di kamar utama milik Kenneth setelah kelelahan bermain. Kenneth dan Hazel duduk di sofa ruang tamu, hanya ditemani cahaya lampu kota yang masuk melalui dinding kaca.
Kenneth menggenggam tangan Hazel, seolah takut jika ia melepaskannya sedikit saja, Hazel akan menghilang lagi seperti mimpi.
"Aku akan melepaskan segalanya, Hazel," bisik Kenneth serius. "Dendam itu, kebencian pada Arthur... semuanya sudah mati. Aku hanya ingin kita."
"Arthur sudah tahu kita di sini," ucap Hazel pelan. "Dia memberiku waktu satu malam sebelum dia menjemput ku untuk ke Swiss."
Kenneth menatap mata Hazel dengan intensitas yang berbeda dari tujuh tahun lalu. "Kalau begitu, jangan biarkan dia menjemputmu. Biarkan aku yang menghadapi Arthur besok pagi. Bukan sebagai musuh, tapi sebagai pria yang memohon untuk menikahi adiknya."
🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰😍🥰
terimakasih
ceritanya bagus