Mutiara mengira kalau dikhianati oleh kekasihnya adalah hal yang terburuk di dalam hidupnya, musibah yang akan membuat di hidupnya terpuruk. Namun, ternyata hal itu merupakan berkah di dalam hidupnya.
"Kenapa kamu tega, Fajar? Kenapa aku hanya dijadikan lelucon saja di dalam hubungan kita ini?"
Bagaimana kehidupan Mutiara selanjutnya?
Kuy baca, jangan lupa kasih komen yang baik jika suka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cucu@suliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DMNB 4
"Hati-hati. Kamu terlalu mabuk untuk berjalan sendirian, Nona."
Mutiara mendongak dengan mata sayu yang basah. Di depannya berdiri seorang pria asing dengan tatapan tajam, tapi teduh. Pria itu mengenakan setelan gelap yang tampak jauh lebih mahal dari milik Fajar.
Mutiara mengedip-ngedipkan matanya sambil mengerutkan dahinya, dia berusaha untuk melihat dengan jelas pria yang saat ini ada di hadapannya.
"Tampan, anda sangat tampan. Tapi tua," ujar Mutiara sambil tertawa.
Dikatakan pria tua, tentu saja pria itu terlihat tersinggung. Dia menatap Mutiara dengan tajam, bahkan tanpa sadar pria itu mencengkram pergelangan tangan Mutiara dengan kencang.
Mutiara merasa kesakitan dengan apa yang dilakukan oleh pria itu, dia bahkan meringis sambil berusaha untuk melepaskan diri dari pria tampan tapi terlihat tua itu.
"Lepaskan! Semua laki-laki itu sama. Hanya penipu!"
Pria itu tidak melepaskannya, justru menatap Mutiara dengan ketertarikan yang tidak biasa. Padahal awalnya pria itu terlihat begitu kesal kepada Mutiara.
Namun, melihat tingkah Mutiara dan mendengar ucapan wanita itu, pria yang dikatakan tua oleh Mutiara itu mulai tertarik kepada wanita yang sedang mabuk tersebut.
"Lepaskan, Om!" teriak Mutiara lagi.
Pria asing itu melepaskan cengkeramannya, tetapi hal itu tidak bisa membuat mutiara lepas dari pria itu begitu saja. Karena pria itu justru menarik pinggang Mutiara agar lebih dekat.
Agar wanita itu tidak jatuh tersungkur, karena ketika dia melepaskan cengkeraman tangannya, wanita itu tetap saja berjalan sempoyongan dan hampir jatuh.
Kini tubuh mereka saling menempel. Aroma parfum mahal dan maskulin menyeruak ke dalam hidungnya, sangat berbeda dengan aroma parfum milik Fajar yang biasa ia hirup.
"Menyebut semua pria penipu tidak akan mengubah fakta bahwa kamu hampir mencium lantai kafe ini, Nona."
Mutiara mencoba memfokuskan pandangannya yang buram. Pria di depannya memiliki garis rahang yang tegas, hidungnya yang mancung dan sepasang mata yang seolah bisa membaca luka di hatinya.
Mutiara tertawa getir. "Lantai jauh lebih jujur daripada janji manis. Lantai tidak akan berpura-pura mencintaimu hanya untuk memanfaatkan otakmu."
Pria itu terdiam sejenak. Ia adalah Arkan, pria itu memperhatikan sorot mata Mutiara saat menatap dirinya, penuh luka. Dia menjadi iba dan juga tentunya lebih tertarik dengan wanita itu.
"Jadi, kamu baru saja sadar kalau kamu hanya dijadikan pion dalam papan catur seseorang?"
"Pion? Tidak, aku hanya sampah yang dia buang setelah perusahaannya sukses. Dia ingin istri yang 'setara', yang 'kaya'. Lucu, bukan?"
Mutiara berusaha melepaskan diri dari pria itu. Bahkan dia berusaha untuk kembali meraih gelasnya yang masih tersisa sedikit cairan alkohol, tetapi tangan Arkan menahannya.
"Berhenti minum. Cairan ini tidak akan membuat pria brengsek itu menyesal. Tapi jika kau berdiri tegak dan menghancurkan apa yang dia banggakan, itu baru namanya keadilan."
Mutiara menatap Arkan dengan dahi berkerut, mencoba mencerna ucapan pria itu di tengah rasa peningnya.
"Siapa kau? Kenapa ikut campur?"
"Anggap saja aku orang yang sangat membenci ketidakadilan."
"Cih! Membenci ketidakadilan ya? Kalau begitu ayo cepat kamu ikut aku ke dalam ruangan itu, lalu kamu hajar orang yang ada di dalam sana. "
Mutiara menujuk ke sembarang arah, mana Arkan tahu ruangan mana yang dimaksud oleh Mutiara. Dia juga tidak tahu orang mana yang harus dihajar.
"Kamu itu terlalu mabuk, lebih baik kamu aku antar pulang saja. Di mana rumah kamu?"
"Rumah ya? Di mana ya rumah aku? Aku lupa, aku tidak ingat." Mutiar
Mutiara menggelengkan kepalanya sambil memonyongkan bibirnya, lucu sekali tingkah wanita itu. Arkan sampai tidak sadar mengulurkan tangannya untuk mengusap bibir Mutiara.
Mutiara tertawa mendapat perlakuan seperti itu dari Arkan, wanita yang sedang mabuk berat itu bahkan menelusupkan tangannya pada kemeja yang dipakai oleh Arkan. Dia mengelus perut pria itu dengan begitu perlahan.
"Otot perut kamu bagus banget, Om. Kokoh banget, kekar."
Arkan sampai menahan napas mendapat perlakuan seperti itu dari Mutiara, lalu dia menarik tangan Mutiara. Namun, tangan wanita itu malah menelusup masuk ke dalam celana yang dipakai oleh pria itu.
Arkan sampai melotot dibuatnya, karena tangan Mungil itu menyentuh miliknya. Tidak ingin terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan, Arkan cepat-cepat menarik tangan itu dan mengunci pergerakan tangan Mutiara.
"Cepat katakan di mana rumah kamu! Aku akan mengantarkan kamu, jangan terus seperti ini. Aku ini merupakan pria yang normal. Jangan sampai aku melakukan sesuatu hal yang di luar prediksi kamu. "
Mutiara yang mabuk tidak ingat di mana alamat rumahnya, dia berusaha untuk melepaskan diri. Namun, setelah lepas dia malah memeluk pria itu sambil menyadarkan kepalanya di dada bidang pria tersebut.
"Bawa aku ke mana aja, Om. Aku iklas, diapain juga mau."
Tangan wanita itu begitu nakal, ternyata benar sekali, yang namanya mabuk itu benar-benar hilang akal. Mutiara sudah seperti bukan dirinya, melakukan hal-hal yang tidak baik kepada pria itu.
Dia terus menyentuh dan mengusap area terlarang milik Arkan, pria itu lama-lama tidak tahan. Dia langsung mencengkeram leher Mutiara dan mendekatkan bibirnya pada cuping telinga wanita itu.
"Dari tadi kamu terus menggoda aku, jangan salahkan aku jika setelah ini kita akan berakhir di atas ranjang."
"Justru aku memang mau berakhir di atas ranjang. Ayo Om, cepat bawa aku ke kamar. Aku sudah lelah dan mengantuk. Aku ingin tidur, Om. Ayo buruan, Om. Aku tidak tahan."
"Aku harap setelah kamu sadar nanti, kamu masih ingat dengan apa yang kamu katakan. Jangan salahkan aku jika aku benar-benar menjadikan kisah kita berdua ini berakhir di atas ranjang."
Arkan langsung menggendong Mutiara, lalu pria itu membawa Mutiara keluar dari kafe tersebut menuju hotel yang berada tepat di samping kafe tersebut.
Dia memesan satu kamar dan setelah dia masuk ke dalam kamar itu, tanpa ragu Arkan langsung menghempaskan tubuh wanita itu ke atas tempat tidur.
"Aduh! Sakit, Om," jerit Mutiara.