Greta Hildegard adalah bayangan yang memudar di sudut kelas. Gadis pendiam dengan nama puitis yang menjadi sasaran empuk perundungan tanpa ampun. Baginya, SMA bukan masa muda yang indah, melainkan medan tempur di mana ia selalu kalah. Luka-luka itu tidak pernah sembuh, mereka hanya bersembunyi di balik waktu.
namun mereka tidak siap dengan apa yang sebenarnya terjadi oleh Greta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon spill.gils, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Parkir Sekolah
Satu per satu dari mereka tumbang, mengerang kesakitan di atas tanah yang lembap. Si pemimpin yang barusan terkena hantaman telak dari Luca terlihat paling menderita. Dengan napas memburu, Luca merangsek maju dan menendang jauh pisau lipat pria itu hingga terlempar ke semak-semak.
"Sekarang kita lihat siapa kau sebenarnya!" geram Luca.
Luca mencengkeram masker hitam pria itu dan menariknya paksa. Namun, tepat saat identitasnya hampir terkuak, pria itu menggunakan sisa tenaganya untuk melayangkan tendangan keras tepat ke arah bahu Luca yang terluka.
"Akh!" Luca berteriak kesakitan, keseimbangannya goyah hingga ia terjatuh ke belakang.
Namun, refleks Luca yang luar biasa tidak sia-sia. Sebelum terlepas sepenuhnya, tangan Luca sempat menarik paksa hoodie pria itu. Tarikan kuat itu membuat sebuah benda kecil terjatuh dari saku tersembunyi si pemimpin dan mendarat pelan di atas rerumputan.
Pria bermasker itu membelalak, ia tampak panik dan berusaha meraih kembali benda itu. Tetapi Leon lebih sigap. Dengan tatapan dingin, Leon melayangkan tendangan sapuan yang membuat pria itu terhempas menjauh dari benda tersebut.
"Jangan harap!" desis Leon.
Melihat pemimpin mereka terdesak, empat sosok lainnya yang tadi sempat tumbang tiba-tiba bangkit serentak. Mereka berlarian tak karuan ke berbagai arah, berteriak-teriak menciptakan kekacauan dan pengalihan fokus bagi Leon dan Luca. Di tengah hiruk-pikuk gerakan yang membingungkan itu, si pemimpin memanfaatkan celah tersebut untuk bangkit dan melesat menghilang ke dalam rimbunnya taman asri yang kini terasa seperti labirin maut.
Saat suasana kembali sunyi, sosok-sosok hitam itu sudah benar-benar lenyap. Luca mencoba duduk sambil memegangi bahunya yang berdarah, sementara Leon berdiri mematung menatap arah hilangnya mereka.
"Sial... mereka kabur," umpat Luca kesal. Matanya kemudian beralih ke benda yang terjatuh di rerumputan tadi. "Leon, lihat itu."
Luca mengambil benda itu dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia memicingkan mata, mencoba mengenali objek tersebut di bawah bayang-bayang pohon. "Sepertinya aku pernah melihat ini... Tapi di mana ya...?" gumam Luca sambil memegangi lukanya yang mulai terasa berdenyut pedas.
Leon menoleh untuk melihat apa yang ditemukan Luca. Begitu matanya menangkap bentuk benda tersebut, Leon langsung tersentak sangat kaget. Pupil matanya mengecil, dan rahangnya mengeras. Seolah ingin menyembunyikan keterkejutannya, ia segera memalingkan wajah ke arah pelarian sosok misterius tadi.
Sialan..! Siapa mereka sebenarnya? Kenapa benda itu ada pada mereka? batin Leon bergejolak penuh amarah dan kecemasan.
Leon berdeham, mencoba menguasai suaranya kembali agar tetap datar. "Luca... kau simpan saja," ucap Leon sambil mengulurkan tangan untuk membantu Luca berdiri. "Mereka tadi masuk ke kelas, jadi mungkin itu punya salah satu murid di kelas kita."
Luca menyambut tangan Leon dan bangkit berdiri dengan sedikit meringis. "Punya murid di kelas? Aneh sekali... Kalau memang punya murid, kenapa mereka harus melakukan penyerangan seperti ini?"
Leon menatap Luca dengan tatapan serius yang jarang ia perlihatkan. "Lebih baik jangan diberitahukan ke pihak sekolah sampai kita tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kita melapor sekarang tanpa bukti jelas, suasana sekolah akan kacau, dan pelakunya bisa saja menghilangkan jejak."
Luca, meski raut wajahnya masih dipenuhi kebingungan dan kecurigaan, akhirnya mengangguk pelan. Ia memasukkan benda itu ke dalam sakunya dengan hati-hati.
Mereka berdua pun berjalan tertatih kembali menuju bangunan Jarvis High School. Seragam mereka berantakan, Leon dengan noda darah di pinggangnya dan Luca dengan sobekan di bahu jaketnya. Mereka berusaha mengatur napas dan merapikan diri sebisa mungkin agar tidak menarik perhatian siswa lain yang mulai berdatangan ke sekolah.
Mereka masuk kembali melalui parkiran sekolah yang masih sepi, berusaha menghindari keramaian koridor utama. Namun, rencana untuk sembunyi-sembunyi gagal total. Greta sudah berdiri di sana, menunggu dengan cemas di samping motor Luca yang masih terparkir.
Mata Greta membelalak saat melihat pemandangan di depannya. "Astaga..! Apa yang terjadi..?!!" teriak Greta dengan suara bergetar, wajahnya pucat pasi melihat noda merah yang kontras di seragam putih Leon dan jaket Luca.
Luca, yang masih berusaha menjaga gengsinya di depan Greta, malah tertawa canggung meski wajahnya menahan perih. "Tidak apa-apa, Greta... hehehe. Tadi kami cuma... eh, latihan sedikit terlalu semangat," ucapnya ngeles.
"Astaga, Luca! Darah itu nyata, bukan saus!" seru Greta panik. "Aku akan panggil guru sekarang!"
Saat Greta hendak berbalik dan bergegas menuju ruang guru, Leon dengan sigap—meski gerakannya sedikit kaku karena luka di pinggangnya—menahan lengan Greta. "Tidak perlu, Greta. Ini hanya luka ringan."
"Ringan katamu..?" Greta menatap Leon dan Luca bergantian dengan tatapan tidak percaya sekaligus marah. Ia bisa melihat sobekan di baju mereka yang jelas-jelas bukan karena jatuh biasa.
Leon menghela napas, menyadari Greta tidak akan bisa ditenangkan dengan kebohongan simpel. "Jika kamu ingin membantu, bawakan saja alkohol, kain kasa, dan plester besar di UKS. Kami akan menunggu di sini agar tidak memancing keributan di dalam sekolah."
Greta mendengus kecil, matanya berkaca-kaca karena khawatir namun ia tahu mereka berdua keras kepala. Ia mengangguk cepat. "Jangan ke mana-mana! Kalau kalian pingsan sebelum aku kembali, aku akan benar-benar marah!"
Greta pun bergegas lari menuju UKS secepat yang ia bisa, meninggalkan Luca dan Leon yang akhirnya terduduk lemas bersandar pada ban motor Luca di parkiran yang sunyi itu.
Di tengah keheningan parkir sekolah yang hanya diselingi suara angin pagi, suasana canggung tadi perlahan mencair. Leon duduk menyandarkan kepalanya ke dinding beton, menatap lurus ke depan dengan pandangan sayu karena kehilangan kacamatanya.
"Maaf Luca, seharusnya aku tidak perlu mengajakmu untuk mengejar pria aneh tadi. Ini bukan urusanmu," ucap Leon dengan nada yang terdengar tulus, meski wajahnya tetap datar.
Luca yang sedang berusaha mengatur posisi duduk agar bahunya tidak terlalu sakit, menoleh sambil menyeringai. "Kalau aku tidak ikut dan itu jadi 1 lawan 5, kamu tidak akan selamat, Leon.
Leon mendengus pelan, harga dirinya sedikit terusik oleh kilatan meledek di mata Luca. "Lima orang itu terlalu sedikit. Jika aku memakai kacamataku sekarang, berikan aku 10 orang—
Namun Luca langsung memotong dengan cepat, "Dan tetap kalah, kan? Mengaku saja."
Leon terdiam sejenak, menatap Luca yang masih tampak sok jagoan meski bajunya robek. Keheningan sempat menyelimuti mereka selama beberapa detik, sebelum akhirnya tembok es di antara mereka itu runtuh.
Keduanya pun tertawa lepas. Suara tawa mereka menggema di area parkir yang kosong, sejenak melupakan luka perih di tubuh dan ancaman misterius yang baru saja mereka hadapi. Untuk pertama kalinya, persaingan diam-diam di antara mereka terasa menguap, digantikan oleh rasa solidaritas yang aneh.
"Kita benar-benar terlihat seperti orang bodoh sekarang," gumam Luca sambil menyeka air mata karena tertawa.
"Setidaknya kita orang bodoh yang masih hidup," balas Leon pendek, sambil tersenyum tipis—sebuah pemandangan langka yang belum pernah dilihat siapa pun di Jarvis High School.
Langkah kaki yang terburu-buru memecah tawa Luca dan Leon. Greta kembali tidak sendirian; ia membawa Clara yang tampak pucat pasi. Begitu melihat dua laki-laki itu malah asyik tertawa dengan baju bersimbah darah, Greta langsung berkacak pinggang.
"Bisa-bisanya kalian tertawa! Kalian hampir mati, tahu!" semprot Greta galak.
Clara hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, matanya berkaca-kaca melihat kondisi mereka. "Ya ampun... Leon, Luca... ini parah sekali."
"Clara, bantu aku mengobati Leon ya, aku akan mengurus Luca," instruksi Greta cepat.
Leon mengangguk pelan, lalu mulai membuka kancing seragamnya untuk memperlihatkan luka sayatan di pinggangnya. Begitu seragam itu terbuka, menampakkan otot perut yang atletis namun tergores luka merah, Clara langsung membuang muka dengan wajah yang mendadak panas.
"Clara? Kamu jadi membantuku atau tidak?" tanya Leon datar, namun ada nada geli yang terselip.
"Ah! I-iya!" Clara tersentak. Dengan tangan gemetar, ia mulai mendekat.
Clara berlutut di samping Leon. Dengan hati-hati, ia menuangkan alkohol ke kapas. "Mungkin ini akan sedikit perih, Leon... tahan ya," bisiknya lembut. Saat jemari Clara yang dingin bersentuhan dengan kulit hangat Leon untuk membersihkan luka, Leon sempat berjengit kecil.
Clara refleks meniup luka itu pelan, membuat napasnya terasa di kulit Leon. Jarak mereka begitu dekat hingga Clara bisa mencium aroma parfum maskulin yang bercampur dengan bau besi darah. Leon menatap Clara yang sedang fokus dengan wajah memerah, lalu ia memalingkan wajahnya sendiri—mencoba menyembunyikan senyum tipis yang muncul karena melihat betapa tulusnya Clara merawatnya.
Sementara itu, di sisi motor, suasana sedikit berbeda. Greta tidak selembut Clara.
"Aduh! Pelan-pelan, Greta! Itu perih!" keluh Luca saat Greta menempelkan alkohol ke bahunya dengan sedikit penekanan.
"Diam, Blight! Ini hukuman karena kamu sok pahlawan," omel Greta, meski matanya menunjukkan kekhawatiran yang luar biasa. Ia dengan telaten membalut bahu Luca dengan kain kasa.
Setelah selesai, Greta terdiam sejenak melihat wajah Luca yang kelelahan. Ia mengusap pipi Luca yang terkena noda debu dengan ibu jarinya. "Jangan lakukan hal nekat seperti itu lagi tanpa aku, mengerti?" ucapnya pelan.
Luca tertegun, menatap mata Greta yang jernih. Rasa perih di bahunya seolah hilang begitu saja. "Iya, bawel. Lagipula, aku tidak mau es krim yang kamu pegang tadi malam jadi es krim terakhir yang aku belikan untukmu."
Bel masuk Jarvis High School berbunyi nyaring, memecah keheningan parkiran yang baru saja menjadi saksi ketegangan dan momen manis tersebut. Dengan cekatan, Greta dan Clara mengumpulkan kain kasa dan kapas bekas darah, lalu menyembunyikannya di dalam tong sampah yang tertimbun pecahan pot tanah liat untuk menghilangkan jejak dari pengawas sekolah.
Clara menatap Leon dan Luca yang kini sudah berdiri tegak. Meski seragam mereka sedikit berantakan, postur tubuh keduanya kembali terlihat gagah seolah tidak pernah terjadi pertarungan maut beberapa menit yang lalu.
"Kalian bolos saja hari ini? Lebih baik istirahat... toh tidak ada guru yang masuk di jam pertama," saran Clara khawatir.
Leon merapikan kerah seragamnya yang tersisa, wajahnya kembali ke setelan pabrik: dingin dan tanpa ekspresi. "Aku lebih senang di kelas," ujarnya pendek. Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga dengan gaya jalannya yang tenang dan berwibawa.
Greta langsung menyenggol lengan Clara dengan bahunya. Ia membisikkan sesuatu dengan nada jahil yang cukup keras.
"Dia lebih senang di kelas bukan karena rajin, Clara... tapi karena dia bisa melihatmu menulis materi di papan tulis sepanjang pelajaran dengan bebas," goda Greta sambil menaik-turunkan alisnya.
Wajah Clara seketika berubah merah padam seperti kepiting rebus. "Greta! Apa sih!" serunya malu tak karuan. Ia langsung mencubit pinggang Greta dengan gemas hingga Greta berteriak geli dan berlari menghindari serangan cubitan maut itu. Mereka berdua pun tertawa lepas, saling kejar-kejaran menuju koridor kelas.
Luca, yang masih berdiri di samping motornya, hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia menatap punggung Greta dan Clara yang sudah tertawa-tawa tidak jelas di kejauhan.
"Dasar perempuan... tadi menangis, sekarang malah tertawa seperti orang gila," gumam Luca heran. Ia menghela napas, menepuk saku celananya untuk memastikan benda misterius yang ia temukan tadi masih ada di sana, lalu melangkah menyusul mereka dengan langkah santai.
oke lanjut thor.. seru ceita nya