NovelToon NovelToon
PLEASURE AND PUNISHMENT

PLEASURE AND PUNISHMENT

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Kriminal dan Bidadari / Misteri / Mafia / Balas Dendam
Popularitas:882
Nilai: 5
Nama Author: lanasyah

"Satu tubuh dicumbu, satu jiwa diburu; saat kehormatan dicuri, kenikmatan adalah hukuman mati yang paling sunyi."
​Dunia Valerie adalah logika. Sebagai psikolog forensik, ia terbiasa membedah kegelapan. Namun, insiden misterius melempar jiwanya ke raga yang paling ia benci: Zura, bintang film dewasa yang baru saja dieksekusi rapi. Valerie terbangun di hotel pengap, menyadari ia terjebak dalam raga seorang "pendosa".
​Ia terpaksa memasuki "Klub 0,1%", lingkaran elit berisi penguasa dengan fantasi gelap. Valerie harus memerankan Zura demi membongkar konspirasi pembunuhannya. Namun,kejutan mengerikan menanti; tubuh asli Valerie telah bangun, dihuni jiwa Zura yang licik. Zura sengaja menukar nasib untuk mencuci masa lalunya, menjadikan Valerie tumbal bagi musuh-musuhnya. Kini, Valerie harus bertarung melawan waktu dan adiksi fisik sebelum identitasnya hancur total. Dalam dunia noir ini,kehormatan dan kehancuran hanya setipis kulit yang mereka kenakan. Kesucian mati,kini waktunya pembalasan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lanasyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21: UNDANGAN DARI KEGELAPAN

Milan di pagi hari adalah sebuah paradoks antara kemewahan yang dingin dan gairah yang tersembunyi. Cahaya matahari musim semi yang keemasan menembus jendela kaca setinggi langit-langit di penthouse kami, memantul di atas seprai sutra abu-abu yang berantakan.

Aku terbangun bukan karena alarm, melainkan karena rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuhku. Julian—atau Marco, di kota ini—masih memelukku dari belakang. Tangannya yang besar dan posesif melingkar di perutku, jemarinya perlahan mengelus kulit pinggulku yang sensitif. Napasnya yang teratur berembus di ceruk leherku, menciptakan sensasi yang membuat pikiran forensikku yang biasanya tajam menjadi tumpul oleh kenyamanan.

“Jangan bangun dulu, Elena,” Zura berbisik malas di sudut kepalaku. “Raga ini masih ingin merasakan dekapan pria brengsek ini. Biarkan Milan menunggu. Biarkan hantu-hantu itu menunggu.”

Aku memejamkan mata sejenak, menikmati momen itu. Perselisihan kami di masa lalu—antara dokter forensik yang kaku dan detektif yang korup—terasa seperti cerita dari ribuan tahun yang lalu. Kini, raga kami saling mengenali lebih baik daripada kami mengenali diri kami sendiri. Aku berbalik dalam pelukannya, menatap mata birunya yang kini perlahan terbuka, menatapku dengan intensitas yang selalu berhasil meluluhkan dinding pertahananku.

"Kau memikirkan Contessa itu lagi?" bisik Julian, suaranya parau, serak, dan penuh dengan gairah pagi yang tak terucap.

"Sulit untuk tidak memikirkannya, Julian," jawabku, suaraku rendah. "Ada sesuatu di matanya. Sesuatu yang meminta tolong, tapi juga sesuatu yang... sangat gelap."

Julian menarikku lebih dekat, meniadakan jarak di antara kami. Tangannya berpindah ke tengkukku, menarik kepalaku untuk sebuah ciuman yang dalam dan menuntut. Di bawah identitas Elena dan Marco, kami tidak lagi harus berpura-pura membenci satu sama lain. Setiap sentuhannya adalah pengakuan atas sejarah kami yang berdarah.

"Kita akan menyelesaikannya," gumam Julian di antara ciumannya yang mulai merayap ke arah dadaku. "Tapi sekarang, biarkan aku memastikan bahwa kau masih benar-benar di sini. Bersamaku."

Gairah kembali menyulut di kamar itu, sebuah pelarian manis sebelum badai yang kami tahu pasti akan datang. Raga Valerie yang dulu dingin kini benar-benar telah terbiasa—dan terbuai—oleh setiap inci sentuhan Julian.

Dua jam kemudian, setelah mandi bersama yang panjang dan penuh godaan, kami turun ke lobi hotel untuk sarapan. Milan sedang sibuk-sibuknya; para pebisnis dengan setelan jas ribuan euro berlalu-lalang, tidak menyadari bahwa di antara mereka duduk dua buronan internasional yang jiwanya telah ditukar.

Seorang pelayan mendekat, membawakan nampan berisi espresso dan sebuah amplop krem kecil yang diletakkan di samping gelas Julian.

"Untuk Signora Rossi," kata pelayan itu dengan sopan sebelum berlalu.

Julian segera waspada. Tangannya secara insting bergerak menuju pinggangnya—tempat ia menyembunyikan senjatanya—sebelum ia menyadari kami sedang berada di ruang publik yang sangat terbuka. Aku mengambil amplop itu. Tidak ada nama pengirim. Hanya ada aroma parfum yang sangat kukenal di pesta semalam: Jasmine and Myrrh. Parfum Alessandra de Luca.

Di dalamnya hanya ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan yang gemetar, seolah penulisnya sedang melawan kekuatan besar saat menulisnya:

... "San Bernardino alle Ossa. Jam 11 malam. Jangan bawa polisi. Bawa jiwamu yang sebenarnya."...

Aku memberikan kertas itu pada Julian. Wajahnya mengeras. "Ini jebakan, Valerie. De Luca bukan orang sembarangan. Keluarganya menguasai farmasi di Italia Utara. Jika Vane ada di belakangnya, ini adalah undangan ke liang kubur."

"Bawa jiwamu yang sebenarnya," aku mengulangi kalimat itu. "Hanya subjek inversi yang akan menulis kalimat seperti itu, Julian. Alessandra yang asli... dia masih ada di dalam sana. Dan dia tahu siapa aku."

“Dia tahu kita, Elena,” Zura menimpali, suaranya kini tajam dan penuh peringatan. “Bau pengawal semalam... mereka bukan pengawal biasa. Mereka adalah pengawas. Jika kita pergi, kita masuk ke dalam sarang laba-laba.”

"Aku harus pergi," kataku mantap, menatap Julian. "Jika ada cara untuk menghentikan penyebaran inversi ini, atau jika ada informasi tentang bagaimana Vane tetap beroperasi setelah Blackwood hancur, dia adalah kuncinya."

Julian menghela napas panjang, lalu meminum espressonya dalam satu tegukan. "Kita pergi. Tapi aku yang mengatur parameter keamanannya. Aku tidak akan membiarkanmu menjadi martir untuk rasa ingin tahumu."

Malam di Milan berubah menjadi dingin dan berkabut. Kami berkendara menuju San Bernardino alle Ossa, sebuah gereja tua yang terkenal dengan kapel kecilnya yang seluruh dindingnya dihiasi dengan ribuan tulang dan tengkorak manusia. Sebuah tempat yang sangat sesuai untuk pertemuan dua orang yang raganya bukan lagi milik mereka.

Julian menurunkanku satu blok dari gereja. Ia akan memantau dari kejauhan dengan senapan jarak jauh dan alat komunikasi di telingaku.

"Jika kau merasa ada yang salah, segera keluar. Jangan coba-coba menjadi pahlawan," suara Julian terdengar di telingaku, dingin dan penuh otoritas detektifnya yang dulu.

"Dimengerti, Marco," jawabku pelan.

Aku melangkah masuk ke dalam gereja yang sunyi. Bau kemenyan tua dan udara lembap menyambutku. Aku berjalan menuju Kapel Ossuary. Di bawah pendar lilin yang remang-remang, ribuan tengkorak yang tertanam di dinding seolah menatapku dengan rongga mata kosong mereka.

Di tengah kapel, berdiri sesosok wanita dengan mantel hitam panjang. Alessandra de Luca.

Ia berbalik saat mendengar langkah kakiku. Wajah bangsawannya tampak pucat, matanya merah seolah dia tidak tidur selama berhari-hari. Saat dia melihatku, dia tidak mellihat Elena Rossi. Dia melihat Dr. Valerie.

"Kau datang," suaranya gemetar. Itu bukan suara angkuh Contessa yang kulihat di televisi. Itu adalah suara seorang gadis muda yang ketakutan.

"Siapa kau?" tanyaku, berdiri beberapa meter darinya.

"Nama asliku adalah Chiara," bisiknya, air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku adalah seorang pelayan di villa mereka... sampai mereka memilihku. Mereka bilang raga Alessandra sedang sekarat karena kanker, dan mereka butuh 'wadah' yang bersih. Mereka mengambilku, Dokter. Mereka menukar hidupku dengan wanita yang seharusnya sudah mati."

Aku mendekat perlahan. "Di mana Alessandra yang asli?"

Chiara menunjuk ke arah kepalanya sendiri dengan gemetar. "Dia ada di sini. Di dalam. Dia mencoba membunuhku setiap malam. Dia ingin kontrol penuh. Dan suaminya... Count de Luca... dia tidak peduli. Baginya, selama wajah istrinya tetap ada, dia bisa melakukan apa saja pada raga ini."

Tiba-tiba, Chiara mencengkeram lenganku. Cengkeramannya kuat, kuku-kukunya menancap di kulit mantelku. "Vane tidak mati, Dokter. Blackwood hanya satu dari sekian banyak laboratorium. Mereka memindahkan semuanya ke Milan. Mereka menyebutnya 'Proyek Renaissance'. Mereka ingin mengganti seluruh dewan direksi farmasi dunia dengan jiwa-jiwa lama yang setia pada Klub 0,1%."

“Elena, awas!” Zura berteriak di dalam kepalaku.

Detik berikutnya, pintu kapel tertutup dengan dentuman keras. Suara Julian meledak di alat komunikasiku. "Valerie! Gerak! Ada pergerakan di balkon atas! Mereka sudah ada di sana!"

Cahaya lilin di kapel tiba-tiba padam, meninggalkan kami dalam kegelapan yang nyaris total, hanya diterangi oleh pendar lampu jalan yang masuk dari jendela tinggi.

Tiga bayangan muncul dari balik pilar. Mereka mengenakan setelan hitam, bergerak dengan efisiensi yang menakutkan. Chiara berteriak dan terjatuh ke lantai.

"Dr. Valerie," salah satu dari mereka berbicara. Suaranya datar, tanpa emosi, seperti robot. "Tuan Vane mengirimkan salam. Dia bilang, raga Anda adalah prototipe yang paling sempurna yang pernah ia buat. Dia menginginkannya kembali."

Aku menarik pisau bedah yang kusembunyikan di balik lengan bajuku—senjata pilihanku sejak dulu. Zura mengambil alih kontrol motorik kakiku, membuatku bergerak dengan kelincahan yang tidak masuk akal bagi seorang dokter.

"Julian! Tembak!" teriakku.

Dor! Dor!

Kaca patri di atas kapel pecah saat peluru Julian menghantam salah satu penyerang dari luar. Tapi dua lainnya terus maju. Mereka bukan penjaga biasa; mereka tampak kebal terhadap rasa takut.

Aku berduel dengan salah satu dari mereka di antara deretan bangku gereja. Setiap gerakanku adalah perpaduan antara pengetahuan anatomi Valerie—tahu di mana harus memotong saraf agar lawan lumpuh—dan keganasan jalanan Zura. Kami adalah simfoni maut yang bergerak dalam kegelapan.

Aku berhasil menyayat tendon lengan lawan, membuatnya menjatuhkan senjatanya, namun penyerang lainnya berhasil menendang perutku hingga aku terlempar ke arah dinding tulang. Kepalaku menghantam tengkorak-tengkorak tua itu, membuat pandanganku berkunang-kunang.

"Elena!" Suara Julian penuh kepanikan saat ia mendobrak pintu utama gereja, pistol di tangan, mulai memberondong musuh dengan peluru.

Di tengah kekacauan itu, Chiara merangkak ke arahku. Wajahnya berubah. Senyum ketakutan itu hilang, digantikan oleh seringai dingin yang sangat aristokrat. Alessandra yang asli telah mengambil alih kendali raga itu untuk sementara.

"Kau tidak akan bisa lari dari takdirmu, Dokter," bisik Alessandra melalui mulut Chiara. "Raga itu milik kami. Jiwa itu milik neraka."

Sebelum Julian bisa mencapainya, sebuah bom asap dilemparkan ke tengah kapel. Kabut tebal berwarna biru menyengat memenuhi ruangan—zat penenang yang sama dengan yang ada di Blackwood.

"Julian... lari..." gumamku saat kesadaranku mulai memudar.

Aku merasakan tangan Julian mencengkeram bahuku, mencoba menarikku keluar dari kabut, namun sesosok bayangan besar menghantamnya dari belakang. Julian terjatuh, dan hal terakhir yang kulihat sebelum kegelapan merenggutku adalah raga Alessandra de Luca yang berdiri tegak, menatapku dengan kebencian murni, sementara para pengawal Vane mendekat untuk menjemput 'aset' mereka yang paling berharga.

Perang ini tidak pernah selesai. Kami baru saja ditarik kembali ke pusat badai.

1
ayin muPp
SEMANGAT KAKK, isi novel yang kamu buat berbobot banget ga cuma cinta'an gitu. anw ga ada niatan buat up di apk lain gituu? biar lebih ramee
XXAURORA: apaaaa terimakasih yaaa, ada rekomendasi apk apa kira²?/Slight/
total 1 replies
Rani Saraswaty
sbg pembaca agaknya ikut mikir lama nih, penuh dg analisa utk menambah ilmu
XXAURORA: biar ikut mikir, jadi author ada temen🤭
total 1 replies
pocong
semangat
XXAURORA: terimakasih, terus ikutin ceritanya yaaa/Kiss/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!