Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 Bertemu Masa Lalu
Bismillah, karya baru. Semoga banyak peminatnya.
Empat Tahun Yang Lalu
Dunia Saliha terasa runtuh tepat di depan gerbang perumahannya. Di hadapannya, Daviko Arfa Belanegara berdiri tegak dengan seragam loreng yang masih melekat, namun sorot matanya yang biasa teduh kini berubah menjadi badai yang mematikan.
"Mas Viko, ini tidak seperti yang kamu lihat. Dia hanya teman sekantorku yang mengantar pulang karena ban motorku bocor," alasan Saliha bergetar, berusaha menggapai lengan pria itu.
Daviko menepisnya dengan kasar. Pria berbaju loreng dengan pangkat Letnan itu menatap Saliha dengan tajam, matanya memancarkan kemarahan.
"Teman? Teman tidak akan membelai rambutmu di dalam mobil selama lima menit sebelum kamu turun, Saliha!" Suaranya menggelegar, mengalahkan suara petir yang menyambar di langit Jakarta.
"Aku menunggumu selama dua tahun. Aku memintamu menikah, memintamu menjadi pendamping hidupku, tapi kamu menolak dengan alasan masih sangat muda dan tidak ingin melangkahi kakakmu. Tapi, sekarang aku tahu alasan sebenarnya. Kamu hanya menjadikanku cadangan sementara kamu mencari yang lebih mapan dari seorang tentara rendahan sepertiku, kan?"
"Demi Allah, Mas, tidak!" sangkal Saliha mulai menangis.
Daviko mundur selangkah. Tatapannya dingin, sedingin es kutub. Ketegasan seorang prajurit kini bercampur dengan luka hati yang menganga.
"Dengarkan aku baik-baik, Saliha. Hari ini aku melepaskanmu. Tapi ingat satu hal...." Daviko mendekat, membisikkan kata-kata yang lebih tajam dari bayonet di telinga Saliha.
"Kamu tidak akan pernah bahagia. Hidupmu akan selalu merasa kurang, dan kamu akan terus terbayang-bayang wajahku sampai kapan pun. Kamu tidak akan menemukan kedamaian, kecuali kamu mendapatkan maaf dariku. Dan camkan ini...maaf itu tidak akan pernah datang."
Daviko berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Saliha yang bersimpuh di atas aspal basah, meraung dalam tangis yang tak terdengar oleh deru mesin mobil Daviko yang menjauh.
***
Perumahan Sederhana Pinggiran kota
Empat tahun berlalu, dan kutukan itu seolah menjadi nyata bagi Saliha.
Kehidupan Saliha hancur perlahan. Kariernya di agensi periklanan berakhir dengan pemecatan sepihak karena performanya menurun akibat depresi.
Tagihan kos menumpuk, dan puncaknya, kekasihnya yang baru saja ia harapkan menjadi pelabuhan terakhir justru berselingkuh tepat saat Saliha berada di titik terendahnya.
Stres yang luar biasa, anehnya memicu reaksi fisik yang tidak masuk akal pada tubuhnya. Mungkin karena efek samping obat penenang dosis tinggi yang ia konsumsi secara sembunyi-sembunyi, kelenjar di dadanya terus memproduksi cairan yang seharusnya hanya milik seorang ibu. Dadanya terasa sesak, sakit, dan panas.
"Liha, sepertinya kamu stres karena akhir-akhir ini bertubi-tubi masalah menimpamu. Kekasih pergi dengan wanita lain, dikeluarkan pekerjaan, kosan menunggak. ASImu tiba-tiba keluar, karena kamu mengkonsumsi obat penenang tanpa aturan dokter. Semua itu, aku yakin akibat dari tekanan hidupmu selama ini," hibur Helda sang sahabat, beberapa hari yang lalu.
Empat hari berlalu, dan kini Helda menemuinya. Ia memberi kabar mencengangkan sekaligus sebuah solusi.
"Liha, ini gila. Tapi ini kesempatan buatmu. Lihat lowongan kerja ini." Helda, satu-satunya sahabat yang tersisa, menyodorkan ponselnya.
"Dibutuhkan ibu susu untuk bayi baru lahir. Gaji besar, tempat tinggal disediakan. Bayinya malang, ibunya meninggal tepat setelah pulang dari rumah sakit."
Saliha menatap layar ponsel itu dengan mata sembab. Ia butuh uang. Ia butuh tempat bernaung. Dan mungkin, merawat bayi bisa menyembuhkan luka batinnya sendiri.
"Aku ambil lowongan itu, Hel. Aku butuh uang," ucapnya sesaat setelah ia membaca lowongan kerja di berita online.
Kini, Saliha sudah berdiri di depan sebuah gerbang hitam tinggi. Jantungnya berdegup kencang. Ia merapikan blus longgarnya yang mulai terasa lembab di bagian dada. Dengan tangan gemetar, ia menekan bel.
Pintu utama rumah besar itu terbuka. Seorang pria keluar dengan langkah tegap. Ia mengenakan kaos hitam ketat yang menonjolkan otot lengannya, kontras dengan wajahnya yang terlihat sangat lelah dan kuyu. Di gendongannya, ada sebuah bundel kain bedong berwarna biru yang mengeluarkan tangisan halus dan serak.
Saliha terpaku. Oksigen di sekitarnya seolah tersedot habis.
Sosok itu bukan orang asing. Sosok itu adalah Daviko Arfa Belanegara. Dia sang mantan kekasih. Pria yang empat tahun lalu menyumpahinya di bawah hujan.
Daviko berhenti melangkah tepat tiga meter di depan Saliha. Ia menyipitkan mata, menatap sosok wanita di depannya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Tatapannya tidak lagi berisi amarah meledak-ledak, melainkan kebencian yang tenang dan mendalam.
"Saliha? Kamu Saliha, kan? Perempuan yang dulu pernah...." Suara Daviko rendah, tapi berwibawa. Ucapannya terputus, seolah sedang mengingat-ingat atau mungkin sedang mengabsen kesalahan demi kesalahan Saliha di masa lalu.
Saliha tidak bisa bersuara. Ia hanya mampu menatap bayi kecil yang menangis kehausan di pelukan Daviko.
Daviko mendengus remeh, sebuah senyum miring tersungging di bibirnya yang kaku. "Jadi, setelah empat tahun menghilang, kamu datang ke rumahku... melamar menjadi 'pabrik susu' untuk anakku?"
Ia melangkah maju, membuat Saliha terdesak ke pilar gerbang. "Dunia memang sempit, atau mungkin kutukanku sedang bekerja secepat itu padamu. Kamu terlihat menyedihkan, Saliha. Apa pria yang dulu kamu bela itu tidak bisa memberimu makan sampai kamu harus menjual air susumu padaku?" lanjutnya tegas dan penuh tekanan.
Saliha menunduk, air matanya jatuh tanpa permisi. "Mas Viko... bayimu... dia butuh ASI," selanya berbisik lirih.
"Apa katamu? Mas Viko? Jangan sebut panggilan itu lagi. Aku muak mendengarnya. Panggil aku menyesuaikan di mana tempatmu kini berada," tegasnya.
Saliha paham, ia memang tidak sepantasnya memanggil pria di depannya dengan sebutan Mas Viko. Mas Viko adalah masa lalu yang sudah ia sia-siakan.
"Baik, Pak. Saya paham," ujarnya akhirnya.
Daviko tidak menyahut, baginya apapun panggilan yang disematkan wanita di hadapannya ini, terdengar memuakkan.
Tangis bayi itu mengeras, seolah merasakan ketegangan di antara dua orang dewasa di hadapannya.
Daviko menatap bayinya sebentar, lalu kembali menatap Saliha dengan tatapan menghakimi. Ada pergulatan antara ego seorang pria yang terluka dan kebutuhan seorang ayah yang putus asa.
"Masuk," perintah Daviko dingin. "Jangan berpikir aku menerimamu karena aku memaafkanmu. Aku menerimamu karena anakku lapar, dan kamu hanyalah pekerja yang kebetulan lewat. Ingat posisimu, Saliha. Kamu di sini bukan sebagai tamu, apalagi masa lalu. Kamu hanya penyambung nyawa anakku."
Daviko berbalik, meninggalkan Saliha yang masih mematung.
Saliha menyapu air matanya, menghirup nafas panjang yang terasa sesak. Ia melangkah masuk ke dalam rumah itu, masuk kembali ke dalam hidup pria yang pernah ia hancurkan, membawa rahasia dan luka yang sama besarnya.
semangat ya😚