Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 6. Kembalinya Ray Zen
Penjaga itu mengangguk, tidak menunjukkan keterkejutan. Banyak orang datang ke ibu kota dengan tujuan yang sama—entah sebagai pelayan, pejabat rendahan, atau sekadar pencari peruntungan.
Tatapan penjaga itu beralih ke wajah Ray Zen. Ia mengerutkan kening sejenak, merasa wajah dan aura pemuda di depannya sangat familiar, namun ingatannya tidak cukup jelas untuk memastikan.
“Identitas?” tanyanya lagi.
“Ini.” jawab Ray Zen tenang, lalu memberikan beberapa kartu identitas palsu yang sebelumnya telah ia persiapkan.
Hal itu sengaja Ray Zen lakukan agar tidak terlalu menarik perhatian, yang mana jika ia menggunakan identitas aslinya, maka para prajurit penjaga itu pasti mengetahui identitasnya, karena ia bermarga Zen yang hanya di miliki oleh keluarga Kaisar Jack Zen.
Beberapa penjaga saling melirik. Memeriksa kartu identitas itu dengan seksama. Tidak ada yang aneh ataupun yang mencurigakan dari kartu identitas yang diberikan Ray Zen tersebut.
Seperti kebanyakan rakyat Kekaisaran Awan Putih, mereka hanya mengenal nama Ray Zen—bukan wajahnya. Putra kekaisaran itu jarang muncul di hadapan publik sebelum kepergiannya satu setengah tahun yang lalu. Itu sebabnya para penjaga gerbang ibu kota tidak mengenalnya.
Penjaga itu menimbang sejenak, lalu memberi hormat ringan. “Silakan masuk. Mohon jaga ketertiban selama berada di dalam ibu kota.”
“Terima kasih,” jawab Ray Zen singkat.
Tanpa hambatan lebih lanjut, mereka berlima memasuki ibu kota.
Ibu kota Kekaisaran Awan Putih tetap seperti yang Ray Zen ingat—megah, tertata rapi, dan penuh kehidupan. Jalanan lebar dengan bangunan batu putih di kedua sisi memantulkan cahaya pagi. Bendera kekaisaran berkibar perlahan, sementara suara aktivitas manusia berpadu menjadi denyut kehidupan kota.
Virdrax menatap sekeliling dengan penuh ketertarikan. “Ini… dunia manusia benar-benar berbeda,” gumamnya pelan.
Navhara mengangguk. “Teratur. Tidak seperti wilayah siluman yang selalu dipenuhi insting dan kekuatan.”
Bear melirik mereka sambil tersenyum tipis. “Nanti kalian akan terbiasa. Tapi jangan lengah. Di tempat seperti ini, kata-kata bisa lebih berbahaya dari pedang.”
Tak butuh waktu lama hingga mereka tiba di hadapan gerbang Istana Kekaisaran Awan Putih.
Gerbang itu jauh lebih megah dibanding gerbang ibu kota. Dua patung kesatria berdiri di kiri dan kanan, memancarkan tekanan halus namun tegas. Prajurit penjaga istana berdiri tegak dengan tombak dan zirah berkilau.
Begitu Ray Zen melangkah mendekat, salah satu penjaga istana menatapnya dengan seksama. Matanya membelalak perlahan.
“Tu… tunggu!” serunya.
Ia maju satu langkah, menatap wajah Ray Zen tanpa berkedip. Napasnya tercekat.
“Ini… ini Pangeran Ray Zen!”
Suara itu menggema.
Detik berikutnya, penjaga itu berteriak dengan segenap tenaganya,
“Pangeran Ray Zen telah kembali!"
"Pangeran Ray Zen telah kembali—!!!”
Suasana berubah seketika.
Prajurit lain tersentak. Beberapa di antara mereka langsung berlutut. Yang lain bergegas membuka pintu gerbang istana yang besar dan berat.
BUNYI GEMURUH—
Gerbang istana terbuka perlahan, seolah menyambut kepulangan darah kekaisaran yang telah lama pergi.
“Silakan masuk, Pangeran!” seru para penjaga dengan penuh hormat.
Ray Zen mengangguk singkat, lalu melangkah masuk bersama dengan keempat pengawalnya.
Teriakan penjaga gerbang menyebar dengan cepat seperti api di atas jerami kering.
Dalam hitungan menit, halaman istana dipenuhi orang. Prajurit berdatangan dari berbagai penjuru istana. Para pelayan menghentikan pekerjaan mereka dan berlarian keluar. Beberapa pejabat tinggi yang kebetulan berada di istana ikut muncul, wajah mereka menampakkan keterkejutan yang berbeda-beda.
Sebagian menyambut dengan antusias. Sebagian lagi… menatap dengan sinis—tidak suka dengan kehadiran Ray Zen.
Tatapan-tatapan itu tertuju pada Ray Zen—pangeran yang dulu dianggap lemah dan mendapat julukan sampah kekaisaran, pemuda yang menghilang tanpa kabar, dan sosok yang keberadaannya selalu diperdebatkan.
Ray Zen merasakan semua itu. Namun wajahnya tetap tenang. Ia melangkah tanpa ragu, seolah setiap tatapan hanyalah angin lalu baginya.
Tak lama kemudian, pintu aula utama terbuka.
Dari dalam, muncul Kaisar Jack Zen, mengenakan jubah kekaisaran berwarna putih keperakan. Wajahnya tetap tegas seperti yang diingat Ray Zen, meski kini tampak lebih tua dan dipenuhi gurat pengalaman.
Di sampingnya berjalan Permaisuri Mei Ling, ibu kandung Ray Zen. Matanya membesar begitu melihat sosok putranya yang telah kembali.
Di belakang mereka, tampak Permaisuri Mue Che, Permaisuri Lou Yi, Jenderal Utama Gan Che, serta beberapa pejabat tinggi kekaisaran lainnya.
Namun sebelum siapa pun sempat berkata apa-apa—
“KA-KAKAK—!!!”
Suara itu memecah kerumunan.
Seorang gadis kecil berambut hitam panjang berlari secepat mungkin, mengabaikan etiket istana. Air mata sudah menggenang di matanya bahkan sebelum ia sampai.
“Lia…” gumam Ray Zen.
Gadis itu langsung menabrak tubuh Ray Zen dan memeluknya erat, seolah takut jika ia melepaskan pelukan itu, kakaknya akan kembali menghilang.
“Kakak jahat!” isaknya. “Kakak pergi lama sekali… Lia pikir kakak tidak akan kembali lagi!”
Ray Zen tersenyum lembut. Ia membalas pelukan itu dengan erat, menepuk punggung adiknya perlahan. “Maafkan kakak, adik kecil. Lihatlah kakak sudah kembali sekarang.”
Tangis Lia semakin pecah. Beberapa pelayan yang menyaksikan adegan itu ikut menunduk haru.
Tak lama kemudian, Ray Zen merasakan sepasang tangan yang lebih dewasa memeluknya.
“Ray…” suara lembut bergetar.
Ia menoleh dan melihat Permaisuri Mei Ling berdiri di hadapannya, air mata mengalir di pipinya tanpa ia sadari.
“Ibu,” ucap Ray Zen pelan.
Ia memeluk ibunya tanpa ragu. Pelukan itu hangat—pelukan yang telah lama ia rindukan.
Bai Hu dan Bear yang menyaksikan hal itu juga turut senang, seolah ikut merasakan kebahagiaan Ray Zen. Sementara Virdrax dan Navhara tidak berkata apa-apa, mereka masih terkesima dengan megah dan indahnya istana Kekaisaran Awan Putih yang sangat berbeda dari dunia mereka.
Namun tidak semua orang menyambut adegan itu dengan perasaan yang sama.
Wajah Permaisuri Mue Che mengeras. Tatapannya tajam, apalagi ketika melihat dua sosok asing berdiri di belakang Ray Zen.
Ia tidak menyangka Ray Zen bisa kembali hidup-hidup setelah berpetualang ke dunia luar. Dan sekarang, Ray Zen justru dengan bangganya membawa dua orang asing kedalam Istana Kekaisaran.
Permaisuri Mue Che melangkah maju. “Yang Mulia Kaisar,” katanya dingin, “apakah pantas orang asing masuk begitu saja ke lingkungan istana kekaisaran?”
Jenderal Utama Gan Che ikut maju selangkah. Tatapannya tertuju pada Virdrax dan Navhara. “Benar. Identitas mereka tidak jelas. Aura mereka pun… begitu mencurigakan.”
Beberapa prajurit refleks mengencangkan genggaman senjata. Mereka baru tersadar dengan kehadiran dua orang asing tersebut, karena sebelumnya mereka hanya fokus kepada Ray Zen.
Navhara menegang sejenak, namun Virdrax menahannya dengan isyarat halus.
Ray Zen melepaskan pelukan ibunya dan menoleh ke arah mereka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru