NovelToon NovelToon
Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Dasima, Cinta Abadi Dua Alam

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Beda Dunia / Romantis / Cinta Terlarang / Romansa / Cintapertama
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Ferdy Wicaksono, fotografer muda yang hidup pas-pasan di Jakarta, tak pernah menyangka darah yang mengalir di tubuhnya akan membangunkan cinta yang tertidur selama lima ratus tahun. Dasima, jin wanita cantik dengan aroma bunga yang tak pernah pudar, jatuh cinta padanya karena Ferdy adalah reinkarnasi pria yang dulu ia cintai—dan kehilangan karena pengkhianatan. Di antara mimpi aneh, perlindungan tak kasatmata, dan kehadiran wanita misterius yang membawa darah masa lalu, Ferdy terjebak dalam cinta lintas dunia yang tak pernah benar-benar selesai. Kali ini, akankah Dasima mencintai… atau kembali kehilangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bayang-bayang Yang Menggoda

Lenteng Agung, Kamar Kos Ferdy, Pukul 13.10.

Perjalanan pulang dengan motor dalam keadaan kaos lengket, berminyak, dan berbau bawang putih menyengat adalah penghinaan terakhir bagi hari yang sudah kacau.

Angin jalanan bukannya mengeringkan, malah membuat Ferdy menggigil karena kuah capcay yang meresap itu kini jadi dingin.

Dasima di belakangnya diam, namun energinya seperti magnet yang menarik segala perasaan buruk Ferdy.

“Gak mungkin!” gerutu Ferdy di dalam helm, suaranya teredam oleh deru mesin dan angin.

“Hari ini kayak dikutuk! Hampir ditabrak, trus ketabrak nasi capcay. Gak ada job, skripsi buntu, motor bunyi kayak mesin cuci rusak. Hidup gue mah, apes beruntun!”

Dasima mendengarkan, hatinya perih. Dia ingin membela, mengatakan bahwa setidaknya Ferdy masih hidup, bahwa ada yang melindunginya. Tapi dia tak bisa. Dia hanya bisa mendengarkan umpatan dan kekesalan yang sebenarnya adalah suara keputusasaan seorang anak muda yang kewalahan.

“Dan cewek tadi! Kirana, katanya. Cantik sih, ya. Tapi kesel banget! Gayanya kayak orang tajir, sok sibuk sama hp-nya. Nih baju, langsung rusak. Nilai jual lagi buat lo, baju,” ucap Ferdy sambil melirik bahunya yang bernoda, seolah-olah baju itu bisa mendengar.

“Bukan salah dia sepenuhnya, Raden. Tapi… memang lebih baik kau jauh darinya,” gumam Dasima, meski tahu perkataannya tak akan didengar.

Sesampai di kosan, Ferdy langsung melepas helm dan masuk ke kamar mandi kecil dengan wajah masih masam. Dia tak mandi panjang, hanya mengguyur tubuhnya dengan air dingin yang menyegarkan sekaligus membuatnya terkesiap.

Gosok sana-sini dengan sabun cair murah beraroma jeruk yang tak sanggup sepenuhnya mengusir aroma bawang dari kulitnya. Setelah lima menit, dia keluar dengan handuk dililitkan di pinggang, tubuhnya masih meneteskan air.

Dasima, dengan kesadaran penuh pada etika, tetap berada di kamar utama. Matanya tertuju pada poster-poster foto di dinding. Ada satu foto hitam putih Ferdy: close-up wajah seorang nenek penjual bunga di Pasar Senen, kerut di wajahnya bercerita lebih banyak daripada kata-kata.

“Kau memang berbakat, Raden. Matamu menangkap jiwa, bukan hanya rupa.”

Ferdy, sambil mengeringkan rambut dengan kasar, membuka lemari dan mengeluarkan kaos hitam polos (yang sedikit lebih tebal) dan celana chino coklat tua yang sudah mulai pudar.

Gaya sederhana, praktis, sedikit hipster ala anak seni. Dia tak lupa menyemprotkan deodoran dan sedikit cologne citrus murah ke leher. “Biar wangi, biar aura sialnya ilang,” gumamnya.

Dia melirik jam di laptop. 13.35. Meeting dengan tim project foto—Andika dan Roni—rencananya jam 14.30 di sebuah coffeeshop dekat kampus. Masih ada waktu.

“Mending makan dulu. Tapi duit…,” keluhnya, membuka dompet tipis. Tinggal empat puluh ribu rupiah tersisa sampai transferan job foto produk datang, yang entah kapan. Dia menghela napas, mengambil sebungkus indomie dari stok darurat di bawah tempat tidur dan merebusnya dengan cepat. Makan siang di atas tempat tidur, sambil mengecek notifikasi hp yang sepi.

Dasima mengamati ritual kesedihan ini dengan mata iba.

“Di kehidupanmu yang dulu, Raden, kau tak pernah mengenal kelaparan atau kekurangan materi. Tapi lihatlah kau sekarang, kuat menghadapi ini semua. Jiwa petarungmu tak pernah hilang.”

---

Coffeeshop “Kopi Tetangga”, Depok, Pukul 14.25.

Tempatnya cozy, dengan nuansa industrial: dinding bata ekspos, lampu gantung dari kaleng, dan meja-meja kayu reklamasi. Aroma kopi sangrai dan kayu manis memenuhi udara. Ferdy, Andika, dan Roni sudah menduduki satu meja bundar di sudut dekat jendela, berhadapan dengan tiga laptop.

Andika serius, menunjukkan moodboard di layar. “Gue rasa, untuk editan kita kasih tone monokrom aja, dengan kontras tinggi. Highlight aura ‘angker’nya, bukan ‘horror’. Jadi mistis, elegant.”

“Iya, setuju. Jangan keliatan murahan,” sahut Roni sambil menyeruput Americano-nya.

“Untuk platform, gue udah survey. Kita bisa jual sebagai limited digital print di platform seperti ArtStation atau Etsy, atau bikin series buat Instagram dengan storytelling kuat.”

Ferdy mengangguk, matanya bolak-balik melihat foto-foto di layar laptopnya. Ada satu foto yang selalu menarik perhatiannya: keris dengan refleksi samar.

“Gue rasa kita pilih 10-15 foto terkuat aja. Bikin cerita pendek untuk tiap foto. Misalnya, keris ini… siapa pemiliknya? Kenapa dia ada di sana? Apa yang dia lihat dalam 500 tahun terakhir?”

“Wih, dalem banget Fer,” canda Roni.

“Bukan dalem, tapi biar nambah value. Orang beli cerita, bukan cuma gambar,” jawab Ferdy.

Dasima duduk di kursi kosong keempat di meja mereka, mendengarkan dengan bangga.

“Lihatlah. Kau memimpin. Walaupun dalam kelompok kecil, kau tetap natural menjadi pemimpin. Itu bakatmu.”

Meeting berjalan lancar. Mereka membagi tugas: Andika urusan teknis editing dan platform, Roni urusan marketing dan konten video, Ferdy sebagai kurator visual dan penulis narasi. Semangat mulai membara, sejenak melupakan kekurangan uang dan skripsi yang mandek.

Tiba-tiba, sebuah kehadiran mendekat.

“Ferdy? Wah, ketemu lagi di sini!”

Suara itu manis, bernada tinggi, dan agak dibuat-buat. Ferdy menoleh, dan ekspresinya sedikit kaku.

Vina.

Dia adalah junior di fakultas yang sama, angkatan di bawah Ferdy. Penampilannya hari ini… menarik perhatian.

Rambut coklat ombre diikat setengah atas, dengan beberapa helai sengaja terjumbai di pipi. Dia memakai crop top lengan panjang warna maroon yang ketat, dipadankan dengan high-waist jeans sobek di lutut dan sepatu sneakers putih.

Tas selempang kecil berlogo merek tiruan. Makeup-nya teliti: alis microblading yang sempurna, bulu mata extension, dan lipstik nude yang membuat bibirnya terlihat lebih penuh. Cantik, tapi cantik yang terasa sangat diusahakan.

“Oh, Vina. Lagi meeting nih,” jawab Ferdy singkat, mencoba kembali fokus ke laptop.

Tapi Vina sudah melangkah mendekat, tak diundang.

“Wah, project apaan nih? Keren banget fotonya!” dia menyandar ke meja, tepat di sebelah Ferdy, matanya berbinar-binar melihat layar. Aroma parfumnya yang floral-berat, merek terkenal yang mungkin asli atau mungkin kw, menyeruak membaur dengan aroma kopi.

Andika dan Roni saling pandang, tersenyum kecut. Mereka tahu reputasi Vina dan bagaimana Ferdy berusaha menjaga jarak.

“Project foto aja,” jawab Ferdy dingin.

“Seru banget. Kebetulan aku juga suka fotografi, loh. Bisa gabung gak?” tanya Vina, menggoda. Matanya yang besar berkedip-kedip.

“Ini project khusus kita bertiga dulu, Vin. Lagian niche-nya angker, cocok buat lo?” tolak Ferdy dengan halus.

Vina cengar-cengir, tak menyerah. Dia melirik ke arah Roni dan Andika.

“Hai, Roni. Lagi sibuk ya? Aku liat video lo di TikTok lucu banget.” Dia berusaha membaur.

Roni hanya tersenyum kaku. “Hehe, iya.”

Dasima, yang sejak tadi diam mengamati, tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Dia duduk di kursi kosong tadi, dan matanya yang bisa melihat melampaui alam fisik, kini tertuju pada Vina.

Bukan pada Vina manusia-nya, tetapi pada apa yang mengelilinginya.

Di sekujur tubuh Vina, terutama di sekitar bahu, kepala, dan pinggang, terdapat… asap-asap halus berwarna merah muda dan ungu.

Asap itu membentuk figur-figur kecil, samar, seperti siluet manusia tapi dengan proporsi yang tidak wajar: mata terlalu besar, tubuh terlalu lentur. Jumlahnya ada empat atau lima.

Mereka seperti ular kecil yang meliuk-liuk, mengelilingi Vina, sesekali menyentuh kulitnya atau meniupkan sesuatu ke arah Ferdy dan kedua temannya.

Khodam. Jin tingkat rendah. Jin pemikat.

Dasima segera paham. Makhluk-makhluk ini adalah ‘pengikut’ yang biasa digunakan oleh orang-orang yang mempelajari ilmu pesona secara instan dan tidak bertanggung jawab.

Mereka menarik energi dari alam dan memproyeksikannya sebagai ‘aura daya tarik’ kepada target. Biasanya, target yang lemah secara spiritual atau energinya sedang rendah akan mudah terpengaruh, merasa tiba-tiba tertarik, tergila-gila.

Tapi saat khodam-khodam kecil itu mendekati Ferdy, sesuatu terjadi.

Energi Ferdy—yang murni, keras kepala, dan saat ini dipenuhi dengan fokus pada pekerjaan serta sisa-sisa kekesalan—seperti memiliki lapisan pelindung alami.

Khodam-khodam itu mendekat, mencoba menyelinap melalui aura Ferdy, tapi seperti menabrak kaca halus. Mereka mundur, kebingungan, dan mencoba lagi dari sudut lain. Hasilnya sama.

Vina, sementara itu, terus mencoba menarik perhatian. “Ferdy, kamu kan jago ngedit. Nanti aku ada foto prewedding temenku, bisa bantu edit gak? Aku traktir makan.”

Ferdy, yang merasakan ketidaknyamanan yang semakin menjadi, akhirnya menegaskan.

“Vina, kita lagi serius meeting. Nanti aja ya? Kita chat lain waktu.” Kalimatnya tegas, tidak meninggalkan ruang untuk negosiasi.

Ekspresi Vina berubah sepersekian detik. Ada cahaya kesal dan keheranan di matanya. Ini aneh. Biasanya, lelaki mana pun yang ia dekati dengan ‘penampilan lengkap’ plus ‘bantuan spiritual’ ini akan langsung luluh, setidaknya jadi sangat perhatian. Tapi Ferdy? Dingin. Bahkan sedikit menjengkelkan.

“Oh… oke deh. Baiklah. Nanti aku chat ya,” ucap Vina, akhirnya mengalah. Dia berbalik dan pergi dengan langkah yang sedikit kurang percaya diri, menuju meja di seberang di mana dua teman perempuannya sudah menunggu sambil menyembunyikan tawa.

Khodam-khodam di sekitarnya, tampak frustrasi. Salah satunya bahkan mencoba mencakar arah Ferdy dengan energi negatif, tapi sekali lagi, mental block Ferdy yang sedang fokus dan sedikit kesal membuat serangan itu memantul.

Dasima mengamati semuanya dengan mata tajam. Awalnya dia khawatir, lalu merasa lega, dan akhirnya… penasaran. Dia melayang mendekati Ferdy, memandangi wajahnya yang kini kembali fokus berdiskusi dengan teman-temannya.

“Kau kebal, Raden? Atau… jangan-jangan ini karena sisa-sisa energiku yang melekat padamu? Atau karena jiwamu sendiri yang memang kuat?” gumam Dasima.

Dia kemudian memutuskan untuk mengikuti Vina sebentar. Dia melayang di atas meja di seberang, menyaksikan Vina yang sedang menggerutu pada temannya.

“Gak mempan, Nis! Padahal udah pakai ‘itu’ loh. Tapi dia cuek banget. Kayak punya tameng,” keluh Vina sambil menyendok dessert nya.

“Mungkin dia gay, Vin,” goda temannya.

“Ah, nggak lah. Dia cuma… lain aja. Tapi makin penasaran sih,” jawab Vina, matanya menyipit saat melirik ke arah Ferdy. Ada api tantangan di sana. Bukan lagi sekadar tertarik, tapi ingin menaklukkan. Ingin membuktikan bahwa pesonanya tak terkalahkan.

Dasima kembali ke sisi Ferdy, hatinya campur aduk. Ancaman datang dari berbagai sisi. Dari Kirana dengan aura kebencian masa lalu yang samar, dari Vina dengan pesona palsu yang dibantu makhluk halus. Dunia modern ini ternyata tak kalah berbahayanya dengan dunia istana abad ke-15.

“Tampaknya, penjagaanku tidak akan pernah usai, Raden,” bisik Dasima, menatap profil wajah Ferdy yang sedang serius mendiskusikan angle kamera.

“Tapi biarlah. Aku sudah berjanji. Akan ku jaga kau dari semua yang tak kasatmata. Baik itu dendam masa lalu… maupun godaan masa kini.”

Di meja mereka, Ferdy tiba-tiba merinding. Dia melihat ke sekeliling, lalu mengusap lengannya. “Kok dingin lagi ya di sini?”

“AC nya emang kenceng, Fer,” kata Roni.

Tapi Ferdy ragu. Dingin ini berbeda. Dingin ini terasa… seperti pengawasan. Dan untuk pertama kalinya, dalam kebingungan dan ketidakpastian hidupnya yang ruwet, perasaan diawasi itu justru memberinya sedikit rasa aman yang aneh.

Sementara itu, di layar laptopnya, foto keris dengan refleksi samar seolah menatap balik, menyimpan ribuan cerita yang suatu hari nanti harus terungkap.

1
Halwah 4g
Ooohhh Dasimaa..ada yg fisik juga modelan Kirana..beughhh..menang bnyak Ferdy yak harusnya 🤭..setiaaaa GK tuh ma Dasima y 😄
Bp. Juenk: wahaha masak setia Ama ghaib
total 1 replies
Marine
mantap sangat mendalami karya sebagai author yaa
Youarefractal
Wih bagus bgt, baru pertama loh aku baca sampai selesai 1 bab, aku suka setiap detail soal potografi-nya, seolah penulis memang potografer beneran
Bp. Juenk: thanks Kk support nya 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!