Di puncak Gunung Qingyun yang berkabut, gerbang Sekte Aliran Abadi telah miring dimakan rayap. Tidak ada teknik dewa, tidak ada tumpukan batu roh, tidak ada ribuan murid yang bersujud. Hanya ada Su Lang, pemuda biasa dengan tulang kultivasi rata-rata, dan sebuah plakat kayu tua warisan mendiang gurunya.
Su Lang memiliki sebuah "Sistem Pondasi Sekte". Benda itu tidak memberinya kekuatan instan. Sistem itu hanya sebuah panduan kaku yang menuntut keringat darah. Ingin beras? Cangkul tanah di belakang gunung. Ingin teknik pernapasan dasar? Perbaiki atap aula utama dengan tangan sendiri. Ingin menjadi kuat? Latih satu gerakan pedang sepuluh ribu kali di bawah air terjun musim dingin.
Ini bukan kisah tentang penaklukan dunia atau pembantaian musuh yang arogan. Ini adalah catatan harian seorang pemuda yang menolak membiarkan api sektenya padam membangun kembali kejayaan dari serpihan genting pecah satu napas , satu langkah satu hari pada satu waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝐍𝐞𝐳𝐮𝐤𝐨 i, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 12 makam tanpa nama di perut bumi
Dinginnya fajar di Puncak Qingyun kali ini terasa berbeda. Bukan dinginnya salju yang menusuk kulit, melainkan hawa murni yang seolah-olah berdenyut dari dalam tanah, selaras dengan detak jantung Su Lang. Di dalam Aula Utama yang baru direnovasi, Su Lang berdiri menatap lantai kayu cendana hitam tepat di depan altar leluhur.
Di bawah sana, tersembunyi lima ratus meter di kedalaman batu gunung, sebuah makam kuno sedang menunggu.
"Sistem, tandai koordinat titik masuk terlemah dari segel tersebut," perintah Su Lang dalam hati.
*[Memproses... Titik masuk terdeteksi di balik air terjun beku di tebing belakang sekte. Segel di sana memiliki celah alami akibat erosi energi selama ribuan tahun.]*
Su Lang menghela napas. Dia tahu perjalanan ini berbahaya. Makam kuno sering kali merupakan jebakan maut bagi para kultivator serakah. Namun, sebagai Ketua Sekte, dia tidak bisa membiarkan sumber energi yang tidak stabil berada tepat di bawah tempat tidur murid-muridnya.
Saat ia berbalik untuk pergi, ia menemukan Lin Yue sudah berdiri di ambang pintu. Dia mengenakan *Jubah Bayangan Sutra* yang baru saja ditempa Su Lang. Jubah itu tampak menyatu dengan bayang-bayang fajar, membuatnya terlihat seperti dewi malam yang anggun namun mematikan.
"Guru," panggil Lin Yue lembut. Ada kecemasan yang tertahan di matanya yang bening. "Anda benar-benar akan pergi ke bawah sana sendirian?"
Su Lang menghampirinya. Dia bisa merasakan hawa Yin yang kini lebih stabil memancar dari tubuh Lin Yue. "Tempat itu terlalu berbahaya untuk kalian. Li Yun baru saja menyentuh Qi, dan Xiao Me tidak memiliki kultivasi. Aku harus memastikan jalan itu aman terlebih dahulu."
Lin Yue melangkah maju, tangannya perlahan memegang lengan baju Su Lang. Ini adalah tindakan yang berani bagi seorang murid, namun ikatannya dengan Su Lang sudah melampaui formalitas. "Setidaknya... biarkan saya mengantar Anda sampai ke mulut gua. Jubah ini bisa menyembunyikan keberadaan kita jika ada monster lain yang mendekat."
Su Lang menatap wajah Lin Yue yang penuh tekad. Dia menyadari bahwa melarangnya hanya akan membuat wanita itu menderita karena rasa khawatir. Dia meletakkan tangannya di atas tangan Lin Yue yang berada di lengannya, sebuah sentuhan hangat yang membuat napas Lin Yue sedikit tersendat.
"Baiklah. Tapi saat kita sampai di sana, kau harus kembali dan menjaga Li Yun serta Xiao Me. Kau adalah garis pertahanan terakhir sekte ini sekarang."
"Saya mengerti, Guru," bisik Lin Yue, wajahnya sedikit merona karena kontak fisik tersebut.
***
Mereka berdua meluncur menuruni tebing belakang dengan lincah. Su Lang menggunakan *Langkah Bayangan Awan* sementara Lin Yue mengikuti seperti bayangan yang nyaris tak bersuara berkat jubah barunya. Di dasar tebing, sebuah air terjun raksasa telah membeku menjadi dinding kristal es yang megah.
Di balik tirai es itu, tersembunyi sebuah lubang sempit yang memancarkan cahaya biru redup.
"Sampai di sini, Lin Yue," Su Lang berhenti di depan lubang tersebut. Dia mengeluarkan sebuah giok komunikasi sederhana yang dia beli dari sistem seharga 2 poin dedikasi. "Jika giok ini bersinar merah, segera bawa anak-anak pergi dari puncak. Jika hijau, artinya aku aman."
Su Lang menggantungkan giok itu di leher Lin Yue. Saat ia merapikan talinya, wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Lin Yue bisa merasakan kehangatan napas Su Lang di keningnya. Di tengah hutan yang sunyi dan beku, momen intim ini terasa sangat kontras dengan bahaya yang mengintai di depan.
"Jaga dirimu," kata Su Lang rendah.
Lin Yue memejamkan mata sejenak, menikmati perhatian gurunya. "Saya akan menunggu Anda di sini, Guru. Bahkan jika salju menimbun saya, saya tidak akan pergi sebelum Anda kembali."
Su Lang tersenyum tipis, menepuk bahu Lin Yue, lalu berbalik dan menghilang ke dalam lubang gelap itu.
***
Lorong di bawah air terjun itu tidak seperti gua alami. Dindingnya halus, dipahat dengan presisi yang hanya bisa dilakukan oleh kultivator tingkat tinggi. Semakin dalam Su Lang melangkah, semakin kuat tekanan spiritual yang ia rasakan.
*[Ding!]*
*[Peringatan: Memasuki Wilayah Tekanan Jiwa. Kapasitas Qi pengguna ditekan sebesar 10%.]*
Su Lang mendengus. "Hanya 10%? Makam ini pasti sudah sangat tua sehingga kekuatannya memudar."
Tiba-tiba, lorong itu terbuka menjadi sebuah ruang luas yang menakjubkan. Itu adalah sebuah aula bawah tanah yang dibangun dari batu giok putih. Di tengah aula, melayang sebuah peti mati transparan yang terbuat dari kristal es abadi. Namun, yang menarik perhatian Su Lang bukan petinya, melainkan apa yang ada di sekelilingnya.
Ribuan pedang berkarat tertancap di lantai giok, semuanya mengarah ke peti mati itu, seolah-olah mereka sedang melakukan penghormatan terakhir... atau sedang mengurung sesuatu.
*Pecahan Kuali Penempa Surga* di saku Su Lang mulai bergetar hebat.
*Wuuuungg!*
Getaran itu memicu reaksi berantai. Pedang-pedang di lantai mulai berdenting, mengeluarkan suara seperti ribuan lonceng kematian. Dari bayang-bayang di sudut ruangan, sesosok makhluk mulai terbentuk. Itu adalah seorang prajurit setinggi dua meter, mengenakan zirah kuno yang sudah retak, namun matanya memancarkan api biru yang dingin.
**[Mendeteksi Penjaga Makam: Sisa Jiwa Prajurit Perunggu.]**
**[Kultivasi: Qi Condensation Tingkat 4 (Tertekan).]**
"Penyusup..." suara itu bergema, bukan di telinga Su Lang, tapi langsung di dalam pikirannya. "Sekte Aliran Abadi telah jatuh... Mengapa darah sampah sepertimu berani mengotori tempat peristirahatan terakhir Sang Leluhur?"
Su Lang menyipitkan mata. *Leluhur?* Apakah makam ini milik pendiri Sekte Aliran Abadi?
"Aku adalah Ketua Sekte ke-17," kata Su Lang, suaranya lantang meski ditekan oleh aura prajurit itu. "Aku datang bukan untuk menjarah, tapi untuk menstabilkan energi yang mengancam murid-muridku!"
"Ketua? Dengan kultivasi tingkat 3?" Prajurit itu mengangkat pedang besarnya yang berkarat. "Kalau begitu, buktikan kualifikasimu dengan nyawamu!"
Prajurit itu melesat. Meski gerakannya kaku, setiap langkahnya menghancurkan lantai giok di bawahnya.
Su Lang mencabut *Pedang Angin Murni*. Dia tahu dia tidak bisa menang dalam adu kekuatan fisik. Dia harus menggunakan keunggulannya: teknik dan sistem.
"Sistem! Analisis titik buta lawan!"
*[Analisis Selesai: Sendi lutut kiri dan celah di bawah pelindung leher adalah titik lemah energi jiwanya.]*
Su Lang bergerak. *Langkah Bayangan Awan!*
Dia tampak seperti ilusi yang berputar di sekitar prajurit besar itu. Pedang besarnya menghantam udara kosong, menciptakan gelombang kejut yang meretakkan dinding-dinding giok. Su Lang menyelinap di bawah ketiak lawan, mengayunkan pedangnya dengan presisi mematikan.
*KLANG!*
Pedang Su Lang mengenai lutut kiri prajurit itu, memutus aliran energi biru yang menggerakkannya. Prajurit itu berlutut, menggeram marah.
"Pedang yang bagus... tapi tidak cukup!" Prajurit itu melepaskan ledakan Qi dari tubuhnya, memaksa Su Lang mundur belasan meter.
Su Lang merasakan darah hangat mengalir dari sudut mulutnya. Perbedaan tingkat dalam ranah Qi Condensation semakin terasa saat menghadapi lawan yang memiliki pengalaman tempur ribuan tahun.
"Sistem, gunakan 5 poin dedikasi untuk mengaktifkan 'Visi Dewa Penempa'!"
Seketika, pandangan Su Lang berubah. Dia tidak lagi melihat prajurit itu sebagai makhluk, melainkan sebagai rangkaian struktur energi dan logam. Dia melihat bahwa sisa jiwa prajurit itu terikat pada sebuah permata kecil di dadanya.
"Itu intinya!"
Su Lang mengambil risiko. Bukannya menghindar, dia justru berlari lurus menuju prajurit itu.
"Mati kau, bocah!" Prajurit itu menebaskan pedang besarnya secara vertikal, bermaksud membelah Su Lang menjadi dua.
Su Lang tidak berhenti. Di saat-saat terakhir, dia meluncur di lantai giok yang licin, melewati di bawah bilah pedang raksasa yang hanya berjarak satu inci dari kepalanya. Dia bangkit tepat di depan dada prajurit itu.
"Seni Pedang Aliran: Titik Beku!"
Su Lang menusukkan pedangnya sekuat tenaga ke permata di dada prajurit itu.
*KRAK!*
Permata itu retak. Api biru di mata prajurit itu meredup, lalu meledak menjadi serpihan cahaya yang indah. Prajurit itu hancur, zirahnya jatuh ke lantai menjadi tumpukan logam tak bernyawa.
Keheningan kembali menyelimuti aula.
**[Misi Tersembunyi Selesai: Ujian Kualifikasi Ketua Sekte.]**
**[Hadiah: 30 Poin Dedikasi, 10 Poin Reputasi.]**
**[Item Diperoleh: Kunci Giok Leluhur, Manual Teknik: 'Napas Naga Langit' (Tingkat Bumi - Rusak).]*
Su Lang terengah-engah, namun matanya terpaku pada peti mati kristal yang kini perlahan turun ke lantai. Tutup peti mati itu bergeser terbuka, mengeluarkan kabut putih yang sangat dingin.
Di dalamnya, tidak ada mayat. Hanya ada sebuah gulungan sutra emas dan sebuah botol kecil berisi cairan perak yang berdenyut.
Su Lang mendekat. Di gulungan sutra itu tertulis:
> *"Bagi penerusku yang mampu mengalahkan penjagaku saat masih di tingkat rendah: Sekte Aliran Abadi bukanlah sekadar nama. Di bawah pegunungan ini, terkubur Nadi Naga yang dicuri. Botol ini berisi Esensi Nadi Naga. Gunakan untuk memperkuat fondasi sekte, atau hadapi kehancuran di tangan mereka yang menginginkannya."*
Su Lang menggenggam botol itu. Dia bisa merasakan kekuatan yang sanggup meruntuhkan gunung di dalam genggamannya. Ini bukan sekadar harta; ini adalah tanggung jawab yang berat.
Namun, saat ia hendak keluar, ia melihat sesuatu yang lain di dasar peti mati. Sebuah cincin perak sederhana dengan ukiran awan.
**[Item Terdeteksi: Cincin Ruang Leluhur (Kapasitas: 100 Meter Kubik).]**
"Akhirnya, aku tidak perlu membawa tas kain lagi," gumam Su Lang.
Dia segera menyapu bersih isi makam—pedang-pedang berkarat itu (yang ternyata adalah logam berkualitas tinggi jika dilebur kembali), beberapa buku catatan kuno, dan tentu saja hadiah utamanya.
Saat Su Lang keluar dari lubang gua di balik air terjun, matahari sudah mulai terbenam, mewarnai salju menjadi jingga keunguan. Dia melihat sesosok siluet mungil yang duduk mematung di depan mulut gua, tertutup oleh lapisan salju tipis.
Itu Lin Yue. Dia benar-benar menunggu di sana tanpa bergerak sedikit pun, persis seperti yang dikatakannya.
Mendengar suara langkah kaki, Lin Yue tersentak dan berdiri. Saat melihat Su Lang keluar dengan selamat—meski jubahnya sedikit robek dan ada noda darah di wajahnya—air mata Lin Yue pecah.
Dia berlari dan menabrak dada Su Lang, memeluknya dengan kekuatan yang tidak terduga dari tubuhnya yang rapuh. "Guru... Anda kembali... Anda benar-benar kembali..."
Su Lang tertegun, tangannya yang masih memegang pedang perlahan mengendur. Dia membalas pelukan Lin Yue dengan tangan kirinya, mengusap punggungnya yang bergetar. Hawa dingin dari salju di pakaian Lin Yue kontras dengan kehangatan emosinya.
"Aku sudah bilang, aku tidak akan mati semudah itu," bisik Su Lang.
Dia mengangkat dagu Lin Yue, menghapus air mata di pipinya yang dingin. "Ayo pulang. Kita punya banyak hal untuk dilakukan. Puncak Qingyun tidak akan pernah sama lagi setelah hari ini."
Malam itu, di bawah perlindungan kabut rahasia, Su Lang menanamkan botol Esensi Nadi Naga ke pusat formasi sekte. Seluruh gunung bergetar pelan, dan tiba-tiba, pepohonan di sekitar sekte mulai tumbuh lebih hijau meski di tengah musim dingin. Qi di udara menjadi begitu padat sehingga menyerupai tetesan embun.
Sekte Aliran Abadi baru saja mendapatkan jantung barunya. Dan Su Lang, dengan sistem dan warisan leluhurnya, siap menantang siapapun yang berani mengusik kedamaian "keluarga" kecilnya.