NovelToon NovelToon
Selamat, Dan Selamat Tinggal

Selamat, Dan Selamat Tinggal

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:542
Nilai: 5
Nama Author: Awanbulan

Rian telah menunggu jawaban atas cintanya selama dua bulan, hanya untuk disambut kabar bahwa Sari, teman masa kecil yang sangat ia cintai, telah resmi berpacaran dengan orang lain.
Alih-alih merasa bersalah,
Sari justru meminta jawaban cinta Rian "ditunda" agar hubungan mereka tetap nyaman.
Di saat itulah, Rian menyadari bahwa selama ini ia bukan orang spesial, melainkan hanya alat kenyamanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Awanbulan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19

Sudut Pandang Rian

​Senin pagi... awal dari minggu yang panjang.

Karena aku sudah tidak perlu berurusan lagi dengan Naya, aku mulai bersiap-siap lebih awal. Mungkin ini akan menjadi rutinitas baruku. Aku menuju ruang tamu, namun seperti dugaan, Rina belum bangun karena ini masih terlalu pagi. Suasana terasa sepi, tapi sekaligus sangat lega.

Selamat tinggal, pagi yang berantakan.

​─────

​“Aku sudah menunggumu.”

​Suara itu menyambutku tepat di depan pintu. Aku menjawab singkat, tapi jujur saja, jantungku hampir copot. Laras sudah berdiri di sana, menungguku.

​Tunggu, dia ini sebenarnya siapa? Kenapa dia bisa tahu jam berapa aku berangkat? Kemarin dia memang bertanya, “Bolehkah aku datang lagi?”, dan aku menjawab, “Asal jaga jarak, terserah saja.”

​Ya, aku memang bilang begitu, tapi aku tidak menyangka dia akan muncul sepagi ini sebelum sekolah dimulai! Dia datang dari tempat yang cukup jauh, jadi aku tidak mungkin mengusirnya sekarang.

​“...Untuk hari ini tidak apa-apa. Tapi bisa tidak, jangan datang ke rumah sebelum sekolah mulai? Jujur, ini sangat mengganggu,” kataku tegas sambil menatap matanya.

​Aku tidak mau mengulangi kesalahan yang sama seperti saat menghadapi Sari. Jika ada yang tidak kusuka, aku harus mengatakannya dengan jelas. Kalau tidak, rasa frustrasi akan menumpuk dan akhirnya meledak—dan aku sudah tahu betapa hancurnya dampak ledakan itu.

​Mendengar teguranku, Laras langsung menunduk. Dia sepertinya sadar tindakannya agak berlebihan.

“Maafkan aku... aku hanya ingin bertemu kamu lebih cepat. Kalau itu maumu, Rian, aku akan lebih hati-hati lain kali,” jawabnya pelan.

​Dia sangat pengertian dan mudah diajak bicara. Berbeda jauh dengan Sari yang butuh waktu lama untuk diyakinkan. Aku jadi heran sendiri, kenapa dulu aku bisa menyukai cewek semerepotkan Sari.

​“Sudah, ayo berangkat sekarang,” kataku sambil melangkah.

“I-iya! Hehehe!” seru Laras dengan wajah ceria. Pipinya merona merah. Meskipun aku baru saja melarangnya datang besok, dia tampak sangat bahagia bisa berangkat bersamaku hari ini.

​Namun, kami tidak jalan berdampingan. Aku masih memasang dinding pembatas, jadi Laras mengekor di belakangku.

​“Haaa... punggungmu sangat anggun...” gumamnya pelan dari belakang.

Aku diam saja.

“Tampan sekali, seperti saat kamu menyelamatku waktu itu. Aku bisa mati karena terpesona... Aku ingin memimpikan pria sepertimu terus...” suaranya mulai bergetar aneh.

“...”

“Punggung seorang pria... aku tidak tahan... aku sangat menyukainya...”

​Aku mendadak berhenti dan berbalik. “Laras.”

“Ya, Rian? Ada apa?” tanyanya sambil mendekat sedikit.

“...Bisa jalan di depan saja? Bergumam di belakangku seperti itu... agak menakutkan,” kataku jujur.

“Oh! Maafkan aku!” Laras langsung maju ke depanku dengan ekspresi bersalah.

​Aku tidak menyesal mengatakannya. Sebenarnya, aku tidak berniat menyembunyikan rasa risihku lagi. Anehnya, Laras justru terlihat senang meski aku bilang dia menakutkan. Dia terus melangkah di depanku sambil sesekali senyum-senyum sendiri.

​Dia cewek yang sangat aneh. Dia bilang pernah membantuku dulu... tapi aku sama sekali tidak ingat. Meski begitu, aku sadar akan perasaannya. Dia berkali-kali menggumamkan kata cinta. Tapi, aku tidak bisa membalasnya. Setidaknya tidak sekarang. Aku sedang tidak ingin memikirkan soal asmara.

​────

​Sesampainya di sekolah, kami menuju loker sepatu. Di sinilah kami berpisah. Laras tampak sangat sedih, seolah ini adalah perpisahan selamanya.

​“Rian... kalau kamu mengizinkan... bolehkah sesekali kita berangkat bareng lagi?” tanyanya ragu sambil menunduk.

​Aku menimbang sejenak. Sepanjang jalan tadi dia tidak melakukan hal yang kelewat batas. Dia menjaga jarak dan berhenti bicara aneh setelah kutegur. Singkatnya, berangkat bareng dia tidak terlalu buruk.

​“Ya, boleh saja,” jawabku singkat.

“Eh?! Serius?! Yes!” Laras mengepalkan tinjunya dengan semangat, lalu berbalik lari menuju kelasnya. “Selamat siang, Rian!”

​“Anak itu... sebenarnya baik sekali,” gumamku pelan.

Meskipun kedatangannya yang tiba-tiba itu mengganggu, sikapnya setelah ditegur sangat sempurna. Dan entah kenapa, setiap melihatnya, aku merasakan dejavu yang nostalgia. Mungkin itu alasan kenapa aku tidak bisa benar-benar menolaknya.

​────

​Aku mengganti sepatu dan berjalan menyusuri lorong. Tiba-tiba, seseorang memanggilku.

​“Rian, bisa bicara sebentar?”

​Aku menoleh. Di sana berdiri Andi, pacar Sari. Dia adalah atlet populer di sekolah ini. Tatapannya ragu, tapi dia jelas menungguku.

​Aku sudah menduga hal ini. Pasti soal Sari. Tapi aku tidak punya alasan untuk marah padanya. Aku justru kasihan; dia terjebak dengan cewek seperti Sari.

​“Andi. Mau bicara soal Sari, kan?” tanyaku langsung.

“...Benar. Ini soal hubunganmu dengannya—”

“Kami cuma teman masa kecil,” potongku datar.

​Ekspresi Andi berubah muram. “Apa tidak apa-apa kamu bicara begitu? Kamu bisa kena masalah.”

“Yah, terserah dia mau marah atau tidak,” kataku sambil angkat bahu.

“Masalahnya... dia marah padaku. Dia bilang aku seharusnya tidak hanya menyebutnya sebagai teman masa kecilmu...” Andi tampak sangat kesal dan tertekan.

​Aku melongo. Astaga, Sari... benar-benar gila. Dia berusaha memanipulasi Andi agar cemburu padaku?

Jangan jadikan aku musuhmu, Andi! Aku tidak mau terlibat dalam drama kalian!

​“Aku ingin bicara lebih panjang setelah sekolah,” kata Andi serius. “Bagaimana kalau di kedai kopi dekat sekolah? Aku tahu kamu sibuk dengan klub, tapi ini penting.”

​Nada bicaranya agak menuntut. Wajar sih, baginya aku adalah "pengganggu" dalam hubungannya. Aku harus meluruskan kesalahpahaman ini sebelum semuanya makin runyam. Aku tidak mau punya musuh hanya karena keegoisan Sari.

​“...Boleh. Aku akan datang,” jawabku.

“Terima kasih,” Andi mengangguk lega.

​Sebelum dia pergi, aku teringat sesuatu. “Ngomong-ngomong, Sari sedang tidak masuk, kan? Aku dengar dari Rina, dia sedang sakit.”

“Hah? Sakit? Bagaimana bisa?” Andi tampak bingung.

“Katanya dia keluar rumah tengah malam dan akhirnya masuk angin.”

“Keluar malam? Untuk apa?”

“Kurasa dia sudah gila,” jawabku jujur tanpa ekspresi.

“...Kurasa tidak sampai segitunya,” balas Andi sambil menggeleng lemah, seolah berusaha membela pacarnya yang mulai tidak masuk akal itu.

1
Awanbulan
bintang 5
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!