NovelToon NovelToon
Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Sistem Penghancur - Kebangkitan Pecundang

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / CEO / Sistem / Mafia / Balas Dendam / Roman-Angst Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Kenzo Banyu Samudera adalah anak tiri dari keluarga konglomerat, hidup sebagai pecundang yang dihina, disiksa, dan dibuang. Lemah, cupu, dan tak pernah melawan—hingga suatu malam ia nyaris mati bersimbah darah. Namun kematian itu justru menjadi awal kebangkitan.
Kesadaran Bayu Samudra, petarung jalanan miskin yang tewas dalam pertarungan brutal, terbangun di tubuh Kenzo. Bersamaan dengan itu, sebuah Sistem Pemburu aktif di kepalanya. Kebangkitan ini bukan hadiah. Keluarga Kenzo memfitnah, menghapus identitasnya, dan mengusirnya dari rumah.
Dari jalanan kumuh, Bayu merangkak naik. Tinju jalanannya berpadu dengan kecerdasan Kenzo dan kekuatan sistem. Perlahan ia membangun kerajaan bayangan bisnis legal di permukaan, mafia di balik layar. Namun sisa memori Kenzo menghadirkan luka, kesepian, dan konflik batin.
Di antara dendam, cinta, dan kegelapan, Bayu harus memilih: menjadi monster penguasa, atau manusia yang masih mengingat rasa kalah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30: SERANGAN BALIK KE RAKA

#

Malam kelima. Hujan turun deras. Petir menyambar-nyambar. Langit gelap total.

Bayu berdiri di atap gedung tinggi. Lima ratus meter dari mansion Samudera. Pakai jaket hitam. Hoodie menutupi kepala. Sarung tangan. Masker. Tas ransel berisi senjata dan bom.

Di telinganya, earphone kecil. Koneksi ke Maya.

"Gue udah matiin CCTV perimeter luar. Lu punya waktu sepuluh menit sebelum sistem reboot otomatis," suara Maya terdengar jelas.

"Cukup," jawab Bayu singkat.

Dia ambil hook launcher dari tas. Arahkan ke atap mansion. Tembak.

SYUT!

Hook melayang. Menancap di tepi atap mansion.

Bayu tarik kabelnya. Kuat. Terpasang rapat.

Dia loncat.

Meluncur di atas kabel. Cepat. Hujan membasahi wajahnya. Angin kencang menghantam tubuhnya.

Tapi dia tetep fokus.

Lima belas detik kemudian. Dia sampai di atap mansion.

Mendarat pelan. Nggak ada suara.

"Gue masuk," bisiknya ke earphone.

"Hati-hati. Ada dua penjaga di tangga menuju lantai tiga. Posisi jam dua belas dari lu."

Bayu bergerak pelan. Seperti bayangan.

Dia lihat dua penjaga itu. Berdiri santai. Ngobrol sambil ngerokok.

Bayu ambil pisau dari pinggang. Lempar.

SYUT!

Pisau menancap di leher penjaga pertama. Dia jatuh tanpa suara.

Penjaga kedua reflek menoleh. Tapi Bayu udah di belakangnya. Tangan kiri nutupin mulut. Tangan kanan narik kepala ke belakang.

KREK!

Leher patah.

Mayat jatuh pelan.

"Dua bersih," bisik Bayu.

"Bagus. Sekarang masuk lewat pintu atap. Turun tangga darurat. Raka ada di kamar lantai dua. Ujung koridor kanan."

Bayu masuk mansion. Turun tangga darurat. Gelap. Cuma lampu emergency yang nyala redup.

Di lantai dua, dia keluar dari tangga darurat. Masuk koridor.

Koridor mewah. Karpet tebal. Lampu kristal. Lukisan mahal di dinding.

Tapi Bayu nggak peduli.

Dia jalan pelan. Pisau di tangan kanan. Pistol dengan peredam di tangan kiri.

Lalu... pintu salah satu kamar terbuka.

Seorang bodyguard keluar. Tinggi besar. Bawa walkie-talkie.

Dia lihat Bayu. Mata melebar.

Tapi sebelum dia teriak...

DOR!

Peluru tembus dahinya. Jatuh.

"Tiga," gumam Bayu.

Tapi... walkie-talkie di tangan bodyguard itu berbunyi.

"Delta-2, laporan. Ada yang mencurigakan?"

Bayu ambil walkie-talkie itu. Ubah suaranya jadi lebih berat.

"Nggak ada. Aman."

"Oke. Tetap waspada."

Komunikasi putus.

Bayu lanjut jalan. Sampai di pintu kamar Raka.

Pintu kayu mahoni besar. Ada ukiran naga di tengahnya.

"Gue di depan pintu Raka," bisik Bayu.

"Hati-hati. Dia punya bodyguard pribadi di dalam. Minimal dua orang."

"Oke."

Bayu coba buka pintu. Terkunci.

Dia ambil alat pembuka kunci. Otak-atik. Lima detik.

Klik.

Terbuka.

Bayu masuk pelan. Ruangan gelap. Cuma cahaya bulan dari jendela yang menerangi sedikit.

Tapi matanya udah terbiasa dengan gelap. Mode pembunuh udah aktif sejak tadi.

Dia lihat dua bodyguard. Berdiri di kiri kanan ranjang besar.

Raka tidur di ranjang. Selimut tebal. Ngorok pelan.

Bayu bergerak cepat. Pistol terangkat.

DOR! DOR!

Dua tembakan. Dua bodyguard jatuh.

Raka terbangun kaget.

"APA... SIAPA?!"

Dia lihat Bayu yang berdiri di kaki ranjang. Wajah tertutup masker. Tapi mata itu... mata yang familiar.

"K...Kenzo?!"

Bayu cabut maskernya pelan. Wajahnya terlihat jelas di cahaya bulan.

"Hai, adik."

Raka mundur sampai punggungnya nempel di headboard ranjang. Wajahnya pucat.

"Lu... lu seharusnya udah mati..."

"Gue emang udah mati. Tapi gue balik. Buat bunuh lu."

Bayu arahkan pistol ke kepala Raka.

Raka angkat tangan. "Tunggu! Tunggu! Kita bisa bicara! Gue bisa kasih lu uang! Banyak! Berapa yang lu mau?!"

"Gue nggak butuh uang lu."

"Terus lu mau apa?!"

"Nyawa lu."

Bayu tarik pelatuk.

Tapi...

KLIK!

Peluru habis.

"Sial!"

Raka langsung loncat dari ranjang. Lari ke sudut ruangan. Tekan tombol tersembunyi di dinding.

WUSSHH!

Dinding terbuka. Terowongan rahasia muncul.

"BYE, KAKAK!"

Raka loncat masuk. Dinding nutup lagi.

"RAKA!"

Bayu lari ke dinding. Cari tombolnya. Tapi nggak nemu.

"Maya! Ada terowongan rahasia! Raka kabur!"

"APA?! Tunggu... gue cari di blueprint... ada! Terowongan itu menuju basement! Keluar di garasi!"

"Sial!"

Bayu lari keluar kamar. Turun tangga cepat.

Tapi di tangga... lima bodyguard udah nunggu. Bersenjata.

"TEMBAK DIA!"

DOR! DOR! DOR! DOR!

Peluru berterbangan.

Bayu loncat. Guling. Berlindung di balik pilar.

Pistolnya udah kosong. Dia ambil pisau.

Lempar ke bodyguard paling depan.

SYUT!

Kena mata. Jatuh.

Empat lagi.

Bayu ambil granat dari tas. Cabut pin. Lempar.

"GRANAT!"

BOOM!

Ledakan. Empat bodyguard terpental. Jatuh dari tangga. Mati.

Bayu turun cepat. Sampai lantai satu. Lari ke garasi.

Tapi pas sampai...

Mobil hitam meluncur keluar. Raka di dalamnya. Nyetir sendiri.

Bayu tembak pakai pistol cadangan.

DOR! DOR! DOR!

Kaca belakang mobil pecah. Tapi mobil tetep melaju.

Keluar dari mansion.

Hilang di kegelapan.

"SIAL! SIAL! SIAL!"

Bayu memukul dinding keras. Tangannya berdarah.

"Bayu! Keluar sekarang! Polisi udah dapet laporan! Mereka dateng dalam lima menit!" teriak Maya di earphone.

Bayu napas dalam. Tenangkan diri.

"Oke. Gue keluar."

Tapi sebelum keluar... dia naik lagi ke kamar Raka.

Ambil bom kecil dari tas. Pasang di tengah kamar. Set timer tiga menit.

Lalu dia ambil spidol. Tulis di dinding putih bersih.

"LU BERIKUTNYA."

Dia keluar. Lari ke atap. Meluncur pakai hook tadi.

Sampai di gedung seberang pas...

BOOM!

Kamar Raka meledak. Api menyembur keluar jendela.

Bayu menatap dari kejauhan. Tersenyum dingin.

"Pesan diterima, Raka."

***

Di mansion. Ruang CCTV.

Valerie duduk di depan monitor. Nonton semua yang terjadi lewat rekaman CCTV.

Dia lihat Kenzo masuk. Bunuh bodyguard satu per satu. Masuk kamar Raka. Nyaris bunuh Raka.

Lalu bakar kamarnya.

Valerie menatap layar dengan mata melebar. Tangan gemetar.

Bukan karena takut.

Tapi karena... nggak percaya.

"Kenzo... itu... itu benar-benar kau?"

Suaranya gemetar.

Dia lihat wajah Kenzo di rekaman. Wajah yang dulu lemah. Penakut. Selalu menunduk.

Tapi sekarang...

Mata tajam. Gerakan cepat. Brutal. Tanpa ragu bunuh orang.

"Kau... kau jadi monster..."

Air mata keluar. Mengalir di pipi Valerie yang selalu sempurna.

"Kenapa... kenapa kau jadi seperti ini..."

Dia ingat. Kenzo kecil. Nangis di sudut kamar setelah dipukuli Raka.

"Ibu... maafkan aku... aku nggak sengaja..."

"DIAM! Kau memang anak tidak berguna!"

Valerie menampar Kenzo waktu itu. Keras. Sampai pipinya merah.

Kenzo nangis. Tapi nggak berani lawan.

Cuma diam. Menerima.

Dan Valerie... merasa berkuasa.

Tapi sekarang...

"Kau... kau lawan balik..."

Valerie menutup wajah dengan tangan. Nangis keras.

"Ini... ini salahku... aku yang buat kau jadi monster..."

Tapi di tengah tangisannya...

Ada sesuatu yang lain.

Ketakutan.

Karena dia tau...

Kenzo nggak akan berhenti.

Dia akan terus datang.

Sampai...

Semua mati.

"Raka... Raka harus dibawa keluar negeri... dia nggak aman di sini..."

Valerie bangkit. Keluar ruang CCTV.

Telepon Arjuna yang lagi di kantor.

"Kita harus bicara. Sekarang. Ini darurat."

Dan malam itu...

Mansion Samudera jadi medan perang.

Sepuluh bodyguard mati.

Kamar Raka hancur.

Dan Kenzo...

Masih bebas di luar sana.

Menunggu waktu yang tepat...

Untuk serangan terakhir.

1
REY ASMODEUS
mantap
aa ge _ Andri Author Geje: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!