NovelToon NovelToon
BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

BELAJAR JADI IMAM UNTUK ZAHRA

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Gibrant Store

Hafiz mengira dunia ada dalam genggamannya. Harta, tahta, dan wanita pemuja dusta menjadi santapan hariannya. Ia terperosok dalam kubangan kesombongan, lupa bahwa ia adalah seorang lelaki yang seharusnya menjadi pelindung.

Namun, badai datang meruntuhkan segalanya. Di titik nadir saat semua orang meninggalkannya, ia menemukan sebuah oase bernama Zahra. Wanita yang kesuciannya terjaga, yang doanya menembus langit, dan yang hatinya menjadi tempat persembunyian terakhir bagi Hafiz dari kejahatan dirinya sendiri.

"Maafkan kebodohanku yang tak bisa membimbingmu, Zahra. Izinkan aku belajar menjadi imam, meski langkahku penuh noda."

Mampukah Hafiz menjaga amanah saat jarak memisahkan dan masa lalu kembali menagih janji? Akankah doa Qurrata A'yun menyatukan mereka dalam cinta yang direstui penduduk langit?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

JANJI DI BAWAH HUJAN

Hafiz hanya tersenyum tipis mendengar keraguan Zahra. Senyum yang mengandung ambisi dingin, sisa-sisa kejayaan masa lalunya yang mulai menyala kembali.

"Zahra, dalam bisnis, bukan besar modal yang menentukan, tapi seberapa cepat perputaran dan seberapa besar permintaannya."

Hafiz menatap buku Iqra di tangannya. Matanya berkilat, memantulkan cahaya lampu teras yang temaram.

"Ulat-ulat itu akan menjadi emas. Percayalah padaku, setidaknya sekali ini saja."

Zahra tertegun. Ia melihat sosok CEO dalam diri marbot lusuh ini kembali bangkit, sebuah wibawa yang bahkan Gus Farid pun tak punya.

Baru saja Zahra hendak membalas, langit di atas desa tiba-tiba bergemuruh hebat. Kilatan petir menyambar, membelah kegelapan malam dengan suara yang memekakkan telinga.

Angin kencang mendadak bertiup, menerbangkan debu-debu di pelataran masjid dan menggoyangkan pohon kelapa dengan beringas.

"Sepertinya akan badai," bisik Zahra, merapatkan kerudungnya yang tertiup angin.

Benar saja. Dalam hitungan detik, hujan tumpah dari langit seolah-olah tandon raksasa baru saja jebol di atas sana.

Suara gemuruh hujan menghantam atap seng masjid dengan suara bising.

"Apa Mas benar-benar yakin dengan bisnis ulat itu? Maksudku, Gus Farid bilang gudang akan diratakan secepatnya," tanya Zahra dengan nada cemas yang kental.

Ia menatap ke arah gudang di bawah guyuran hujan. Seolah-olah bangunan itu bisa roboh kapan saja hanya dengan sekali jentikan jari Farid yang berkuasa.

Wajah Hafiz kembali mengeras saat nama pria sombong itu disebut. Aura CEO yang selama ini tertidur di balik baju marbotnya mendadak bangkit, memancarkan kedinginan yang mencekam.

"Dia boleh punya rencana, Zahra. Dia boleh punya uang untuk memesan marmer paling mahal sekalipun," ucap Hafiz dengan nada rendah namun penuh penekanan.

"Tapi dia lupa satu hal. Secara administratif, lahan ini masih di bawah wewenang Kyai Abdullah sepenuhnya, bukan dia. Dia hanya tamu, bukan pemilik."

Hafiz menatap tajam ke arah gudang belakang yang mulai tertutup tirai hujan lebat. Di matanya, gudang itu bukan lagi tumpukan kayu lapuk, melainkan benteng pertahanan harga dirinya.

"Besok pagi, aku akan bicara pada Kyai. Aku tidak akan meminta belas kasihan, tapi aku akan mengajukan proposal kerja sama bisnis," tegas Hafiz.

"Aku ingin izin mengelola lahan itu sebagai aset masjid. Hasilnya bisa membiayai renovasi tanpa harus menjual harga diri pada orang seperti Farid."

Hafiz meletakkan kembali gelas kopi itu ke atas ubin teras yang dingin. Ia menatap Zahra dengan sinar mata yang begitu penuh keyakinan hingga membuat gadis itu terpaku.

"Kalau aku bisa membuktikan hasil nyata dalam dua minggu, Kyai tidak akan punya alasan untuk mengizinkan Farid membongkarnya. Logika ekonomi selalu lebih kuat dari pada janji kosong."

Zahra mengangguk pelan, seolah terhipnotis oleh keberanian Hafiz yang luar biasa. Ia melihat sesuatu yang berbeda pada diri pria di hadapannya malam ini.

"Aku akan membantumu bicara pada Ayah kalau perlu, Mas. Ayah sebenarnya orang yang sangat adil dan mencintai masjid ini lebih dari nyawanya sendiri."

Zahra terdiam sejenak, menatap rintik hujan yang mulai mereda di pelataran. "Hanya saja... Ayah sedang terjepit oleh kekuasaan keluarga Gus Farid di desa sebelah."

"Aku tahu. Ayahmu sedang ditekan oleh status sosial dan politik agama," potong Hafiz dengan tepat. Ia sudah biasa menghadapi negosiasi tingkat tinggi yang penuh tekanan.

Hujan mulai sedikit mereda, menyisakan suara tetesan air dari talang seng yang ritmis. Namun, sebuah cahaya senter mendadak menembus kegelapan dari arah rumah utama Kyai.

"Zahra! Kamu di mana, Nak?" suara berat Kyai Abdullah terdengar memanggil. Suaranya terasa sangat dekat, mungkin hanya berjarak sepuluh meter dari teras masjid.

Zahra terlonjak kaget seolah tersengat listrik dan segera membereskan kerudungnya yang sedikit berantakan. Wajahnya mendadak pucat karena takut tertangkap basah berduaan dengan Hafiz.

"Aku harus masuk, Mas. Tolong, makanan itu dihabiskan ya! Mas butuh energi untuk besok," bisik Zahra dengan suara gemetar.

Hafiz terpaku menatap punggung Zahra yang menghilang di balik pintu samping rumah Kyai. Ia menarik napas panjang, mencoba menetralkan kembali detak jantungnya yang liar.

Hatinya merasa penuh, seolah percakapan tadi telah menghapus semua luka lebam akibat dihina Farid. Di depannya masih tersisa piring makanan dan segelas kopi yang mengepulkan uap tipis.

"Zahra benar. Alif-Ba-Ta ini bukan sekadar huruf Arab," gumam Hafiz pada dirinya sendiri. Ia mengambil kembali buku Iqra-nya yang tadi sempat diletakkan di lantai.

Buku itu sedikit basah terkena tempias hujan, namun bagi Hafiz, benda itu lebih berharga daripada kontrak jutaan dolar. "Ini adalah jalanku untuk pulang," ucapnya lirih.

Dengan semangat menyala, Hafiz kembali duduk bersila. Fokusnya kini seribu persen lebih tajam daripada saat ia memimpin rapat perusahaan.

"Jim... Ha... Kha..." suaranya kini terdengar mantap tanpa keraguan. Ia membayangkan setiap huruf adalah anak tangga keluar dari lumpur masa lalu yang hitam.

Ia tak peduli jika Farid kembali datang membawa arsitek sombongnya besok pagi. Selama ada Zahra yang mendukungnya, Hafiz merasa sanggup menghadapi seluruh badai fitnah.

Hafiz tidak menyadari bahwa dari balik jendela kamar yang gelap, Kyai Abdullah sedang berdiri tegak. Sang Kyai menyingkap sedikit tirai, menatap ke arah teras masjid dengan tatapan dalam.

Kyai telah melihat semuanya, dari momen kopi hingga kebersamaan mereka di bawah hujan. Namun yang paling menyentuh adalah melihat Hafiz berjuang mengeja huruf suci sendirian di tengah malam.

Ada rasa haru menyeruak di dada Kyai, namun sekaligus ketakutan besar membayangi pikirannya. Ia tahu betul siapa Gus Farid yang sebenarnya.

Farid adalah predator yang dibungkus jubah agama, dan dia tidak akan membiarkan seorang marbot mengusik rencananya. Besok pagi, Farid dijadwalkan akan datang membawa tawaran yang lebih mengikat.

Hafiz menutup bukunya saat jam dinding masjid berdentang dua kali. Pukul dua dini hari. Ia tahu ia harus istirahat sebelum hari penentuan tiba.

Ia melangkah menuju kamar marbotnya yang sempit dengan bahu tegap. Ia tidak lagi merasa seperti sampah, melainkan pejuang yang menerima mandat suci.

Satu hal yang pasti, besok pagi bukan lagi soal belajar mengaji, tapi soal perang terbuka. Hafiz tidak akan mundur satu langkah pun dari medan pertempuran ini.

"Kamu salah lawan, Farid," ucap Hafiz pada kegelapan malam. Ia akan menggunakan segala kecerdasan korporatnya untuk menghancurkan dominasi pria sombong itu.

Malam itu, badai di luar memang mereda, namun badai di dalam masjid Al-Hidayah baru saja dimulai. Dan akan menjadi saksi siapa yang benar-benar pantas disebut imam sejati.

Hafiz memejamkan mata di atas kasur tipisnya sambil memeluk mushaf kecil. Ia hanya butuh sedikit kekuatan untuk berdiri tegak saat fajar menyingsing nanti.

Hafiz berbisik pelan sebelum terlelap, "Lailahaillallah... bimbing hamba-Mu ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!