NovelToon NovelToon
Bukan Sistem Biasa

Bukan Sistem Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Dikelilingi wanita cantik / Sistem
Popularitas:175.4k
Nilai: 4.6
Nama Author: Sarif Hidayat

Beberapa bulan setelah ditinggalkan kedua orang tuanya, Rama harus menopang hidup di atas gubuk reot warisan, sambil terus dihantui utang yang ditinggalkan. Ia seorang yatim piatu yang bekerja keras, tetapi itu tidak berarti apa-apa bagi dunia yang kejam.
​Puncaknya datang saat Kohar, rentenir paling bengis di kampung, menagih utang dengan bunga mencekik. Dalam satu malam yang brutal, Rama kehilangan segalanya: rumahnya dibakar, tanah peninggalan orang tuanya direbut, dan pengkhianatan dingin Pamannya sendiri menjadi pukulan terakhir.
​Rama bukan hanya dipukuli hingga berdarah. Ia dihancurkan hingga ke titik terendah. Kehampaan dan dendam membakar jiwanya. Ia memutuskan untuk menyerah pada hidup.
​Namun, tepat di ambang keputusasaan, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
​[PEMBERITAHUAN BUKAN SISTEM BIASA AKTIF UNTUK MEMBERIKAN BANTUAN KEPADA TUAN YANG SEDANG PUTUS ASA!
APAKAH ANDA INGIN MENERIMANYA? YA, ATAU TIDAK.
​Suara mekanis itu menawarkan kesepakatan mutlak: kekuatan, uang,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 tiba dengan belanjaan yang cukup banyak

​[Rama dan Bela sudah meninggalkan lokasi]

​Beberapa menit setelah angkot yang dinaiki Rama dan Bela bergerak menjauh, sebuah mobil Patroli Kepolisian berhenti tepat di depan pintu masuk pasar yang kini mulai sepi. Dua mobil lain menyusul, membunyikan sirene singkat sebelum mematikan mesin.

​Seorang wanita melangkah keluar dari mobil pertama. Rambutnya diikat rapi, seragamnya bersih, dan matanya tajam. Namanya Sherline, Kapten Satuan Reserse yang bertugas di distrik tersebut. Raut wajahnya menunjukkan kekecewaan—mereka datang terlambat

​"Apa yang terjadi di sini? Laporan menyebutkan keributan besar dengan puluhan preman," tanya Sherline, suaranya tenang namun mengandung otoritas mutlak. Ia berbicara pada Pak RT dan pedagang lainnya.

​"K-Kapten Sherline... Sudah selesai, Bu. Semuanya sudah selesai," kata seorang tertua di pasar "Lebih dari lima puluh orang itu... dirobohkan oleh satu orang. Seorang anak muda bernama Rama."

​Sherline menghela napas, frustrasi karena terlambat. "Dirobohkan? Tanpa senjata? Lima puluh preman yang selama ini berafiliasi dengan target kita?"

​Tiba-tiba, seorang pemuda yang sedari tadi merekam dari kejauhan maju dengan tangan gemetar.

​"Maaf, Bu Polisi! S-saya punya videonya. Sedikit goyah, tapi... ini buktinya!" Pemuda itu menyodorkan ponselnya.

​Sherline mengambil ponsel itu tanpa ragu. Layar menampilkan rekaman buram dan bergerak-gerak, fokusnya sering hilang. Namun, di antara bayangan kerumunan, ia melihat kilasan yang cukup untuk membuat jantungnya berdebar.

​Aksi Rama terjadi sangat cepat. Itu bukan pertarungan jalanan. Itu adalah... seni bela diri tingkat tinggi. Gerakan yang efisien, perpindahan pusat gravitasi yang nyaris sempurna, dan force yang digunakan untuk melumpuhkan lawan jauh melampaui pelatihan preman mana pun.

​Sherline, yang dididik dan dilatih langsung oleh ayahnya, seorang Jenderal Polisi, untuk kasus ini, langsung bisa menilai kualitas gerakan tersebut.

​"Luar biasa," bisik Sherline. Ia mengembalikan ponsel itu. "Kirim video itu padaku dan Kau bisa pergi."

Pria itu pun langsung mengirim video tersebur ke ponsel pribadi milik Sherline,

"Terima kasih atas kerja samanya."ucap Sherline setelah menerima kirim video tersebut.

​Sherline berbalik menghadap Sersan Hadi dan timnya, matanya kini memancarkan fokus yang intens, bukan lagi frustrasi.

​"Kita mendapat petunjuk besar," katanya, menunjuk ke layar ponsel Rama yang terekam di benaknya. "Lima puluh preman itu adalah mata rantai terakhir yang kita butuhkan untuk mengungkap jaringan penyelundupan. Mereka adalah kelompok yang selama ini meresahkan masyarakat dan membuat Ayah—maksudku Bapak Kapolres—mengutusku untuk membereskannya."

​Ia berhenti sejenak.

​"Dan sekarang, satu pemuda dari desa bernama Rama itu, melumpuhkan seluruh rantai itu dalam hitungan menit. Hanya dengan tangan kosong."

​Sherline mengepalkan tangan. "pemuda ini, menguasai keahlian bela diri yang sangat langka. Ini bukan ilmu silat kampung. Ini keahlian tempur yang butuh pelatihan intensif bertahun-tahun."

​"Mulai malam ini juga," perintah Sherline dengan nada yang tidak menerima bantahan, mencerminkan otoritas yang diberikan oleh ayahnya. "Selidiki setiap inci tentang Rama. Latar belakang, kemampuan finansial, dan terutama: dari mana dia mendapatkan pelatihan ini."

​"Aku ingin tahu segalanya. Setiap pergerakan, setiap koneksi. Aku yakin, anak muda ini bukan sekadar pahlawan dadakan. Dia adalah kunci untuk memahami atau bahkan menghentikan Sistem yang kita cari, Sersan."

​Sersan Hadi memberi hormat tegas. "Siap, Kapten Sherline! Kami akan bergerak senyap

Angkot berhenti di depan rumah sederhana Pak Suhardi. Udara mulai dingin. Rama dan Bela turun, masing-masing membawa beban yang menunjukkan betapa suksesnya sore itu.

​Rama memanggul kantong-kantong belanjaan bahan makanan dan buah-buahan—terutama buah naga kesukaan Bela—yang menutupi lengannya. Sementara itu, Bela memeluk kantong berisi pakaian baru dan kotak ponsel Rose Gold miliknya, yang terasa begitu berharga.

​Pintu terbuka dan Bu Maya muncul, tersenyum menyambut mereka. Senyumnya segera memudar ketika melihat tumpukan barang yang dibawa Rama.

​"Astaga, Rama! Kalian membawa apa saja ini?" tanya Bu Maya, matanya terbelalak melihat kuantitas belanjaan. "Sejak kapan kita butuh bahan makanan sebanyak ini? Dan buah-buahan mahal?"

​"Selamat sore, Bu," sapa Rama santai, meletakkan semua kantong di lantai teras. "Rama hanya membeli kebutuhan dapur, Bu. Rama lihat stok di rumah sudah menipis."

​Pak Suhardi keluar, mengikuti aroma buah naga dan sayuran segar. Ia juga terkejut. "Nak Rama, ini banyak sekali. Bahkan ada daging yang bagus. Kami sudah memberikan uang belanja, apakah itu tidak cukup?"

​Bela melangkah maju. Ia masih memeluk kotak ponselnya erat-erat, menyembunyikannya sedikit di balik tubuhnya.

​"Pak, Bu," kata Bela. Ia merogoh saku roknya dan menyerahkan beberapa lembar uang kertas kepada Pak Suhardi. "Ini uangnya. Sisanya masih ada, tapi Rama yang membayar sebagian besar belanjaan kami."

​Pak Suhardi dan Bu Maya saling pandang. Uang yang mereka berikan tidak mungkin cukup untuk membeli semua barang di depan mereka, apalagi masih ada sisanya.

​"Rama, Nak. Dari mana kamu dapat uang sebanyak ini?" tanya Pak Suhardi, nadanya kini beralih dari kehangatan menjadi rasa ingin tahu yang hati-hati. Ia tidak mau menuduh, tetapi ia juga tidak mau Rama melakukan hal yang tidak benar.

​Rama tersenyum tipis—senyum yang selalu berhasil menenangkan kekhawatiran orang tua angkatnya.

​"Seperti yang pernah Rama ceritakan saat makan malam, Pak, Bu.," jawab Rama,

​Ia melirik Bela, memberi isyarat agar Bela tidak mengatakan apa-apa lagi. Bela yang masih merasakan getaran ketegasan Rama di toko ponsel, segera mengangguk patuh.

​Bu Maya memandang Bela yang kini memeluk kotak persegi. "Bela, itu apa yang kamu peluk?"

​Bela ragu sejenak. Rama hanya berpesan agar tidak berlebihan menceritakan harganya dan kartu hitam.

​"Ini... ponsel baru, Bu. Rama membelikannya untukku," bisik Bela, menunjukkan kotak itu. Ia sengaja tidak menyebutkan nama model X-Series ataupun harganya yang hampir lima setengah juta rupiah.

​Mata Pak Suhardi dan Bu Maya kembali terbelalak. Ponsel baru? Mereka tahu Rama tidak mungkin punya uang untuk membeli ponsel yang layak, apalagi model terbaru.

​Bu Maya memegang bahu Rama, matanya mencari kebenaran. "Nak, sungguh. Kami tidak ingin kamu terjerumus ke hal-hal buruk. Kalau uang ini didapat dengan cara yang tidak benar, kami lebih baik tidak menerima semua ini."

​Rama menatap mata Bu Maya, memberikan pandangan yang tulus. "Tenang, Bu. Uang ini halal. orang itu memang memberikan uang dengan jumlah cukup besar. Tolong jangan khawatir."

​Meskipun merasa ada yang janggal—terutama tentang sosok 'orang baik' yang rama bicarakan itu, tetapi mengingat bahwa selama ini mereka mengenal Rama adalah anak yang jujur, Bu Maya dan Pak Suhardi memutuskan untuk menerima. Mereka percaya pada ketulusan Rama, dan yang terpenting bagi mereka adalah Rama tidak terlibat dalam kegiatan ilegal atau curang.

​"Baiklah, Nak," kata Pak Suhardi, menghela napas. "Terima kasih banyak. Tapi jangan pernah berbohong pada kami, ya. Kami menganggapmu seperti anak kami sendiri."

​"Tentu, Pak," jawab Rama, lega. "Ayo kita angkat belanjaannya. Biar Rama siapkan buah naga untuk Bela setelah mandi."

1
Dirman Ha
gc ckp
Dirman Ha
ig go
Zulterry Apsupi
yang ini masuk polisi pasti lewat koneksi atau melalui sogokan
Zulterry Apsupi
terlalu naif si mc
Dirman Ha
g book
Dirman Ha
I g nk
Zulterry Apsupi
MC idiot
Memyr 67
𝗋𝖺𝗇𝖽𝗒 𝗂𝗍𝗎 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗌𝖺𝗅𝖺𝗁 𝖺𝗌𝗎𝗁𝖺𝗇 𝗒𝖺?
Memyr 67
𝗁𝖺𝗁? 𝗐𝗂𝖽𝗒𝖺? 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝖻𝗂𝖺𝗌𝖺 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗄𝖺𝗂 𝗉𝗋𝖾𝗆𝗉𝗎𝖺𝗇, 𝗃𝖺𝖽𝗂 𝗇𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗄𝖾𝗄?
Memyr 67
𝗍𝗎 𝗄𝖺𝗇? 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍. 𝖻𝖺𝗀𝖺𝗂𝗆𝖺𝗇𝖺 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗒𝗀 𝗌𝗎𝗉𝖾𝗋𝗂𝗈𝗋 𝗆𝖺𝗎 𝖽𝗂𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝗄𝖺𝗇 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂, 𝗒𝗀 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗅𝗎 𝖽𝗂𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗂𝗇𝗀𝗂𝗇 "𝗆𝖾𝗇𝗒𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇" 𝗋𝖺𝗆𝖺. 𝗋𝖺𝗆𝖺? 𝖽𝗂𝗌𝖾𝗅𝖺𝗆𝖺𝗍𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗅𝖾𝗁 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗉𝖾𝗇𝖺𝗄𝗎𝗍? 𝖻𝖾𝗇𝖾𝗋𝖺𝗇 𝖺𝖻𝗌𝗎𝗋𝖽 𝗌𝗂𝗁 𝖼𝖾𝗋𝗂𝗍𝖺𝗇𝗒𝖺, 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝗌𝖾𝗉𝖾𝗋𝗍𝗂 𝗂𝗍𝗎
Memyr 67
𝗌𝖾𝗆𝗈𝗀𝖺 𝗁𝗎𝖻𝗎𝗇𝗀𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗇 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝖻𝖺𝗍𝖺𝗌 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖺𝗇𝖺𝗄𝗇𝗒𝖺 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍, 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗅𝖾𝖻𝗂𝗁. 𝗄𝖺𝗌𝗂𝖺𝗇 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗄𝖺𝗅𝖺𝗎 𝖻𝖾𝗋𝗉𝖺𝗌𝖺𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝖾𝗐𝖾𝗄 𝗌𝖾𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂. 𝖻𝖾𝗋𝗎𝗌𝖺𝗁𝖺 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝗉𝖺𝖽𝖺𝗁𝖺𝗅 𝗆𝖾𝗅𝗂𝗇𝖽𝗎𝗇𝗀𝗂 𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗇𝖽𝗂𝗋𝗂 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝗍𝗂𝖽𝖺𝗄 𝗆𝖺𝗆𝗉𝗎.
Manusia Biasa
lucu gw suka interaksi bela x rama😁
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗉𝗎𝗍𝗋𝗂 𝗌𝖾𝗅𝖺𝗂𝗇 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁 𝗃𝗎𝗀𝖺 𝗉𝖾𝗅𝗎𝗉𝖺. 𝖽𝗂𝖺 𝗌𝖺𝗃𝖺 𝖽𝗂𝗍𝗈𝗅𝗈𝗇𝗀 𝗋𝖺𝗆𝖺 𝖽𝖺𝗋𝗂 𝗅𝗂𝗆𝖺 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝖻𝖾𝗋𝖺𝗇𝖽𝖺𝗅𝖺𝗇. 𝗆𝖾𝗋𝖺𝗌𝖺 𝗆𝖺𝗌𝗂𝗁 𝗉𝖾𝗋𝗅𝗎 𝗆𝖾𝗆𝗉𝖾𝗋𝗂𝗇𝗀𝖺𝗍𝗂 𝗋𝖺𝗆𝖺?
Memyr 67
𝗅𝖺 𝗂𝗇𝖿𝗈𝗋𝗆𝖺𝗌𝗂 𝗒𝗀 𝖽𝗂𝖽𝖺𝗉𝖺𝗍 𝗌𝗁𝖾𝗋𝗅𝗂𝗇 𝖼𝗎𝗆𝖺 𝗌𝖾𝗉𝖺𝗋𝗈. 𝗉𝖾𝗇𝗀𝖺𝗐𝖺𝗌𝖺𝗇 𝗍𝗂𝗇𝗀𝗀𝗂 𝗁𝖺𝗇𝗒𝖺 𝗎𝗇𝗍𝗎𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝖺𝗇𝖺𝗄 𝗈𝗋𝖺𝗇𝗀 𝗄𝖺𝗒𝖺
Memyr 67
𝗍𝖾𝗋𝗇𝗒𝖺𝗍𝖺 𝗋𝗂𝖼𝗈 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝗌𝖺𝗆𝖺 𝖻𝗈𝖽𝗈𝗁𝗇𝗒𝖺 𝖽𝖾𝗇𝗀𝖺𝗇 𝖼𝗈𝖽𝖾𝗍. 𝗆𝖾𝗇𝗀𝗀𝗎𝗇𝖺𝗄𝖺𝗇 𝗈𝗍𝗈𝗍 𝖻𝗎𝖺𝗍 𝖻𝖾𝗋𝗄𝗎𝖺𝗌𝖺, 𝗇𝗀𝗀𝖺𝗄 𝖻𝗂𝗌𝖺 𝗆𝗂𝗄𝗂𝗋.
Dirman Ha
hv gi
Dirman Ha
yd dg
Dirman Ha
hv no
Dirman Ha
ig gi
Dirman Ha
ih bko
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!