Season 2 dari Novel Sang Penakluk.
Hi Cesss, Novel Sang Penakluk kembali lagi ni. Semoga klean suka dengan alur ceritanya Cesss.
Jangan Lupa Like, Komen dan Supportnya Cesss. Karena setiap like, komen dan support dari kalian akan sangat berguna bagiku yang pemula ini.
Selamat Membaca...,,,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RantauL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9. Pertanyaan Kaisar
Bai Hu mendengus pelan. “Kau rajin bertarung, Bear, bukan berlatih.”
Bear menggaruk kepala, tidak menyangkal.
“Tuan Ray dan saudara Bai bertarung dengan mereka,” Bear melanjutkan sambil menunjuk ke arah Virdrax dan Navhara. “Awalnya mereka adalah penguasa hutan larangan. Namun—”
“—kami kalah dalam bertarung dan memilih menjadi pengawal tuan Ray,” sambung Navhara dengan senyum tipis, suaranya lembut namun berwibawa.
Virdrax mengangguk pelan. “Jika bukan karena kebaikan tuan Ray, kami mungkin tak akan pernah sampai kesini.”
Tiger dan Trile mengangguk mengerti. Kisah ini tidak jauh berbeda dari kisah saat pertama kali mereka bertemu dengan Ray Zen di tengah Hutan Kabut. Saat itu pun mereka juga memilih untuk menjadi pengawal pribadi Ray Zen.
(Cerita tentang Tiger dan Trile terdapat pada Chapter 20 di Season 1).
Disisi lain, Han Yu menatap Bai Hu dengan mata menyipit. Sejak tadi ia menahan rasa penasaran yang menggelora. “Bai Hu,” katanya akhirnya, suaranya serius. “Aura-mu… ini bukan lagi ranah Legend biasa, bukan?”
Tiger dan Trile langsung menoleh. Memperhatikan Bai Hu lekat-lekat.
Bai Hu tersenyum tipis. “Kau cukup peka, paman Han.”
“Mustahil…” Tiger berdiri setengah terkejut. “Aku hampir tak bisa merasakan batasan auramu, saudara Bai. Jangan bilang—”
“Half-Saint *3,” jawab Bai Hu singkat, "Aku telah melampaui batasan kultivasiku."
Suasana gazebo langsung hening.
Han Yu menarik napas panjang. “Half-Saint… *3?” tanyanya, memastikan.
Trile menutup mulutnya dengan tangan, matanya berbinar antara terkejut dan kagum. “Itu… itu ranah yang mustahil untuk dicapai. Apalagi oleh orang-orang yang tinggal di wilayah Kekaisaran Awan Putih ini.”
Hal itu benar. Ranah Half-Saint adalah ranah yang setingkat lebih tinggi dari ranah Legend. Namun perbedaan kekuatan antara keduanya bagaikan langit dan bumi.
Bagi para kultivator, ranah Half-Saint adalah ranah yang sangat mustahil untuk di capai. Bahkan hanya sedikit orang yang mengetahui jika ranah itu benar-benar ada. Belum pernah ada tercatat kultivator Kekaisaran Awan Putih yang mencapai ranah itu.
Sementara ranah Legend sendiri adalah ranah tertinggi yang pernah di capai oleh kultivator-kultivator yang tinggal di wilayah Kekaisaran Awan Putih, itu pun hanya oleh tujuh orang saja, yang salah satunya adalah Han Yu.
Hal itu terjadi karena sedikitnya energi yang dapat diserap oleh para kultivator yang berada di wilayah Kekaisaran Awan Putih dan sedikitnya juga sumber daya yang tersedia jika dibandingkan dengan kekaisaran-kekaisaran lainnya.
(Cerita ketujuh orang yang berada diranah Legend itu terdapat pada Chapter 11 di Season 1).
Semua mata lalu beralih ke Bear.
“Jangan lihat aku begitu,” Bear mengangkat kedua tangannya. “Aku cuma setara Half-Saint *1.”
Tiger tertawa kecut. “Kau bilang ‘cuma’?”
Perbedaan kekuatan itu kini terasa jelas.
Han Yu masih berada di ranah Legend *5, puncak tertinggi yang pernah di capai di wilayah Kekaisaran Awan Putih. Tiger setara dengannya, sementara Trile setara dengan ranah Legend *4. Satu setengah tahun yang lalu, Bai Hu dan Bear tidak terpaut jauh dari mereka. Kini, jaraknya seperti langit dan bumi.
Namun, tidak ada iri di wajah mereka. Hanya kebanggaan dan kekaguman.
Han Yu tersenyum tulus. “Aku sangat senang mendengarnya, perkembangan kalian sangat cepat. Aku bahkan sempat berpikir jika saat bertemu nanti kami bertiga jauh lebih kuat dari kalian. Tapi ternyata aku salah, kalian benar-benar hebat.”
Tiger mengangguk. “Benar. Kalau ada yang pantas melampaui kami di wilayah Kekaisaran Awan Putih ini, itu hanyalah kalian.”
Trile berdiri tiba-tiba, wajahnya penuh semangat. “Kalau begitu—” Ia menoleh tajam ke arah Bear. “Ayo bertarung denganku, Bear. Aku ingin mencoba kekuatanmu yang telah setara dengan Half-Saint itu.”
Bear tertegun sejenak, lalu tertawa keras. “Di sini?”
“Di tempat terbuka,” Trile menyeringai. “Aku ingin tahu seberapa besar jarak diantara kita sekarang.”
Bear mengangkat alis, menoleh ke Ray Zen. “Tuan?”
Ray Zen tersenyum kecil. “Pergilah. Tapi jangan buat keributan.”
Mendengar itu, Bear menjadi sangat bersemangat. Namun, baru saja mereka hendak pergi, langkah kaki terdengar dari jalur batu.
Semua langsung menoleh.
Kaisar Jack Zen berjalan mendekat, mengenakan jubah santai tanpa mahkota, ditemani Permaisuri Mei Ling dan Lia Zen. Wajah Kaisar terlihat lebih lembut dibandingkan saat di aula, sementara Mei Ling tersenyum hangat. Lia Zen berlari kecil mendekati kakaknya, Ray Zen.
“Yang Mulia!” Bai Hu dan yang lain segera memberi hormat.
“Tak perlu formal,” kata Kaisar Jack Zen sambil mengangkat tangan.
Bai Hu melirik Ray Zen, lalu memahami maksud kedatangan Kaisar. “Ayo,” katanya pelan kepada yang lain. “Kita cari tempat lain.”
Han Yu, Tiger, Trile, Bear, Virdrax, dan Navhara mengangguk. Tanpa berkata banyak, mereka segera meninggalkan gazebo, menuju area latihan di luar taman.
Malam kembali hening.
Ray Zen berdiri dan memberi hormat. “Ayah, Ibu.”
Kaisar Jack Zen menepuk bahu putranya. “Aku bangga padamu, Ray Zen.”
Mei Ling memeluk Ray Zen erat, seolah takut ia akan menghilang lagi. “Ibu masih tak percaya kau sudah sejauh ini, anakku.”
Lia Zen menggenggam lengan kakaknya. “Kakak benar-benar hebat.”
Ray Zen tersenyum, hatinya terasa hangat.
Mereka lalu duduk bersama didalam gazebo.
“Ayah,” kata Ray Zen pelan, membuka pembicaraan. “Apa ada sesuatu yang ingin Ayah tanyakan?” ucapnya seolah mengetahui pikiran ayahnya.
Kaisar Jack Zen menatap putranya lama, lalu berkata, “Benar Ray. Ayah ingin bertanya banyak hal padamu. Ayah harap kau mau menjawabnya dengan jujur."
"Apa itu ayah? Katakanlah, aku akan menjawabnya." balas Ray Zen.
Kaisar Jack Zen menarik napasnya pelan. "Ray Zen, putraku. Kau pasti sudah tahu jika kehadiranmu di Istana Kekaisaran Awan Putih ini pasti selalu menjadi pusat perhatian.
Banyak dari mereka yang tinggal di lingkungan Istana yang tidak menyukai kehadiranmu. Namun tidak sedikit pula dari mereka yang sudah mulai menerima dan bahkan menganggap engkau sebagai panutan.
Ayah tahu.., selama ini kau pasti telah menerima banyak sekali penghinaan, tetapi kau tetap berusaha untuk kuat dan menjalani harimu dengan penuh semangat."
Kaisar Jack Zen berhenti sejenak, menatap cahaya bulan di kejauhan. "Kau hebat Ray. Kau bisa melewati semuanya dengan baik. Bahkan sekarang kau telah menjadi orang yang sangat kuat. Menjadi pahlawan yang menyelamatkan banyak nyawa.
Ayah tidak tahu dari mana kau mendapatkan kekuatan itu. Tapi ayah yakin, kau pasti mendapatkannya dengan kerja kerasmu sendiri. Usahamu sendiri."
Ray Zen tersenyum kecil, "Itu semua tidak lepas dari restu Ayah dan Ibu."
Mei Ling ikut tersenyum hangat. Sementara Lia Zen semakin kuat menggenggam lengan kakaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jangan Lupa Like dan Komennya Cesss.....
Selamat Membaca.....
reader yg setia masih menanti update yg terbaru