NovelToon NovelToon
Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Agri-Tech King: Rahasia Proyek Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas dendam pengganti / Dunia Lain
Popularitas:607
Nilai: 5
Nama Author: indri sanafila

Bagi Adrian Dirgantara, hidup adalah angka dan algoritma dari lantai 50 gedung pencakar langit. Namun, semua berubah saat ia mewarisi Dirgantara Tea Estates—perkebunan teh bangkrut yang penuh utang dan petani keras kepala.

Ambisi Adrian hanya satu: menjual tanah itu dan kembali ke kota. Tapi wasiat ayahnya mengikat: tanah tak boleh dijual sebelum ia berhasil memanen teh kualitas "Grade A".

Di tengah kabut pegunungan, Adrian berhadapan dengan Sekar, agronomis desa yang menganggapnya "hama kota". Terjepit antara debt collector dan lumpur perkebunan, Adrian harus memilih: memaksakan teknologi canggihnya, atau belajar bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa diselesaikan dengan satu klik aplikasi.

Satu musim, satu panen, atau kehilangan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indri sanafila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Benteng di Bawah Belerang

Udara di sekitar Kawah Putih mendadak jadi berat, kayak ada beban berton-ton yang neken pundak siapa pun yang berdiri di sana. Titik merah di langit itu yang kata Adrian adalah The Architect makin lama makin gede, ngerubah warna awan yang tadinya putih jadi jingga berdarah. Suasana yang tadinya penuh haru biru karena Adrian "balik", langsung berubah jadi tegang luar biasa.

Adrian berdiri tegak, matanya yang nggak punya bayangan itu natap lurus ke langit. Dia nggak kelihatan takut sedikit pun. Malah, ada aura otoritas yang sangat kuat terpancar dari badannya. Dia nggak lagi kelihatan kayak CEO yang bingung atau pemuda yang lari dari kenyataan. Dia kelihatan kayak jenderal yang udah tahu setiap jengkal medan perangnya.

"Kar, Ris, ikut gua. Sekarang. Kita nggak punya banyak waktu sebelum atmosfer ini berubah jadi medan elektromagnetik," kata Adrian. Suaranya rendah tapi tegas, nggak nerima bantahan.

"Tapi Dri, luka lu... raga lu..." Sekar nyoba megang lengan Adrian, tapi tangannya ngerasa kayak nyentuh aliran listrik statis yang bikin bulu kuduk berdiri.

"Raga ini cuma alat, Kar. Yang penting sekarang adalah keselamatan kalian dan persiapan terakhir," Adrian narik tangan Sekar, sementara tangan satunya ngerangkul Aris yang masih megap-megap karena tangannya patah.

Adrian nuntun mereka ke arah dinding tebing yang paling curam di balik uap belerang. Dia neken telapak tangannya ke sebuah batu besar yang kelihatan biasa aja. Begitu telapak tangannya nempel, muncul barisan kode emas yang ngerambat di sela-sela lumut batu itu.

SREEEKKK...

Batu itu geser, nampilin sebuah lift baja super canggih yang tersembunyi rapi di balik formasi alam. Aris sampe melongo, lupa sama rasa sakit di tangannya. "Buset... Bokap lu bener-bener punya hobi bikin ruang rahasia ya? Ini mah lebih keren dari kantor pusat di Jakarta."

"Ini bukan buatan Bokap, Ris. Ini bunker prototipe yang Ibu bangun secara diam-diam pake teknologi The Ancients," jelas Adrian pas mereka masuk ke dalem lift.

Lift itu meluncur turun dengan kecepatan yang bikin perut serasa ketinggalan di atas. Begitu pintu kebuka, mereka disambut sama pemandangan yang nggak masuk akal buat ada di bawah kawah gunung berapi.

Ruangannya luas banget, dindingnya terbuat dari logam putih yang bersinar sendiri. Di tengah ruangan, ada ribuan layar hologram yang nampilin pergerakan bintang-bintang dan kondisi bumi secara real-time.

"Selamat datang di 'Akar Sejati'," ucap Adrian sambil jalan nuju ke tengah konsol. "Ini adalah satu-satunya tempat di bumi yang punya perisai anti-dimensional. Di sini, The Architect nggak bisa ngeliat kita."

Adrian langsung kerja. Jari-jarinya nari di atas panel hologram dengan kecepatan yang nggak bisa diikuti mata manusia. Dia nggak lagi butuh bantuan Aris buat urusan teknis tingkat tinggi ini. Adrian seolah-olah udah nyatu sama sistemnya.

"Adrian, lu harus jelasin. Apa itu The Architect? Dan kenapa lu bilang lu harus jadi 'sesuatu yang lain' buat ngelawan dia?" Sekar nanya sambil duduk di salah satu kursi ergonomis yang muncul otomatis dari lantai.

Adrian berhenti sebentar. Dia narik napas, dan buat sesaat, wajahnya kelihatan sangat manusiawi lagi penuh beban tapi penuh tekad.

"Gini, Kar. The Harvester itu cuma mesin pamanen. Mereka kerja berdasarkan logika lapar. Tapi The Architect... dia adalah otaknya. Dia yang desain seluruh siklus kiamat di berbagai galaksi. Dia nggak pake pasukan perak. Dia pake manipulasi realitas. Dan alasan dia dateng ke sini secara pribadi adalah karena gua."

Adrian nengok ke arah tangannya yang transparan. "Gua adalah anomali yang paling bahaya buat dia. Gua adalah produk alien yang punya emosi manusia paling stabil. Bagi dia, gua itu kayak api di dalem gudang mesiu. Kalau gua nggak dimatiin, gua bisa nularin 'kehendak bebas' ini ke seluruh jaringan mereka."

"Terus kenapa rupa dia mirip sama Ibu lu?" tanya Aris, dia lagi nyoba masang perban otomatis yang dikasih sistem bunker ke tangannya.

"Karena dia ngambil bentuk dari memori yang paling bikin gua lemah," jawab Adrian dingin. "Dia mau gua nyerah secara sukarela. Tapi dia lupa satu hal: Ibu gua udah ngasih 'kunci' terakhirnya ke gua sebelum dia ilang."

Adrian jalan ke arah sebuah tabung besar di pojokan ruangan. Di dalem tabung itu, melayang sebuah zirah perang yang bentuknya beda banget sama raksasa akar tadi. Zirah ini ramping, warnanya hitam pekat dengan aksen emas murni. Namanya The Singularity Suit.

"Gua bakal pake ini buat perang terakhir. Tapi masalahnya, buat ngaktifin zirah ini, gua butuh 'bahan bakar' yang nggak ada di gudang mana pun," Adrian natap Sekar dan Aris bergantian.

"Apa bahan bakarnya? Darah lagi? Energi Malabar?" Aris nanya.

"Bukan. Bahan bakarnya adalah 'Harmoni Memori'. Gua butuh kalian berdua buat masuk ke dalem Neural-Link bareng gua. Gua butuh semua memori kita di Malabar rasa tehnya, wanginya hujan, tawa kita pas lagi capek buat dijadiin kode pertahanan yang nggak bakal bisa ditembus sama logika dingin The Architect."

Adrian ngulurin tangannya. "Ini bakal bahaya. Pikiran kita bakal nyatu. Semua rahasia, semua rasa sakit, semua ketakutan kita bakal terbuka satu sama lain. Kita nggak bakal bisa punya rahasia lagi."

Sekar berdiri tanpa ragu. Dia megang tangan Adrian. "Gua udah nggak punya apa-apa lagi buat disembunyiin, Dri. Sejak awal gua di Malabar, hidup gua udah buat tujuan ini. Kalau emang memori gua bisa jadi peluru buat lu, ambil semuanya."

Aris nyengir, meski mukanya pucat. "Yah, rahasia gua cuma soal gua pernah nyolong koleksi kabel premium Bokap lu sih. Kalau itu nggak masalah buat lu, ayo gaspol!"

Proses penyatuan dimulai. Mereka bertiga tidur di tiga tempat tidur khusus yang dikelilingi kabel-kabel cahaya. Adrian ada di tengah, Sekar di kanan, dan Aris di kiri.

"Dengerin gua," suara Adrian kedengeran di dalem kepala mereka masing-masing. "Begitu sistem ini nyala, kita bakal masuk ke ruang hampa yang disebut 'The Void'. Di sana, The Architect bakal nyoba buat ngerusak memori kita. Tetap pegang satu hal: Malabar bukan cuma tempat, tapi perasaan. Jangan lepasin perasaan itu."

ZRRRAAAAP!

Dunia di sekitar mereka mendadak ilang. Sekar ngerasa kayak ditarik ke dalem blender raksasa, tapi rasanya nggak sakit. Tiba-tiba, dia berdiri di tengah perkebunan teh Malabar yang sangat indah. Matahari pagi baru aja muncul, nyiptain kabut emas di antara pepohonan.

Dia liat Adrian lagi duduk di kursi kayu lama, lagi nyeduh teh. Tapi di samping Adrian, ada sosok Aris yang lagi benerin radio tua sambil ketawa. Semuanya kerasa sangat nyata. Dia bisa nyium bau pucuk teh yang baru dipetik.

"Ini memorinya," bisik Sekar.

"Indah ya?" suara Adrian muncul di sampingnya. Kali ini Adrian kelihatan sangat manusia, pake kemeja flanel favoritnya. "Ini adalah benteng kita. Selama kita tetep di sini, The Architect nggak bisa masuk."

Tapi tiba-tiba, langit Malabar yang indah itu mulai retak. Retakannya warna merah darah. Dari retakan itu, muncul suara wanita yang sangat lembut tapi bikin merinding.

"Adrian... kenapa kamu bersembunyi di balik bayangan masa lalu? Sini, ikut Ibu. Ibu punya tempat yang lebih indah dari kebun teh yang akan segera mati ini."

Sesosok wanita pake baju putih panjang muncul di tengah kebun teh. Wajahnya bener-bener wajah Ibu Adrian. Dia ngerentangin tangannya, manggil Adrian dengan penuh kasih sayang.

Adrian ngerasain badannya gemeteran. Bagian dari dirinya yang paling kecil pengen banget lari ke sana dan meluk sosok itu. Tapi Sekar langsung megang tangan Adrian kenceng banget.

"Itu bukan dia, Dri! Inget apa yang Ibu lu bilang di portal! Dia mau lu jadi 'Akar', bukan jadi budak!" teriak Sekar.

Aris juga ikut teriak, "Woi Bos! Jangan baper! Ibu lu yang asli nggak bakal pake baju putih begitu di tengah kebun teh, ntar kotor!"

Candaan Aris yang receh itu tiba-tiba ngebuyarin suasana dramatis yang dibangun The Architect. Retakan merah itu sedikit goyang.

Adrian narik napas panjang. Dia natap sosok "Ibu"-nya dengan tatapan yang tajam dan tangguh. "Lu salah pilih taktik. Ibu gua nggak pernah ngajak gua buat kabur. Dia selalu ngajarin gua buat bertahan."

Adrian ngehentakin kakinya ke tanah. Seketika, kebun teh Malabar itu berubah. Pohon-pohon tehnya tumbuh jadi raksasa, ujung-ujungnya jadi tajam kayak tombak emas. Tanah di bawah mereka berubah jadi sirkuit logam yang sangat kuat.

"Gua adalah The Shark, dan ini adalah laut gua!" teriak Adrian.

Dia mulai ngalirin energi dari Sekar dan Aris. Dia ngerasain keberanian Sekar yang tulus dan kesetiaan Aris yang nggak masuk akal. Semua energi itu nyatu, masuk ke dalem dirinya, dan ngerubah penampilannya di ruang mental itu.

Adrian sekarang pake zirah hitam-emas yang tadi ada di tabung. Dia megang sebuah pedang yang terbuat dari cahaya biru murni.

"Sekarang, keluar dari pikiran gua!" Adrian nebas pedangnya ke arah sosok "Ibu" itu.

BLAAASSTTT!

Sosok itu meledak jadi partikel merah yang nyakitin mata. Ruang mental itu bergetar hebat. Mereka bertiga dipaksa bangun dan kembali ke dunia nyata di dalem bunker.

Adrian bangun duluan. Dia langsung berdiri, badannya sekarang bener-bener udah pake zirah Singularity Suit secara fisik. Energinya meluap-luap, bikin suhu di bunker itu jadi anget.

"Sistem aktif 100%," ucap Adrian, suaranya sekarang bergema kayak ada dua suara yang ngomong barengan suaranya dia dan suara sistem bunker.

Dia ngelihat ke layar monitor utama. Titik merah di langit udah mendarat tepat di atas Kawah Putih. The Architect udah sampai.

"Gua harus keluar," kata Adrian. Dia nengok ke Sekar dan Aris yang masih lemes. "Kalian tetep di sini. Jaga Jantung Emas itu. Kalau gua gagal di atas sana, kalian pake protokol 'Akar Terakhir' buat ngirim semua data manusia ke satelit cadangan. Jangan biarin mereka punya data kita."

"Adrian, tunggu!" Sekar lari dan meluk Adrian dari belakang, meski zirahnya terasa dingin dan keras. "Janji sama gua... balik lagi sebagai manusia. Gua nggak mau mie instannya dimakan sama robot."

Adrian diem sebentar. Dia nengok sedikit, matanya yang biru emas natap Sekar dengan penuh rasa sayang yang masih tersisa. "Gua bakal usahain, Kar. Tapi kalau pun gua nggak balik sebagai manusia... gua bakal tetep jadi angin yang niup kebun teh lu."

Adrian langsung melesat keluar lewat lubang ventilasi raksasa di langit-langit bunker, ninggalin Sekar dan Aris dalam kesunyian yang mencekam.

Di luar, Kawah Putih udah berubah jadi medan perang yang sangat aneh. Air peraknya mendidih, uapnya warna ungu. Di tengah kawah, berdiri seorang Wanita The Architect yang asli. Dia nggak melayang, dia cuma berdiri tenang, tapi setiap langkahnya bikin tanah retak dan hancur.

Adrian mendarat di depannya dengan suara ledakan sonik. BOOOM!

"Kamu akhirnya datang, anomali kecil," ucap The Architect. Suaranya asli, nggak pake pengeras suara, tapi kerasa getarannya sampai ke inti bumi. "Sayang sekali kamu harus hancur. Padahal kamu adalah ciptaan paling indah yang pernah ada di siklus ini."

"Gua bukan ciptaan lu," jawab Adrian, pedang cahayanya nyala terang. "Gua adalah hasil dari kesalahan sistem lu yang lu sebut cinta."

Adrian nerjang The Architect dengan kecepatan yang nggak bisa dibayangin. Pertarungan mereka bikin seluruh Gunung Malabar bergetar. Tiap kali pedang Adrian nabrak perisai The Architect, petir warna-warni nyambar ke segala arah.

Adrian bener-bener tangguh. Dia gunain semua elemen Malabar buat nyerang. Dia panggil akar-akar pohon buat nangkep kaki The Architect, dia gunain uap belerang buat jadi kabut penyesat. Dia bener-bener berkuasa di tanah itu.

Tapi The Architect cuma senyum. Dia ngangkat satu tangannya, dan tiba-tiba waktu seolah-olah berhenti.

"Kamu pikir memori manusia bisa ngalahin penguasa realitas?" The Architect ngejentikkin jarinya.

Seketika, zirah Adrian mulai retak. Bukan karena pukulan, tapi karena The Architect lagi "menghapus" konsep logam dari zirah itu. Zirahnya pelan-pelan berubah jadi debu.

Adrian ngerasa badannya mulai lemes. Dia berlutut di depan The Architect.

"Kamu sudah kalah, Adrian. Sekarang, kembalikan Jantung Emas itu, dan aku akan biarkan kedua temanmu hidup di dunia simulasi yang baru."

Adrian nunduk. Dia ngelihat ke arah tangannya yang mulai pudar. Dia denger suara Sekar di komunikator telinganya, nangis manggil namanya.

Adrian tiba-tiba ketawa. Ketawa yang sangat tenang.

"Lu lupa satu hal, Architect..." Adrian dongak, matanya nyala sangat terang, lebih terang dari matahari. "Gua emang nggak bisa ngalahin lu di realitas ini. Tapi gua bisa ngerubah realitas ini jadi sesuatu yang nggak lu kenal."

Adrian nancepin pedang cahayanya langsung ke dalem air kawah perak.

"Aris! Sekar! SEKARANG! AKTIFIN PROTOKOL OVERLOAD!"

Di dalem bunker, Aris neken tombol terakhir. Seluruh Kawah Putih meledak dalam cahaya emas yang sangat luar biasa, ngebentuk pilar cahaya yang nembus sampai ke luar angkasa, nabrak kapal pusat The Architect.

Apa yang sebenarnya terjadi saat Adrian memicu protokol Overload tersebut? Apakah dia berniat menghancurkan dirinya sendiri bersama The Architect, ataukah itu adalah cara untuk menarik musuhnya masuk ke dalam dimensi di mana emosi manusia adalah hukum fisika yang utama?

Saat cahaya itu meredup, Sekar dan Aris menemukan bahwa bunker mereka bukan lagi berada di bawah Kawah Putih, melainkan melayang di sebuah ruang angkasa yang dipenuhi oleh pohon-pohon teh raksasa. Di manakah mereka sebenarnya, dan ke mana Adrian menghilang?

1
Arifa
menarik ceritanya bisa di bilang mind blowing.
semangat update terus tor..
indri sanafila: terima kasih semangatnya dan sudah setia mengikuti perjalanan Adrian🙏
total 1 replies
~($@&)~%
bang,ga di kontrak kah ,novel nya
indri sanafila: lagi proses pengajuan kontrak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!