NovelToon NovelToon
Antagonis Pria Itu Milikku!

Antagonis Pria Itu Milikku!

Status: tamat
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:167k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Fasha mengamuk setelah membaca sebuah novel, bukan karena ceritanya buruk, tapi karena tokoh antagonis pria yang ia sukai, mati mengenaskan tanpa keadilan.

Tak disangka, Fasha malah mendapati dirinya telah bertransmigrasi ke dalam novel itu, tepat di tubuh gadis yang akan segera kehilangan suara… dan dijual sebagai istri pada pria yang sama.
Untuk mengubah takdir, Fasha hanya punya satu tujuan yaitu menyelamatkan Sander dari kematian tragisnya—meski itu berarti harus menikah dengannya terlebih dulu.

Karena kali ini, penjahat itu… adalah suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 - Kita Baru Mengenal Sehari

Sinar matahari menyelinap masuk lewat celah-celah gorden ketika Fasha terbangun. Ia membiarkan cahaya itu mengusap wajahnya, lalu dengan malas meregangkan tubuh sebelum turun dari tempat tidur.

Bekas merah di pergelangan tangannya hampir lenyap, dan nyeri di sekujur tubuhnya jauh berkurang.

“Ah… akhirnya bisa gerak normal lagi,” gumamnya sambil mendesah.

Ia berjalan ke kamar mandi, menggosok gigi dan mencuci muka lebih lama dari biasanya. Saat pintu kamar dibuka, secarik kertas tempel jatuh tepat ke dahinya.

Fasha mengerjap, lalu mengambil kertas itu.

> Ada bubur di panci. Minum obatmu sendiri.

Sudut bibirnya terangkat tanpa sadar.

“Dingin-dingin gini tapi perhatian banget…” gumamnya pelan.

Dengan langkah ringan, ia ke dapur, memanaskan bubur, lalu makan dengan lahap sambil sesekali melirik catatan tempel yang masih ia pegang.

Setelah itu, ia duduk di depan cermin ruang tamu, mengambil alat perawatan luka.

“Harusnya dioles dari atas ke bawah… ya, gitu,” katanya pada pantulan dirinya sendiri.

Sambil mengoleskan obat, matanya jatuh pada setumpuk catatan tempel di meja.

Hatinya terasa hangat.

Sulit membayangkan Sander yang biasanya kaku dan serius, duduk sendiri di ruang belajar, menggambar manusia tongkat hanya untuk menjelaskan cara pakai obat.

Di sudut ruang tamu, ada alat penggaruk punggung dengan kain katun dan ujung silikon.

Fasha memegangnya, pipinya memanas.

“Ini… lebay sih, tapi kok dia kepikiran semua ini…” bisiknya.

Ia mencoba alat itu, dan memang jauh lebih mudah daripada harus memutar tangan sendiri.

Villa terasa sangat sepi.

Setelah mencuci peralatan makan, Fasha berjalan mengelilingi rumah. Dari lantai satu sampai lima, semuanya tertata rapi, bernuansa hitam, putih, dan abu-abu—seperti hidup Sander yang lurus dan teratur.

Fasha duduk di sofa, memeluk lutut.

“Kurang dari setahun lagi…” bisiknya lirih.

“Kalau aku nggak ngapa-ngapain, dia tetap bakal mati…”

Fasha memikirkan sesuatu lalu.. Uang! Dia butuh uang.

Ia membongkar kopernya dan hanya menemukan 376 yuan dalam pecahan kecil.

“Ini bahkan nggak cukup buat beli tablet murah…” keluhnya.

Di dunia aslinya, ia adalah kartunis yang lumayan terkenal. Tapi sekarang, semua itu tak ada artinya.

Satu-satunya harapannya hanya Sander.

“Harus cari cara biar bisa gambar lagi…” gumamnya.

Tiba-tiba, suara kunci pintu membuatnya refleks menegakkan punggung.

“Nona, ini saya, Bibi Mou. Saya pengasuh yang disewa Tuan Sander.”

Fasha menghela napas lega. “O-oh… silakan, Bi.”

“Apa nona punya pantangan makanan?”

Fasha menggeleng cepat. “Nggak ada, Bi. Asal bisa makan aja sudah cukup.”

“Ah, nggak bisa begitu,” Bibi Mou mengomel pelan.

“Tuan bilang perut Nona lemah. Harus makan yang bergizi.”

Fasha hanya bisa tersenyum kikuk.

“Oh… dia bilang begitu ya…”

“Bilangnya sambil wajah serius sekali,” lanjut Bibi Mou.

“Tuan terlihat khawatir, tapi dia terlalu gengsi.”

Fasha tertawa kecil. “Iya… dia memang begitu.”

Setelah makan malam, Bibi Mou pamit.

“Nona, saya pulang dulu. Besok saya datang lagi.”

“Iya, terima kasih banyak, Bi.”

Fasha melambaikan tangan dengan piyama bergambar kucing, senyumnya cerah sekali.

Jam menunjukkan pukul tujuh malam.

Tak lama kemudian, pintu villa terbuka.

Lampu masih mati. Dalam cahaya redup dari luar, Sander melihat Fasha duduk di sofa, memeluk lutut, menatap ke arah jendela.

Seperti anak kecil yang menunggu orang tuanya pulang.

Sander berhenti melangkah sejenak.

Fasha menoleh saat mendengar suara pintu.

Begitu melihat Sander, ia langsung berdiri.

“Kakak!”

Nada suaranya cerah, matanya berbinar.

“Kenapa lampunya nggak dinyalakan?” tanya Sander.

Fasha menggaruk pipinya.

“Aku… nggak nemu tombolnya. Yang di sini beda sama yang di kamar.”

Sander terdiam sebentar.

“Oh… iya, aku lupa jelasin.”

Ia mendekat, lalu menekan sakelar.

“Satu kali buat lampu utama, dua kali buat semua lampu.”

“Ooo…” Fasha mengangguk cepat.

“Pantesan aku pencet-pencet nggak nyala semua.”

Sander menatapnya. “Kamu duduk di sini dari tadi?”

“Iya… nunggu Kakak pulang.”

“…Kenapa?”

Fasha tersenyum.

“Soalnya sepi.”

Sander tak menjawab, hanya membuka jasnya dan menggantung di dekat pintu.

“Kakak, hari ini aku makan enak banget,” kata Fasha cepat-cepat.

“Ada iga kecap sama sup ayam. Terus di taman ada bunga merah, sama kupu-kupu. Aku lihat dari jendela.”

“Hmm.”

“Kakak nggak jawab panjang, tapi aku tahu Kakak dengar,” lanjutnya sambil tertawa kecil.

Sander meliriknya. “Aku memang dengar.”

“Kakak, ada TV kan? Aku mau nonton Bear Brother.”

Sander mengambil remote.

“Ini buat screen casting. Tekan ini dulu, lalu pilih perangkat.”

“Oke! Wah, canggih.”

Setelah TV menyala, Fasha menoleh lagi.

“Kakak… aku boleh gambar nggak? Aku mau gambar figur kecil kayak yang Kakak buat.”

Ujung jari Sander bergerak kecil.

“Itu cuma coretan. Nggak perlu ditiru.”

“Tapi aku suka…”

“Tidak.”

Nada Sander yang tegas membuat Fasha mengerutkan bibir.

“Aku bosan dari tadi tau! aku kangen Kakak.”

Sander menoleh tajam. “Kita baru ketemu sehari.”

Fasha mendekat setengah langkah.

“Tapi aku cuma punya Kakak..”

Ruangan mendadak hening.

Sander menatapnya beberapa detik, lalu berkata lebih pelan, “Fasha… kita baru mengenal sehari..”

1
Erna Masliana
tamat??? masalah kan belum beres, proyek belum diluncurkan.. masalah tanah juga belum.. identitas Fasha asli belum terbongkar secara gamblang di depan Sander.. Sander dan Fasha belum bersatu sebagai keluarga yang bahagia
Erna Masliana
rasakan
Erna Masliana
bunuh aja s George bakar 😡
Erna Masliana
dia nyari gratisan
Erna Masliana
kurang harusnya selain di penjara digebukin juga terutama anaknya tuh.. malah lolos kabur lagi
Erna Masliana
kesayangan mu tolol masih kekeuh mau jadiin dia pemimpin perusahaan?? yang ada hancur perusahaan.. bangkrut
Erna Masliana
sengaja..lagi 💪
Nunung Elasari
Mudah2an ada karakter laki2 lain, saingan sanders🤣
Andriyati
kalian yg gak sadar diri,, di mata sander dan orang lain kalian lebih menjengkelkan,, seenak nya aja
Puch🍒❄
jujur kecewa sih knp endnya harus gini banget ini salah 1 cerita yg aku tunggu2 updet nya loohhhh tp endingnya mengecewakan banget🥺😭 ini sih bukan ending tp ngegantung ceritanya gk ada kejelasan sama sekali ih gk like deh aku😭👊
@Biru791
maksa bgttt udahan nyaa ihhhh
Ari Peny
wah kok end 😭😭😭
Lynn_: Maaf ya kak, memang dipaksakan end karna retensi dari awal kecil.. Terimakasih sudah membaca🙏☺️
total 1 replies
Fahreziy
👣👣👣👣
sya
masa cuma 10cm cuma bisa liat rahang. gw aja 152 beda 20cm lebih bisa nyampe telinga cowok gw yang 170an lebih
@Biru791
ihhhh ayo dongsss uppp
Nur Hayati
kak kapan up.. sayang sudah mulai terbuka misterinya jangan ke putus... selesaikan kak
@Biru791
ihh kapan up jngan di lupain dongsss kgn fashaa
SYBHSSMN
kok udh gk pernah uptade thorrr🤔
@Biru791
thour ayo dong up yg ini jangan d lupain
@Biru791
kapan lah up lagi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!