Javi, center dari grup LUMINOUS, jatuh dari balkon kosan Aruna saat mencoba kabur dari kejaran fans. Bukannya kabur lagi, Javi malah bangun dengan ingatan yang kosong melompong kecuali satu hal yaitu dia merasa dirinya adalah orang penting yang harus dilayani.
Aruna yang panik dan tidak mau urusan dengan polisi, akhirnya berbohong. Ia mengatakan bahwa Javi adalah sepupunya dari desa yang sedang menumpang hidup untuk jadi asisten pribadinya. Amnesia bagi Javi mungkin membingungkan, tapi bagi Aruna, ini adalah kesempatan emas punya asisten gratis untuk mengerjakan tugas kuliahnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PutriBia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melewati Jam Malam Kosan
Malam semakin larut di Jakarta. Van hitam milik agensi meluncur pelan menjauhi area kampus, membawa Aruna yang sudah setengah teler karena revisi maket dan Javier yang masih mengenakan wig kribo miringnya karena ia merasa wig itu adalah perisai harga diri setelah aksi cemburunya di perpustakaan tadi.
"Jang, lepas dulu itu rambut palsunya. Kamu kelihatan kayak brokoli gosong," gumam Aruna sambil menyandarkan kepalanya di jok mobil yang empuk.
"Tidak bisa, Majikan. Sistem saya masih dalam mode siaga. Wig ini berfungsi sebagai penyerap radiasi emosi negatif setelah melihat Unit Dante tadi," sahut Javier kaku, meski tangannya dengan lembut menarik selimut untuk menutupi bahu Aruna.
Namun, ketenangan itu pecah saat mereka sampai di depan gang kosan Aruna. Sebuah pagar besi besar telah terkunci rapat dengan rantai yang tebalnya tidak masuk akal. Di sana, tergantung sebuah papan pengumuman baru dengan tulisan tangan yang sangat tegas:
"PERATURAN BARU MBAK WIDYA: JAM MALAM MAHASISWA ADALAH PUKUL 22:00. LEWAT SATU DETIK, SILAKAN TIDUR DI KANDANG LELE ATAU CARI HOTEL BINTANG TUJUH. TIDAK ADA NEGOSIASI, TIDAK ADA SINKRONISASI!"
Aruna melotot. Ia melihat jam di ponselnya, waktu menunjukan pukul 23:15.
"Mati aku... Mbak Widya beneran gila,"
Aruna turun dari mobil dan mencoba mengguncang pagar, tapi hasilnya nihil.
"Javi, gimana ini? Aku nggak bawa kunci serep, dan Mbak Widya kalau sudah tidur nggak bakal bangun meski diledakkan pakai petasan."
Javier turun dari mobil, wig kribonya bergoyang ditiup angin malam. Ia menatap pagar itu dengan analisis biometrik yang serius.
"Sistem mendeteksi hambatan struktural tingkat tinggi. Opsi satu, saya memanjat pagar ini dan menggendong Anda di punggung, tapi risiko daster Mbak Widya muncul di jendela adalah 95%. Opsi dua, anda ikut ke markas besar Luminous."
Aruna menoleh cepat.
"Dorm?! Kamu gila? Manajer Han bisa jantungan, Javi!"
"Manajer Han sedang melakukan prosedur pemulihan tenaga alias tidur di kantor agensi. Dan member lain saya akan menyuap mereka dengan janji akan mencuci piring mereka selama seminggu,"
Javier meraih tangan Aruna, menatapnya dengan intensitas yang meluluhkan.
"Daripada Anda tidur di emperan toko atau kembali ke kolam lele Bambang, lebih baik Anda berada di bawah enkripsi perlindungan saya."
Dorm Luminous bukan sekadar apartemen, ini adalah benteng mewah dengan keamanan tingkat dewa. Aruna berjalan mengendap-endap di belakang Javier, mengenakan hoodie kebesaran milik sang idola agar tidak dikenali oleh CCTV lobi.
Begitu pintu unit apartemen terbuka, aroma maskulin yang mewah dan dinginnya AC sentral menyambut mereka.
"Selamat datang di pusat pemrosesan data Luminous," ujar Javier sambil melepas wig kribonya dan melemparnya asal ke sofa.
Ia kini kembali menjadi Javier yang mempesona dengan rambut perak acak-acakan, kemeja putih yang sedikit terbuka, dan tatapan mata yang mendalam.
"Javi, aku beneran tidur di sini?"
Aruna berdiri canggung di tengah ruang tamu yang luasnya melebihi seluruh luas kosan Mbak Widya.
"Tentu. Kamar saya telah dikosongkan untuk Anda. Saya akan melakukan prosedur hibernasi di sofa,"
Javier berjalan menuju dapur, mengambilkan segelas air mineral premium.
"Tapi sebelum itu, sistem saya mendeteksi bahwa tingkat stres Anda harus diturunkan."
Javier menuntun Aruna masuk ke kamarnya. Kamar itu sangat rapi, didominasi warna abu-abu dan hitam, dengan dinding kaca besar yang memperlihatkan kerlap-kerlip lampu Jakarta. Namun, yang membuat Aruna terpaku adalah rak khusus di pojok kamar yang berisi deretan kacamata renang berbagai warna yang dipajang seperti piala penghargaan.
"Duduklah," perintah Javier lembut.
Aruna duduk di pinggir tempat tidur yang sangat empuk. Javier berlutut di depannya sebuah posisi yang sangat tidak pantas untuk idola nomor satu Asia, tapi ia melakukannya dengan alami. Ia melepas sepatu Aruna satu per satu.
"Javi, nggak usah..."
"Diam, Majikan. Biarkan unit asisten Anda bekerja," bisik Javier.
Ia menatap mata Aruna, lalu perlahan memijat punggung kaki Aruna yang pegal karena seharian di kampus.
"Tangan ini... kaki ini... sudah bekerja terlalu keras untuk maket yang tadi dipegang-pegang oleh Dante."
Aruna merona hebat.
"Kamu masih bahas Dante?"
Javier menghentikan pijatannya, ia merayap naik dan duduk di samping Aruna, menarik gadis itu agar bersandar di dadanya. Suasana kamar yang redup dan sunyi membuat setiap detak jantung terdengar seperti tabuhan genderang.
"Saya cemburu, Aruna. Sangat," gumam Javier pelan.
Ia menyandarkan dagunya di bahu Aruna, menghirup aroma rambut gadis itu yang mulai tercampur bau lem maket, tapi bagi Javier itu adalah aroma favoritnya.
"Di panggung, jutaan orang memuja saya. Tapi di perpustakaan tadi, saya merasa bukan siapa-siapa saat melihat pria lain bisa membantu Anda."
Javier memutar posisi Aruna agar menghadapnya. Jarak mereka kini hanya beberapa sentimeter. Javier meraih kacamata renang biru yang ada di atas nakas, lalu memakainya sebentar hanya untuk membuat Aruna tertawa kecil di tengah suasana romantis itu.
"Kenapa pake itu lagi?!" tawa Aruna pecah.
"Karena melalui lensa ini, saya bisa melihat detak jantung Anda yang sedang sinkron dengan milik saya," sahut Javier konyol, tapi kemudian ia melepas kacamata itu dan menatap Aruna dengan penuh damba.
Javier mendekat, mengecup kening Aruna dengan sangat lama, lalu turun ke kelopak mata, dan akhirnya berhenti di depan bibir Aruna.
"Boleh saya melakukan prosedur penguncian memori?" bisiknya serak.
Sebelum Aruna sempat menjawab, Javier menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang lembut namun menuntut, sebuah ciuman yang menghapus semua bayangan Dante, maket, dan kemarahan Mbak Widya. Aruna memejamkan mata, tangannya merayap ke tengkuk Javier, menarik pria itu lebih dekat. Rasanya hangat, manis, dan penuh dengan janji yang tak terucapkan.
Sebelum Aruna benar-benar hanyut dalam sihir bariton suara Javier, ia segera meletakkan kedua tangannya di dada pria itu, mendorongnya pelan namun tegas. Napas Aruna memburu, jantungnya berdegup seperti dentuman bas di konser musik.
"Javi... stop," bisik Aruna dengan suara parau.
Ia memalingkan wajah, menghindari tatapan mata Javier yang terlalu memabukkan.
"Kita nggak bisa begini. Aku... aku cuma mahasiswa DKV yang uang semesterannya aja hampir macet. Aku nggak pantas, Javi. Dunia kita beda jauh."
Javier terdiam, matanya menatap Aruna dengan sorot yang sedikit terluka, namun ia segera menetralkan ekspresinya.
"Sistem saya mendeteksi adanya kegagalan kepercayaan diri pada Majikan. Perbedaan kasta sosial hanyalah bug dalam protokol cinta kita, Aruna."
"Tapi kenyataannya nggak segampang itu," sela Aruna lirih.
Javier menghela napas panjang, ia melepaskan kuncian tangannya di tembok dan mundur selangkah, memberikan Aruna ruang bernapas.
"Baiklah. Saya tidak akan memaksa proses sinkronisasi jika hardware Anda belum siap. Tapi setidaknya, jangan tidur dengan pakaian penuh debu perpustakaan itu."
Javier berjalan ke lemarinya yang super besar, mengaduk-aduk isinya, lalu melemparkan sebuah kaos putih oversize dengan bahan katun premium ke arah Aruna.
"Pakai ini. Ini kaos edisi terbatas yang belum pernah saya pakai. Anggap saja ini baju dinas asisten pribadi malam ini."
Aruna menatap kaos yang ukurannya mungkin bisa jadi daster di tubuhnya yang mungil.
"Terus kamu tidur di mana?"
"Saya akan melakukan prosedur penjagaan di sofa ruang tamu," ujar Javier sambil mengambil selimut tambahan.
Ia sempat berhenti di ambang pintu, menatap Aruna sekali lagi.
"Tidurlah yang nyenyak. Dan ingat, di mata saya, Anda lebih pantas daripada seluruh bintang di galaksi ini."